Rumah Loak Bima
Sementara itu ….
“Oh ya, mau pake plastik, Bu?” tanya Sekar.
“Gak usah, gini aja.”
Sekar menerima uang setelah ibu tersebut membeli beberapa kue. Baru juga dia berdiri dan hendak beranjak, Mpok Mina tiba-tiba memanggilnya dari kejauhan.
“Sekar!”
Sekar menoleh. Dia langsung berjalan menuju warung nasi uduk Mpok Mina.
“Kue, Bu?” Sekar meletakkan bakul kuenya di tepian meja warung Mpok Mina.
“Bu, Bu, jangan panggil gua Bu!” protesnya sewot lalu mengarahkan jari telunjuknya. “Mpok. Noh, ada tulisannya segede gaban: Nasi Uduk Mpok Mina.”
“Oh, iya … Mpok,” jawab Sekar dengan suara pelan. Gara-gara pembeli sebelumnya, Sekar spontan memanggil Mpok Mina dengan sebutan ‘ibu’.
“Eh, ibu lu udah sehat, Sekar?”
Sekar menggeleng, tersenyum tipis. “Belum, Mpok.”
“Lama bener dah sakitnya. Lagian, ngapa kagak mau ke dokter, sih? Pan yang susah dia-dia juga, ama elu.”
Sakitnya ibu Sekar memang bukan rahasia lagi di kampung ini. “Apa masih galau gegara ditinggal bapaklu, ye? Pan udah lama bangat entuh. Mup on ngapa,” cerocos Mpok Mina.
Tangan Sekar diam-diam meremas pinggiran bakul kuenya. Tak ada satupun orang yang membahas pria itu setelah sekian tahun. Mpok Mina entah sengaja atau tidak telah menyinggung hal yang tak pernah mau Sekar ingat-ingat lagi. Hanya Tuhan yang tahu betapa dia amat sangat membenci ayahnya.
“Woi, jawab! Ngapa diem aja dah? Kerasukan lu?” tanya Mpok Mina.
“Mpok, jadi beli kue saya?” Sekar mengalihkan pembicaraan.
“Et dah. Gua kagak bilang mo beli kue elu, Sekar. Gua cuman penasaran ama kabar emaklu,” jelas Mpok Mina.
Sekar kembali mengangkat bakulnya. “Kalo Mpok Mina penasaran, bisa langsung jenguk ibu saya di rumah. Sekar permisi dulu.”
“Eh!”
Sekar langsung pergi tanpa mempedulikan ocehan Mpok Mina lagi.
“Yeee, bocah. Kagak ada sopan-sopannya,” gumam Mpok Mina geleng-geleng.
Menggendong bakul di tangan kanannya, Sekar kembali berkeliling. Beberapa orang yang dia temui di jalan lantas membeli kuenya, termasuk sekumpulan tukang ojek pengkolan yang mangkal di dekat warung.
Sekar memutuskan untuk istirahat sebentar di sana sambil duduk di kursi warung seraya menyeka keningnya yang berpeluh. Pandangannya kini tertuju pada sebuah sekolah yang berada tepat di seberang jalan. Dahulu, dia sekolah di situ. Sesekali, dia juga berjualan di depan sekolah meski ujung-ujungnya diusir satpam.
SDN BINTANG KEJORA V.
Tatapan mata Sekar meredup, teringat saat hari pertama dirinya masuk sekolah. Ayahnya hanya mengantar sampai depan pintu gerbang. Mereka saling berlambai tangan saat berpisah. Sekar memang bukan anak cengeng. Sedari kecil dia adalah gadis yang kuat dan mandiri.
“Dadah, Ayah!” Kaki kecil Sekar berlari masuk dengan wajah ceria, masih menoleh ke belakang pada ayahnya.
“Dah! Nanti Ayah jemput di sini lagi ya! Selamat belajar, Sekar!” seru pria itu.
Tak seperti saat hari pertama masuk sekolah dasar yang penuh dengan kegembiraan dan antusiasme, di hari terakhir saat perpisahan sekolah, Sekar justru hanya duduk sendirian di antara teman-temannya yang didampingi orang tua mereka. Sekar duduk termenung sendiri dengan raut wajah sedih. Saat itu adalah setahun setelah ayahnya pergi meninggalkan keluarga mereka. Sekar belum terlalu mengerti—yang dia tahu ayahnya sedang pergi ke luar kota, sementara sang ibu harus berjualan kue.
