Pertama Kali Jadi Starter
Hari itu panasnya luar biasa. Matahari seperti sengaja menyorot ke tengah lapangan tanah di kampung sebelah yang dipakai buat turnamen SD antar RW. Lapangan itu tidak rata, lebih banyak lubangnya daripada jalanan yang lagi diperbaiki. Garis lapangan cuma ditandai kapur tipis yang kalau kena angin sedikit saja langsung hilang. Tapi bagi kami, anak anak SD, ini adalah stadion terbesar di dunia. Dan bagiku pribadi, inilah kesempatan pertamaku jadi starter.
Awalnya pelatih kami, Pak Rahmat, ragu. Dia guru olahraga di sekolahku. Orangnya agak galak, perutnya buncit, suka teriak kalau kami malas lari. Katanya aku masih terlalu kecil buat jadi kiper utama. Di tim ada satu anak kelas enam yang badannya lebih besar, namanya Bima. Biasanya dia yang selalu jaga gawang. Aku kelas lima, badan masih kurus, tangan masih kecil. Jadi wajar kalau pelatih ragu.
Tapi aku sudah merengek beberapa kali. Aku bilang, Pak, kasih saya kesempatan sekali saja. Saya janji tidak bikin malu tim. Kalau kebobolan banyak, saya siap dicoret.
Awalnya dia tidak jawab. Cuma ngelirik aku yang lagi semangat bawa bola plastik oranye kebanggaan. Sampai akhirnya jelang pertandingan pertama, dia nyamperin aku.
Rangga, hari ini kamu jadi starter. Bima cadangan dulu.
Aku langsung kaget. Serius, rasanya seperti dapat undangan main di liga dunia. Aku melompat kecil, sampai hampir jatuh. Bima yang duduk di sebelah cuma manyun. Aku bisa lihat wajahnya kesel. Tapi aku tidak peduli. Akhirnya mimpiku datang.
Saat pemanasan, aku merasa seluruh kampung menatapku. Ada bapak bapak yang nongkrong sambil ngudud, ada emak emak jual gorengan, ada adik adik kecil yang main layangan di pinggir lapangan. Semuanya seperti jadi penonton setia. Aku menepuk nepak kedua tanganku, padahal sarung tangan yang kupakai cuma sarung tangan plastik biasa, bukan sarung tangan kiper beneran. Tapi aku bayangin itu sarung tangan profesional.
Pertandingan pun dimulai. Lawan kami RW sebelah, katanya kuat sekali. Mereka punya striker gendut bernama Dodi. Tendangannya terkenal kayak meriam. Bocah bocah kampung suka bilang, kalau bola ditendang Dodi bisa bikin kucing lari ketakutan.
Begitu peluit berbunyi, aku langsung fokus. Aku berdiri di gawang bambu, lutut agak gemetar, tapi hati membara.
Baru menit ketiga, Dodi sudah dapat bola. Dia lari kencang, pakai gaya joget aneh. Semua orang teriak Dodi Dodi Dodi. Aku pasang kuda kuda. Dia tendang bola sekuat tenaga. Bola melayang ke arahku.
Kalau kalian ada di posisiku, mungkin langsung minggir. Tendangannya keras sekali. Tapi aku bilang ke diriku, ini saatnya. Aku lompat, tanganku terulur, dan dor. Bola itu mental keluar. Aku berhasil menepis.
Seluruh lapangan teriak. Ada yang kaget, ada yang tepuk tangan. Temen temenku langsung nyamperin aku. Hebat Rangga.
Aku berdiri lagi, dada membusung. Dalam hati aku bilang ke kalian yang nonton cerita ini, lihat kan aku bukan pintu bolong lagi.
Pertandingan berjalan sengit. Lawan menyerang bertubi tubi. Aku jatuh bangun di tanah. Debu masuk ke mulut, lututku lecet, tapi aku tidak peduli. Aku selamatkan peluang demi peluang.
Sampai menit lima belas, kejadian kocak terjadi. Bola meluncur deras ke arahku. Aku mau menepis, tapi kaki kananku malah nyangkut di lubang tanah. Aku jatuh telentang, dan bola tepat meluncur ke arah perutku. Plok. Bola mental ke samping. Orang orang ketawa ngakak.
Ada yang teriak, Kiper sakti, pake perut buat nangkis.
Aku ikut ketawa, sambil pegang perut yang sakitnya lumayan. Tapi itu tetap penyelamatan, kan
Babak pertama berjalan imbang tanpa gol. Saat istirahat, pelatih nyamperin aku. Dia bilang, bagus Rangga, terus fokus. Jangan lengah.
Aku angguk sambil minum air putih dari botol plastik butut. Rasanya seperti air paling segar di dunia.
Babak kedua dimulai. RW sebelah makin agresif. Dodi makin brutal. Aku makin sering jatuh bangun. Sampai akhirnya menit dua puluh lima, tendangan keras lawan hampir bikin gol. Aku lompat sekuat tenaga, tanganku nyaris tidak sampai, tapi ujung jariku masih bisa menyentuh bola. Bola itu melayang ke atas mistar dan keluar.
