Seleksi Tim AEF U-16
Pagi itu udara Jakarta masih lembab dan panasnya udah kayak wajan gorengan di siang bolong. Aku berdiri di pinggir lapangan nasional tempat seleksi AEF U-16 diadain. Di sekelilingku, anak-anak dari seluruh Indonesia udah siap dengan seragam latihan. Semua tinggi-tinggi, bahunya lebar, sepatunya kinclong, dan rambutnya rapi kayak iklan sampo.
Aku? Sepatuku udah belel, sarung tanganku masih bau lumpur dari pertandingan kemarin, dan rambutku yah, udah kayak rumput sintetis. Tapi ya sudahlah, aku kan bukan mau adu gaya rambut. Aku mau jadi kiper.
Pelatih berteriak dari tengah lapangan “Semua kumpul di garis tengah. Kita mulai seleksi hari ini. Siapa yang mau jadi kiper utama AEF U-16, tunjukkan nyalimu!”
Aku melangkah ke depan. Di sebelahku ada dua kiper lain, satu dari Surabaya, satunya lagi katanya dari akademi terkenal di Eropa. Aku nengok ke kanan, kiper dari Surabaya senyum pede, “Gue Dimas, siap ngerebut posisi lo.”
Aku balas senyum, “Rangga. Siap rebut balik posisinya.”
Dia ketawa kecil, “Keren. Tapi jangan jatuh kayak di video turnamen kemarin ya.”
Aku melotot kaget, “Lah, lu nonton?”
Dia jawab santai, “Satu Indonesia nonton, bro. Si kiper lumpur jadi viral.”
Oke, hatiku panas sedikit. Tapi aku malah ketawa. “Siap. Hari ini mungkin aku bakal bikin episode dua.”
Seleksi dimulai. Pelatih bagi kami jadi dua tim besar. Aku dimasukin ke tim merah. Kami disuruh latihan reaksi cepat. Ada alat kayak mesin pelontar bola. Setiap lima detik, bola dilempar ke arah gawang dari jarak berbeda.
Pelatih teriak “Siap posisi!”
Aku berdiri tegak, tangan siap. Bola pertama meluncur ke kiri. Aku lompat, berhasil tepok bola keluar.
Bola kedua datang dari kanan. Aku jatuh, masih bisa tangkap.
Bola ketiga tiba-tiba datang tepat ke muka. Blep! Bola nempel di wajahku.
Semua pemain ketawa. Aku berdiri, muka merah tapi tetap senyum. “Tenang, Coach. Bola tadi udah aku tahan pakai pipi. Latihan refleks wajah.”
Pelatih ngakak, “Refleksnya bagus, tapi muka jangan dijadikan perisai ya!”
“Siap, Coach. Tapi muka saya lebih kuat dari tiang gawang.”
Setelah sesi pelontar bola, kami lanjut ke simulasi pertandingan. Di depan gawangku berdiri striker tinggi besar dari Sumatera, namanya Miko. Dia ngomong dengan nada berat “Maaf ya, Rangga. Aku bakal bikin kamu kerja keras.”
Aku nyengir, “Gak papa, asal jangan bikin aku kerja lembur.”
Pertandingan kecil itu panas banget. Matahari makin tinggi, dan aku udah mulai kebayang nasi padang di warung seberang. Tapi tiap kali bola datang, pikiranku langsung fokus.
Satu kali Miko lepas dari penjagaan, nendang keras banget. Aku terbang ke kiri, bola mental. Aku belum sempet bangun, bola pantulannya langsung disambut tembakan kedua. Aku lompat lagi, kali ini ke kanan.
“Nice save!” teriak pelatih.
Aku ngangkat tangan, masih di tanah, “Coach, izinkan saya tidur lima detik.”
Semua pemain ketawa. Tapi pelatih keliatan puas.
Setelah satu jam, seleksi lanjut ke sesi kombinasi. Aku diminta latihan bareng kiper senior, namanya Bang Reno. Dia kiper senior Timnas U-19. Badannya gede, tenangnya kayak tembok beton.
Dia ngomong ke aku, “Jaga posisi, dek. Jangan banyak gaya.”
Aku jawab, “Siap, Bang. Tapi kalau saya terbang dikit biar keren boleh kan?”
Dia ketawa kecil, “Ya asal gak jatuh ke saya.”
