Gadis Loak & Dua Pelita

Reads
1.9K
Votes
2
Parts
17
Vote
Report
Gadis loak & dua pelita
Gadis Loak & Dua Pelita
Penulis Indira Isvandiary

Gara-Gara Raksa

Bima bertanya-tanya dalam hati sambil mengamati almamater biru dongker yang ketiga orang itu kenakan. “Siapa mereka? Kenapa Sekar gak pernah bilang dia punya kenalan dari luar kampung?”

Saat Bima akhirnya tiba di hadapan mereka, Sekar berkata, “Bima! Kamu dari mana atau mau ke mana?”

Bima terkekeh canggung.
“Eh, itu … tadi mau mampir ke sini, tapi ngeliat kamu lagi ada tamu, ya … aku mau pulang lagi,” jawabnya jujur.

Raksa masih memperhatikan. Sedangkan Nadia dan Rani terkejut dengan kedatangan Bima. Mereka bertiga memiliki isi pikiran yang sama.

BIMA.
Nama familier yang sering disebut Pak Rojali dalam ceritanya akhir-akhir ini tentang Sekar.

“Oh, jadi ini yang namanya Bima,” batin Raksa, Nadia, dan Rani bersamaan di dalam hati masing-masing. Sejauh ini, mereka belum bicara lagi dan masih mendengarkan interaksi antara Sekar dan Bima.

Namun, diam-diam Raksa melirik sandal selop wanita berwarna hitam yang sedari tadi Bima bawa-bawa di belakang tubuhnya seperti hendak disembunyikan. Mengingat kesaksian dari Pak Rojali, agaknya Raksa sudah tahu maksud kedatangan Bima kemari.

“Mereka mau barter, ya?” batin Raksa.

Bima pelan-pelan memasukkan sendal selopnya ke balik baju belakang, di antara karet celana pendeknya. Berhubung Sekar belum sadar dia bawa begituan.

Raksa mengernyitkan dahi. Dia bingung kenapa Bima tak langsung menyerahkan sandal tersebut pada Sekar?

"Apa mereka malu ya transaksi di depan orang lain?” batin Raksa lagi. Padahal, dia sangat penasaran.

Sekar memperkenalkan Bima. “Oh ya, semuanya. Ini Bima, teman saya.”

“Saya Nadia. Salam kenal ya, Bima,” ucap Nadia ramah sambil tersenyum misteri, mengulurkan tangannya duluan pada Bima.

Begitu pula dengan Rani ketika dia juga bersalaman dengan Bima. Kedua gadis itu tak bisa menyembunyikan siratan ekspresi bahwa mereka sudah tahu siapa gerangan si anak tukang loak yang selalu dikait-kaitkan dengan Sekar ini.

“Raksa.”
“Bima.”

Giliran kedua lelaki itu yang saling berjabat tangan. Tatapan Raksa selalu mantap seperti biasanya. Sedangkan Bima, sedikit menusuk seperti orang yang waspada. Namun, keduanya tetap melempar senyuman di antara atmosfir ketegangan yang tak sengaja tercipta.

Raksa bisa merasakan itu dari bagaimana cara Bima memandangnya seperti sebuah ancaman. Hanya butuh 1 hipotesis bagi Raksa menghubungkan antara dirinya dan Sekar malam ini, dan kedekatan Sekar-Bima selama ini. Jelas sekali bahwa Bima sedang cemburu terlepas apa pun alasannya.

“Hm.” Raksa manggut pelan, melempar ledekan tipis pada Bima.

Bima membulatkan matanya karena sadar.

“Apa-apaan nih orang?!” serunya dalam hati. Bima memutuskan untuk membuang pandangannya ke arah Sekar.

“Oh ya, Bima. Jadi ….”
Sekar lalu menjelaskan panjang lebar pada Bima perihal rencana Raksa dan lainnya untuk mengajar les di kampung ini mulai Senin depan di Balai Desa.

Penjelasan Sekar yang antusias dan tak terlihat gugup lagi seperti sebelumnya, membuat Nadia dan Rani kaget sekaligus terkesima. Padahal, baru juga sebentar mereka tinggal ke kamar mandi, tetapi pembawaan Sekar benar-benar berubah 180 derajat seperti orang yang berbeda.

Rani dan Nadia yakin, ini semua pasti gara-gara Raksa.

