Diejek Anak Kampung
Hidup di kampung itu asik asik saja sebenarnya. Banyak teman, lapangan tanah selalu ada, suara ayam jantan tiap pagi jadi alarm alami. Tapi ada satu hal yang tidak pernah hilang dari kehidupan bocah kampung. Ejekan. Ya kalian pasti tahu, kalau anak anak sudah kumpul, mulut mereka lebih tajam dari bambu yang dipakai jadi gawang. Dan aku, Rangga si anak kiper wannabe, jadi sasaran utama.
Aku ingat jelas pagi itu. Matahari baru nongol setengah, udaranya masih sejuk. Aku bawa bola plastik warna oranye yang sudah kempes sebelah. Aku paksa temen temenku main di lapangan. Mereka datang dengan gaya masing masing. Ada yang cuma pakai kaos dalam, ada yang belum mandi, ada yang masih belekan tapi ngotot jadi striker.
Begitu aku berdiri di gawang bambu, salah satu dari mereka langsung nyeletuk.
Woy Rangga kiper Sunda Korea. Emang bisa jadi pemain dunia Gawang aja bolong bolong.
Aku cuma senyum, meski dalam hati agak nyesek. Kiper Sunda Korea itu maksudnya karena aku anak keturunan. Ayahku orang Korea yang merantau ke Bandung, nikah sama Emak. Jadi wajahku agak beda sama bocah kampung lainnya. Kulitku lebih pucat, mata agak sipit. Tapi logatku jelas Sunda pisan. Jadi mereka sering ngejek begitu.
Lalu yang lain nambahin.
Ngimpi Rangga. Lawan striker karet gelang aja kalah. Gimana mau lawan Ronaldo
Aku tarik napas dalam. Kalau kalian di posisiku, mungkin kalian marah. Tapi aku tidak. Aku sudah terbiasa. Malah aku jadikan ejekan itu bahan bakar. Aku bilang ke diriku sendiri, kalau mereka tidak percaya, ya sudah, biar aku buktikan dengan aksi, bukan kata kata.
Pertandingan pun dimulai. Bola plastik ditendang kesana kemari. Suaranya lebih mirip kaleng kosong daripada bola sungguhan. Anak anak pada ketawa, teriak, jatuh, bangun lagi. Dan aku berdiri di gawang, siap menepis.
Temenku si Jajang maju dengan gaya sok jago. Dia ngedribble bola dengan kaki telanjang, sambil teriak teriak kayak komentator. Rangga siap siap ya aku striker internasional nih.
Aku pasang kuda kuda. Mataku tidak lepas dari bola. Jajang nendang. Bola melayang kencang sekali. Aku lompat. Tanganku melayang ke arah bola. Dan kalian tahu apa yang terjadi Bola itu mental ke mukaku. Pletak.
Semua anak kampung ketawa terbahak bahak.
Woy kiper dunia masa mukanya dipake nangkis. Hahaha.
Aku terduduk sambil pegang hidung. Perihnya bukan main. Tapi aku tidak mau kasih lihat kalau aku kesakitan. Jadi aku ikut ketawa juga. Ya sudah lah, namanya juga latihan.
Di momen lain, ada si Deden yang nendang bola kencang banget. Aku sudah siap terbang. Aku lompat setinggi mungkin, sarung tangan plastikku nyaris menyentuh bola. Tapi tetap saja, bolanya nyelip masuk ke sudut gawang. Gol.
Deden teriak kesetanan, muter muter lapangan sambil angkat tangan.
Lihat tuh Rangga. Katanya calon kiper dunia. Kalah sama striker kampung.
Anak anak lain tepuk tangan. Aku berdiri lagi, ngibasin tanah dari celana, lalu tersenyum. Dalam hati aku bilang, tunggu saja. Hari akan datang di mana kalian semua bakal lihat aku di layar televisi.
Tapi ya begitu, ejekan tidak pernah berhenti. Bahkan di luar lapangan pun mereka masih sering nyenggol aku. Waktu aku jalan ke sekolah bawa buku tulis, ada yang teriak. Eh itu tuh kiper pintu bolong. Jangan jangan bukunya juga bolong.
Kalau aku lagi jajan di warung, ada saja yang nyeletuk. Mang Asep hati hati tuh. Jangan kasih Rangga jagain warung. Nanti dagangan ilang semua.