Latihan dimulai. Kami latihan tangkap silang. Pelatih tendang bola tinggi. Aku lari ke depan, lompat tinggi. Bola berhasil aku tangkap… tapi kaki kananku nyenggol punggung Bang Reno. Kami berdua jatuh bareng.
“Woi! Siapa yang dorong?!” teriak Bang Reno dari bawah.
Aku berdiri cepat, panik. “Maaf, Bang. Saya salah perhitungan. Tapi bola aman!”
Dia bangun, liat bola di tanganku, lalu senyum. “Ya udah, yang penting gak gol.”
Pelatih malah teriak dari pinggir “Dua kiper jatuh bareng, untung bukan gawangnya yang roboh!”
Semua ketawa. Aku garuk kepala, “Coach, maaf. Saya lupa ukur jarak. Kalau di kampung, lapangannya lebih kecil.”
Pelatih jawab, “Kalau di kampung lapangan kecil, berarti mentalmu besar. Tunjukin terus!”
Seleksi lanjut lagi. Kali ini tes reaksi cepat dengan lawan hidup. Empat striker gantian nendang bola ke arahku. Aku nahan semua semampuku. Keringat udah kayak air hujan, tapi aku gak mau berhenti.
Satu bola datang deras dari kanan. Aku lompat, tepok keluar. Bola kedua datang dari tengah, aku tangkap. Bola ketiga datang pelan, tapi nyelip di bawah kaki. Hampir masuk, tapi aku dorong keluar pakai ujung sepatu.
“Rangga!” pelatih teriak.
“Siap, Coach?”
“Kalau tadi gak kamu tahan, udah gol.”
Aku nyengir, “Tapi kan gak jadi, Coach. Saya juga gak suka drama tanpa plot twist.”
Sesi terakhir adalah uji koordinasi tim. Aku harus jadi kiper buat kombinasi umpan balik cepat. Tiga pemain belakang harus oper ke aku, terus aku harus tendang ke gelandang, semua dalam hitungan detik.
Aku dapat bola dari bek kiri, langsung tendang ke tengah, tepat sasaran. Bek kanan oper lagi, aku pantul balik. Terakhir, bola datang kencang banget dari jarak dekat, aku kontrol pakai dada lalu passing sempurna.
Pelatih meniup peluit, “Bagus! Ini baru refleks dan koordinasi.”
Aku jawab sambil ngos-ngosan, “Coach, boleh minum dulu? Lidah saya udah kayak sandal panas.”
Pelatih ketawa lagi. “Silakan, Tembok Mini.”
Begitu beliau bilang itu, aku bengong. “Coach, panggil saya apa?”
“Tembok Mini. Itu julukanmu kan? Dari video kemarin.”
Aku tertawa pelan, “Ya ampun, sampai sini juga terkenal. Semoga gak jadi bahan meme lagi.”
Siang makin terik. Seleksi hari pertama selesai. Kami semua dikasih waktu istirahat. Aku duduk di pinggir lapangan, ngelepas sarung tangan, ngebuang napas berat. Dimas duduk di sebelahku.
“Lu gokil juga, Rangga. Refleks lu cepet.”
Aku balas, “Makasih. Tapi lu juga tendangannya kayak roket.”
Dia ngelirik, “Kita saingan tapi asik juga ya.”
Aku senyum, “Saingan sehat, bro. Yang penting bukan saingan rebut nasi goreng.”
Kami berdua ketawa.
Sambil minum air, aku ngelihat ke arah tribun. Di sana ada beberapa orang pakai jas rapi, bawa buku catatan dan tablet. Pelatih berbisik ke asisten, lalu nunjuk ke arahku. Aku bisa ngerasa mata mereka ngikutin setiap gerakanku.
Aku ngomong pelan ke diri sendiri, tapi juga kayak ke kalian yang baca. “Oke, kelihatannya ada orang penting yang liat. Tenang, Rangga. Jangan panik. Jangan jatuh lagi.”
Tapi ya, hidup kadang suka bercanda. Waktu aku berdiri, kakiku nyenggol botol minum sendiri. Aku hampir jatuh lagi tapi berhasil seimbang.
Aku nengok ke arah penonton dan senyum pura-pura tenang. “Santai, itu bagian dari pemanasan.”
Hari mulai sore. Pelatih ngumpulin kami semua di tengah lapangan.
“Anak-anak, kalian udah kerja keras hari ini. Besok kita lanjut sesi terakhir. Dari ratusan peserta, cuma 25 yang bakal lanjut ke tahap akhir. Kalian istirahat, makan cukup, jangan keluyuran malam.”
