Keeper Of Destiny

Reads
1.4K
Votes
0
Parts
15
Vote
Report
Penulis TJOE 21

Turnamen Tarkam Pertama

Lapangan itu bukan stadion megah. Rumputnya lebih banyak botak ketimbang hijau, garis kapur setengah hilang, gawangnya pakai tiang besi bekas jemuran, dan tribun penonton cuma deretan kursi plastik plus bale bambu di pinggir sawah. Tapi bagi Rangga, bocah kelas enam SD, lapangan ini terasa seperti Old Trafford. Sungguh. Jangan protes. Biarpun lapangan tarkam, baginya inilah panggung dunia.

Rangga berdiri di depan gawang. Sarung tangan kebesaran yang ia pakai adalah hasil sumbangan pelatih kampung, warnanya merah pudar, jahitannya sobek di jempol. Kaus tim biru muda menempel penuh noda tanah, dan celananya kebesaran dua nomor, jadi harus dikencangkan dengan ikat pinggang plastik warna hijau. Kalau dilihat, bukannya kiper, malah mirip anak hilang baru pulang main layangan. Tapi jangan salah, di balik tampang lugu itu, Rangga punya tekad baja. Ingat ya, baja, bukan kaleng susu.

"Hei bocah, kamu yakin bisa jaga gawang lawan kita nanti?" tanya Budi, striker remaja yang sudah SMP, badannya lebih gede dari Rangga dua kali lipat.

Rangga mengangguk mantap. "Bisa. Kalau enggak bisa ya sudah, tapi aku bakal coba."

Jawaban polos itu membuat teman setimnya cekikikan. Ada yang geleng kepala, ada yang nyeletuk, "Yaelah, gawang bisa jadi bolong semua kalau bocah ini yang jaga."

Nah, sekarang mari aku ceritakan betapa gila suasana turnamen ini. Jadi, bayangkan saja. Di pinggir lapangan, ada tukang bakso mangkal, asapnya mengepul ke angin, bikin perut keroncongan. Ada ibu-ibu jualan cilok, teriak-teriak promosi. Anak-anak kecil berkeliaran, bawa layangan sambil lari-lari. Dan tentu saja, bapak-bapak duduk melingkar sambil ngopi, siap jadi komentator dadakan. Percayalah, komentator mereka jauh lebih kejam daripada komentator TV resmi.

"Eh, lihat tuh kipernya. Bocah ingusan."
"Itu mau jaga gawang apa mau jadi korban penalti."
"Kasihan striker lawan, nanti bosan gol terus."

Terima kasih, para bapak. Kalian sungguh luar biasa menyemangati.

Peluit tanda mulai ditiup. Jantung Rangga deg-degan, bukan deg-degan biasa, tapi kayak dikejar anjing kampung. Tim lawan, anak-anak remaja kelas SMP atas, langsung menyerang. Tendangan pertama meluncur deras, keras, dan...

"Byar!"

Bola menabrak perut Rangga. Sakitnya luar biasa. Bayangkan kena lemparan batu bata tapi dalam bentuk bola. Nafasnya nyaris hilang. Tapi dia bertahan, jatuh berguling, lalu berdiri lagi. Bola diam dalam pelukannya.

Penonton heboh. "Wooo! Bocah bisa nangkep!"

Rangga memeluk bola erat-erat sambil nyengir. Dalam hati, ia bersyukur celananya kebesaran, jadi perutnya tertutup lapisan kain ganda. Untung juga dia sarapan nasi uduk dua bungkus. Kalau enggak, mungkin sudah pingsan.

Hei pembaca, jangan ketawa dulu. Sakitnya asli loh. Tapi ya, beginilah harga diri seorang kiper. Kalau kamu pikir jadi kiper gampang, coba berdiri di lapangan, lawan anak-anak gede, lalu tunggu bola meluncur seperti meteor. Rasakan sendiri bagaimana rasanya tulang rusukmu minta cuti.

Permainan berlanjut. Serangan demi serangan datang, dan Rangga beberapa kali bikin penyelamatan ajaib. Kadang pakai tangan, kadang pakai kaki, kadang pakai wajah. Iya, wajah.

Suatu kali, bola meluncur deras ke arah atas. Rangga salah langkah, lompat setengah telat, dan... "Pletak!" Bola menabrak mukanya langsung. Ia jatuh terguling, hidung perih, bibir berdarah sedikit, tapi bola memantul keluar lapangan.

Teman setimnya bersorak. "Mantap, Rangga!"

Rangga duduk sambil meringis. Dalam hati ia berbisik ke pembaca, hei, jangan salah paham, itu bukan teknik profesional. Itu murni muka dijadikan tameng. Tapi ya sudah, yang penting bola enggak masuk.

