The Absence Of Rain
Ada yang aneh hari ini.
Hujan tidak turun, café itu tetap sunyi, dan untuk pertama kalinya aku sadar—aku merindukan sesuatu yang bahkan tidak bisa kusebut namanya.
Bukan kopi pahit. Bukan meja sudut tempatku biasa duduk. Tapi… dia.
Wanita asing dengan teka-teki aneh dan senyum penuh rahasia.
Wanita yang tiba-tiba datang, membuatku kehilangan kendali, lalu menghilang seakan hanya bayangan.
Aku menatap kosong ke luar jendela café yang kali ini terasa terlalu lengang. Tak ada suara hujan, hanya terik matahari yang menyilaukan. Tanpa sadar aku mengetuk-ngetukkan jariku di meja, berharap suara pintu terbuka akan membawa dia masuk dengan langkah ringan seperti sebelumnya.
Tapi pintu hanya berderit sesekali, dan yang masuk hanyalah orang-orang biasa. Bukan dia.
Aku menunggu terlalu lama, menyadari kebodohan itu, lalu menutup laptop tanpa benar-benar membaca laporan yang ada di layar. Aku tidak bisa fokus. Entah kenapa bayangan wajahnya menari-nari di pikiranku. Senyumnya, suaranya, bahkan caranya menatapku seakan aku bukan orang asing.
Sial. Sejak kapan aku seperti ini?
Aku bukan tipe orang yang menunggu. Apalagi menunggu seseorang yang bahkan tidak kuketahui namanya.
Namun hari demi hari berlalu.
Aku tetap datang ke café itu, duduk di sudut yang sama, tapi kursi kosong di depanku tidak pernah terisi lagi olehnya. Tidak ada riddles, tidak ada tawa kecil yang mengusik. Tidak ada tatapan itu.
Dan semakin ia tidak muncul, semakin aku sadar: aku merindukannya.
Aku merindukan wanita aneh yang entah dari mana datangnya, yang mengusik tenang hidupku hanya dengan beberapa kata sederhana.
Sore itu, aku pulang dari mini market kecil dekat apartemenku. Tas belanja di tangan terasa lebih berat dari biasanya, meski isinya hanya kopi, roti, dan beberapa keperluan sederhana.
Aku berjalan pelan di trotoar, pikiranku melayang entah kemana. Sampai tiba-tiba mataku menangkap sesuatu.
Seseorang.
Dia.
Wanita itu.
Aku terhenti seketika, napasku tercekat. Di seberang jalan, ia sedang mengayuh sepeda listrik dengan santai. Rambutnya tergerai, wajahnya tetap sederhana seperti terakhir kali kulihat. Tapi ada sesuatu yang berbeda kali ini.
Seorang anak kecil duduk di jok belakang sepeda, memeluk pinggangnya erat-erat sambil tertawa riang.
Aku mengerjap, memastikan aku tidak sedang berhalusinasi. Tidak, itu benar-benar dia. Aku mengenali senyumnya, matanya, cara ia menunduk sedikit saat tertawa. Itu dia.
Tapi anak itu?
Hatiku langsung dipenuhi pertanyaan yang berisik.
Siapa anak itu? Anaknya sendiri? Keponakan? Adiknya?
Aku menelan ludah, tiba-tiba merasa dadaku sesak. Dia masih tampak muda, sama sepertiku—tidak mungkin sudah punya anak sebesar itu… kan? Tapi siapa aku sampai bisa memastikan?
Aku berdiri mematung di trotoar, tas belanja di tanganku hampir terjatuh. Mataku mengikuti mereka yang perlahan menjauh, tawa anak kecil itu bercampur dengan suara sepeda yang meluncur.
Aku ingin mengejar, ingin menyeberang dan memastikan dengan mataku sendiri. Tapi langkahku tertahan. Ada ketakutan aneh yang menahan kakiku.
Kalau benar dia sudah punya anak… apa artinya semua ini?
Kenapa aku begitu peduli?
Aku menggertakkan gigi, mencoba menepis pikiran itu. Tidak, mungkin itu bukan anaknya. Bisa saja keponakan, atau anak tetangga yang dititipkan padanya. Ya, itu lebih masuk akal.
Aku menghela napas panjang, mencoba menenangkan diriku sendiri. Tapi tetap saja bayangan itu melekat kuat di kepalaku—dia, dengan senyum hangat sambil mengayuh sepeda, dan anak kecil yang memeluknya seolah ia adalah dunianya.
Pikiranku melambung ke segala arah. Dan untuk pertama kalinya, aku menyadari satu hal:
Wanita itu bukan hanya misteri.
