Gadis Loak & Dua Pelita

Reads
1.9K
Votes
2
Parts
17
Vote
Report
Gadis loak & dua pelita
Gadis Loak & Dua Pelita
Penulis Indira Isvandiary

Dua Pelita [end]

Tanpa terasa, dua pekan telah berlalu.
Raksa, Nadia, dan Rani akhirnya menutup sesi belajar di Desa Alun. Ini adalah malam terakhir, sekaligus perpisahan.

Rani seperti biasanya, mewakili mereka bertiga untuk mengucapkan terima kasih. Gadis berjilbab itu terlihat agak mellow. Dia sampai bergetar menahan air matanya agar tak keluar.

“Duh, sedih nih~ hehe.” Rani memberi kode pada Nadia untuk menggantikannya bicara. Matanya sudah berkaca-kaca.

Nadia tertawa, dan menunduk sekilas. Hatinya juga berat. Dia sudah merasa nyaman mengajar di sini. Anak-anak yang hadir malam itu juga sedih, karena mereka sudah telanjur membangun keakraban dengan ketiga mahasiswa tersebut.

Raksa tersenyum. Dia melirik Sekar yang duduk di sebelah Bima. Dia terkejut, ternyata Sekar juga sedang melihat ke arahnya. Entah kenapa, wajah gadis itu terlihat segar dan ceria sekali malam ini.

"Wah, Sekar gak sedih, ya?" batin Raksa, matanya tersenyum. Padahal, sedari tadi diam-diam dia sedang menahan diri agar tidak terbawa suasana sendu yang tercipta di sekitarnya.

Sekar sadar, lalu dia menyunggingkan senyuman pada Raksa. Raksa membalas dengan senyuman yang lebih lepas dari sebelumnya.

“Ada oleh-oleh dari kita!” seru Nadia sontak mengubah suasana galau itu menjadi ceria kembali.

“Yeay!”

“Antri ya!”
Mereka membagikan alat tulis, buku, dan makanan ringan.

Bima ikut mengantri. Dia berniat menolak buku ataupun alat tulis, dan meminta lebih banyak wafer sebagai gantinya.

Sedangkan, Sekar menjauh dari kerumunan. Gadis itu menghampiri Raksa yang sedang berdiri saja menyaksikan Nadia dan Rani bagi-bagi buah tangan.

Sekar ingin menyampaikan sesuatu secara pribadi kepada Raksa.

“Kak Raksa!”

“Eh, iya Sekar.”

Sekar tersenyum, menatap bola mata Raksa lamat-lamat. “Terima kasih ya Kak, untuk semua bantuannya. Sekar seneng banget bisa ketemu dan belajar bareng Kak Raksa, Kak Nadia, dan Kak Rani juga."

Raksa tersenyum hangat.
"Sama-sama, Sekar. Jadi gimana? Udah siap, minggu depan?”

Sekar mengangguk mantap. “Inshaa Allah, Sekar siap, Kak.”

Beberapa waktu lalu setelah Sekar melengkapi berkas persyaratan, Raksa langsung mengurus administrasi yang diperlukan agar Sekar bisa segera mengikuti kegiatan belajar sebelum mengambil ujian kesetaraan tingkat SMP atau Paket B.

Selain Sekar, Raksa juga mengurus satu orang lainnya, namanya Mila, yang juga ingin mengejar ujian paket B. Bedanya, Mila sudah sempat sekolah sampai kelas 7 SMP. Sehingga, levelnya berada di atas Sekar karena Mila memiliki catatan rekognisi capaian belajar dari buku rapor dan bisa diakui.

Raksa berkoordinasi dengan Pak Rojali sebagai kepala desa untuk mendaftarkan anak-anak itu ke Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM). Waktu tempuh pembelajaran sama dengan kelas reguler pada umumnya selama 3 tahun. Namun, juga bisa lebih cepat sesuai kemampuan siswa.

Jadwal belajar Sekar adalah Senin sampai Jumat jam 4 sore. Sedangkan jadwal kuliah Raksa selalu dimulai di pagi hari. Setidaknya di semester tiga ini, dia ada satu hari libur di hari Jumat. Meski Sabtu-nya tetap masuk, satu mata kuliah.

“Nanti saya jemput ya, Sekar.” Raksa mengonfirmasi kembali. Takut Sekar lupa.