Mata Rani melihat tangan Sekar yang baru disadarinya sedang memegangi tempat pensil yang tadi siang Raksa beli di toko buku dekat kampus. Dia tersenyum. Sesuai dugaan, Raksa sudah curi start duluan selagi dia dan Nadia di dalam rumah Sekar tadi.

Selama hampir 2 tahun berteman dengan Raksa meski tak melulu sekelas, Rani dan Nadia kompak berpendapat bahwa: masih menjadi misteri seonggok batu seperti Raksa malah mengambil jurusan pendidikan untuk guru Sekolah Dasar yang notabenenya harus selalu terlihat ceria. Kadang mereka curiga, apakah pembawaan serius yang dibangun Raksa selama ini hanya sebuah kamuflase untuk misi terselubung?

Rani dan Nadia memang kombo hiperbolis.

Namun, mereka berdua mengakui satu hal bahwa meskipun Raksa terkesan kaku, lelaki itu jago membuat orang lain cepat percaya dan nyaman dengannya, seperti terhipnotis. Terutama anak-anak yang bukan rahasia umum lagi … kalau mereka adalah level tertinggi yang paling susah untuk didekati.

“Eh, jadi Sekar beneran mau ikutan kelas kita, nih?” tanya Rani tersenyum lebar hingga menampakkan gigi.

Sekar mengangguk malu-malu. “Iya, Kak Rani.”

“ASYIK!~”

Raksa menimpal, “Gimana kalo Mas Bima juga ikutan?”

Bima terperanjat. “Eh? Sa-Saya ikut belajar?”

Raksa mengangguk. “Ya, nemenin Sekar.”

Bima menelan ludahnya. Bahkan, dia tidak ingat kapan terakhir kali baca buku. Berbeda dengan Sekar, dia sama sekali tidak suka belajar walaupun sempat menyemat siswa berprestasi sebelum putus sekolah.

Sekar bergurau. “Gak mungkin Bima mau. Lihat koran aja ngantuk ya, Bim? Hehe~”

“E-Enak aja kamu, Kar! Gak gitu juga!” Bima tergagap menahan malu. Bisa-bisanya Sekar meledeknya di depan orang-orang yang baru dia kenal ini. “Kamu lupa apa gimana? Dulu aku ranking 1 terus!” Dia membela diri sekalian sombong dikit.

Rani dan Nadia terbawa suasana dan ikut tertawa melihat keakraban Sekar dan Bima. Raksa tersenyum tipis. Saking tipisnya sampai tak kelihatan.

“Beneran, Sekar?” tanya Nadia.

“Iya sih, Kak Nadia. Sayangnya itu beneran.” Sekar tertawa pelan menutup mulutnya memandang Bima yang kepanasan.

“Sekar!” seru Bima, wajahnya merah padam.

Rani dan Nadia ngakak sampai ngikik.

“Lucu banget kalian!” kata Rani menyeka air di ujung matanya.

Bima merasa harga dirinya dipertaruhkan saat ini. Selain ditertawai para gadis, dari tadi Raksa juga menyaksikannya tanpa memberi reaksi sedikitpun. Dia merasa dirinya seperti badut di depan lelaki itu. Sekar benar-benar tega, meski dia tahu gadis itu cuman bercanda.

“Yaudah kalo gitu, aku ikut belajar!” Bima telak memutuskan, meski sebetulnya dia malas.

“Eh, beneran kamu mau nemenin aku?” tanya Sekar terkekeh.

“Iya!” tegas Bima.

“Yes! Makasih, Bima.” Sekar senang.

Setelah terdiam cukup lama, Raksa akhirnya ambil bagian.

“Kayaknya Mas Bima punya sesuatu buat Sekar, ya? Di balik situ." Tangannya menunjuk baju Bima.

Bima terbelalak karena kartu AS-nya ternyata sudah ketahuan. “Jadi, dari tadi nih orang sadar?!”

“Eh, apa, Bim?” tanya Sekar. “Perasaan kamu gak nenteng apa-apa.”

Sebelum Bima menjawab, Raksa berkata lagi, “Sekar, kalau gitu. Kita bertiga pamit pulang ya.”

Raksa tak mau mengganggu ranah pribadi Sekar dan Bima soal transaksi barter mereka.

Rani menimpal setelah melihat jam tangannya, “Bener juga, udah hampir setengah 10.”