Lawan mulai kesal. Mereka menyepelekan bocah kecil ini, tapi makin lama makin sadar, bocah itu bukan kiper biasa. Ia punya sesuatu yang tidak bisa dilihat dengan kasat mata: mental pantang menyerah.

Menit-menit berikutnya jadi kacau balau. Ada momen lucu saat Rangga salah perhitungan, bola meluncur ke arah gawang, ia melompat terlalu jauh, sampai-sampai nabrak tiang gawang. Penonton ketawa ngakak. "Waduh, kipernya hampir patah tulang!" Tapi hebatnya, bola justru mental ke luar gara-gara tubuhnya menabrak tiang. Jadi gol batal.

Hei, lihat kan? Kadang keberuntungan berpihak pada yang nekat.

Waktu terus berjalan. Skor masih imbang. Anak-anak kampung tim Rangga mulai ngos-ngosan. Lawan makin beringas. Tendangan keras kembali dilepaskan. Kali ini bola mengarah ke pojok kanan bawah. Semua orang yakin gol. Tapi tiba-tiba...

"Jreng!"

Oke, sebenarnya enggak ada musik jreng, tapi bayangkan saja ada efek dramatis. Rangga terbang, seolah punya sayap, tangannya merentang, jari-jarinya menyentuh bola, dan tipis sekali, tapi cukup! Bola membelok, mengenai tiang, lalu keluar.

Penonton berdiri, sorak-sorai menggema. Anak-anak kecil melompat-lompat, ibu-ibu teriak histeris, bapak-bapak yang tadi mengejek mendadak terdiam lalu tepuk tangan.

Teman setimnya berlari menghampiri. "Gila, Rangga! Kamu malaikat gawang!"

Rangga terengah-engah, keringat bercucuran, tapi ia hanya tersenyum. Dalam hati ia bergumam, hei pembaca, kau lihat kan? Aku bukan pintu bolong. Aku tembok kecil.

Waktu hampir habis. Skor masih 0-0. Lawan dapat kesempatan terakhir: tendangan bebas di luar kotak penalti. Semua orang menahan napas. Striker lawan melangkah maju. Tendangan kerasnya meluncur, bola melayang cepat, menuju sudut atas.

Rangga melompat lagi. Dunia terasa melambat. Suara sorak penonton jadi samar. Ia terbang, tangannya terulur. Dan

"Plak!"

Ia berhasil menepis bola itu ke atas gawang. Peluit panjang berbunyi. Pertandingan berakhir seri.

Tentu saja, ini bukan kemenangan penuh. Tapi bagi Rangga, hasil imbang melawan tim yang lebih besar sudah terasa seperti juara dunia. Teman-temannya mengangkat tubuhnya, sorak-sorai menggema.

"Rangga! Rangga! Rangga!"

Di tengah kegembiraan itu, Rangga menoleh pada penonton. Ia ingin bilang sesuatu, tapi menahannya. Sebagai gantinya, ia menatap pembaca. Hei, kamu. Iya, kamu yang baca ini. Ingatlah satu hal: jangan pernah remehkan mimpi anak kecil. Kadang, justru mereka yang paling berani berdiri di depan badai.

Sore itu, matahari tenggelam di balik sawah. Lapangan tarkam kembali sepi, hanya menyisakan bekas sepatu dan tawa yang menggema. Rangga berjalan pulang, membawa sarung tangan sobek, celana kotor, tapi juga membawa sesuatu yang lebih berharga: keyakinan bahwa dirinya memang terlahir untuk menjaga gawang.

Dan meski jalannya masih panjang, ia tahu satu hal. Ia akan terus berdiri di depan bola, apapun yang terjadi. Karena itulah dirinya. Karena ia adalah si bocah gawang bambu yang berani melawan siapa saja.

Other Stories
Waktu Tambahan

Seorang mantan pesepakbola tua yang karirnya sudah redup, berkesempatan untuk melatih seke ...

7 Misteri Korea

Saat liputan di Korea, pemandu Dimas dan Devi terbunuh, dan mereka jadi tertuduh. Bisakah ...

Impianku

ini adalah sebuah cerita tentang impianku yang tertunda selama 10 tahun ...

Cahaya Menembus Senesta

Manusia tidak akan mampu hidup sendiri, mereka membutuhkan teman. Sebab dengan pertemanan, ...

Hidup Sebatang Rokok

Suratemu tumbuh dalam belenggu cinta Ibu yang otoriter, nyaris menjadi kelinci percobaan d ...

Langit Ungu

Cerita tentang Oc dari Penulis. karakter utama - Moon Light "Hidup cuma sekali? Lalu be ...

Download Titik & Koma