“Hmm, tapi … ini beneran gapapa, Kak? Kak Raksa kan juga kuliah. Kalo kecapean, gimana?” Sekar sebenarnya sempat menolak karena Raksa sudah membantunya terlalu banyak. “Saya gak enak sama Kakak.”

“Gak, kok. Jadwal kuliah saya, aman.” Raksa tersenyum. “Dan andai Mila gak sama ayahnya, saya pasti akan antar-jemput dia juga. Kita jalan sama-sama.”

Raksa menjelaskan supaya Sekar merasa lebih nyaman dan tidak terbebani. Dia bahkan sudah berencana tukeran sopir dengan ayahnya, agar Sekar dan Pak Joko tak saling bertemu.

“Yang penting, kamu sama Mila fokus belajar. Udah, itu aja,” lanjut Raksa. “Gak usah mikirin yang lain.”

Sekar mengangguk. Gadis itu merasa lega sekaligus bersyukur usai mendengar ucapan Raksa. Meski demikian, sejujurnya akhir-akhir ini dia sedang memikirkan bagaimana cara membalas kebaikan lelaki itu.

“Sekali lagi, makasih banyak, Kak Raksa.”

***

Di sebuah hari Jumat, menjelang Ashar.

Di depan rumah Sekar, Bima menyerahkan beberapa lembar uang ribuan kepada Sekar. Mereka baru pulang dari mencari barang bekas.

“Ini buat kamu, Sekar. Makasih ya udah bantuin aku ngeloak lagi hari ini. Padahal, abis ini kamu harus siap-siap berangkat lagi buat belajar.”

“Ck, kamu sama Pakde yang udah banyak bantu aku, tau!” Sekar menghela napas. Dia rutin menerima bayaran harian dari titipan ayah Bima, dan juga setiap kali dia dan Bima pulang dari pengepul. “Aku terima ya. Makasih banyak, Bima.”

Selain soal Raksa, Sekar juga bingung bagaimana harus membalas kebaikan keluarga Bima yang sudah banyak berjasa dalam hidupnya selama ini.

“Santai.” Bima nyengir kuda. “Eh, gimana sejauh ini belajar di sana, Kar? Enak, kagak? Udah seminggu kan, ya? Gak berasa.”

“Hmm enak, sih. Aku masih bisa ngikutin materinya, Bim. Aku juga ketemu banyak temen baru dari berbagai usia. Tapi aku gak sekelas sama Mila,” jawab Sekar mendengus kecil. “Eh, Bim! Yang ambil Paket A ternyata banyak banget, loh! Kak Raksa sampe nanyain kamu lagi, kali aja berubah pikiran~”

Bima terkekeh sambil mengelus belakang kepalanya, “Entar deh, Kar. Sayang kalo akunya masih niat gak niat.”

Selepas Bima pamit pulang, Sekar langsung mempersiapkan diri; mandi sore, sholat Ashar, dan makan. Dia juga mengurusi ibunya.

Tak lama berselang, terdengar suara motor terparkir di halaman rumah Sekar. Tidak salah lagi, suara familier itu adalah Raksa. Raksa memang mengantar Sekar ke tempat belajar menggunakan motor, karena kuliahnya sehari-hari juga naik kendaraan tersebut. Namun, jika jadwal pulang Sekar terlalu larut, Raksa akan menggunakan mobil bersama sopir ayahnya demi keamanan.

“Assalamualaikum,” ucap Raksa menenteng helmnya.
Hari ini Raksa tidak ada jadwal kuliah, tetapi dia baru saja kembali dari rumah Nadia untuk mencicil laporan kegiatan mengajar selama 2 minggu kemarin di Desa Alun.

“Waalaikumsalam.”
Sekar melangkah keluar seraya menenteng tas selempang sederhana berisi buku dan alat tulis. Gadis itu mengenakan kemeja panjang dan rok di bawah lutut. Rambut panjangnya hari ini dikuncir kuda.

“Kak Raksa ….” Gadis itu tersenyum.

Raksa membalasnya. Dia berkata, “Masih semangat kan, Sekar?”

“Semangat, dong!” Sekar lalu mengunci pintu rumahnya. “Ayo, Kak.”

“Yuk.”

Raksa memakai helm-nya sendiri, lalu memberikan helm penumpang yang disimpan di dalam jok kepada Sekar. Mereka pun berangkat.

