Keeper Of Destiny

Reads
1.4K
Votes
0
Parts
15
Vote
Report
Penulis TJOE 21

Debut Turnamen Internasional

Namaku Rangga. Umurku baru lima belas, tapi rasanya lututku udah umur tiga puluh lima. Serius. Pagi ini aja baru pemanasan setengah jam, pelatih udah teriak kayak toa masjid yang kelebihan volume. Hari ini hari pertama turnamen internasional AEF U-16. Aku dan timnas Indonesia bakal main lawan tim dari negara yang bahkan aku susah eja namanya. Katanya mereka dari “Uzberkistuna” atau “Uzbekistan”? Aku juga lupa, pokoknya yang seragamnya biru dan pemainnya gede-gede kayak kulkas dua pintu.

Pagi-pagi kami udah baris di pinggir lapangan. Rumputnya hijau banget, beda jauh sama lapangan kampungku yang kalau kering bisa bikin lutut gosong. Di tribun, ada bendera dari berbagai negara. Lagu kebangsaan diputar, dan aku nyanyi setengah gugup setengah bangga. Pas kamera menyorot ke arahku, aku sempat senyum tapi malah kecepit sarung tangan kiper di dagu. Aduh, malu banget. Ya ampun kamera, tolong jangan tayangin bagian itu di TV nasional, plis.

Pelatih lewat di depan kami, wajahnya datar tapi matanya tajam. “Ingat, ini debut internasional kalian. Main dengan hati, tapi pakai otak juga,” katanya. Aku mengangguk cepat. Dalam hati aku ngomong, “Iya coach, tapi tolong jangan suruh aku lompat dua kali lagi pas pemanasan, aku masih pegal dari semalam.”

Kick-off dimulai. Kami pakai seragam merah. Lawan? Wah, tinggi-tinggi, badannya kek tembok. Bola baru jalan satu menit, mereka langsung serang. Aku udah siap di gawang, napas pelan. “Santai Rangga, ini cuma turnamen internasional yang ditonton seluruh Asia, gak usah gugup,” bisikku ke diri sendiri. Gak berhasil. Tangan udah mulai dingin, jantung deg-degan kayak mau ujian nasional.

Lawan menekan. Mereka oper cepat, umpan silang tinggi. Aku melompat, nendang bola keluar, tapi jatuhnya gak keren. Aku kepleset. “Woi, Rangga! Aman?” teriak Dito, bek tengah kami. “Aman bro, cuma gaya baru. Namanya jatuh terencana,” jawabku sambil berdiri dan nyengir. Padahal lutut sakit banget. Tapi yaudahlah, demi gengsi.

Menit ke sepuluh, bola datang kencang dari luar kotak penalti. Aku refleks lompat, bola kena ujung jariku, dan memantul ke tiang gawang. Penonton langsung “WAAAAH”. Aku cuma berdiri bengong. “Tadi itu... aku nyelamatin?” aku masih gak percaya. Coach di pinggir lapangan sampai tepuk tangan. Aku langsung pura-pura tenang, jalan pelan ke arah bola. Padahal dalam hati pengin jingkrak-jingkrak kayak habis menang lotre.

Pertandingan makin panas. Lawan terus menyerang. Aku sempat mikir, ini lawan manusia atau robot sih? Mereka lari gak ada capeknya. Di sela tekanan itu, ada satu momen yang bikin aku hampir ketawa di lapangan. Penyerang lawan jatuh sendiri pas mau nyundul bola, terus malah minta penalti ke wasit. Aku refleks teriak, “Itu jatuhnya sendiri pak!” Tapi aku lupa, bahasa Inggrisku cuma modal “yes”, “no”, sama “thank you”. Jadi yang keluar dari mulutku malah, “You fall self pak!” Teman-temanku langsung pada nahan tawa. Dito sampai nutup muka. Wasit bengong. Aku juga bengong. Jadi ya, sama-sama bengong.

