Tangisan Dan Senyuman
Sekar mengatakan pada Bima bahwa selama acara berlangsung di luar ngaji, orang-orang di sekitarnya kasak-kusuk membicarakannya. Bahkan, telinga Sekar menangkap suara ibu-ibu di belakangnya, melarang anaknya makan kue mangkok buatannya.
Kemudian, mereka juga menyinggung soal dapur rumah Sekar yang tampak berantakan, kotor, dan kumuh. Ditambah, ibu Sekar juga sakit berkepanjangan. Sehingga tak ada yang bisa menjamin kue-kue buatan Sekar higienis. Apalagi, foto-foto yang beredar semakin memperkuat semua spekulasi tersebut.
“Foto?” tanya Bima mengerutkan keningnya.
Sekar kelepasan melamun. Dia yakin ini pasti ulah Mpok Mina saat wanita itu berkunjung ke rumahnya semalam. Sekar tak punya HP, tetapi berdasarkan obrolan yang dia dengar, kemungkinan besar Mpok Mina membagikan apa yang wanita itu tangkap di kameranya ke dalam grup Whatsapp, membuat narasi fitnah, hingga semua orang yang hadir di sini tak ada satupun yang memakan kuenya karena takut.
“Sekar?”
Suara Bima membuyarkan lamunan Sekar. Namun, Sekar memutuskan untuk tidak mengatakannya pada Bima karena tak mau mencari masalah baru. Sudah cukup baginya berhubungan dengan Mpok Mina.
“Kamu tau siapa yang udah ngelakuin ini? Kasih tau aku, Kar!” cecar Bima emosi. "Biar aku sama Bapak yang nindak!"
Sekar menggeleng pelan.
“Bim, aku pulang ya.” Gadis itu langsung berdiri, lalu melihat ke arah ayah Bima dan membungkuk sedikit. “Sekar pamit, Pakde. Assalamualaikum.”
Sekar mengenakan sandalnya, lalu berlari meninggalkan rumah Bima.
“Sekar!” Bima bangkit, bermaksud mengejar Sekar.
“Bim, biarin.” Ayah Bima mencegah.
“Tapi—”
“Kasih si Sekar waktu sendiri dulu.”
Bima kembali menoleh ke kejauhan. Dia sudah tak melihat Sekar lagi.
Sekar terus berlari sambil menangis, hingga gadis itu akhirnya tiba di rumah. Langkahnya tertahan tepat di depan pintu kamar ibunya yang separuh terbuka, mencoba menenangkan diri dan mengontrol emosinya. Lantas, dia pun melangkah masuk.
Dilihatnya sang ibu berbaring tetapi tidak tidur. Mata wanita itu beralih dari langit-langit kamar dan kini memandang wajah Sekar yang sembab.
Sekar memaksa tersenyum. “Sekar kira ibu udah tidur.”
Tampak sisa air di ujung mata Sekar. Dadanya masih sesak. Melihat ibunya, dia bisa saja dengan mudah menangis lagi.
“Kenapa nangis? Nangis, Sekar? Sekar … nangis?” Ibunya meracau, tetapi tepat sasaran.
Sekar agak terkejut. Dia ingin mengatakan tidak, atau setidaknya menggeleng. Namun ….
“Hiks … ibu ….”
Sekar menangis lagi. Kali ini dia tak bisa menahan diri apalagi berpura-pura di hadapan ibunya.
Sekar segera menghampiri ranjang sang ibu, duduk di tepi ranjang, memeluk ibunya. Tangisnya pecah di saat itu juga.
“Ma-maafin Sekar ….”
Sekar benar-benar tidak mengerti. Selama ini hidupnya sudah begitu sulit, tetapi kenapa masih ada saja orang-orang yang tak menyukainya dan terus menerus ingin menjatuhkannya? Lantas, apa yang harus dia lakukan selanjutnya untuk menyambung hidup setelah usaha kecilnya hancur? Dia merasa bersalah karena tak bisa memenuhi janjinya pada sang ibu.