Kami semua jawab kompak, “Siap, Coach!”
Aku jalan pelan ke asrama pemain. Tas di punggung berat tapi hati ringan. Di jalan, aku ngomong sendiri, lagi-lagi kayak ngomong ke kalian yang lagi baca. “Tadi aku jatuh, kepeleset, hampir jadi meme baru, tapi aku juga nahan puluhan tembakan. Itu artinya satu hal… aku makin dekat ke mimpiku.”
Di asrama, Rio udah nunggu di ranjang bawah.
“Bro! Gimana seleksinya?”
Aku lempar sarung tangan ke atas kasur. “Capek, tapi seru. Aku jatuh bareng kiper senior, bola nyangkut di muka, tapi masih hidup.”
Rio ngakak keras banget. “Lu emang kiper paling drama.”
Aku senyum, “Ya iyalah. Kalau gak drama, penonton gak bakal ingat siapa aku.”
Kami ngobrol lama sambil makan roti coklat dan susu kotak. Di luar jendela, suara jangkrik mulai kedengeran. Aku tiduran, mandang langit-langit asrama. Pikiranku muter terus. Bayangan gawang, bola, sorak penonton, semua berputar di kepala.
Aku ngomong pelan, kali ini lebih ke diri sendiri tapi kalian boleh denger juga. “Aku tahu perjalanan ini panjang banget. Tapi aku gak bakal mundur. Aku udah datang sejauh ini. Dari gawang bambu ke seleksi internasional. Kalau aku jatuh, aku bakal bangun. Kalau aku gagal, aku coba lagi. Karena cuma orang yang berani nyelam ke lumpur yang bisa lihat pantulan langit di airnya.”
Aku senyum sendiri, lalu nutup mata pelan.
Sebelum benar-benar tertidur, aku bisik sekali lagi dalam hati, “Besok, aku akan tunjukin bahwa Tembok Mini belum selesai membangun temboknya.”
Aku? Sepatuku udah belel, sarung tanganku masih bau lumpur dari pertandingan kemarin, dan rambutku yah, udah kayak rumput sintetis. Tapi ya sudahlah, aku kan bukan mau adu gaya rambut. Aku mau jadi kiper.
Pelatih berteriak dari tengah lapangan “Semua kumpul di garis tengah. Kita mulai seleksi hari ini. Siapa yang mau jadi kiper utama AEF U-16, tunjukkan nyalimu!”
Aku melangkah ke depan. Di sebelahku ada dua kiper lain, satu dari Surabaya, satunya lagi katanya dari akademi terkenal di Eropa. Aku nengok ke kanan, kiper dari Surabaya senyum pede, “Gue Dimas, siap ngerebut posisi lo.”
Aku balas senyum, “Rangga. Siap rebut balik posisinya.”
Dia ketawa kecil, “Keren. Tapi jangan jatuh kayak di video turnamen kemarin ya.”
Aku melotot kaget, “Lah, lu nonton?”
Dia jawab santai, “Satu Indonesia nonton, bro. Si kiper lumpur jadi viral.”
Oke, hatiku panas sedikit. Tapi aku malah ketawa. “Siap. Hari ini mungkin aku bakal bikin episode dua.”
Seleksi dimulai. Pelatih bagi kami jadi dua tim besar. Aku dimasukin ke tim merah. Kami disuruh latihan reaksi cepat. Ada alat kayak mesin pelontar bola. Setiap lima detik, bola dilempar ke arah gawang dari jarak berbeda.
Pelatih teriak “Siap posisi!”
Aku berdiri tegak, tangan siap. Bola pertama meluncur ke kiri. Aku lompat, berhasil tepok bola keluar.
Bola kedua datang dari kanan. Aku jatuh, masih bisa tangkap.
Bola ketiga tiba-tiba datang tepat ke muka. Blep! Bola nempel di wajahku.
Semua pemain ketawa. Aku berdiri, muka merah tapi tetap senyum. “Tenang, Coach. Bola tadi udah aku tahan pakai pipi. Latihan refleks wajah.”
Pelatih ngakak, “Refleksnya bagus, tapi muka jangan dijadikan perisai ya!”
“Siap, Coach. Tapi muka saya lebih kuat dari tiang gawang.”