Setiba di Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat, Raksa berkata bahwa dia akan menunggu Sekar sampai selesai.

“Eh, emangnya gapapa, Kak?”

“Gapapa. Hari ini kamu agak cepet, kan? Besok libur?” Raksa memegang jadwal Sekar.

Sekar mengangguk. “Oke, deh. Kalo gitu, Sekar masuk dulu ya, Kak.”

Raksa mengangguk, memperhatikan Sekar berlalu.

Di sela momen belajar Sekar di kelasnya, Raksa mengintip dari celah jendela. Dia memperhatikan selama beberapa saat, lalu mengeluarkan ponsel dari saku celananya.

Raksa memotret Sekar yang sedang fokus menyimak penjelasan guru, lalu mengirim foto tersebut ke Pak Joko melalui Whatsapp.

Ceklis dua. Terkirim. Ceklis biru. Dilihat.

Raksa memijat kecil keningnya. Sejujurnya dia masih menelaah secara pribadi, apakah tindakannya ini salah atau benar terlebih dari sudut pandang Sekar. Meski begitu, hatinya sudah merasa mengganjal. Nuraninya menolak.

“Sekali aja,” gumam Raksa. Dia enggan mengiyakan lagi permintaan Pak Joko jikalau itu tak adil untuk Sekar dan ibunya.

Raksa sudah blak-blakan pada Pak Joko, dan mengatakan bahwa pria itu tak bisa terus-terusan lari dan bersembunyi. Jika benar-benar merindukan Sekar, cobalah untuk menghadapi segala konsekuensi. Ucapan Raksa tersebut lagi-lagi hanya dibalas tertunduk oleh Pak Joko kala itu.

Raksa akhirnya sudah mengetahui latar belakang kehidupan terbaru Pak Joko. Sopirnya itu ternyata sudah berstatus duda dan tak memiliki rumah tinggal selain di yayasan tempat dirinya dipekerjakan sebagai sopir profesional.

Di sisi lain, di kamarnya. Pak Joko menatap foto Sekar yang dia terima dari Raksa seraya duduk di tepi ranjang.

“Sekar,” bisiknya parau mendapati betapa cantik putrinya itu. Dia menangis lagi, menyeka air matanya ke lengan baju.

***

Keesokan harinya, menjelang petang di rumah Sekar.

Seraya berjalan nyeker karena satu sandal jepitnya tiba-tiba putus di tengah jalan, Bima terkejut melihat Raksa sedang duduk di atas motornya. Di sisi lain, pintu rumah Sekar tampak masih tertutup rapat.

Hari ini, Sekar memang izin tidak mencari barang bekas karena ada yang harus dia kerjakan. Namun, ketika ditanya, gadis itu tak menjawab.

“Lah, ada dia juga?” gumam Bima sambil melihat punggung Raksa yang beralmamater itu.

“Kak!”

Raksa agak terkejut, lalu segera menoleh. Telinganya sama sekali tak mendengar suara langkah kaki, tahu-tahu ada yang memanggilnya.

“Bima?” Mata Raksa melihat Bima menenteng sepasang sandal jepit yang disatukan.

“Kak Raksa diminta Sekar kemari juga?”

Raksa mengangguk.

“Assalamualaikum, Sekar,” seru Bima. Dia lalu meletakkan sandal putusnya di kolong meja. “Titip sini dulu, dah. Sekar … assalamualaikum. Mana, sih?”

Masih tak ada jawaban. Namun, terdengar samar-samar riuh dari dalam.

Raksa lalu turun lagi dari motornya.
“Assalamualaikum.”
Sebenarnya, sedari tadi dia juga sudah mengucap salam, tetapi tak ada jawaban.

Tak lama berselang, Sekar akhirnya membuka pintu dan menjawab, “Waalaikumsalam.”

Penampilan gadis itu terlihat sangat berantakan. Rambut panjangnya dikuncir cepol ke atas, ikatannya tampak longgar. Kaos pendeknya tampak berlumur adonan tepung. Wajahnya terkesan kumal, meski tetap manis.

“Kak Raksa, Bima! Duh, maaf. Dari tadi ya?” tanya Sekar. Hampir seharian dia berkutat di dapur.

Kedua lelaki itu mengangguk. Ekspresi mereka percampuran antara kaget dan bingung.