Ibunya hanya diam saja dan kembali menatap langit kamar. Namun, telinganya mendengar suara tangis Sekar. Matanya perlahan meneteskan air, membasahi bantal lusuh di belakang kepalanya. Wanita itu memang tidak mengerti secara logika karena kejiwaan yang terganggu, tetapi naluri seorang ibu akan selalu hidup bagaimanapun situasinya.
Tangan ibu Sekar perlahan bergerak, melingkari lembut punggung Sekar. Memeluk putri satu-satunya tersebut.
Sekar terus menangis. Dia akhirnya meluapkan segala kesedihan dan kelelahan yang selama ini tertahan pada sang ibu, meski tanpa kata-kata.
***
Keesokan harinya adalah hari Minggu. Pagi yang cerah dan cukup sejuk. Cahaya mentari pun mulai menyusup melalui celah anyam bambu rumah Sekar. Terdengar pula kokok ayam dan samar-samar kicau burung di luar sana. Sekar yang terbaring di atas sajadah dan masih mengenakan mukena, perlahan membuka matanya. Dia tanpa sadar ketiduran lagi setelah sholat Subuh.
Sekar bangkit ke posisi duduk. Matanya masih bengkak dan wajahnya juga sembab karena menangis hampir semalam suntuk. Tidurnya juga terbangun-bangun terus karena gelisah. Setelah semua hal yang terjadi, sudah dipastikan dia tidak akan jualan kue lagi.
Omong-omong soal kue, Sekar baru kepikiran bagaimana nasib kue-kuenya yang tak habis di rumah Bima semalam. Gara-gara terlalu emosional, Sekar main pergi begitu saja dari rumah mereka.
“Harusnya aku gak kabur.” Sekar memijat kecil keningnya. Kepalanya pusing.
Gadis itu lalu melepas atasan mukenanya. Dia ingin rehat sejenak setidaknya di sisa hari ini sebelum memikirkan kembali bagaimana dia harus mencari uang selanjutnya.
“Assalamualaikum ….”
Terdengar suara familier mengucap salam.
“Bima?” gumam Sekar. Dia langsung berdiri dan melepas bawahan mukenanya.
“Assalamualaikum, Sekar.”
“Waalaikumsalam.” Sekar membuka pintu. Dilihatnya Bima datang bersama gerobak loaknya yang terparkir di depan rumah.
“Sekar.” Bima memperhatikan lamat-lamat penampilan Sekar yang masih bengep. “Sekar, gimana keadaan kamu, udah baikan?”
“Gapapa, Bim. Maaf ya, semalem aku lari gitu aja.”
“Aku paham kok, Kar. Oh ya, aku bawa titipan dari Bapak….” Bima mengeluarkan sesuatu dari saku celana pendeknya. Dia lalu menyodorkan selembar uang seratus ribu kepada Sekar.
Sekar bingung. Dia belum mengambilnya. “Dari … Pakde? Untuk apa?”
“Buat bayar kue semalem.”
“Hah?” Sekar menggeleng, menolak uang itu dan langsung menjauhkan tangan Bima. “Bim, kesepakatan awal aku sama Pakde kan barter. Aku bahkan udah nerima seragam SMA dan buku-buku pelajaran bekas tambahan dari kamu. Apalagi … kue semalem akhirnya gak ada yang makan.”
Sekar mendengus lesu.
“Ada, kok.”
“Eh?”
“Aku sama Bapak langsung jalan keluar kampung setelah kamu pergi, Kar. Sebagian kue, kita bagi ke orang-orang.”
Sekar tertegun. “Beneran Bim …?”
Bima mengangguk, nyengir kuda. “Ludes. Dirauk sopir truk gede yang lagi pada nongkrong malem-malem di kios deket gerbang Desa.”
Sekar kehilangan kata-kata.
“Dah, uangnya terima aja! Kamu gak mau kan aku dimarahin Bapak?” Bima langsung menarik tangan Sekar, dan meletakkan uang seratus ribu tersebut ke tangan gadis itu. “Aku mau berangkat dulu.”
“Mau ke mana?”
“Kelilinglah ….” Bima tersenyum sambil membenarkan topinya. Dia lalu beranjak naik ke gerobak loaknya yang masih kosong.
“Bima,” panggil Sekar.
“Hm?”
“Makasih,” ucap Sekar. Terpancar ketulusan dan rasa syukur di hatinya. "Aku juga perlu nemuin Pakde."
