Latihan Intensif Timnas U-15
Aku menatap lapangan luas yang terbentang di depan mata. Rumputnya masih basah karena hujan semalam dan udara pagi yang sejuk menusuk hidung. Di sini aku, Rangga si bocah kampung, harus belajar menjadi kiper timnas. Serius, siapa yang menyangka anak yang dulu main bola pakai sandal jepit sekarang berdiri di tengah pusat latihan nasional
Aku menghela napas dan mencoba menenangkan diri. Oke Rangga, ini bukan lapangan kampung lagi, ini arena di mana para pemain dari seluruh Indonesia berkumpul. Jangan grogi, fokus, dan jangan sampai jadi meme viral.
"Eh kamu Rangga kan?" seorang pemuda mendekat sambil tersenyum. Rambutnya pirang, kulitnya coklat sawo matang. "Aku Ardi, striker tim. Jangan terlalu serius ya, nanti gampang mati gaya."
Aku cuma mengangguk sambil tersenyum canggung. Serius, mereka semua kelihatan hebat, tinggi, kekar, dan gerakan kaki mereka secepat kilat. Aku cuma merasa mini. Tapi kalau aku bilang begitu, pasti aku bakal terdengar lemah. Jadi aku simpan di hati dan mencoba berpura-pura santai.
Latihan dimulai. Pemanasan lari mengelilingi lapangan. Aku mengayunkan kaki dan mengatur napas, tapi cepat saja aku sudah ngos-ngosan. "Astaga, ini bukan sprint di kampung," batinku. Pelatih melihatku dari jauh, alisnya terangkat, tapi aku yakin dia melihat potensi yang tersembunyi.
Setelah pemanasan, masuk ke latihan kiper. Diving di rumput basah. Bola dilempar satu per satu. Aku mencoba menangkisnya.
"Rangga, cepat! Jangan pikirkan!" pelatih berteriak.
Aku menunduk, menatap bola yang datang kencang. Aku lompat dan gagal menangkapnya. Bola meleset dan nyaris menabrak kepala pelatih.
"Aduh Rangga!" pelatih tertawa sambil menepuk bahu. "Kamu punya refleks unik. Jangan menyerah, coba lagi!"
Teman-teman satu timku tertawa. Bahkan Ardi menepuk punggungku sambil bercanda, "Wah, Rangga, gaya tangkapmu itu unik banget. Bisa jadi viral tuh kalau ada kamera."
Aku tersenyum malu tapi dalam hati aku bertekad. Tidak apa-apa, ini baru latihan pertama. Aku harus membuktikan kalau ukuran tubuhku kecil bukan berarti aku kalah.
Latihan berikutnya adalah simulasi penalti. Aku berdiri di gawang, jantung berdegup kencang. Striker dari tim lain bersiap. Bola menggelinding ke arahku dengan kecepatan tinggi. Aku lompat, menangkis dan jatuh terguling karena salah mengukur jarak. Bola masuk ke gawang, tapi aku tertawa geli karena posisi jatuhku sangat dramatis.
"Rangga, kamu kiper atau badut?" teman satu timku teriak sambil menahan tawa.
Aku bangkit sambil mengelap rumput dari baju, menatap mereka dan berkata, "Hei, jangan senang dulu, aku masih belajar."
oke, kalian yang baca ini mungkin mikir aku payah. Tapi tunggu dulu, ini baru pemanasan. Tunggu sampai aku benar-benar nyelam dan menepis bola secepat kilat, kalian bakal bilang, 'Wih, bocah kampung ini serius banget.'
Setelah itu, latihan fisik semakin intens. Lari sprint, jongkok, push-up, diving, refleks, koordinasi tangan-mata. Aku merasakan otot-ototku sakit, keringat menetes deras, tapi aku terus maju. Setiap kali aku ingin menyerah, aku ingat kampungku, teman-temanku, dan bola plastik tua yang dulu aku mainkan di gang sempit. Aku tidak boleh menyerah.
Di sela-sela latihan, ada momen lucu. Aku mencoba menirukan gaya selebrasi pemain profesional. Aku lompat dramatis setelah menangkap bola dan tergelincir, menabrak tiang gawang. Semua tertawa, termasuk pelatih.
"Rangga, kamu memang kocak, tapi ada potensi besar di situ," pelatih menepuk pundakku.
Aku menatap bola di tangan, tersenyum sambil berkata dalam hati, "Oke, aku Rangga si mini, tapi aku akan jadi tembok di gawang ini. Tunggu saja."
Di waktu istirahat, teman-teman satu tim mulai bercanda-canda. Ada yang menantangku lomba lari keliling lapangan. Aku tahu aku kalah dari segi tinggi dan kekuatan, tapi aku tidak menyerah. Aku lari sekuat tenaga, hampir terengah-engah, tapi berhasil finish lebih dulu satu detik dari pemain yang menganggap aku lemah. Semua tertawa dan tepuk tangan.
"Eh Rangga, siapa sangka kiper kecil bisa ngelawan raksasa," kata Ardi sambil menepuk punggungku.