Hingga di suatu masa ketika Sekar mulai beranjak remaja, ibunya akhirnya menceritakan semuanya. Ayahnya menghamili wanita lain, dan memutuskan untuk membangun keluarga baru alih-alih tetap tinggal di sini bersama mereka. Perpisahan sepihak tanpa kata perceraian. Namun, ibu Sekar yang hingga kini bahkan masih terpukul, menganggap hubungannya dengan pria itu sudah berakhir.
“Neng, kuenya masih ada?”
Suara ibu warung membuyarkan lamunan Sekar.
“Eh, ma-masih, Bu.” Sekar memperlihatkan isi bakulnya.
“Boleh deh, kue mangkoknya dua. Berapa?”
“4000, Bu.”
Sekar memasukkan kue-kue itu ke plastik. Pikirannya masih terjebak pada memori masa lalu gara-gara Mpok Mina. Jika boleh jujur, sebenci-bencinya dia pada sang ayah, pria itu tetaplah cinta pertama baginya. Ada seberkas rindu di relung hatinya yang tak pernah berhasil dia ungkapkan.
Menjelang sore, Sekar meninggalkan warung tersebut tetapi dia memutuskan untuk tidak lanjut berdagang meski kue di bakulnya masih tersisa. Sekar juga tidak langsung pulang karena hari ini dia mau ke tempat loak Bima. Selama perjalanan kaki menuju ke sana, Sekar melewati sebuah yayasan wakaf milik swasta yang menaungi pendidikan tingkat SMP dan SMA. Namanya Yayasan Pendidikan Kasih. Kebanyakan murid lulusan SD Bintang Kejora V melanjutkan pendidikan mereka ke yayasan itu karena jaraknya yang lumayan dekat.
Mata Sekar mengintip ke dalam celah pagar di sepanjang gedung yayasan itu. Dia melihat beberapa murid SMP sedang latihan Paskibra. Mereka mengenakan kaus putih dan bawahan biru tua. Sementara di titik berbeda tetapi masih di kawasan yang sama, sekumpulan murid SMA sedang bermain basket dengan pakaian olahraga. Beberapa dari mereka yang mengenakan seragam lengkap putih abu-abu, menonton dari sisi lapangan sambil bersorak ria.
Sekar tanpa sadar menghentikan langkahnya. Dia menyaksikan pertandingan itu sebentar. Dia terbawa suasana saat melihat anak-anak di lapangan itu saling bersenda gurau.
“Seru ya ….” Sekar terkesima, matanya berbinar, senyumnya menyungging. “Andai aku ….” Dia tak melanjutkan ucapannya. Ekspresi senangnya seketika mengempis, disusul dengusan lesu sebelum akhirnya beranjak pergi.
Beberapa saat kemudian, Sekar tiba di rumah Bima. Terlihat Bima sedang duduk ngemper sambil membereskan barang-barang bekas yang berhasil dia dapat hari ini. Saat menyadari kedatangan Sekar, Bima langsung menghentikan pekerjaannya.
“Sekar!” seru pemuda berkaos dan bercelana pendek lusuh itu sambil tersenyum lebar. Saat dia mengangkat satu tangannya, ketiaknya benar-benar mewakili betapa lelahnya dia. Basah bahkan hingga ke area dada.
“Bim!” sahut Sekar. “Kamu dapet barang bekas apa aja hari ini?” Gadis itu meletakkan asal bakul kuenya seraya berjongkok. Matanya menyisir aneka barang loak di hadapannya.
Di rumah loak Bima, ada banyak sekali barang bekas seperti koran, buku dan majalah lama. Itu bagian favorit Sekar, menyusul pakaian. Ada perintilan alat dapur juga, dan perabot rumah tangga tetapi sudah tak layak pakai seperti misalnya sofa jeblos, kaca dinding tetapi sudah retak, kipas, radio, TV, sampai ponsel jadul. Barang-barang elektronik tersebut perlu dicek kembali. Elektronik yang sudah rusak, komponen di dalamnya bisa dibongkar, dipisahkan sesuai bahan, lalu dijual lagi. Sedangkan elektronik yang masih bisa diperbaiki, sudah pasti juga bisa dijual lagi dengan harga yang disepakati.
