Keeper Of Destiny

Reads
1.4K
Votes
0
Parts
15
Vote
Report
Penulis TJOE 21

Masuk Akademi Persebundar

Pagi itu udara di kota Bandung terasa segar tapi juga sedikit menggigit kulit. Matahari baru saja muncul, memantul di aspal basah, dan membuat sepatu Rangga licin saat ia berlari ke lapangan latihan. Hari ini berbeda dari biasanya. Ia tidak lagi sekadar bocah kampung yang main bola di sawah atau lapangan tarkam. Hari ini, ia akan mengikuti seleksi Akademi Persebundar, klub besar yang selama ini hanya muncul di TV ketika Rangga menonton final liga.

Rangga menghela napas panjang. Dalam hati ia menatap pembaca. Hei, kalian tahu kan, masuk akademi itu bukan main-main. Ini bukan sekadar mendaftar lomba balap karung di kampung. Ini adalah ujian sungguhan, dengan pelatih galak yang bisa bikin anak-anak besar nangis. Tapi aku? Aku pantang menyerah.

Di gerbang akademi, banyak calon pemain lain. Tingginya seperti pohon pisang, badan mereka kekar dan berotot. Ada yang rambutnya cepak, ada yang gondrong, ada yang mukanya serius banget sampai bikin Rangga merasa seperti anak SD yang salah masuk kelas SMP.

"Eh, kamu anak baru ya?" tanya salah satu calon, sambil menatap Rangga dari atas ke bawah.
Rangga menatap balik. "Iya."
Mereka terkekeh. "Bocah kampung kecil ini pikir bisa bersaing sama kita?"

Rangga menahan senyum. Dalam hati ia berkata ke pembaca, Hei, jangan salah. Aku memang kecil, tapi ukuran itu hanya angka. Mentalku? Itu yang menentukan segalanya.

Seleksi dimulai. Pelatih memimpin dengan suara keras, memekakkan telinga. "Lari keliling lapangan tiga putaran! Cepat!"

Rangga melangkah. Tiga putaran mungkin terdengar mudah. Tapi bayangkan lapangan ini luasnya kayak lapangan sepak bola mini, dan udara pagi agak panas, ditambah sarung tangan yang masih lengket tanah. Napas Rangga mulai tersengal. Tangan mulai pegal. Lutut gemetar. Tapi ia tetap lari.

"Hayoo, jangan kalah sama anak kecil!" teriak pelatih.
Rangga menoleh ke pembaca sambil ngos-ngosan. Hei, kalau kalian pikir aku mau menyerah sekarang, salah besar. Napasku mungkin habis, tapi semangatku masih full tank.

Setelah lari, latihan lanjut ke dribbling dan passing. Rangga harus menggiring bola melewati rintangan kerucut, lalu menendang ke gawang mini. Bocah lain sudah kelihatan lincah, kaki panjang, tendangan keras. Rangga? Ia kecil, kakinya pendek, tapi ia punya satu senjata rahasia: kreativitas.

Kadang ia melakukan gerakan aneh, lompat, putar badan, tendangan seperti gajah menendang bola mainan. Lawan mungkin ketawa, tapi bola tetap masuk. Hei, siapa bilang teknik harus kaku? Kadang improvisasi lebih efektif.

Selanjutnya adalah latihan penyelamatan kiper. Rangga berdiri di depan gawang yang ukurannya hampir sama dengan gawang reguler. Pelatih menendang bola sekuat tenaga, lebih cepat dari tendangan Goro di turnamen kemarin.

"Siap, bocah!" teriak pelatih.

Bola meluncur deras. Rangga lompat, menepis, tapi salah satu bola menghantam wajahnya. "Aduh!" ia meringis sambil jatuh. Tapi ia bangkit lagi, tangannya gemetar, tapi tetap memeluk bola.

"Hebat!" teriak teman latihan. "Kamu kuat banget!"

Rangga menatap ke pembaca. Hei, lihat kan? Kadang jatuh itu wajib. Tapi bangkit lagi itu yang bikin berbeda. Dan ya, kalau mukaku kotor penuh lumpur, biarlah. Itu tanda perangku di lapangan.

Latihan fisik makin brutal. Lari zigzag, push-up, sit-up, jongkok lompat, sampai akhirnya mereka masuk ke tes daya tahan. Semua anak mulai ngos-ngosan, wajah memerah, bahkan beberapa hampir pingsan. Rangga pun merasakan kepala berputar, kaki lemas.

"Tahan! Tahan!" teriak pelatih.

Dan di saat itu, Rangga merasa hampir menyerah. Napasnya tersengal, mulutnya kering, punggung pegal. Tapi ia menatap pembaca lagi. Hei, kalau kalian pikir aku akan jatuh di sini dan bilang menyerah, kalian salah. Aku bocah gawang bambu. Aku berdiri walaupun semua mengatakan aku tidak bisa.

Ia menutup mata sebentar, menarik napas dalam, dan melangkah lagi. Satu demi satu gerakan, walau lambat, tapi pasti.

Akhirnya, pelatih meniup peluit tanda latihan usai. Rangga terpental ke tanah, kelelahan, tapi matanya berbinar. Pelatih menghampiri. "Bocah kecil, kamu punya mental yang hebat. Badan mungkin belum sebesar mereka, tapi kepala dan hati kamu besar. Selamat, kamu lolos seleksi."

Rangga hampir tidak percaya. Ia menoleh ke pembaca. Hei, lihat kan? Usaha tidak pernah mengkhianati hasil. Aku kecil, tapi tekadku tidak kecil.

Setelah pengumuman, anak-anak lain bereaksi. Ada yang iri, ada yang kagum, ada yang hanya geleng kepala. Rangga tersenyum. Ia tahu jalan masih panjang.

Malamnya, ia duduk di kamar asrama sementara menata perlengkapan. Bola plastik kenangan masih di sampingnya. Ia menatap bola itu dan tersenyum. Dalam hati ia berkata ke pembaca, Hei, ini baru awal. Akademi Persebundar? Aku akan tunjukkan kalau si bocah gawang bambu bisa bersaing di sini.

Di luar, angin malam berhembus pelan. Suara kota kecil di kejauhan terdengar. Rangga memejamkan mata sebentar, membayangkan latihan esok hari, pertandingan melawan teman-teman baru, dan lawan-lawan yang lebih besar.

Ia menatap pembaca lagi. Siap-siaplah, karena perjalanan belum selesai. Aku masih bocah kecil dari kampung, tapi langkahku sudah menapak di jalur besar. Dan percayalah, banyak momen lucu, konyol, dan dramatis akan menunggu.

Dan saat malam semakin larut, satu hal jelas di benaknya pantang menyerah adalah teman terbaik seorang kiper.

Other Stories
Kado Dari Dunia Lain

Kamu pasti pernah lelah akan kehidupan? Bahkan sampai di titik ingin mengakhirinya? Sepert ...

Setinggi Awan

Di sebuah desa kecil yang jauh dari hiruk-pikuk kota, Awan tumbuh dengan mimpi besar. Ia i ...

Free Mind

“Free Mind” bercerita tentang cinta yang tak bisa dimiliki di dunia nyata, hanya tersi ...

Padang Kuyang

Warga desa yakin jika Mariam lah hantu kuyang yang selama ini mengganggu desa mereka. Bany ...

Always In My Mind

Sempat kepikiran saya ingin rehat setelah setahun berpengalaman menjadi guru pendamping, t ...

Dua Mata Saya ( Halusinada )

Raihan berendam di bak mandi yang sudah terisi air hangat itu, dikelilingi busa berlimpah. ...

Download Titik & Koma