Seluruh penonton berdiri. Mereka teriak, gila Rangga terbang.
Aku sendiri terbaring di tanah, napas ngos ngosan, tapi hatiku meledak dengan kebahagiaan. Itu momen paling keren dalam hidupku saat itu.
Akhirnya menit tiga puluh, kami dapat serangan balik. Teman sekelasku, Andri, bawa bola sendirian. Dia dribble zigzag, lawan bingung, lalu dia tendang ke gawang lawan. Gol.
Seluruh lapangan riuh. Kami unggul satu nol. Tinggal bertahan beberapa menit lagi.
Lawan tentu tidak tinggal diam. Mereka menyerang habis habisan. Aku tepis satu, dua, tiga kali. Tiga peluang terakhir semuanya aku selamatkan.
Dan akhirnya, peluit panjang berbunyi. Pertandingan selesai. Kami menang tipis.
Aku langsung terjatuh ke tanah, kelelahan. Teman temanku menubrukku, menepuk nepuk kepalaku. Penonton bersorak sorai. Bahkan pelatih yang biasanya galak menyalami aku sambil senyum lebar.
Bagiku, itu bukan sekadar kemenangan. Itu pembuktian. Aku yang selalu diejek, akhirnya bisa berdiri tegak di bawah gawang. Aku selamatkan timku. Aku jadi pahlawan kecil di lapangan tanah itu.
Malamnya, di rumah, Emak peluk aku. Katanya Emak bangga. Ayah cuma bilang, lumayan, tapi jangan cepat puas. Kalau mau jadi tembok sungguhan, latihan harus lebih keras. Aku angguk, meski dalam hati senyum lebar.
Di kasur, sebelum tidur, aku melamun. Aku bayangkan stadion besar, lampu terang benderang, ribuan orang teriak namaku. Aku bayangkan diriku pakai jersey keren, sarung tangan asli, menepis tendangan bintang dunia.
Aku tahu jalannya masih panjang. Tapi hari itu, di turnamen RW, aku merasa satu langkah mimpiku sudah dimulai.
Dan kalian yang baca ini, kalau pernah diejek, jangan menyerah. Ingat cerita aku. Dari ejekan bisa lahir semangat. Dari kesempatan kecil bisa lahir mimpi besar.
Aku Rangga, kiper kecil dari kampung. Dan hari itu aku resmi jadi starter untuk pertama kalinya.
Awalnya pelatih kami, Pak Rahmat, ragu. Dia guru olahraga di sekolahku. Orangnya agak galak, perutnya buncit, suka teriak kalau kami malas lari. Katanya aku masih terlalu kecil buat jadi kiper utama. Di tim ada satu anak kelas enam yang badannya lebih besar, namanya Bima. Biasanya dia yang selalu jaga gawang. Aku kelas lima, badan masih kurus, tangan masih kecil. Jadi wajar kalau pelatih ragu.
Tapi aku sudah merengek beberapa kali. Aku bilang, Pak, kasih saya kesempatan sekali saja. Saya janji tidak bikin malu tim. Kalau kebobolan banyak, saya siap dicoret.
Awalnya dia tidak jawab. Cuma ngelirik aku yang lagi semangat bawa bola plastik oranye kebanggaan. Sampai akhirnya jelang pertandingan pertama, dia nyamperin aku.
Rangga, hari ini kamu jadi starter. Bima cadangan dulu.
Aku langsung kaget. Serius, rasanya seperti dapat undangan main di liga dunia. Aku melompat kecil, sampai hampir jatuh. Bima yang duduk di sebelah cuma manyun. Aku bisa lihat wajahnya kesel. Tapi aku tidak peduli. Akhirnya mimpiku datang.
Saat pemanasan, aku merasa seluruh kampung menatapku. Ada bapak bapak yang nongkrong sambil ngudud, ada emak emak jual gorengan, ada adik adik kecil yang main layangan di pinggir lapangan. Semuanya seperti jadi penonton setia. Aku menepuk nepak kedua tanganku, padahal sarung tangan yang kupakai cuma sarung tangan plastik biasa, bukan sarung tangan kiper beneran. Tapi aku bayangin itu sarung tangan profesional.
Pertandingan pun dimulai. Lawan kami RW sebelah, katanya kuat sekali. Mereka punya striker gendut bernama Dodi. Tendangannya terkenal kayak meriam. Bocah bocah kampung suka bilang, kalau bola ditendang Dodi bisa bikin kucing lari ketakutan.
Begitu peluit berbunyi, aku langsung fokus. Aku berdiri di gawang bambu, lutut agak gemetar, tapi hati membara.
Baru menit ketiga, Dodi sudah dapat bola. Dia lari kencang, pakai gaya joget aneh. Semua orang teriak Dodi Dodi Dodi. Aku pasang kuda kuda. Dia tendang bola sekuat tenaga. Bola melayang ke arahku.
Kalau kalian ada di posisiku, mungkin langsung minggir. Tendangannya keras sekali. Tapi aku bilang ke diriku, ini saatnya. Aku lompat, tanganku terulur, dan dor. Bola itu mental keluar. Aku berhasil menepis.