Bima dan ayahnya juga mengumpulkan barang-barang dari kelompok logam seperti panci, kabel, besi, kaleng, dan aluminium. Kemudian, kelompok plastik seperti botol, galon rusak, dan ember pecah. Hingga pakaian yang nantinya akan dijual kiloan atau dilego murah di pasar loak oleh mereka.
Bagi Sekar, mendatangi rumah loak milik keluarga Bima adalah salah satu hiburan yang dia miliki selain belajar. Gadis itu rutin datang kemari, entah untuk barter atau sekadar ngobrol sama Bima sambil melihat lelaki itu menyortir. Seru, katanya.
“Ya elah, Kar. Basa-basi dulu, kek. Tanya kabarku dulu, gitu.”
“Eh, emang kamu sakit, Bim?” Sekar tidak menangkap gombalan Bima.
Bima berdecak kesal. “Ck, gak. Coba lihat dulu dong, itu kamu bawa kue apa aja hari ini, Sekar? Aku baru sampe nih, laper banget!” Tangannya mengusap-usap perut.
“Oh! Nih, makan-makan.” Sekar menggeser bakul kuenya. Perhatiannya sedari tadi sudah tertuju ke hal lain.
Bima memperhatikan Sekar yang selalu terpesona dengan barang loak miliknya, seakan itu adalah harta karun bajak laut. Bima menggeleng pelan, lalu mencaplok satu plastik bening risol bihun dari bakul kue Sekar. Kemudian, menyantapnya.
Sekar mengangkat sebuah tempat makan plastik. “Eh, ini masih bagus, loh. Cuman ujung tutupnya aja kasar. Kayaknya digigit tikus, ya?”
“Ho’oh,” kata Bima sambil ngunyah. “Kalo mau ambil aja, Kar. Nanti aku bilang Bapak, tenang aja.”
Sekar memicingkan matanya, menatap Bima.
“Gak ada ya, ngasih-ngasih aku begitu! Sejak awal kita tuh tukeran, barter. Aku ambil barang loak kamu, kamu ambil kue aku,” jelas Sekar berkali-kali karena Bima selalu saja ingin mengkhianati perjanjian mereka. “Ya, contohnya baju ini.”
Tangan Sekar menarik bagian bawah kaos krem yang dia kenakan.
“Inget nggak, Bim?”
Bima berhenti mengunyah, mengamati atasan Sekar.
“Ah! Iya-iya, aku inget! Itu aku dapet dari ibu-ibu kaya, pas aku ngider ke daerah komplek.”
“Dan aku nebus baju ini pake 5 kue bolu buatanku,” tambah Sekar mempertegas aturan transaksi mereka yang juga sudah disetujui oleh ayah Bima; tanpa uang tunai.
“Hahaha, dasar! Padahal, sekali-sekali aku juga mau ngasih kamu gratis tahu, Sekar!” Bima melahap habis sisa risolnya, lalu memeper tangannya yang berminyak ke bajunya sendiri. “Oh ya, omong-omong soal baju. Hari ini aku ke komplek itu lagi.”
“Hah, yang bener, Bim? Terus?” Sekar terkejut.
“Aku dapet sesuatu. Kayaknya kamu bakalan jingkrak-jingkrakan dah, Kar.”
“Sesuatu?!” Mata Sekar membulat. “Buku, kan? Buku apa? Mana, Bim?!”
“Hehe, bukan dong~”
“Oh ya, mau pake plastik, Bu?” tanya Sekar.
“Gak usah, gini aja.”
Sekar menerima uang setelah ibu tersebut membeli beberapa kue. Baru juga dia berdiri dan hendak beranjak, Mpok Mina tiba-tiba memanggilnya dari kejauhan.
“Sekar!”
Sekar menoleh. Dia langsung berjalan menuju warung nasi uduk Mpok Mina.