Setelah sesi pelontar bola, kami lanjut ke simulasi pertandingan. Di depan gawangku berdiri striker tinggi besar dari Sumatera, namanya Miko. Dia ngomong dengan nada berat “Maaf ya, Rangga. Aku bakal bikin kamu kerja keras.”
Aku nyengir, “Gak papa, asal jangan bikin aku kerja lembur.”
Pertandingan kecil itu panas banget. Matahari makin tinggi, dan aku udah mulai kebayang nasi padang di warung seberang. Tapi tiap kali bola datang, pikiranku langsung fokus.
Satu kali Miko lepas dari penjagaan, nendang keras banget. Aku terbang ke kiri, bola mental. Aku belum sempet bangun, bola pantulannya langsung disambut tembakan kedua. Aku lompat lagi, kali ini ke kanan.
“Nice save!” teriak pelatih.
Aku ngangkat tangan, masih di tanah, “Coach, izinkan saya tidur lima detik.”
Semua pemain ketawa. Tapi pelatih keliatan puas.
Setelah satu jam, seleksi lanjut ke sesi kombinasi. Aku diminta latihan bareng kiper senior, namanya Bang Reno. Dia kiper senior Timnas U-19. Badannya gede, tenangnya kayak tembok beton.
Dia ngomong ke aku, “Jaga posisi, dek. Jangan banyak gaya.”
Aku jawab, “Siap, Bang. Tapi kalau saya terbang dikit biar keren boleh kan?”
Dia ketawa kecil, “Ya asal gak jatuh ke saya.”
Latihan dimulai. Kami latihan tangkap silang. Pelatih tendang bola tinggi. Aku lari ke depan, lompat tinggi. Bola berhasil aku tangkap… tapi kaki kananku nyenggol punggung Bang Reno. Kami berdua jatuh bareng.
“Woi! Siapa yang dorong?!” teriak Bang Reno dari bawah.
Aku berdiri cepat, panik. “Maaf, Bang. Saya salah perhitungan. Tapi bola aman!”
Dia bangun, liat bola di tanganku, lalu senyum. “Ya udah, yang penting gak gol.”
Pelatih malah teriak dari pinggir “Dua kiper jatuh bareng, untung bukan gawangnya yang roboh!”
Semua ketawa. Aku garuk kepala, “Coach, maaf. Saya lupa ukur jarak. Kalau di kampung, lapangannya lebih kecil.”
Pelatih jawab, “Kalau di kampung lapangan kecil, berarti mentalmu besar. Tunjukin terus!”
Seleksi lanjut lagi. Kali ini tes reaksi cepat dengan lawan hidup. Empat striker gantian nendang bola ke arahku. Aku nahan semua semampuku. Keringat udah kayak air hujan, tapi aku gak mau berhenti.
Satu bola datang deras dari kanan. Aku lompat, tepok keluar. Bola kedua datang dari tengah, aku tangkap. Bola ketiga datang pelan, tapi nyelip di bawah kaki. Hampir masuk, tapi aku dorong keluar pakai ujung sepatu.
“Rangga!” pelatih teriak.
“Siap, Coach?”
“Kalau tadi gak kamu tahan, udah gol.”
Aku nyengir, “Tapi kan gak jadi, Coach. Saya juga gak suka drama tanpa plot twist.”
Sesi terakhir adalah uji koordinasi tim. Aku harus jadi kiper buat kombinasi umpan balik cepat. Tiga pemain belakang harus oper ke aku, terus aku harus tendang ke gelandang, semua dalam hitungan detik.
Aku dapat bola dari bek kiri, langsung tendang ke tengah, tepat sasaran. Bek kanan oper lagi, aku pantul balik. Terakhir, bola datang kencang banget dari jarak dekat, aku kontrol pakai dada lalu passing sempurna.
Pelatih meniup peluit, “Bagus! Ini baru refleks dan koordinasi.”
Aku jawab sambil ngos-ngosan, “Coach, boleh minum dulu? Lidah saya udah kayak sandal panas.”
Pelatih ketawa lagi. “Silakan, Tembok Mini.”
Begitu beliau bilang itu, aku bengong. “Coach, panggil saya apa?”
“Tembok Mini. Itu julukanmu kan? Dari video kemarin.”
Aku tertawa pelan, “Ya ampun, sampai sini juga terkenal. Semoga gak jadi bahan meme lagi.”