Lanjut. Skor masih 0-0. Pelatih teriak dari pinggir lapangan, “Rangga! Fokus! Jangan ngobrol sama tiang gawang!” Oh iya, aku tadi memang sempat ngomong ke tiang gawang, “Jangan khianat ya bro, pantulin bola keluar aja.” Hei, kalo kalian pernah main bola di kampung, kalian pasti tahu rasanya bicara sama tiang gawang. Kadang gawang bisa lebih setia dari rekan satu tim.

Menit ke dua puluh lima, lawan dapet tendangan bebas. Jarak cuma dua puluh meter. Pemain mereka yang tinggi badannya dua kepala di atasku udah siap nendang. Aku jongkok, siap-siap. “Ayo Rangga, ini momenmu. Kamu lahir buat ini,” kataku sendiri. Begitu bola ditendang, lajunya kencang banget. Aku lompat sekuat tenaga. Tanganku berhasil menyentuh bola, bola mental ke atas mistar dan keluar. Penonton bersorak lagi. Aku jatuh telentang. “Yah, masih hidup nih. Aman,” gumamku pelan. Bek kami langsung bantu narik aku berdiri.

Setelah itu, pelatih sempat ganti strategi. Kami lebih banyak serang balik. Di sela waktu kosong, aku sempat ngobrol sama Dito. “Gue pengen nasi goreng nih,” kataku. Dito jawab, “Fokus dulu bro, nanti abis pertandingan baru makan.” Aku senyum, “Kalau kita menang, gue traktir semua, tapi di warung Bu Yati depan mess aja ya, hemat dikit.” Kami ketawa bareng. Di tengah pertandingan internasional, masih aja ngomongin nasi goreng. Tapi itulah caraku ngilangin tegang.

Babak kedua dimulai. Aku makin siap. Udah mulai terbiasa sama ritme lawan. Tapi baru lima menit, bola lagi-lagi mengarah ke gawangku. Kali ini lewat umpan lambung. Aku loncat, tangkap bola di udara, dan jatuh. Tapi masalahnya, aku jatuh di atas pemain lawan. Jadi posisinya aku di atas badannya. Kami berdua kaget. “Sorry bro!” kataku panik. Pemain itu cuma ngeluh pelan. Aku langsung lari kecil sambil nyengir malu. Penonton ketawa kecil. Dito teriak dari jauh, “Wah, Rangga, romantis banget jatuhnya!” Aku balas, “Biarin, sekalian nambah pengalaman internasional!”

Waktu berjalan cepat. Skor masih imbang. Pelatih teriak, “Sepuluh menit terakhir! Jangan kendor!” Aku fokus lagi. Keringat udah netes ke mata. Lapangan mulai panas. Bola datang lagi, tendangan keras. Aku loncat. Kali ini, aku bener-bener ngerasa waktu berhenti sejenak. Dalam satu detik itu, aku bisa dengar suara bola, degup jantung, dan suara komentator di luar lapangan. Tanganku berhasil menepis bola ke samping. Penonton berteriak lagi. Aku jatuh tapi langsung bangkit. Adrenalin meledak. Aku teriak sekeras-kerasnya, “AYO INDONESIAAAA!” Semua pemain langsung semangat lagi.

Menit terakhir. Skor masih 0-0. Lawan dapat penalti. Stadion langsung hening. Pelatih cuma bilang singkat, “Rangga, nikmati momennya.” Aku jalan ke depan gawang pelan. Pemain lawan siap menendang. Aku jongkok, ngatur napas. “Oke, Rangga. Ini kesempatanmu. Kalau gagal, gak apa-apa. Kalau berhasil, kamu bakal dikenang minimal dua hari di Twitter.” Aku ketawa kecil sendiri.

Pemain lawan mulai lari, bola ditendang ke kanan. Aku lompat ke arah kanan. Tangan kananku berhasil menyentuh bola. TEPIIISSSS! Bola mental keluar. Penonton langsung teriak keras. “YEEEAAAAAAAHHH!” Aku gak sadar apa-apa setelah itu karena teman-teman langsung nyerbu, nimpuk, dorong, peluk. Aku hampir gak bisa napas tapi senyumku gak bisa ilang. Coach juga keliatan senyum tipis. Aku tahu itu artinya banyak.