Dia adalah misteri yang perlahan membuatku takut kehilangan, bahkan sebelum aku benar-benar memilikinya.
Malam itu aku tidak bisa tidur.
Setiap kali menutup mata, aku melihat kembali senyum itu. Senyum yang dulu ditujukan padaku di café, kini terulang bersama tawa seorang anak kecil.
Dan aku benci mengakuinya… tapi aku cemburu.
Beberapa hari kemudian, aku kembali ke café. Dan kali ini, dia benar-benar datang.
Aku menegakkan punggung, pura-pura tenang, seolah kehadirannya tidak memengaruhiku. Tapi yang terjadi justru sebaliknya.
Dia tidak menghampiriku.
Dia hanya lewat begitu saja, dengan goody bag di tangannya. Senyumnya ia berikan pada barista, lalu bungkusan itu berpindah tangan. Setelah itu, tanpa menoleh sedikit pun ke arahku, dia melangkah keluar begitu saja.
Aku tercekat. Rasanya… keki.
Tanpa pikir panjang, aku bangkit. Langkahku mengikuti bayangan itu keluar café.
Dan aku menemukannya sedang jongkok di tepi jalan, mengeluarkan makanan kecil dari kantong kertas untuk kucing-kucing jalanan. Tangannya bergerak pelan, matanya teduh, dan bibirnya tersenyum.
Aku berhenti beberapa meter darinya. Ada sesuatu di sana—sesuatu yang tidak bisa kujelaskan.
Ketika ia berdiri lagi, menepuk tangannya, ia berjalan riang, seolah menuju tempat yang hanya dia tahu. Aku berusaha mengikutinya. Tapi entah bagaimana, aku kehilangan jejak.
Aku berdiri lama di persimpangan jalan itu,
menatap kosong. Untuk alasan yang tidak masuk akal, rasanya aku baru saja benar-benar ditinggalkan oleh seseorang yang bahkan bukan siapa-siapa bagiku.
Hujan tidak turun, café itu tetap sunyi, dan untuk pertama kalinya aku sadar—aku merindukan sesuatu yang bahkan tidak bisa kusebut namanya.
Bukan kopi pahit. Bukan meja sudut tempatku biasa duduk. Tapi… dia.
Wanita asing dengan teka-teki aneh dan senyum penuh rahasia.
Wanita yang tiba-tiba datang, membuatku kehilangan kendali, lalu menghilang seakan hanya bayangan.
Aku menatap kosong ke luar jendela café yang kali ini terasa terlalu lengang. Tak ada suara hujan, hanya terik matahari yang menyilaukan. Tanpa sadar aku mengetuk-ngetukkan jariku di meja, berharap suara pintu terbuka akan membawa dia masuk dengan langkah ringan seperti sebelumnya.
Tapi pintu hanya berderit sesekali, dan yang masuk hanyalah orang-orang biasa. Bukan dia.
Aku menunggu terlalu lama, menyadari kebodohan itu, lalu menutup laptop tanpa benar-benar membaca laporan yang ada di layar. Aku tidak bisa fokus. Entah kenapa bayangan wajahnya menari-nari di pikiranku. Senyumnya, suaranya, bahkan caranya menatapku seakan aku bukan orang asing.
Sial. Sejak kapan aku seperti ini?
Aku bukan tipe orang yang menunggu. Apalagi menunggu seseorang yang bahkan tidak kuketahui namanya.
Namun hari demi hari berlalu.
Aku tetap datang ke café itu, duduk di sudut yang sama, tapi kursi kosong di depanku tidak pernah terisi lagi olehnya. Tidak ada riddles, tidak ada tawa kecil yang mengusik. Tidak ada tatapan itu.
Dan semakin ia tidak muncul, semakin aku sadar: aku merindukannya.
Aku merindukan wanita aneh yang entah dari mana datangnya, yang mengusik tenang hidupku hanya dengan beberapa kata sederhana.
Sore itu, aku pulang dari mini market kecil dekat apartemenku. Tas belanja di tangan terasa lebih berat dari biasanya, meski isinya hanya kopi, roti, dan beberapa keperluan sederhana.
Aku berjalan pelan di trotoar, pikiranku melayang entah kemana. Sampai tiba-tiba mataku menangkap sesuatu.
Seseorang.
Dia.
Wanita itu.
Aku terhenti seketika, napasku tercekat. Di seberang jalan, ia sedang mengayuh sepeda listrik dengan santai. Rambutnya tergerai, wajahnya tetap sederhana seperti terakhir kali kulihat. Tapi ada sesuatu yang berbeda kali ini.
Seorang anak kecil duduk di jok belakang sepeda, memeluk pinggangnya erat-erat sambil tertawa riang.