Siang makin terik. Seleksi hari pertama selesai. Kami semua dikasih waktu istirahat. Aku duduk di pinggir lapangan, ngelepas sarung tangan, ngebuang napas berat. Dimas duduk di sebelahku.
“Lu gokil juga, Rangga. Refleks lu cepet.”
Aku balas, “Makasih. Tapi lu juga tendangannya kayak roket.”
Dia ngelirik, “Kita saingan tapi asik juga ya.”
Aku senyum, “Saingan sehat, bro. Yang penting bukan saingan rebut nasi goreng.”
Kami berdua ketawa.
Sambil minum air, aku ngelihat ke arah tribun. Di sana ada beberapa orang pakai jas rapi, bawa buku catatan dan tablet. Pelatih berbisik ke asisten, lalu nunjuk ke arahku. Aku bisa ngerasa mata mereka ngikutin setiap gerakanku.
Aku ngomong pelan ke diri sendiri, tapi juga kayak ke kalian yang baca. “Oke, kelihatannya ada orang penting yang liat. Tenang, Rangga. Jangan panik. Jangan jatuh lagi.”
Tapi ya, hidup kadang suka bercanda. Waktu aku berdiri, kakiku nyenggol botol minum sendiri. Aku hampir jatuh lagi tapi berhasil seimbang.
Aku nengok ke arah penonton dan senyum pura-pura tenang. “Santai, itu bagian dari pemanasan.”
Hari mulai sore. Pelatih ngumpulin kami semua di tengah lapangan.
“Anak-anak, kalian udah kerja keras hari ini. Besok kita lanjut sesi terakhir. Dari ratusan peserta, cuma 25 yang bakal lanjut ke tahap akhir. Kalian istirahat, makan cukup, jangan keluyuran malam.”
Kami semua jawab kompak, “Siap, Coach!”
Aku jalan pelan ke asrama pemain. Tas di punggung berat tapi hati ringan. Di jalan, aku ngomong sendiri, lagi-lagi kayak ngomong ke kalian yang lagi baca. “Tadi aku jatuh, kepeleset, hampir jadi meme baru, tapi aku juga nahan puluhan tembakan. Itu artinya satu hal… aku makin dekat ke mimpiku.”
Di asrama, Rio udah nunggu di ranjang bawah.
“Bro! Gimana seleksinya?”
Aku lempar sarung tangan ke atas kasur. “Capek, tapi seru. Aku jatuh bareng kiper senior, bola nyangkut di muka, tapi masih hidup.”
Rio ngakak keras banget. “Lu emang kiper paling drama.”
Aku senyum, “Ya iyalah. Kalau gak drama, penonton gak bakal ingat siapa aku.”
Kami ngobrol lama sambil makan roti coklat dan susu kotak. Di luar jendela, suara jangkrik mulai kedengeran. Aku tiduran, mandang langit-langit asrama. Pikiranku muter terus. Bayangan gawang, bola, sorak penonton, semua berputar di kepala.
Aku ngomong pelan, kali ini lebih ke diri sendiri tapi kalian boleh denger juga. “Aku tahu perjalanan ini panjang banget. Tapi aku gak bakal mundur. Aku udah datang sejauh ini. Dari gawang bambu ke seleksi internasional. Kalau aku jatuh, aku bakal bangun. Kalau aku gagal, aku coba lagi. Karena cuma orang yang berani nyelam ke lumpur yang bisa lihat pantulan langit di airnya.”
Aku senyum sendiri, lalu nutup mata pelan.
Sebelum benar-benar tertidur, aku bisik sekali lagi dalam hati, “Besok, aku akan tunjukin bahwa Tembok Mini belum selesai membangun temboknya.”
Other Stories
Percobaan
percobaan ...
Hanya Ibu
kisah perjuangan bunga, pengamen kecil yang ditinggal ayahnya meninggal karena sakit jantu ...
Dengan Ini, Saya Terima Nikahnya
Penulis pernah menuntut Tuhan memenuhi keinginannya, namun akhirnya sadar bahwa ketetapan- ...
Always In My Mind
Sempat kepikiran saya ingin rehat setelah setahun berpengalaman menjadi guru pendamping, t ...
Warung Kopi Reformasi
Di sebuah warung kopi sederhana di pinggir alun-alun Garut tahun 1998, hidup berjalan deng ...
Teka-teki Surat Merah
Seorang gadis pekerja klub malam ditemukan tewas dalam kantong plastik di taman kota, meng ...