Setelah peluit akhir, kami semua berdiri di tengah lapangan. Lawan menyalami kami. Aku salaman sama pemain tinggi yang tadi aku timpa. “Good save,” katanya dengan aksen berat. Aku cuma jawab, “Thanks bro, sorry for… fall self.” Dia ketawa, aku juga ketawa. Ya sudahlah, yang penting ngerti maksudnya.

Kami jalan keluar lapangan sambil nyanyi kecil. Media mulai ngambil foto. Aku sempat melambaikan tangan ke kamera. Di kepalaku cuma satu pikiran, “Wah, jangan-jangan abis ini aku masuk berita. Tapi jangan sampai foto aku kepleset tadi ikut tayang, ya Tuhan.”

Malamnya di mess, semua pada euforia. Coach kasih waktu bebas dua jam buat makan. Kami langsung lari ke warung. Dito pesen dua porsi nasi goreng, aku satu. “Kiper hebat gak butuh banyak makan,” kataku. Dito balas, “Kiper hebat butuh tidur cepat.” Kami ketawa.

Sambil makan, aku nyalain HP, buka pesan dari Ibu. “Bangga banget sama kamu, Nak. Jangan sombong, ya.” Aku senyum. Aku bales, “Iya Bu, Rangga belum sombong, baru bangga dikit aja.”

Malam makin larut. Aku tiduran di kasur, sarung tangan masih di meja. Aku liatin lama. “Hari ini luar biasa. Aku gak nyangka bisa main di level ini.” Aku tarik napas panjang. “Tapi ini baru awal. Kalau aku berhenti di sini, semua perjuangan dari lapangan kampung itu bakal percuma.”

Aku lihat ke arah kamera imajiner di langit-langit kamar. “Hei kalian, yang lagi baca ini. Iya, kamu. Kalau kamu punya mimpi, sekecil apa pun, jangan takut mulai. Kadang kamu bakal jatuh, kepleset, bahkan diketawain. Tapi percaya deh, semua itu bakal terasa lucu begitu kamu udah berdiri di lapangan impianmu.”

Aku tersenyum. “Besok pertandingan kedua. Aku siap. Dan siapa tahu, mungkin besok aku gak cuma dikenal sebagai Si Tembok Mini, tapi Si Tembok yang bisa ngomong sama gawang.”

Lampu kamar aku matiin. Tapi semangat di dadaku nyala terus. Dunia bola ternyata gak cuma tentang menang atau kalah. Tapi tentang jatuh, ketawa, bangkit, dan terus lari, meskipun rumputnya kadang licin banget.

Dan itulah debut internasionalku. Tidak sempurna, tapi nyata. Lucu, tapi penuh makna. Aku, Rangga, si bocah kampung yang sekarang berdiri di panggung Asia. Besok siapa tahu Eropa? Tapi sebelum itu, aku harus tidur dulu. Besok latihan lagi. Coach udah janji, kalau aku telat bangun, push-up lima puluh. Doain aja aku bangun sebelum peluit pertama.

Other Stories
Kala Kisah Menjadi Cahaya

seorang anak bernama Kala Putri Senja, ia anak yatim piatu sejak bayi dan dibesarkan oleh ...

Hanya Ibu

Perjuangan bunga, pengamen kecil yang ditinggal ayahnya meninggal karena sakit jantung sej ...

Air Susu Dibalas Madu

Nawasena adalah anak dari keluarga yang miskin. Ia memiliki cita-cita yang menurut orang-o ...

Rindu Yang Tumbuh Jadi Monster

Adrian nggak pernah nyangka, jatuh cinta bisa berawal dari hal sesederhana ngeliat cewek n ...

Turut Berduka Cinta

Faris, seorang fasilitator taaruf dengan tingkat keberhasilan tinggi, dipertemukan kembali ...

Menantimu

Sejak dikhianati Beno, ia memilih jalan kelam menjajakan tubuh demi pelarian. Hingga Raka ...

Download Titik & Koma