Seluruh lapangan teriak. Ada yang kaget, ada yang tepuk tangan. Temen temenku langsung nyamperin aku. Hebat Rangga.
Aku berdiri lagi, dada membusung. Dalam hati aku bilang ke kalian yang nonton cerita ini, lihat kan aku bukan pintu bolong lagi.
Pertandingan berjalan sengit. Lawan menyerang bertubi tubi. Aku jatuh bangun di tanah. Debu masuk ke mulut, lututku lecet, tapi aku tidak peduli. Aku selamatkan peluang demi peluang.
Sampai menit lima belas, kejadian kocak terjadi. Bola meluncur deras ke arahku. Aku mau menepis, tapi kaki kananku malah nyangkut di lubang tanah. Aku jatuh telentang, dan bola tepat meluncur ke arah perutku. Plok. Bola mental ke samping. Orang orang ketawa ngakak.
Ada yang teriak, Kiper sakti, pake perut buat nangkis.
Aku ikut ketawa, sambil pegang perut yang sakitnya lumayan. Tapi itu tetap penyelamatan, kan
Babak pertama berjalan imbang tanpa gol. Saat istirahat, pelatih nyamperin aku. Dia bilang, bagus Rangga, terus fokus. Jangan lengah.
Aku angguk sambil minum air putih dari botol plastik butut. Rasanya seperti air paling segar di dunia.
Babak kedua dimulai. RW sebelah makin agresif. Dodi makin brutal. Aku makin sering jatuh bangun. Sampai akhirnya menit dua puluh lima, tendangan keras lawan hampir bikin gol. Aku lompat sekuat tenaga, tanganku nyaris tidak sampai, tapi ujung jariku masih bisa menyentuh bola. Bola itu melayang ke atas mistar dan keluar.
Seluruh penonton berdiri. Mereka teriak, gila Rangga terbang.
Aku sendiri terbaring di tanah, napas ngos ngosan, tapi hatiku meledak dengan kebahagiaan. Itu momen paling keren dalam hidupku saat itu.
Akhirnya menit tiga puluh, kami dapat serangan balik. Teman sekelasku, Andri, bawa bola sendirian. Dia dribble zigzag, lawan bingung, lalu dia tendang ke gawang lawan. Gol.
Seluruh lapangan riuh. Kami unggul satu nol. Tinggal bertahan beberapa menit lagi.
Lawan tentu tidak tinggal diam. Mereka menyerang habis habisan. Aku tepis satu, dua, tiga kali. Tiga peluang terakhir semuanya aku selamatkan.
Dan akhirnya, peluit panjang berbunyi. Pertandingan selesai. Kami menang tipis.
Aku langsung terjatuh ke tanah, kelelahan. Teman temanku menubrukku, menepuk nepuk kepalaku. Penonton bersorak sorai. Bahkan pelatih yang biasanya galak menyalami aku sambil senyum lebar.
Bagiku, itu bukan sekadar kemenangan. Itu pembuktian. Aku yang selalu diejek, akhirnya bisa berdiri tegak di bawah gawang. Aku selamatkan timku. Aku jadi pahlawan kecil di lapangan tanah itu.
Malamnya, di rumah, Emak peluk aku. Katanya Emak bangga. Ayah cuma bilang, lumayan, tapi jangan cepat puas. Kalau mau jadi tembok sungguhan, latihan harus lebih keras. Aku angguk, meski dalam hati senyum lebar.
Di kasur, sebelum tidur, aku melamun. Aku bayangkan stadion besar, lampu terang benderang, ribuan orang teriak namaku. Aku bayangkan diriku pakai jersey keren, sarung tangan asli, menepis tendangan bintang dunia.
Aku tahu jalannya masih panjang. Tapi hari itu, di turnamen RW, aku merasa satu langkah mimpiku sudah dimulai.
Dan kalian yang baca ini, kalau pernah diejek, jangan menyerah. Ingat cerita aku. Dari ejekan bisa lahir semangat. Dari kesempatan kecil bisa lahir mimpi besar.
Aku Rangga, kiper kecil dari kampung. Dan hari itu aku resmi jadi starter untuk pertama kalinya.
Other Stories
Kabinet Boneka
Seorang presiden wanita muda, karismatik di depan publik, ternyata seorang psikopat yang m ...
After Meet You
Sebagai seorang penembak jitu tak bersertifikat, kapabilitas dan kredibilitas Daniel Samal ...
Hati Yang Beku
Jasmine menatap hamparan metropolitan dari lantai tiga kostannya. Kerlap-kerlip ibukota ...
Kesempurnaan Cintamu
Mungkin ini terakhir kali aku menggoreskan pena Sebab setelah ini aku akan menggoreskan p ...
Membabi Buta
Mariatin dan putrinya tinggal di rumah dua kakak beradik tua yang makin menunjukkan perila ...
Di Bawah Atap Rumah Singgah
Vinna adalah anak orang kaya. Setelah lulus kuliah, setiap orang melihat dia akan hidup me ...