Aku cuma tersenyum. Itu momen slice of life yang membuatku merasa diterima. Aku bukan lagi anak kampung yang sendirian, tapi bagian dari tim.
Setelah itu, latihan kembali ke teknik kiper. Bola dilempar dengan kecepatan tinggi. Aku menunduk, konsentrasi penuh. Bola datang, aku lompat, tangan menepuk tepat di bola. Refleksnya pas, pelatih bertepuk tangan.
"Ya! Itu dia! Refleksmu hebat, Rangga!" pelatih berteriak.
Aku tersenyum lega. Akhirnya breakthrough kecil, tapi berarti besar buatku. Mentalku mulai kuat. Aku merasa percaya diri, walau masih banyak yang harus dipelajari.
oke, kalian pasti mikir aku sekarang kiper jago, tapi jangan keburu senang. Ini baru awal. Masih banyak pertandingan, seleksi, dan rival yang bakal bikin aku berkeringat lebih banyak lagi. Tapi percayalah, aku tidak akan menyerah. Tidak peduli seberapa besar lawannya, aku Rangga si pantang menyerah, siap menghadapi apa pun di gawang ini.
Sore mulai menurun, sinar matahari keemasan menyinari lapangan. Aku duduk di tepi lapangan, minum air, sambil menatap bola yang sekarang terasa lebih berat karena latihan yang melelahkan. Tapi ada rasa bangga di hati. Aku tahu, besok akan lebih berat, tapi aku siap.
"Rangga, jangan kelihatan lelah di depan tim," kata Ardi sambil menyodorkan botol minum.
Aku menoleh, tersenyum, dan menerima. "Tenang, aku cuma menunggu momen untuk bikin kalian semua kaget."
Semua tertawa. Aku ikut tertawa, merasakan kebahagiaan yang sulit dijelaskan. Ini bukan hanya tentang latihan fisik atau menepis bola. Ini tentang persahabatan, tentang menemukan diriku di antara orang-orang hebat, dan tentang perjalanan yang baru saja dimulai.
Aku menatap langit yang mulai berubah warna. "Dari kampung ke lapangan nasional," batinku. "Ini baru permulaan. Tunggu saja, dunia akan melihat siapa Rangga sebenarnya."
Dan dengan itu, aku berdiri kembali, mengangkat bola di tangan, siap menghadapi lemparan berikutnya.
Aku menghela napas dan mencoba menenangkan diri. Oke Rangga, ini bukan lapangan kampung lagi, ini arena di mana para pemain dari seluruh Indonesia berkumpul. Jangan grogi, fokus, dan jangan sampai jadi meme viral.
"Eh kamu Rangga kan?" seorang pemuda mendekat sambil tersenyum. Rambutnya pirang, kulitnya coklat sawo matang. "Aku Ardi, striker tim. Jangan terlalu serius ya, nanti gampang mati gaya."
Aku cuma mengangguk sambil tersenyum canggung. Serius, mereka semua kelihatan hebat, tinggi, kekar, dan gerakan kaki mereka secepat kilat. Aku cuma merasa mini. Tapi kalau aku bilang begitu, pasti aku bakal terdengar lemah. Jadi aku simpan di hati dan mencoba berpura-pura santai.
Latihan dimulai. Pemanasan lari mengelilingi lapangan. Aku mengayunkan kaki dan mengatur napas, tapi cepat saja aku sudah ngos-ngosan. "Astaga, ini bukan sprint di kampung," batinku. Pelatih melihatku dari jauh, alisnya terangkat, tapi aku yakin dia melihat potensi yang tersembunyi.
Setelah pemanasan, masuk ke latihan kiper. Diving di rumput basah. Bola dilempar satu per satu. Aku mencoba menangkisnya.
"Rangga, cepat! Jangan pikirkan!" pelatih berteriak.
Aku menunduk, menatap bola yang datang kencang. Aku lompat dan gagal menangkapnya. Bola meleset dan nyaris menabrak kepala pelatih.
"Aduh Rangga!" pelatih tertawa sambil menepuk bahu. "Kamu punya refleks unik. Jangan menyerah, coba lagi!"
Teman-teman satu timku tertawa. Bahkan Ardi menepuk punggungku sambil bercanda, "Wah, Rangga, gaya tangkapmu itu unik banget. Bisa jadi viral tuh kalau ada kamera."
Aku tersenyum malu tapi dalam hati aku bertekad. Tidak apa-apa, ini baru latihan pertama. Aku harus membuktikan kalau ukuran tubuhku kecil bukan berarti aku kalah.
Latihan berikutnya adalah simulasi penalti. Aku berdiri di gawang, jantung berdegup kencang. Striker dari tim lain bersiap. Bola menggelinding ke arahku dengan kecepatan tinggi. Aku lompat, menangkis dan jatuh terguling karena salah mengukur jarak. Bola masuk ke gawang, tapi aku tertawa geli karena posisi jatuhku sangat dramatis.
"Rangga, kamu kiper atau badut?" teman satu timku teriak sambil menahan tawa.
