Dari Negeri Napoleon Ke Negeri Firaun
“Taraaa, gue dateng…” tepat jam 2 siang, Ivana sudah sampai di hotel tempatku menginap di Paris.
“Hah! Kok lo bisa dateng secepat ini? Bukannya perjalanan Jakarta - Paris sekitar 15 jam 30 menit?” tanyaku sambil terus memandangi Ivana yang masih berdiri. “Lagian emang gue udah ngasih tau lo, hotel tempat gue nginep? Perasaan belum deh,” tanyaku bingung.
“Jadi gak seneng nih gue udah ada di sini?” tanya Ivana sambil berkacak pingang, dan pasang muka cemberut.
“Seneng sih, cuma bingung aja. Apa karena gue lagi banyak pikiran kali ya?” kataku sambil narik napas panjang.
“Udahlah, Dev. Buat sementara lupain dulu masalah pribadi lo. Mendingan sekarang siap-siap kita berangkat ke Mesir,” kata Ivana santai.
“Ok, lo santai aja dulu sambil nunggu gue beres-beres,” secepat kilat aku membereskan semuanya.
Dari Bandara Charles de Gaulle, kami akan terbang ke Bandara Kairo.
***
Akhirnya aku dan Ivana menginjakkan kaki di negeri Firaun. Negeri yang sebagian daratannya merupakan Gurun Sahara dan mayoritas penduduknya menetap di pinggiran Sungai Nil.
Aku dan Ivana akan menuju kawasan distrik 10 (Hay Asyir). Di kawasan ini banyak mahasiswa Indonesia yang bermukim. Selain bisa menikmati makanan-makanan khas Indonesia, hotel atau wisma yang dikelola keluarga mahasiswa, di kawasan ini harganya relatif murah.
Akhirnya aku dan Ivana menginap di Wisma Indonesia yang berada di wilayah Hay Asyir. Harga per hari 35 USD dan kami booking penginapan untuk 4 hari. Lewat pertolongan seorang mahasiswa yang bernama Iman, kami mendapat mobil sewaan dengan harga 300 EGP atau Rp435.000 per hari. Satu yang perlu aku syukuri karena Iman juga bersedia menjadi guide bagi kami berdua.
Nikmat sekali rasanya bisa berbaring di kasur setelah perjalanan yang melelahkan dari Paris dan mengurus ini-itu untuk keperluan petualangan. Tapi saat santai begini, kejadian di Paris itu kembali melintas.
“Kejadian yang telah merusak semuanya. Pernikahan aku dan Dimas yang sudah di ambang pintu, hancur. Dan aku tidak tahu harus berbuat apa. Yang kutahu saat ini, aku harus menyelamatkan karierku.”
“Heh… bengong aja. Mikirin apa sih? Dimas? Udahlah nggak usah mikirin dia dulu. Kalau memang lo berdua jodoh, gak bakalan ke mana-mana, tuh si Dimas,” kata Ivana sambil ngedipin matanya.
“Gue bingung sama kejadian malem itu. Apa ya, yang sebenernya terjadi? Perasaan gue sama Rifky cuma ngobrol. Setelah itu gue nggak inget apa-apa lagi. Dan ketika sadar di paginya, dalam keadaan yang sangat memalukan. Gara-gara kejadian itu juga, pernikahan gue sama Dimas hancur. Sekarang Dimas menghilang. Lo bisa bayangin nggak, gimana perasaan gue?” kataku sambil mengusap air mata.
“Iya, gue ngerti Dev. Udah-udah! Lo jangan mewek gitu. Kalau lagi mewek lo keliatan jelek tau,” kata Ivana sambil menjulurkan lidahnya. Aku pun spontan ketawa melihat tingkahnya.
“Ivana, thank’s ya. Karena lo selalu ada saat gue butuhin. Lo selalu menghibur saat gue sedih,” kataku sambil memeluk Ivana. Ia pun membalas pelukanku.
“Let’s go to bed. Karena besok akan menjadi hari yang sangat melelahkan,” kusambut ajakan Ivana dengan anggukan. Dalam hitungan menit kami segera berkelana dalam mimpi.
***
Petualangan di negeri Firaun akan segera dimulai, Aku sudah siap dengan tape recorder di tangan. Sedangkan Ivana sudah siap dengan kamera SLR-nya. Karena udara di luar sana sangat dingin berkisar antara 8 – 18 derajat celsius, tidak lupa kami membungkus tubuh kami dengan baju hangat.
Saat kami keluar kamar, kulihat ternyata Iman sudah menunggu kami di lobby. Tujuan kami adalah mengunjungi Piramida Giza. Pyramida Agung Giza adalah Piramida tertua dan terbesar dari tiga Piramida yang ada di Nekropolis Giza.