Bima membalas senyuman itu setenang mungkin, meski sebenarnya jantungnya berdegup cepat. “Sama-sama, Kar. Santai aja."
Lelaki itu akhirnya pergi, mengayuh gerobak loaknya meninggalkan rumah Sekar.
Sekar masih memperhatikan punggung Bima yang semakin menjauh. Matanya lalu menatap selembar seratus ribuan di tangannya.
Sekar tersenyum tipis.
***
Keesokan harinya adalah hari pertama Raksa, Nadia, dan Rani akan mengajar di balai Desa Alun. Saat ini bersama Pak Joko—yang akhirnya menyerah dengan keadaan, ketiga mahasiswa itu sedang mampir terlebih dulu ke sebuah toko grosir. Mobil mereka terparkir di halamannya yang cukup luas.
Ini ba'da Ashar.
Rani dan Nadia yang bertugas masuk ke dalam untuk membeli tambahan alat tulis dan makanan ringan. Semua itu nantinya akan mereka bagikan ke seluruh peserta belajar. Sedangkan, Raksa menunggu di dalam mobil bersama Pak Joko.
Raksa menoleh keluar seraya menyandarkan wajahnya ke tangan yang bertumpu ke jendela mobil yang terbuka. Sepoi angin sesekali menerpa rambut hitamnya. Demikian pada Pak Joko yang duduk di kursi kemudi. Pria paruh baya itu secara mengejutkan mengenakan masker medis berwarna hitam. Lagi-lagi berdalih tidak enak badan.
“Pak, boleh saya tanya sesuatu?” Raksa akhirnya menengok ke Pak Joko.
“Uh, boleh, Den Raksa.” Pak Joko agak terperanjat dikit karena Raksa tiba-tiba bicara, memecah keheningan di dalam mobil tersebut.
Kemudian, mereka juga menyinggung soal dapur rumah Sekar yang tampak berantakan, kotor, dan kumuh. Ditambah, ibu Sekar juga sakit berkepanjangan. Sehingga tak ada yang bisa menjamin kue-kue buatan Sekar higienis. Apalagi, foto-foto yang beredar semakin memperkuat semua spekulasi tersebut.
“Foto?” tanya Bima mengerutkan keningnya.
Sekar kelepasan melamun. Dia yakin ini pasti ulah Mpok Mina saat wanita itu berkunjung ke rumahnya semalam. Sekar tak punya HP, tetapi berdasarkan obrolan yang dia dengar, kemungkinan besar Mpok Mina membagikan apa yang wanita itu tangkap di kameranya ke dalam grup Whatsapp, membuat narasi fitnah, hingga semua orang yang hadir di sini tak ada satupun yang memakan kuenya karena takut.
“Sekar?”
Suara Bima membuyarkan lamunan Sekar. Namun, Sekar memutuskan untuk tidak mengatakannya pada Bima karena tak mau mencari masalah baru. Sudah cukup baginya berhubungan dengan Mpok Mina.
“Kamu tau siapa yang udah ngelakuin ini? Kasih tau aku, Kar!” cecar Bima emosi. "Biar aku sama Bapak yang nindak!"
Sekar menggeleng pelan.
“Bim, aku pulang ya.” Gadis itu langsung berdiri, lalu melihat ke arah ayah Bima dan membungkuk sedikit. “Sekar pamit, Pakde. Assalamualaikum.”
Sekar mengenakan sandalnya, lalu berlari meninggalkan rumah Bima.
“Sekar!” Bima bangkit, bermaksud mengejar Sekar.
“Bim, biarin.” Ayah Bima mencegah.
“Tapi—”
“Kasih si Sekar waktu sendiri dulu.”
Bima kembali menoleh ke kejauhan. Dia sudah tak melihat Sekar lagi.
Sekar terus berlari sambil menangis, hingga gadis itu akhirnya tiba di rumah. Langkahnya tertahan tepat di depan pintu kamar ibunya yang separuh terbuka, mencoba menenangkan diri dan mengontrol emosinya. Lantas, dia pun melangkah masuk.