“Kue, Bu?” Sekar meletakkan bakul kuenya di tepian meja warung Mpok Mina.
“Bu, Bu, jangan panggil gua Bu!” protesnya sewot lalu mengarahkan jari telunjuknya. “Mpok. Noh, ada tulisannya segede gaban: Nasi Uduk Mpok Mina.”
“Oh, iya … Mpok,” jawab Sekar dengan suara pelan. Gara-gara pembeli sebelumnya, Sekar spontan memanggil Mpok Mina dengan sebutan ‘ibu’.
“Eh, ibu lu udah sehat, Sekar?”
Sekar menggeleng, tersenyum tipis. “Belum, Mpok.”
“Lama bener dah sakitnya. Lagian, ngapa kagak mau ke dokter, sih? Pan yang susah dia-dia juga, ama elu.”
Sakitnya ibu Sekar memang bukan rahasia lagi di kampung ini. “Apa masih galau gegara ditinggal bapaklu, ye? Pan udah lama bangat entuh. Mup on ngapa,” cerocos Mpok Mina.
Tangan Sekar diam-diam meremas pinggiran bakul kuenya. Tak ada satupun orang yang membahas pria itu setelah sekian tahun. Mpok Mina entah sengaja atau tidak telah menyinggung hal yang tak pernah mau Sekar ingat-ingat lagi. Hanya Tuhan yang tahu betapa dia amat sangat membenci ayahnya.
“Woi, jawab! Ngapa diem aja dah? Kerasukan lu?” tanya Mpok Mina.
“Mpok, jadi beli kue saya?” Sekar mengalihkan pembicaraan.
“Et dah. Gua kagak bilang mo beli kue elu, Sekar. Gua cuman penasaran ama kabar emaklu,” jelas Mpok Mina.
Sekar kembali mengangkat bakulnya. “Kalo Mpok Mina penasaran, bisa langsung jenguk ibu saya di rumah. Sekar permisi dulu.”
“Eh!”
Sekar langsung pergi tanpa mempedulikan ocehan Mpok Mina lagi.
“Yeee, bocah. Kagak ada sopan-sopannya,” gumam Mpok Mina geleng-geleng.
Menggendong bakul di tangan kanannya, Sekar kembali berkeliling. Beberapa orang yang dia temui di jalan lantas membeli kuenya, termasuk sekumpulan tukang ojek pengkolan yang mangkal di dekat warung.
Sekar memutuskan untuk istirahat sebentar di sana sambil duduk di kursi warung seraya menyeka keningnya yang berpeluh. Pandangannya kini tertuju pada sebuah sekolah yang berada tepat di seberang jalan. Dahulu, dia sekolah di situ. Sesekali, dia juga berjualan di depan sekolah meski ujung-ujungnya diusir satpam.
SDN BINTANG KEJORA V.
Tatapan mata Sekar meredup, teringat saat hari pertama dirinya masuk sekolah. Ayahnya hanya mengantar sampai depan pintu gerbang. Mereka saling berlambai tangan saat berpisah. Sekar memang bukan anak cengeng. Sedari kecil dia adalah gadis yang kuat dan mandiri.
“Dadah, Ayah!” Kaki kecil Sekar berlari masuk dengan wajah ceria, masih menoleh ke belakang pada ayahnya.
“Dah! Nanti Ayah jemput di sini lagi ya! Selamat belajar, Sekar!” seru pria itu.
Tak seperti saat hari pertama masuk sekolah dasar yang penuh dengan kegembiraan dan antusiasme, di hari terakhir saat perpisahan sekolah, Sekar justru hanya duduk sendirian di antara teman-temannya yang didampingi orang tua mereka. Sekar duduk termenung sendiri dengan raut wajah sedih. Saat itu adalah setahun setelah ayahnya pergi meninggalkan keluarga mereka. Sekar belum terlalu mengerti—yang dia tahu ayahnya sedang pergi ke luar kota, sementara sang ibu harus berjualan kue.
