Inspirasi Ediwan Vandesar
Malam itu kampungku mendadak ramai. Padahal biasanya kalau sudah lewat jam delapan, suara jangkrik yang jadi raja. Tapi kali ini beda. Semua orang tumplek di warung Mang Asep. Warungnya sih kecil, lampunya cuma bohlam kuning yang suka kedip kedip seolah mau mati. Tapi malam itu jadi stadion dadakan. Kenapa coba Karena televisi tabung Mang Asep yang ukurannya tidak lebih besar dari papan tulis sekolah, malam itu menayangkan final liga Eropa.
Aku yang waktu itu masih bocah SD, rela disuruh Emak cuci piring dulu biar bisa ikut nonton. Kalau tidak, wassalam. Emak bisa ngamuk, dan aku dipaksa tidur lebih cepat. Jadi aku bebersih dulu, lalu lari ke warung dengan sandal jepit yang talinya sudah kendor. Aku masih ingat, waktu sampai di sana, aroma kopi hitam dan rokok cengkeh campur jadi satu. Ada juga bau gorengan bala bala yang entah kenapa terasa nikmat banget kalau dicampur suasana bola.
Nah, di sinilah momen hidupku berubah. Aku duduk di bangku panjang paling depan, persis di bawah televisi tabung. Orang orang teriak teriak, ada yang pasang taruhan receh, ada yang ngedumel soal klub jagoannya. Aku mah cuek. Mataku terpaku pada seorang pria jangkung di layar. Bukan striker. Bukan playmaker. Tapi penjaga gawang.
Namanya Ediwan Vandesar.
Kalian pasti tau kan legenda satu ini Kalau tidak tau, berarti kalian lebih sering nonton sinetron daripada bola. Aku tidak menyalahkan, sih. Tapi malam itu, buat aku, Ediwan bukan sekadar pemain bola. Dia jadi cahaya yang nunjukin jalanku.
Bayangin, menit menit akhir pertandingan. Lawannya dapat penalti. Semua orang di warung sudah deg degan. Ada yang nutup muka pakai kaos, ada yang pura pura sibuk ngisep kopi biar kelihatan tenang. Aku sendiri sampai berdiri di bangku. Emak yang duduk di belakang sempat narik telingaku biar turun, tapi aku cuek saja. Aku mau lihat jelas jelas.
Penendang lawan sudah ambil ancang ancang. Seluruh stadion di televisi teriak. Aku bisa merasakan getarannya sampai ke dada. Lalu bola ditendang keras ke arah pojok kanan. Semua orang di warung ikut melompat, seolah bola itu mau nembus kaca televisi.
Tapi tahu apa yang terjadi Tangan panjang Ediwan melayang seperti elang. Dia terbang, menepis bola, lalu jatuh dengan elegan. Bola mental. Tidak gol.
Warung Mang Asep meledak. Orang orang teriak sampai meja hampir roboh. Ada yang lempar topi, ada yang loncat kayak orang kerasukan. Aku juga ikut teriak, tapi bukan karena dukung klub. Aku teriak karena di kepalaku ada sesuatu yang meledak.
Itu aku nanti.
Ya, kalian tidak salah dengar. Aku bilang itu dengan penuh keyakinan. Aku Rangga, bocah kampung dengan gawang bambu, suatu hari bakal ada di panggung itu. Akan ada jutaan pasang mata yang melihat aku terbang menepis bola. Akan ada komentator yang teriak namaku. Akan ada sejarah yang kutulis dengan sarung tangan kiperku.
Lucu memang, aku yang waktu itu cuma punya bola plastik kempes dan gawang dari bambu berani ngomong begitu. Orang orang kalau dengar mungkin ngakak. Bahkan Ayahku pasti nyeletuk lagi, Rangga kamu bukan tembok, kamu pintu bolong. Tapi malam itu aku tidak peduli. Aku sudah menemukan alasan untuk terus berdiri di bawah gawang.
Kalau kalian tanya kenapa kiper Kenapa tidak striker Kan lebih keren bikin gol daripada nahan bola. Jawabanku sederhana. Karena aku suka jadi orang terakhir yang dilihat. Suka jadi harapan terakhir. Kalau striker gagal, masih ada kiper. Kalau kiper gagal, habis sudah. Dan aku suka tantangan itu. Suka rasa tanggung jawab yang bikin jantung mau copot.