Dilihatnya sang ibu berbaring tetapi tidak tidur. Mata wanita itu beralih dari langit-langit kamar dan kini memandang wajah Sekar yang sembab.
Sekar memaksa tersenyum. “Sekar kira ibu udah tidur.”
Tampak sisa air di ujung mata Sekar. Dadanya masih sesak. Melihat ibunya, dia bisa saja dengan mudah menangis lagi.
“Kenapa nangis? Nangis, Sekar? Sekar … nangis?” Ibunya meracau, tetapi tepat sasaran.
Sekar agak terkejut. Dia ingin mengatakan tidak, atau setidaknya menggeleng. Namun ….
“Hiks … ibu ….”
Sekar menangis lagi. Kali ini dia tak bisa menahan diri apalagi berpura-pura di hadapan ibunya.
Sekar segera menghampiri ranjang sang ibu, duduk di tepi ranjang, memeluk ibunya. Tangisnya pecah di saat itu juga.
“Ma-maafin Sekar ….”
Sekar benar-benar tidak mengerti. Selama ini hidupnya sudah begitu sulit, tetapi kenapa masih ada saja orang-orang yang tak menyukainya dan terus menerus ingin menjatuhkannya? Lantas, apa yang harus dia lakukan selanjutnya untuk menyambung hidup setelah usaha kecilnya hancur? Dia merasa bersalah karena tak bisa memenuhi janjinya pada sang ibu.
Ibunya hanya diam saja dan kembali menatap langit kamar. Namun, telinganya mendengar suara tangis Sekar. Matanya perlahan meneteskan air, membasahi bantal lusuh di belakang kepalanya. Wanita itu memang tidak mengerti secara logika karena kejiwaan yang terganggu, tetapi naluri seorang ibu akan selalu hidup bagaimanapun situasinya.
Tangan ibu Sekar perlahan bergerak, melingkari lembut punggung Sekar. Memeluk putri satu-satunya tersebut.
Sekar terus menangis. Dia akhirnya meluapkan segala kesedihan dan kelelahan yang selama ini tertahan pada sang ibu, meski tanpa kata-kata.
***
Keesokan harinya adalah hari Minggu. Pagi yang cerah dan cukup sejuk. Cahaya mentari pun mulai menyusup melalui celah anyam bambu rumah Sekar. Terdengar pula kokok ayam dan samar-samar kicau burung di luar sana. Sekar yang terbaring di atas sajadah dan masih mengenakan mukena, perlahan membuka matanya. Dia tanpa sadar ketiduran lagi setelah sholat Subuh.
Sekar bangkit ke posisi duduk. Matanya masih bengkak dan wajahnya juga sembab karena menangis hampir semalam suntuk. Tidurnya juga terbangun-bangun terus karena gelisah. Setelah semua hal yang terjadi, sudah dipastikan dia tidak akan jualan kue lagi.
Omong-omong soal kue, Sekar baru kepikiran bagaimana nasib kue-kuenya yang tak habis di rumah Bima semalam. Gara-gara terlalu emosional, Sekar main pergi begitu saja dari rumah mereka.
“Harusnya aku gak kabur.” Sekar memijat kecil keningnya. Kepalanya pusing.
Gadis itu lalu melepas atasan mukenanya. Dia ingin rehat sejenak setidaknya di sisa hari ini sebelum memikirkan kembali bagaimana dia harus mencari uang selanjutnya.
“Assalamualaikum ….”
Terdengar suara familier mengucap salam.
“Bima?” gumam Sekar. Dia langsung berdiri dan melepas bawahan mukenanya.
“Assalamualaikum, Sekar.”
“Waalaikumsalam.” Sekar membuka pintu. Dilihatnya Bima datang bersama gerobak loaknya yang terparkir di depan rumah.
“Sekar.” Bima memperhatikan lamat-lamat penampilan Sekar yang masih bengep. “Sekar, gimana keadaan kamu, udah baikan?”
“Gapapa, Bim. Maaf ya, semalem aku lari gitu aja.”
“Aku paham kok, Kar. Oh ya, aku bawa titipan dari Bapak….” Bima mengeluarkan sesuatu dari saku celana pendeknya. Dia lalu menyodorkan selembar uang seratus ribu kepada Sekar.