Hingga di suatu masa ketika Sekar mulai beranjak remaja, ibunya akhirnya menceritakan semuanya. Ayahnya menghamili wanita lain, dan memutuskan untuk membangun keluarga baru alih-alih tetap tinggal di sini bersama mereka. Perpisahan sepihak tanpa kata perceraian. Namun, ibu Sekar yang hingga kini bahkan masih terpukul, menganggap hubungannya dengan pria itu sudah berakhir.
“Neng, kuenya masih ada?”
Suara ibu warung membuyarkan lamunan Sekar.
“Eh, ma-masih, Bu.” Sekar memperlihatkan isi bakulnya.
“Boleh deh, kue mangkoknya dua. Berapa?”
“4000, Bu.”
Sekar memasukkan kue-kue itu ke plastik. Pikirannya masih terjebak pada memori masa lalu gara-gara Mpok Mina. Jika boleh jujur, sebenci-bencinya dia pada sang ayah, pria itu tetaplah cinta pertama baginya. Ada seberkas rindu di relung hatinya yang tak pernah berhasil dia ungkapkan.
Menjelang sore, Sekar meninggalkan warung tersebut tetapi dia memutuskan untuk tidak lanjut berdagang meski kue di bakulnya masih tersisa. Sekar juga tidak langsung pulang karena hari ini dia mau ke tempat loak Bima. Selama perjalanan kaki menuju ke sana, Sekar melewati sebuah yayasan wakaf milik swasta yang menaungi pendidikan tingkat SMP dan SMA. Namanya Yayasan Pendidikan Kasih. Kebanyakan murid lulusan SD Bintang Kejora V melanjutkan pendidikan mereka ke yayasan itu karena jaraknya yang lumayan dekat.
Mata Sekar mengintip ke dalam celah pagar di sepanjang gedung yayasan itu. Dia melihat beberapa murid SMP sedang latihan Paskibra. Mereka mengenakan kaus putih dan bawahan biru tua. Sementara di titik berbeda tetapi masih di kawasan yang sama, sekumpulan murid SMA sedang bermain basket dengan pakaian olahraga. Beberapa dari mereka yang mengenakan seragam lengkap putih abu-abu, menonton dari sisi lapangan sambil bersorak ria.
Sekar tanpa sadar menghentikan langkahnya. Dia menyaksikan pertandingan itu sebentar. Dia terbawa suasana saat melihat anak-anak di lapangan itu saling bersenda gurau.
“Seru ya ….” Sekar terkesima, matanya berbinar, senyumnya menyungging. “Andai aku ….” Dia tak melanjutkan ucapannya. Ekspresi senangnya seketika mengempis, disusul dengusan lesu sebelum akhirnya beranjak pergi.
Beberapa saat kemudian, Sekar tiba di rumah Bima. Terlihat Bima sedang duduk ngemper sambil membereskan barang-barang bekas yang berhasil dia dapat hari ini. Saat menyadari kedatangan Sekar, Bima langsung menghentikan pekerjaannya.
“Sekar!” seru pemuda berkaos dan bercelana pendek lusuh itu sambil tersenyum lebar. Saat dia mengangkat satu tangannya, ketiaknya benar-benar mewakili betapa lelahnya dia. Basah bahkan hingga ke area dada.
“Bim!” sahut Sekar. “Kamu dapet barang bekas apa aja hari ini?” Gadis itu meletakkan asal bakul kuenya seraya berjongkok. Matanya menyisir aneka barang loak di hadapannya.
Di rumah loak Bima, ada banyak sekali barang bekas seperti koran, buku dan majalah lama. Itu bagian favorit Sekar, menyusul pakaian. Ada perintilan alat dapur juga, dan perabot rumah tangga tetapi sudah tak layak pakai seperti misalnya sofa jeblos, kaca dinding tetapi sudah retak, kipas, radio, TV, sampai ponsel jadul. Barang-barang elektronik tersebut perlu dicek kembali. Elektronik yang sudah rusak, komponen di dalamnya bisa dibongkar, dipisahkan sesuai bahan, lalu dijual lagi. Sedangkan elektronik yang masih bisa diperbaiki, sudah pasti juga bisa dijual lagi dengan harga yang disepakati.