Setelah pertandingan selesai, aku tidak langsung pulang. Aku masih duduk bengong di bangku warung. Mataku tidak lepas dari layar televisi, meski sudah muncul iklan sabun cuci. Aku masih membayangkan diriku memakai sarung tangan besar, berteriak ke teman teman satu tim, dan terbang di udara seperti Ediwan.
Eh, tiba tiba Mang Asep nyeletuk. Rangga kamu nonton serius amat. Besok besok jangan jadi penjaga warung saya ya. Jadi kiper aja.
Aku nyengir. Mang Asep tidak tahu kalau ucapannya malam itu aku simpan dalam hati.
Pulang ke rumah, aku tidak bisa tidur. Emak sampai ngomel karena aku gelisah di kasur. Aku cuma senyum senyum sendiri, sambil menatap atap bilik. Aku bayangkan sorak sorai stadion. Bayangkan jersey dengan nomor satu di punggung. Bayangkan dunia mengenal nama Rangga.
Kalian mungkin mikir aku halu. Ya wajar sih, anak kampung miskin ngomong mau jadi kiper nomor satu dunia. Tapi bukankah semua hal besar lahir dari mimpi yang dianggap gila Orang bilang mimpi itu cuma bunga tidur, tapi buat aku mimpi adalah alasan bangun tidur.
Besok paginya, aku langsung praktek. Aku bawa bola plastik ke lapangan tanah. Aku suruh temen temenku nendang keras keras ke arahku. Kadang aku jatuh, kadang kepeleset, kadang bolanya mental ke muka sampai hidungku berdarah. Tapi aku tetap ketawa. Karena setiap kali aku terbang menepis bola, aku merasa sedikit lebih dekat dengan Ediwan.
Dan ya, aku tahu kalian mungkin penasaran. Apakah aku berhasil menahan semua tembakan Jawabannya jelas tidak. Aku kebobolan lebih banyak daripada kiper lain di kampung. Tapi aku tidak pernah mundur. Malah makin semangat.
Ada satu momen yang aku tidak lupa. Waktu itu aku terjatuh keras setelah coba menepis bola. Lututku luka, darahnya ngalir. Teman temanku panik, ada yang bilang ayo berhenti aja. Tapi aku malah teriak, Nendang lagi! Jangan berhenti! Aku masih bisa!
Mereka ketawa, tapi akhirnya nurut. Dan aku, dengan lutut berdarah, tetap berdiri di bawah gawang bambu. Aku tahu di mata mereka aku terlihat bodoh. Tapi di mataku sendiri, aku sedang melatih mental.
Malam malam berikutnya, aku selalu nyempil di warung Mang Asep kalau ada siaran bola. Aku duduk di bangku paling depan, kadang sampai ketiduran di sana. Emak sering nyusul sambil bawa sapu lidi, ngegebrak kepalaku biar pulang. Tapi aku tetap senyum. Karena di setiap tayangan bola, selalu ada wajah Ediwan. Dan di setiap wajah Ediwan, aku melihat masa depan diriku.
Kalian tahu apa artinya itu buat bocah sepertiku Itu bukan sekadar hiburan. Itu bahan bakar. Itu bensin yang bikin aku kuat lari, kuat jatuh, kuat berdarah, kuat diketawain orang. Karena aku sudah punya panutan. Sudah punya alasan untuk tidak berhenti.
Dan mulai malam itu, aku janji pada diriku sendiri. Aku tidak akan menyerah sampai bisa berdiri di panggung yang sama dengan Ediwan.
Jadi kalau kalian ketemu aku sekarang, lihatlah anak kampung yang kalian kira cuma main bola plastik. Karena suatu hari nanti, aku akan buktikan, aku bisa terbang setinggi siapapun, bahkan sejauh Ediwan Vandesar.