Piramida ini dipercaya sebagai makam Firaun dinasti keempat Mesir. Yang dibangun sekitar 2560 SM, dan waktu pembangunannya selama 23 tahun. Piramida ini sering juga disebut dengan nama Piramida Khufu.
Tinggi awal Piramida ini 146.59 m. Saat ini menjadi 138.75 m, terjadi penyusutan karena erosi. Lebar sisi tapak 230 m. Luas tapak 53.065 m2, dengan sudut 51.8. Di Giza terdapat tiga Piramida besar, untuk memasuki kawasan Piramida ini, kami harus membayar 60 EGP atau Rp87.000 per orang.
Piramida Besar Giza, dibangun oleh 2.500.000 blok batu padat. Tiap blok batu beratnya 2.5 – 10 ton. Piramida Giza dilapisi oleh Limestone (batu kapur), oleh karenanya Piramida besar Giza ini dapat dilihat dari jarak 160 km, berkilau laksana permata. Mesir memiliki sekitar 118 Piramida dengan berbagai ukuran. Lokasi Piramida tersebut umumnya berada di jalur Sungai Nil.
Di depan Piramida Khufu terdapat Sphinx. Yang dibangun jauh sebelum Piramida Khufu dibangun (10000 – 11000 SM). Sphinx adalah sebuah patung besar berbentuk separuh manusia dan separuh singa. Sphinx terbuat dari batu utuh. Nama ini diambil dari makhluk metologi Yunani. Dengan tubuh seekor singa, kepala wanita dan sayap seekor Elang.
Saat Iman sibuk menjelaskan tentang keajaiban Piramida yang ada di hadapan kami. Ivana sibuk dengan kameranya. Sesekali aku mengamatinya, sahabatku yang satu ini lumayan lihai bermain-main dengan kamera. Walaupun tidak sehandal Dimas.
“Andai saja cinta Dimas kepadaku sebesar, sekuat dan sekokoh Piramida Khufu. Mungkin saat ini Dimas masih ada bersamaku. Ia tidak akan meninggalkanku tanpa mendengar dan meminta penjelasan terlebih dahulu. Tapi aku juga tidak bisa menyalahkannya, semua ini terjadi mungkin karena aku melanggar mitos Arca Urung itu. Entahlah! Aku sendiri tidak mengerti kenapa semua ini bisa terjadi.”
“Dingin ya, Mbak?” tanya Iman saat melihat aku meletakkan kedua telapak tanganku di pipi. Aku hanya membalasnya dengan anggukan. “Memang cuacanya lagi dingin sekali, Mbak. Tapi untung Mbak datangnya pas musim dingin. Coba kalau pas musim panas. Cuaca di gurun pasir ini bisa sampai 50 derajat celsius.”
“Wah! Panas banget,” kataku sambil membayangkan seperti apa jadinya kulitku kalau berada di bawah terik matahari yang bersuhu sampai 50 derajat celsius. Pas pulang ke Indonesia kulitku jadi kaya kulit orang Afrika.
“Bukan panas-panas lagi, Mbak, matahari rasanya ada di atas kepala. Yang sering berkunjung ke sini pas musim panas biasanya orang-orang bule. Soalnya mereka itu sangat terobsesi dengan kulit hitam exotis. Kalau kita yang berjemur di suhu segitu panasnya, kulit kita bukannya hitam exotis, tapi yang ada malah jadi gosong.”
“Iya bener, Man. Perlu waktu lama dan biaya mahal buat pulihinnya lagi,” aku dan Iman pun tertawa. Dan itu mengundang perhatian Ivana yang sedang asyik dengan kameranya
“Woi! Ada apaan sih? Kok lo berdua keliatannya seneng banget?” teriaknya.
“Ada deh,” balasku sambil menjulurkan lidah. Ivana mengepalkan tangannya ke arahku dan Iman. Disambut dengan gelak tawa kami berdua.
“Berapa hari Mbak di sini?
“Cuma empat hari,” kataku sambil mengedarkan pandangan.
“Harusnya minimal seminggu, Mbak. Jadi bisa keliling ke semua objek wisata.”
“Maunya sih begitu. Tapi aku ngejar target untuk liputan di tujuh keajaiban dunia ini, aku cuma dikasih waktu tiga bulan.”
“Wah enak banget ya, Mbak. Kerja sambil jalan-jalan gratis, keliling dunia lagi,” kata Iman sambil berdecak. Aku hanya menanggapinya dengan senyuman.
***
Jam enam sore akhirnya petualangan berakhir sudah. Aku dan Ivana merebahkan tubuh di tempat tidur tanpa membersihkan badan terlebih dahulu.
“Aduh! Cape banget!” kata Ivana. Sambil merentangkan kedua tangannya.