Sakit tidak Dibilang begitu ya jelas sakit. Tapi aku punya senjata rahasia. Aku selalu ingat Ediwan Vandesar. Aku selalu ingat bagaimana dia terbang menepis penalti. Aku bilang ke diriku, kalau idolaku bisa melawan dunia, kenapa aku tidak bisa melawan ejekan anak kampung
Ada satu sore yang jadi titik balik. Waktu itu aku main lagi di lapangan. Matahari hampir tenggelam, langit warnanya oranye keemasan. Teman teman masih ketawa ketawa, tapi kali ini aku merasa lain. Aku merasa harus buktikan sesuatu.
Jajang lagi lagi datang dengan gaya sok jago. Dia nendang bola keras banget ke arah gawang. Aku sudah pasang mata. Bola melayang. Aku lompat. Dan kali ini, untuk pertama kalinya, tanganku benar benar menyentuh bola. Tidak cuma menyentuh, tapi menepisnya ke samping.
Semua anak kampung terdiam sebentar. Lalu mereka ribut lagi.
Eh gila Rangga bisa nangkis juga ternyata.
Aku terjatuh, badan sakit, tapi aku tertawa. Itu rasanya luar biasa. Seolah seluruh dunia memberiku tepuk tangan. Meski kenyataannya cuma anak anak kampung yang kaget.
Sejak hari itu, meski ejekan masih ada, aku tahu satu hal. Aku bisa. Aku bisa jadi lebih baik. Aku bisa berkembang.
Di rumah, aku cerita ke Emak. Katanya aku berhasil menepis tendangan Jajang. Emak cuma senyum, sambil bilang, Alhamdulillah nak, tapi jangan lupa belajar juga ya. Kiper boleh, tapi nilai rapor jangan merah.
Ayah yang lagi ngopi di ruang tamu ikut nyeletuk. Rangga jangan cepat puas. Kalau kamu mau jadi kiper sungguhan, kamu harus latihan lebih keras lagi. Dunia tidak peduli kamu anak siapa. Dunia cuma peduli seberapa kuat kamu berdiri di bawah gawang.
Aku terdiam. Kata kata Ayah menancap dalam. Aku tahu dia sering ledekin aku pintu bolong, tapi aku juga tahu dalam hatinya dia percaya aku bisa.
Jadi keesokan harinya, aku latihan lebih keras. Aku minta teman teman nendang bolanya lebih kencang. Aku rela jatuh berkali kali. Aku biarkan lututku lecet, tanganku merah, badan penuh tanah. Dan setiap kali aku jatuh, aku selalu bilang dalam hati. Tidak apa apa Rangga. Ini harga dari sebuah mimpi.
Tentu saja, ejekan tidak berhenti. Mereka masih manggil aku kiper Sunda Korea. Masih bilang aku tidak akan bisa. Tapi semakin mereka ngomong begitu, semakin aku bersemangat. Aku jadikan itu sebagai bahan bakar.
Kalau kalian tanya apakah aku tidak pernah nangis Jujur saja, aku pernah. Malam malam aku suka sembunyi di kamar, nangis pelan biar Emak tidak dengar. Rasanya capek juga terus diejek. Tapi setiap air mata jatuh, aku selalu tutup dengan janji baru. Aku janji suatu hari nanti aku bikin mereka semua diam.
Dan anehnya, semakin aku diejek, semakin aku merasa hidupku seperti petualangan. Seperti cerita komedi drama yang campur aduk. Kadang lucu, kadang nyesek, kadang bikin aku mau nyerah, tapi tidak pernah benar benar nyerah.
Karena di balik semua ejekan, aku tahu satu hal. Aku punya mimpi. Mimpi yang mungkin kelihatan gila. Tapi justru karena gilanya, mimpi itu layak dikejar.
Jadi kalau kalian lihat aku jatuh bangun di lapangan tanah kampung, jangan kasihan. Karena di setiap jatuhku, aku sedang membangun tembok. Tembok yang suatu hari akan jadi The Sundanese Wall.