Usai berbincang sebentar lagi, ketiga mahasiswa itu pun akhirnya pulang. Sekar melambaikan tangannya. Bima masih berdiri di sebelah Sekar.

“Kamu kelihatan akrab ya Kar sama mereka,” kata Bima.

Sekar hanya tersenyum. Raksa yang telah memancingnya bicara banyak malam ini. Tangannya masih menggenggam tempat pensil pemberian lelaki dingin itu.

“Oh ya, Bim. Maksud Kak Raksa tadi ke kamu, apa ya?”

Bima menggaruk belakang kepalanya. Dia merasa sudah kepalang tanggung. Tapi, gara-gara celetukan Raksa, dia tak perlu menunda memberikan hadiah ini pada Sekar. Dia lalu mengeluarkan sandal selop itu dari balik baju belakangnya.

“Buat kamu,” ujar Bima. “Bukan barter. Gak usah komplen.”

“Eh ….”

“Aku tahu kamu lagi kerepotan gara-gara pesenan kue Bapak. Jadi, anggep aja ini bonus ‘pembayaran’ dari aku,” jelas Bima. “Nanti dipake ya pas belajar hari Senin.”

Sekar benar-benar tak protes kali. Dia enggan merusak niat baik Bima, “Ini masih bagus banget. Pasti bakalan aku pake, kok. Makasih ya, Bim.”

Mereka saling melempar senyuman.

***

Sementara itu, seorang pria berusia hampir 50 tahun dan berseragam sopir, tengah bersandar di kap sebuah mobil pribadi. Ini adalah hari kedua dirinya membaca tulisan pada papan lusuh yang berada tak jauh di depannya.

DESA/KAMPUNG ALUN.

Itu adalah kawasan tempat tinggal Sekar.

Di kejauhan, samar-samar matanya mulai menangkap sosok Raksa, diikuti dua temannya yang mengekor di belakang.

“Udah kelar, ya …,” gumamnya lalu menyesap dalam-dalam sebatang rokok di tangannya yang sudah pendek. Kemudian, membuangnya ke tanah untuk diinjak. Usai mengembuskan asapnya ke udara, dia segera masuk ke mobil untuk memanaskan mesin.

Raksa, Nadia, dan Rani tiba dan langsung masuk ke mobil itu juga tanpa basa-basi. Raksa duduk di kursi depan, sementara dua gadis itu di kursi belakang.

“Aman, Pak Joko?” Raksa sambil memasang seat belt.

“Ya, Den Raksa. Aman.”

Sebelum mengantar mereka hari ini, Pak Joko sempat hendak berdalih izin tak masuk karena sakit—dia tak bisa mengemukakan alasan yang sebenarnya pada sang majikan atau dalam hal ini Raksa. Namun, dia berubah pikiran dan akhirnya tetap berangkat.

“Gila, capek banget hari ini,” keluh Nadia bersandar menikmati sepoi-sepoi AC yang kentara baru dinyalakan. “Mana besok ada kelas jam setengah 9, hhh!”

“Iya lagi.” Rani mendengus lesu.

Mobil itu mulai berjalan. Mereka masih berada di daerah yang menyatukan jalan raya besar dan Desa Alun.

Nadia tiba-tiba nyeletuk, “Eh, si Sekar sama Bima lucu amat ya!”

Tiba-tiba mobil itu ngerem mendadak.

“AHH!” Rani dan Nadia sontak berteriak dan tubuh mereka berguncang sedikit ke depan karena tak mengenakan seat belt.

Raksa panik. “Pak, kenapa?! Ada apa?!”


Other Stories
Di Bawah Langit Al-ihya

Tertulis kisah ini dengan melafazkan nama-Mu juga terbingkailah namanya. Berharap mega t ...

Ruf Mainen Namen

Lieben .... Hoffe .... Auge .... Traurig .... ...

Kastil Piano

Kastil Piano. Sebuah benda transparan mirip bangunan kastil kuno yang di dalamnya terdapat ...

Mak Comblang Jatuh Cinta

Miko jatuh cinta pada sahabatnya sejak SD, Gladys. Namun, Gladys justru menyukai Vino, kak ...

Petualangan Di Negri Awan

seorang anak kecil menemukan negeri ajaib di balik awan dan berusaha menyelamatkan dari ke ...

Kacamata Kematian

Arsyil Langit Ramadhan lagi naksir berat sama cewek bernama Arshita Bintang Oktarina. Ia b ...

Download Titik & Koma