Aku bangkit sambil mengelap rumput dari baju, menatap mereka dan berkata, "Hei, jangan senang dulu, aku masih belajar."
oke, kalian yang baca ini mungkin mikir aku payah. Tapi tunggu dulu, ini baru pemanasan. Tunggu sampai aku benar-benar nyelam dan menepis bola secepat kilat, kalian bakal bilang, 'Wih, bocah kampung ini serius banget.'
Setelah itu, latihan fisik semakin intens. Lari sprint, jongkok, push-up, diving, refleks, koordinasi tangan-mata. Aku merasakan otot-ototku sakit, keringat menetes deras, tapi aku terus maju. Setiap kali aku ingin menyerah, aku ingat kampungku, teman-temanku, dan bola plastik tua yang dulu aku mainkan di gang sempit. Aku tidak boleh menyerah.
Di sela-sela latihan, ada momen lucu. Aku mencoba menirukan gaya selebrasi pemain profesional. Aku lompat dramatis setelah menangkap bola dan tergelincir, menabrak tiang gawang. Semua tertawa, termasuk pelatih.
"Rangga, kamu memang kocak, tapi ada potensi besar di situ," pelatih menepuk pundakku.
Aku menatap bola di tangan, tersenyum sambil berkata dalam hati, "Oke, aku Rangga si mini, tapi aku akan jadi tembok di gawang ini. Tunggu saja."
Di waktu istirahat, teman-teman satu tim mulai bercanda-canda. Ada yang menantangku lomba lari keliling lapangan. Aku tahu aku kalah dari segi tinggi dan kekuatan, tapi aku tidak menyerah. Aku lari sekuat tenaga, hampir terengah-engah, tapi berhasil finish lebih dulu satu detik dari pemain yang menganggap aku lemah. Semua tertawa dan tepuk tangan.
"Eh Rangga, siapa sangka kiper kecil bisa ngelawan raksasa," kata Ardi sambil menepuk punggungku.
Aku cuma tersenyum. Itu momen slice of life yang membuatku merasa diterima. Aku bukan lagi anak kampung yang sendirian, tapi bagian dari tim.
Setelah itu, latihan kembali ke teknik kiper. Bola dilempar dengan kecepatan tinggi. Aku menunduk, konsentrasi penuh. Bola datang, aku lompat, tangan menepuk tepat di bola. Refleksnya pas, pelatih bertepuk tangan.
"Ya! Itu dia! Refleksmu hebat, Rangga!" pelatih berteriak.
Aku tersenyum lega. Akhirnya breakthrough kecil, tapi berarti besar buatku. Mentalku mulai kuat. Aku merasa percaya diri, walau masih banyak yang harus dipelajari.
oke, kalian pasti mikir aku sekarang kiper jago, tapi jangan keburu senang. Ini baru awal. Masih banyak pertandingan, seleksi, dan rival yang bakal bikin aku berkeringat lebih banyak lagi. Tapi percayalah, aku tidak akan menyerah. Tidak peduli seberapa besar lawannya, aku Rangga si pantang menyerah, siap menghadapi apa pun di gawang ini.
Sore mulai menurun, sinar matahari keemasan menyinari lapangan. Aku duduk di tepi lapangan, minum air, sambil menatap bola yang sekarang terasa lebih berat karena latihan yang melelahkan. Tapi ada rasa bangga di hati. Aku tahu, besok akan lebih berat, tapi aku siap.
"Rangga, jangan kelihatan lelah di depan tim," kata Ardi sambil menyodorkan botol minum.
Aku menoleh, tersenyum, dan menerima. "Tenang, aku cuma menunggu momen untuk bikin kalian semua kaget."
Semua tertawa. Aku ikut tertawa, merasakan kebahagiaan yang sulit dijelaskan. Ini bukan hanya tentang latihan fisik atau menepis bola. Ini tentang persahabatan, tentang menemukan diriku di antara orang-orang hebat, dan tentang perjalanan yang baru saja dimulai.
Aku menatap langit yang mulai berubah warna. "Dari kampung ke lapangan nasional," batinku. "Ini baru permulaan. Tunggu saja, dunia akan melihat siapa Rangga sebenarnya."
Dan dengan itu, aku berdiri kembali, mengangkat bola di tangan, siap menghadapi lemparan berikutnya.
Other Stories
Kita Pantas Kan?
Bukan soal berapa uangmu atau seberapa cantik dirimu tapi, bagaimana cara dirimu berdiri m ...
Nina Bobo ( Halusinada )
JAM DINDING menunjukkan pukul 12 lewat. Nina kini terlihat tidur sendiri. Suasana sunyi. S ...
Kala Menjadi Cahaya Menjemput Harapan Di Tengah Gelap
Hidup Arka runtuh dalam sekejap. Pekerjaan yang ia banggakan hilang, ayahnya jatuh sakit p ...
Autumn's Journey
Henri Samuel, penulis yang popularitasnya meredup, mendapat tugas riset ke Korea Selatan. ...
Cinta Satu Paket
Namanya Renata Mutiara, secantik dan selembut mutiara. Kelas sebelas dan usianya yang te ...
Queen, The Last Dance
Di panggung megah, di tengah sorak sorai penonton yang mengelu-elukan namanya, ada air mat ...