Aku ingat jelas pagi itu. Matahari baru nongol setengah, udaranya masih sejuk. Aku bawa bola plastik warna oranye yang sudah kempes sebelah. Aku paksa temen temenku main di lapangan. Mereka datang dengan gaya masing masing. Ada yang cuma pakai kaos dalam, ada yang belum mandi, ada yang masih belekan tapi ngotot jadi striker.
Begitu aku berdiri di gawang bambu, salah satu dari mereka langsung nyeletuk.
Woy Rangga kiper Sunda Korea. Emang bisa jadi pemain dunia Gawang aja bolong bolong.
Aku cuma senyum, meski dalam hati agak nyesek. Kiper Sunda Korea itu maksudnya karena aku anak keturunan. Ayahku orang Korea yang merantau ke Bandung, nikah sama Emak. Jadi wajahku agak beda sama bocah kampung lainnya. Kulitku lebih pucat, mata agak sipit. Tapi logatku jelas Sunda pisan. Jadi mereka sering ngejek begitu.
Lalu yang lain nambahin.
Ngimpi Rangga. Lawan striker karet gelang aja kalah. Gimana mau lawan Ronaldo
Aku tarik napas dalam. Kalau kalian di posisiku, mungkin kalian marah. Tapi aku tidak. Aku sudah terbiasa. Malah aku jadikan ejekan itu bahan bakar. Aku bilang ke diriku sendiri, kalau mereka tidak percaya, ya sudah, biar aku buktikan dengan aksi, bukan kata kata.
Pertandingan pun dimulai. Bola plastik ditendang kesana kemari. Suaranya lebih mirip kaleng kosong daripada bola sungguhan. Anak anak pada ketawa, teriak, jatuh, bangun lagi. Dan aku berdiri di gawang, siap menepis.
Temenku si Jajang maju dengan gaya sok jago. Dia ngedribble bola dengan kaki telanjang, sambil teriak teriak kayak komentator. Rangga siap siap ya aku striker internasional nih.
Aku pasang kuda kuda. Mataku tidak lepas dari bola. Jajang nendang. Bola melayang kencang sekali. Aku lompat. Tanganku melayang ke arah bola. Dan kalian tahu apa yang terjadi Bola itu mental ke mukaku. Pletak.
Semua anak kampung ketawa terbahak bahak.
Woy kiper dunia masa mukanya dipake nangkis. Hahaha.
Aku terduduk sambil pegang hidung. Perihnya bukan main. Tapi aku tidak mau kasih lihat kalau aku kesakitan. Jadi aku ikut ketawa juga. Ya sudah lah, namanya juga latihan.
Di momen lain, ada si Deden yang nendang bola kencang banget. Aku sudah siap terbang. Aku lompat setinggi mungkin, sarung tangan plastikku nyaris menyentuh bola. Tapi tetap saja, bolanya nyelip masuk ke sudut gawang. Gol.
Deden teriak kesetanan, muter muter lapangan sambil angkat tangan.
Lihat tuh Rangga. Katanya calon kiper dunia. Kalah sama striker kampung.
Anak anak lain tepuk tangan. Aku berdiri lagi, ngibasin tanah dari celana, lalu tersenyum. Dalam hati aku bilang, tunggu saja. Hari akan datang di mana kalian semua bakal lihat aku di layar televisi.
Tapi ya begitu, ejekan tidak pernah berhenti. Bahkan di luar lapangan pun mereka masih sering nyenggol aku. Waktu aku jalan ke sekolah bawa buku tulis, ada yang teriak. Eh itu tuh kiper pintu bolong. Jangan jangan bukunya juga bolong.
Kalau aku lagi jajan di warung, ada saja yang nyeletuk. Mang Asep hati hati tuh. Jangan kasih Rangga jagain warung. Nanti dagangan ilang semua.
Sakit tidak Dibilang begitu ya jelas sakit. Tapi aku punya senjata rahasia. Aku selalu ingat Ediwan Vandesar. Aku selalu ingat bagaimana dia terbang menepis penalti. Aku bilang ke diriku, kalau idolaku bisa melawan dunia, kenapa aku tidak bisa melawan ejekan anak kampung
Ada satu sore yang jadi titik balik. Waktu itu aku main lagi di lapangan. Matahari hampir tenggelam, langit warnanya oranye keemasan. Teman teman masih ketawa ketawa, tapi kali ini aku merasa lain. Aku merasa harus buktikan sesuatu.