Sekar bingung. Dia belum mengambilnya. “Dari … Pakde? Untuk apa?”
“Buat bayar kue semalem.”
“Hah?” Sekar menggeleng, menolak uang itu dan langsung menjauhkan tangan Bima. “Bim, kesepakatan awal aku sama Pakde kan barter. Aku bahkan udah nerima seragam SMA dan buku-buku pelajaran bekas tambahan dari kamu. Apalagi … kue semalem akhirnya gak ada yang makan.”
Sekar mendengus lesu.
“Ada, kok.”
“Eh?”
“Aku sama Bapak langsung jalan keluar kampung setelah kamu pergi, Kar. Sebagian kue, kita bagi ke orang-orang.”
Sekar tertegun. “Beneran Bim …?”
Bima mengangguk, nyengir kuda. “Ludes. Dirauk sopir truk gede yang lagi pada nongkrong malem-malem di kios deket gerbang Desa.”
Sekar kehilangan kata-kata.
“Dah, uangnya terima aja! Kamu gak mau kan aku dimarahin Bapak?” Bima langsung menarik tangan Sekar, dan meletakkan uang seratus ribu tersebut ke tangan gadis itu. “Aku mau berangkat dulu.”
“Mau ke mana?”
“Kelilinglah ….” Bima tersenyum sambil membenarkan topinya. Dia lalu beranjak naik ke gerobak loaknya yang masih kosong.
“Bima,” panggil Sekar.
“Hm?”
“Makasih,” ucap Sekar. Terpancar ketulusan dan rasa syukur di hatinya. "Aku juga perlu nemuin Pakde."
Bima membalas senyuman itu setenang mungkin, meski sebenarnya jantungnya berdegup cepat. “Sama-sama, Kar. Santai aja."
Lelaki itu akhirnya pergi, mengayuh gerobak loaknya meninggalkan rumah Sekar.
Sekar masih memperhatikan punggung Bima yang semakin menjauh. Matanya lalu menatap selembar seratus ribuan di tangannya.
Sekar tersenyum tipis.
***
Keesokan harinya adalah hari pertama Raksa, Nadia, dan Rani akan mengajar di balai Desa Alun. Saat ini bersama Pak Joko—yang akhirnya menyerah dengan keadaan, ketiga mahasiswa itu sedang mampir terlebih dulu ke sebuah toko grosir. Mobil mereka terparkir di halamannya yang cukup luas.
Ini ba'da Ashar.
Rani dan Nadia yang bertugas masuk ke dalam untuk membeli tambahan alat tulis dan makanan ringan. Semua itu nantinya akan mereka bagikan ke seluruh peserta belajar. Sedangkan, Raksa menunggu di dalam mobil bersama Pak Joko.
Raksa menoleh keluar seraya menyandarkan wajahnya ke tangan yang bertumpu ke jendela mobil yang terbuka. Sepoi angin sesekali menerpa rambut hitamnya. Demikian pada Pak Joko yang duduk di kursi kemudi. Pria paruh baya itu secara mengejutkan mengenakan masker medis berwarna hitam. Lagi-lagi berdalih tidak enak badan.
“Pak, boleh saya tanya sesuatu?” Raksa akhirnya menengok ke Pak Joko.
“Uh, boleh, Den Raksa.” Pak Joko agak terperanjat dikit karena Raksa tiba-tiba bicara, memecah keheningan di dalam mobil tersebut.
Other Stories
Srikandi
Iptu Yanti, anggota Polwan yang masih lajang dan cantik, bertugas di Satuan Reskrim. Bersa ...
Cinta Satu Paket
Namanya Renata Mutiara, secantik dan selembut mutiara. Kelas sebelas dan usianya yang te ...
Lam Biru
Suatu hari muncul kalimat asing di layar laptop Harit, kalimat itu berupa deskripsi penamp ...
Menolak Jatuh Cinta
Maretha Agnia, novelis terkenal dengan nama pena sahabatnya, menjelajah dunia selama tiga ...
Boneka Sempurna
Bagi Abrian, hidup adalah penjara tanpa jeruji. Selama bertahun-tahun, ia adalah korbam ta ...
Baca Tanpa Dieja
itulah cara jpload yang bener da baik ...