Aku yang waktu itu masih bocah SD, rela disuruh Emak cuci piring dulu biar bisa ikut nonton. Kalau tidak, wassalam. Emak bisa ngamuk, dan aku dipaksa tidur lebih cepat. Jadi aku bebersih dulu, lalu lari ke warung dengan sandal jepit yang talinya sudah kendor. Aku masih ingat, waktu sampai di sana, aroma kopi hitam dan rokok cengkeh campur jadi satu. Ada juga bau gorengan bala bala yang entah kenapa terasa nikmat banget kalau dicampur suasana bola.
Nah, di sinilah momen hidupku berubah. Aku duduk di bangku panjang paling depan, persis di bawah televisi tabung. Orang orang teriak teriak, ada yang pasang taruhan receh, ada yang ngedumel soal klub jagoannya. Aku mah cuek. Mataku terpaku pada seorang pria jangkung di layar. Bukan striker. Bukan playmaker. Tapi penjaga gawang.
Namanya Ediwan Vandesar.
Kalian pasti tau kan legenda satu ini Kalau tidak tau, berarti kalian lebih sering nonton sinetron daripada bola. Aku tidak menyalahkan, sih. Tapi malam itu, buat aku, Ediwan bukan sekadar pemain bola. Dia jadi cahaya yang nunjukin jalanku.
Bayangin, menit menit akhir pertandingan. Lawannya dapat penalti. Semua orang di warung sudah deg degan. Ada yang nutup muka pakai kaos, ada yang pura pura sibuk ngisep kopi biar kelihatan tenang. Aku sendiri sampai berdiri di bangku. Emak yang duduk di belakang sempat narik telingaku biar turun, tapi aku cuek saja. Aku mau lihat jelas jelas.
Penendang lawan sudah ambil ancang ancang. Seluruh stadion di televisi teriak. Aku bisa merasakan getarannya sampai ke dada. Lalu bola ditendang keras ke arah pojok kanan. Semua orang di warung ikut melompat, seolah bola itu mau nembus kaca televisi.
Tapi tahu apa yang terjadi Tangan panjang Ediwan melayang seperti elang. Dia terbang, menepis bola, lalu jatuh dengan elegan. Bola mental. Tidak gol.
Warung Mang Asep meledak. Orang orang teriak sampai meja hampir roboh. Ada yang lempar topi, ada yang loncat kayak orang kerasukan. Aku juga ikut teriak, tapi bukan karena dukung klub. Aku teriak karena di kepalaku ada sesuatu yang meledak.
Itu aku nanti.
Ya, kalian tidak salah dengar. Aku bilang itu dengan penuh keyakinan. Aku Rangga, bocah kampung dengan gawang bambu, suatu hari bakal ada di panggung itu. Akan ada jutaan pasang mata yang melihat aku terbang menepis bola. Akan ada komentator yang teriak namaku. Akan ada sejarah yang kutulis dengan sarung tangan kiperku.
Lucu memang, aku yang waktu itu cuma punya bola plastik kempes dan gawang dari bambu berani ngomong begitu. Orang orang kalau dengar mungkin ngakak. Bahkan Ayahku pasti nyeletuk lagi, Rangga kamu bukan tembok, kamu pintu bolong. Tapi malam itu aku tidak peduli. Aku sudah menemukan alasan untuk terus berdiri di bawah gawang.
Kalau kalian tanya kenapa kiper Kenapa tidak striker Kan lebih keren bikin gol daripada nahan bola. Jawabanku sederhana. Karena aku suka jadi orang terakhir yang dilihat. Suka jadi harapan terakhir. Kalau striker gagal, masih ada kiper. Kalau kiper gagal, habis sudah. Dan aku suka tantangan itu. Suka rasa tanggung jawab yang bikin jantung mau copot.
Setelah pertandingan selesai, aku tidak langsung pulang. Aku masih duduk bengong di bangku warung. Mataku tidak lepas dari layar televisi, meski sudah muncul iklan sabun cuci. Aku masih membayangkan diriku memakai sarung tangan besar, berteriak ke teman teman satu tim, dan terbang di udara seperti Ediwan.
Eh, tiba tiba Mang Asep nyeletuk. Rangga kamu nonton serius amat. Besok besok jangan jadi penjaga warung saya ya. Jadi kiper aja.