Jajang lagi lagi datang dengan gaya sok jago. Dia nendang bola keras banget ke arah gawang. Aku sudah pasang mata. Bola melayang. Aku lompat. Dan kali ini, untuk pertama kalinya, tanganku benar benar menyentuh bola. Tidak cuma menyentuh, tapi menepisnya ke samping.
Semua anak kampung terdiam sebentar. Lalu mereka ribut lagi.
Eh gila Rangga bisa nangkis juga ternyata.
Aku terjatuh, badan sakit, tapi aku tertawa. Itu rasanya luar biasa. Seolah seluruh dunia memberiku tepuk tangan. Meski kenyataannya cuma anak anak kampung yang kaget.
Sejak hari itu, meski ejekan masih ada, aku tahu satu hal. Aku bisa. Aku bisa jadi lebih baik. Aku bisa berkembang.
Di rumah, aku cerita ke Emak. Katanya aku berhasil menepis tendangan Jajang. Emak cuma senyum, sambil bilang, Alhamdulillah nak, tapi jangan lupa belajar juga ya. Kiper boleh, tapi nilai rapor jangan merah.
Ayah yang lagi ngopi di ruang tamu ikut nyeletuk. Rangga jangan cepat puas. Kalau kamu mau jadi kiper sungguhan, kamu harus latihan lebih keras lagi. Dunia tidak peduli kamu anak siapa. Dunia cuma peduli seberapa kuat kamu berdiri di bawah gawang.
Aku terdiam. Kata kata Ayah menancap dalam. Aku tahu dia sering ledekin aku pintu bolong, tapi aku juga tahu dalam hatinya dia percaya aku bisa.
Jadi keesokan harinya, aku latihan lebih keras. Aku minta teman teman nendang bolanya lebih kencang. Aku rela jatuh berkali kali. Aku biarkan lututku lecet, tanganku merah, badan penuh tanah. Dan setiap kali aku jatuh, aku selalu bilang dalam hati. Tidak apa apa Rangga. Ini harga dari sebuah mimpi.
Tentu saja, ejekan tidak berhenti. Mereka masih manggil aku kiper Sunda Korea. Masih bilang aku tidak akan bisa. Tapi semakin mereka ngomong begitu, semakin aku bersemangat. Aku jadikan itu sebagai bahan bakar.
Kalau kalian tanya apakah aku tidak pernah nangis Jujur saja, aku pernah. Malam malam aku suka sembunyi di kamar, nangis pelan biar Emak tidak dengar. Rasanya capek juga terus diejek. Tapi setiap air mata jatuh, aku selalu tutup dengan janji baru. Aku janji suatu hari nanti aku bikin mereka semua diam.
Dan anehnya, semakin aku diejek, semakin aku merasa hidupku seperti petualangan. Seperti cerita komedi drama yang campur aduk. Kadang lucu, kadang nyesek, kadang bikin aku mau nyerah, tapi tidak pernah benar benar nyerah.
Karena di balik semua ejekan, aku tahu satu hal. Aku punya mimpi. Mimpi yang mungkin kelihatan gila. Tapi justru karena gilanya, mimpi itu layak dikejar.
Jadi kalau kalian lihat aku jatuh bangun di lapangan tanah kampung, jangan kasihan. Karena di setiap jatuhku, aku sedang membangun tembok. Tembok yang suatu hari akan jadi The Sundanese Wall.
Other Stories
Bayangan Malam
Riel terus bereinkarnasi untuk keseimbangan Klan Iblis dan Klan Dewi. Tapi ia harus merela ...
Ablasa
Perjalanan Nindya dan teman-temannya ke Nusakambangan menjadi menyeramkan setelah mereka t ...
Suffer Alone In Emptiness
Shiona Prameswari, siswi pendiam kelas XI IPA 3, tampak polos dan penyendiri. Namun tiap p ...
Katamu Aku Cantik
Ratna adalah korban pelecehan seksual di masa kecil dan memilih untuk merahasiakannya samb ...
Luka
LUKA Tiga sahabat. Tiga jalan hidup. Tiga luka yang tak kasatmata. Moana, pejuang garis ...
Kukejar Impian Besarku
Ramon, Yongki,Dino,Jodi,Eka adalah sekumpulan anak band yg rutin manggung di sebuah cafe d ...