“Woi, baru sekali liputan aja udah cape. Trus gimana kabarnya gue?” kataku sambil mencubit pinggangnya.
Tiba-tiba terdengar bunyi SMS di hp Ivana. “Gue, keluar sebentar ya Dev,” katanya setelah membaca SMS itu.
“Emang mau ke mana? SMS tadi dari siapa sih?” tanyaku penasaran.
“Kepo,” jawab Ivana sambil mencibir.
Kira-kira lima belas menit kemudian Ivana datang, ia membawa segelas tek manis hangat. “Minum Dev, biar badan lo segeran,” katanya sambil tersenyum manis.
“Ya ampun, Ivana! So sweet banget sih lo,” kataku sambil meminum teh hangat tersebut.
“Oh, pastinya dong. Kan lo temen gue yang paling manis,” katanya sambil kembali tersenyum.
***
Ivana segera mengambil mantel dan keluar kamar setelah dilihatnya Devi tertidur lelap. Sampai di lobi, matanya jelalatan seperti sedang mencari seseorang. Dan senyum pun mengembang dari bibirnya saat ditemukan orang yang dicarinya.
“Gimana, kira-kira aman nggak?” kata orang itu, terlihat kekhawatiran memancar dari wajahnya.
“Beres, saat ini dia pasti sedang bermain-main di alam mimpinya. Gue udah kasih dia obat tidur. Jadi lu nggak perlu khawatir,” kata Ivana sambil duduk di samping laki-laki ganteng yang dicarinya tadi. Ternyata orang itu adalah Rifky.
“Gimana perkembangan hubungan Devi sama Si Dimas?” tanya Rifky pada Ivana.
“Tenang aja, pokoknya rencana kita berjalan lancar dan rapi. Sampai saat ini Dimas belum ketahuan gimana kabarnya. Sejak kejadian di Paris itu dia menghilang, dan nggak pernah ngasih kabar sama Devi. Kayaknya sih, rencana kita buat menggagalkan pernikahan mereka bisa dibilang 80% berhasil. Tinggal kita tunggu apa yang terjadi setelah Devi balik lagi ke Indonesia. Dan sampai saat ini, dia masih percaya. Kalau pernikahannya gagal gara-gara dia melewati arca Singo Urung. So… nggak ada yang perlu kita khawatirkan lagi kan? Dan gue akan tetap menjadi sahabat yang manis dan dewa penolong bagi dia,” ujar Ivana sambil tertawa senang, dan disambut dengan senyum licik Rifky.
“Good job, Ivana. Kerja sama yang baik. Pernikahan Devi sama Dimas berantakan, dan gue bisa dapetin dia lagi. Sementara lo nggak perlu ngerasa iri lagi sama Devi, karena selain sukses di karier, lo juga bisa dapetin ponakannya Dirut,” kata Rifky sambil memicingkan matanya.
Saat kedua orang itu sedang asyik ngobrol kebusukan yang telah mereka lakukan. Mereka tidak sadar jika ada sepasang telinga yang sedang mendengarkan pembicaraan mereka.
Seorang laki-laki memakai jubah, sorban, dan kacamata hitam. Orang yang melihatnya akan mengira jika laki-laki itu sedang asyik membaca koran. Orang itu adalah gue, Dimas.
Mereka mengira gue sejak di Paris menghilang. Tapi sebenarnya gue selalu mengikuti langkah Devi, gue menyamar sebagai orang Timut Tengah. Untuk menyelidiki kejadian yang sebenarnya.
Tanpa sengaja gue mendengar pembicaraan Ivana dan Rifky. Kalau tidak ingat sedang menyamar, Ingin rasanya gue langsung meninju wajah Rifky dan memaki Ivana. Tapi gue berusaha untuk menahan diri dan akan mencari waktu yang tepat untuk memberitahukan hal ini pada Devi.
Other Stories
Rumah Rahasia Reza
Di balik rumah-rumah rahasia Reza, satu pintu belum pernah dibuka. Sampai sekarang. ...
Pertemuan Di Ujung Kopi
Dari secangkir kopi yang tumpah, Aira tak pernah tahu bahwa hidupnya akan berpapasan kemba ...
Death Cafe
Sakti tidak dapat menahan diri lagi, ia penasaran dengan death cafe yang selama ini orang- ...
Hopeless Cries
Merasa kesepian, tetapi sama sekali tidak menginginkan kehadiran seseorang untuk menemanin ...
Kala Cinta Di Dermaga
Saat hatimu patah, di mana kamu akan berlabuh? Bagi Gisel, jawabannya adalah dermaga tua y ...
Hantu Dan Hati
Di tengah duka dan rutinitasnya berjualan bunga, seorang pemuda menyadari bahwa ia tidak s ...