Aku mengerjap, memastikan aku tidak sedang berhalusinasi. Tidak, itu benar-benar dia. Aku mengenali senyumnya, matanya, cara ia menunduk sedikit saat tertawa. Itu dia.
Tapi anak itu?
Hatiku langsung dipenuhi pertanyaan yang berisik.
Siapa anak itu? Anaknya sendiri? Keponakan? Adiknya?
Aku menelan ludah, tiba-tiba merasa dadaku sesak. Dia masih tampak muda, sama sepertiku—tidak mungkin sudah punya anak sebesar itu… kan? Tapi siapa aku sampai bisa memastikan?
Aku berdiri mematung di trotoar, tas belanja di tanganku hampir terjatuh. Mataku mengikuti mereka yang perlahan menjauh, tawa anak kecil itu bercampur dengan suara sepeda yang meluncur.
Aku ingin mengejar, ingin menyeberang dan memastikan dengan mataku sendiri. Tapi langkahku tertahan. Ada ketakutan aneh yang menahan kakiku.
Kalau benar dia sudah punya anak… apa artinya semua ini?
Kenapa aku begitu peduli?
Aku menggertakkan gigi, mencoba menepis pikiran itu. Tidak, mungkin itu bukan anaknya. Bisa saja keponakan, atau anak tetangga yang dititipkan padanya. Ya, itu lebih masuk akal.
Aku menghela napas panjang, mencoba menenangkan diriku sendiri. Tapi tetap saja bayangan itu melekat kuat di kepalaku—dia, dengan senyum hangat sambil mengayuh sepeda, dan anak kecil yang memeluknya seolah ia adalah dunianya.
Pikiranku melambung ke segala arah. Dan untuk pertama kalinya, aku menyadari satu hal:
Wanita itu bukan hanya misteri.
Dia adalah misteri yang perlahan membuatku takut kehilangan, bahkan sebelum aku benar-benar memilikinya.
Malam itu aku tidak bisa tidur.
Setiap kali menutup mata, aku melihat kembali senyum itu. Senyum yang dulu ditujukan padaku di café, kini terulang bersama tawa seorang anak kecil.
Dan aku benci mengakuinya… tapi aku cemburu.
Beberapa hari kemudian, aku kembali ke café. Dan kali ini, dia benar-benar datang.
Aku menegakkan punggung, pura-pura tenang, seolah kehadirannya tidak memengaruhiku. Tapi yang terjadi justru sebaliknya.
Dia tidak menghampiriku.
Dia hanya lewat begitu saja, dengan goody bag di tangannya. Senyumnya ia berikan pada barista, lalu bungkusan itu berpindah tangan. Setelah itu, tanpa menoleh sedikit pun ke arahku, dia melangkah keluar begitu saja.
Aku tercekat. Rasanya… keki.
Tanpa pikir panjang, aku bangkit. Langkahku mengikuti bayangan itu keluar café.
Dan aku menemukannya sedang jongkok di tepi jalan, mengeluarkan makanan kecil dari kantong kertas untuk kucing-kucing jalanan. Tangannya bergerak pelan, matanya teduh, dan bibirnya tersenyum.
Aku berhenti beberapa meter darinya. Ada sesuatu di sana—sesuatu yang tidak bisa kujelaskan.
Ketika ia berdiri lagi, menepuk tangannya, ia berjalan riang, seolah menuju tempat yang hanya dia tahu. Aku berusaha mengikutinya. Tapi entah bagaimana, aku kehilangan jejak.
Aku berdiri lama di persimpangan jalan itu,
menatap kosong. Untuk alasan yang tidak masuk akal, rasanya aku baru saja benar-benar ditinggalkan oleh seseorang yang bahkan bukan siapa-siapa bagiku.
Other Stories
Pintu Dunia Lain
Nadiva terkejut saat gedung kantor berubah misterius: cat memudar, tembok berderak, asap b ...
Broken Wings
Bermimpi menjadi seorang ballerina bukan hanya tentang gerakan indah, tapi juga tentang ke ...
Dante Fair Tale
Dante, bocah kesepian berusia 9 tahun, membuat perjanjian dengan peri terkurung dalam bola ...
Cangkul Yang Dalam ( Halusinada )
Alya sendirian di dapur. Dia terlihat masih kesal. Matanya tertuju ke satu set pisau yang ...
Kala Menjadi Cahaya Menjemput Harapan Di Tengah Gelap
Hidup Arka runtuh dalam sekejap. Pekerjaan yang ia banggakan hilang, ayahnya jatuh sakit p ...
Hafidz Cerdik
Jarum jam menunjuk di angka 4 kurang beberapa menit ketika Adnan terbangun dari tidurnya ...