Aku nyengir. Mang Asep tidak tahu kalau ucapannya malam itu aku simpan dalam hati.
Pulang ke rumah, aku tidak bisa tidur. Emak sampai ngomel karena aku gelisah di kasur. Aku cuma senyum senyum sendiri, sambil menatap atap bilik. Aku bayangkan sorak sorai stadion. Bayangkan jersey dengan nomor satu di punggung. Bayangkan dunia mengenal nama Rangga.
Kalian mungkin mikir aku halu. Ya wajar sih, anak kampung miskin ngomong mau jadi kiper nomor satu dunia. Tapi bukankah semua hal besar lahir dari mimpi yang dianggap gila Orang bilang mimpi itu cuma bunga tidur, tapi buat aku mimpi adalah alasan bangun tidur.
Besok paginya, aku langsung praktek. Aku bawa bola plastik ke lapangan tanah. Aku suruh temen temenku nendang keras keras ke arahku. Kadang aku jatuh, kadang kepeleset, kadang bolanya mental ke muka sampai hidungku berdarah. Tapi aku tetap ketawa. Karena setiap kali aku terbang menepis bola, aku merasa sedikit lebih dekat dengan Ediwan.
Dan ya, aku tahu kalian mungkin penasaran. Apakah aku berhasil menahan semua tembakan Jawabannya jelas tidak. Aku kebobolan lebih banyak daripada kiper lain di kampung. Tapi aku tidak pernah mundur. Malah makin semangat.
Ada satu momen yang aku tidak lupa. Waktu itu aku terjatuh keras setelah coba menepis bola. Lututku luka, darahnya ngalir. Teman temanku panik, ada yang bilang ayo berhenti aja. Tapi aku malah teriak, Nendang lagi! Jangan berhenti! Aku masih bisa!
Mereka ketawa, tapi akhirnya nurut. Dan aku, dengan lutut berdarah, tetap berdiri di bawah gawang bambu. Aku tahu di mata mereka aku terlihat bodoh. Tapi di mataku sendiri, aku sedang melatih mental.
Malam malam berikutnya, aku selalu nyempil di warung Mang Asep kalau ada siaran bola. Aku duduk di bangku paling depan, kadang sampai ketiduran di sana. Emak sering nyusul sambil bawa sapu lidi, ngegebrak kepalaku biar pulang. Tapi aku tetap senyum. Karena di setiap tayangan bola, selalu ada wajah Ediwan. Dan di setiap wajah Ediwan, aku melihat masa depan diriku.
Kalian tahu apa artinya itu buat bocah sepertiku Itu bukan sekadar hiburan. Itu bahan bakar. Itu bensin yang bikin aku kuat lari, kuat jatuh, kuat berdarah, kuat diketawain orang. Karena aku sudah punya panutan. Sudah punya alasan untuk tidak berhenti.
Dan mulai malam itu, aku janji pada diriku sendiri. Aku tidak akan menyerah sampai bisa berdiri di panggung yang sama dengan Ediwan.
Jadi kalau kalian ketemu aku sekarang, lihatlah anak kampung yang kalian kira cuma main bola plastik. Karena suatu hari nanti, aku akan buktikan, aku bisa terbang setinggi siapapun, bahkan sejauh Ediwan Vandesar.
Other Stories
Cinta Rasa Kopi
Kesalahan langkah Joylin dalam membina bahtera rumah tangga menjadi titik kulminasi bagi t ...
Cinta Di Ujung Asa
Alya mendapat beasiswa ke Leiden, namun dilema karena harus merawat bayi kembar peninggala ...
Di Bawah Atap Rumah Singgah
Vinna adalah anak orang kaya. Setelah lulus kuliah, setiap orang melihat dia akan hidup me ...
Tersesat
Tak dipungkiri, Qiran memang suka hal-hal baru. Dia suka mencari apa pun yang sekiranya bi ...
Absolute Point
Sebuah sudut pandang mahasiswa semester 13 diambang Drop Out yang terlalu malu menceritaka ...
Tersesat
Qiran yang suka hal baru nekat mengakses deep web dan menemukan sebuah lagu, lalu memamerk ...