“Sekar, kenapa—”

“Sebentar, ya!” Gadis itu masuk lagi setelah memotong ucapan Bima.

Bima dan Raksa lihat-lihatan.

Sesaat kemudian, Sekar kembali membawa dua plastik putih yang masing-masing di dalamnya terdapat kotak besek berwarna putih tulang. Setelah sekian purnama, akhirnya gadis itu membuat kue pasar lagi.

“Ada … risol bihun, kue mangkuk gula merah, donat meses, pisang goreng, bolu mentega, tahu isi, martabak telur,” jelas Sekar memaparkan isi boks itu. “Eh, roti goreng keju juga! Menu baru!” serunya lagi tersenyum lebar.

Hari ini Sekar benar-benar kerja rodi, meski masing-masing adonan kue yang dia buat terbatas. Yang penting, jadinya berbagai jenis dan rasa.

Bima dan Raksa tertegun. Namun, tangan mereka bergerak menerima bungkusan itu. Berat dan masih ada hawa hangat.

“Kenapa tiba-tiba, Sekar?” tanya Raksa. Diam-diam, hatinya senang sekali. Ini pertama kalinya dia akan makan kue buatan Sekar.

“Ho’oh,” timpal Bima bersamaan dengan hidungnya yang refleks megar dikit karena mencium aroma kue-kue itu yang saling bertabrakan, menyusup keluar melalui lubang boks. “Dalam rangka apa dah, Kar?”

“Gak dalam rangka apa-apa, kok.” Sekar terkekeh. “Dihabisin ya, Kak Raksa! Bima, jangan maruk! Kasih Pakde juga.”

Sebenarnya, Sekar benar-benar sudah mentok. Dia tak punya ide sama sekali untuk memberikan sesuatu pada Raksa dan Bima sebagai bentuk ucapan terima kasih, selain yang bisa dia buat sendiri alias kue pasar.

“Makasih ya, Sekar.” Raksa tersenyum dan langsung dibalas Sekar. Raksa langsung kepikiran Pak Joko.

“Oke, Kar. Makasih loh!” Bima menimpal. “Lumayan buat temen nonton tipi nanti malem, haha~”

Sekar tertawa. Kemudian, matanya berpaling ke langit senja di hadapan mereka.

“Hoaaah~”

Sekar mengenakan sandal slopnya, lalu melangkah agak ke depan halaman rumah. Kuncirannya yang longgar tanpa sengaja jatuh ke tanah, membuat rambut panjangnya kembali tergerai.

Raksa dan Bima berbalik, melihat punggung Sekar. Bima menyaksikan apa yang sedang Sekar lihat. Dia terkejut.

“Aku gak tahu kalo langit senja bisa keliatan sekeren ini dari rumah kamu, Kar,” kata Bima.

Raksa terpukau, tak bicara. Kedua lelaki itu lalu meletakkan boks kue mereka ke atas meja. Kemudian, menyusul Sekar.

Raksa berdiri di kiri Sekar, sementara Bima di sisi kanan gadis itu. Cahaya oranye senja menerpa wajah mereka. Sekar tersenyum bahagia. Dia bersyukur bisa menikmati pemandangan indah itu bersama kedua pelita yang selalu menerangi hari-harinya.

“Terima kasih, Bima, Kak Raksa ….”

Sekar bertekad dirinya akan menyelesaikan pendidikan, dan menggapai cita-citanya kelak menjadi seorang guru.

*[TAMAT]

Other Stories
My Love

Sandi dan Teresa menunda pernikahan karena Teresa harus mengajar di Timor Leste. Lama tak ...

Cerita Guru Sarita

Sarita merasa berbeda dari keluarganya karena mata cokelatnya yang dianggap mirip serigala ...

Deska

Perlahan keadaan mulai berubah. Pertemuan-pertemuan sederhana, duduk berdekatan , atau sek ...

Mozarella Bukan Cinderella

Moza tinggal di Panti Asuhan Muara Kasih Ibu sejak ia pertama kali melihat dunia. Seseo ...

Pucuk Rhu Di Pusaka Sahara

Mahasiswa Indonesia di Yaman diibaratkan seperti pucuk rhu di Padang Sahara: selalu diuji ...

Cerella Flost

Aku pernah menjadi gadis yang terburuk.Tentu bukan karena parasku yang menjaminku menjadi ...

Download Titik & Koma