Bima dan ayahnya juga mengumpulkan barang-barang dari kelompok logam seperti panci, kabel, besi, kaleng, dan aluminium. Kemudian, kelompok plastik seperti botol, galon rusak, dan ember pecah. Hingga pakaian yang nantinya akan dijual kiloan atau dilego murah di pasar loak oleh mereka.
Bagi Sekar, mendatangi rumah loak milik keluarga Bima adalah salah satu hiburan yang dia miliki selain belajar. Gadis itu rutin datang kemari, entah untuk barter atau sekadar ngobrol sama Bima sambil melihat lelaki itu menyortir. Seru, katanya.
“Ya elah, Kar. Basa-basi dulu, kek. Tanya kabarku dulu, gitu.”
“Eh, emang kamu sakit, Bim?” Sekar tidak menangkap gombalan Bima.
Bima berdecak kesal. “Ck, gak. Coba lihat dulu dong, itu kamu bawa kue apa aja hari ini, Sekar? Aku baru sampe nih, laper banget!” Tangannya mengusap-usap perut.
“Oh! Nih, makan-makan.” Sekar menggeser bakul kuenya. Perhatiannya sedari tadi sudah tertuju ke hal lain.
Bima memperhatikan Sekar yang selalu terpesona dengan barang loak miliknya, seakan itu adalah harta karun bajak laut. Bima menggeleng pelan, lalu mencaplok satu plastik bening risol bihun dari bakul kue Sekar. Kemudian, menyantapnya.
Sekar mengangkat sebuah tempat makan plastik. “Eh, ini masih bagus, loh. Cuman ujung tutupnya aja kasar. Kayaknya digigit tikus, ya?”
“Ho’oh,” kata Bima sambil ngunyah. “Kalo mau ambil aja, Kar. Nanti aku bilang Bapak, tenang aja.”
Sekar memicingkan matanya, menatap Bima.
“Gak ada ya, ngasih-ngasih aku begitu! Sejak awal kita tuh tukeran, barter. Aku ambil barang loak kamu, kamu ambil kue aku,” jelas Sekar berkali-kali karena Bima selalu saja ingin mengkhianati perjanjian mereka. “Ya, contohnya baju ini.”
Tangan Sekar menarik bagian bawah kaos krem yang dia kenakan.
“Inget nggak, Bim?”
Bima berhenti mengunyah, mengamati atasan Sekar.
“Ah! Iya-iya, aku inget! Itu aku dapet dari ibu-ibu kaya, pas aku ngider ke daerah komplek.”
“Dan aku nebus baju ini pake 5 kue bolu buatanku,” tambah Sekar mempertegas aturan transaksi mereka yang juga sudah disetujui oleh ayah Bima; tanpa uang tunai.
“Hahaha, dasar! Padahal, sekali-sekali aku juga mau ngasih kamu gratis tahu, Sekar!” Bima melahap habis sisa risolnya, lalu memeper tangannya yang berminyak ke bajunya sendiri. “Oh ya, omong-omong soal baju. Hari ini aku ke komplek itu lagi.”
“Hah, yang bener, Bim? Terus?” Sekar terkejut.
“Aku dapet sesuatu. Kayaknya kamu bakalan jingkrak-jingkrakan dah, Kar.”
“Sesuatu?!” Mata Sekar membulat. “Buku, kan? Buku apa? Mana, Bim?!”
“Hehe, bukan dong~”
Other Stories
Separuh Dzarah
Saat salam terakhir dalam salat mulai terdengar, di sana juga akan mulai terdengar suara ...
Lam Biru
Suatu hari muncul kalimat asing di layar laptop Harit, kalimat itu berupa deskripsi penamp ...
Cinta Dua Rasa
Aruna merasa memiliki kehidupan yang sempurna setelah dinikahi oleh Saka, seorang arsitek ...
Menjamah Jauh: Tentang Kota Dan Kenangan
Kadang, cerita liburan tak selalu berakhir indah. Musim panas tahun lalu di Malang, Tama m ...
Ryan Si Pemulung
Ryan, remaja dari keluarga miskin, selalu merasa hidupnya terkunci dalam sebuah rumah reot ...
Bali Before Sun Set
Perjalanan di pulau dewata tak hanya menyajikan sesuatu yang amat indah untuk di pandang t ...