Namaku Amelia

Reads
1.4K
Votes
0
Parts
11
Vote
Report
Penulis Michael Lianto

Ch 4. Namanya "Bully"

Satu bulan berlalu, Amelia tidak berbicara sama sekali dengan Ica. Sebulan ini, sekolah terasa menyedihkan. Setiap di sekolah, Amelia ingin segera pulang. Setiap di rumah, Amelia tidak ingin pagi datang. Itu sebabnya Amelia beberapa kali terlambat masuk ke sekolah dalam sebulan ini.

Tapi, pagi ini ada yang berbeda. Amelia hampir saja terlambat. Bel berbunyi saat ia tepat di gerbang sekolah. Amelia segera berlari ke kelas dan berbaris sambil membawa tasnya di pundak. Waktu ditanya Bu Santi kenapa terlambat, Amelia hanya tersenyum sambil bilang kalau ia kesiangan. Setelah meletakkan tas di bangku, Amelia segera duduk dan merapatkan kursi ke arah meja. Saat itulah, ia terhenti. Mata kecilnya membuka lebar (meski tidak terlalu lebar) melihat sepucuk kertas di atas mejanya.

“Temui aku di belakang gedung sekolah setelah kita pulang”
Amelia tersenyum riang membacanya. Ia tahu, ini tulisan Ica.

Pelajaran demi pelajaran berganti tak sabar ia ingin segera pulang. Bukan karena lelah di sekolah seperti biasa namun karena ia ingin segera ngobrol dengan Ica. Memang ia punya banyak kesempatan ngobrol dengan Ica, tapi Amelia ingin menghargai keberanian Ica menulis surat ini jadi ia menunggu mereka pulang.

Kringggggg!!!!
Bel pulang sekolah berbunyi. Amelia yang ternyata sudah membereskan buku dan tasnya lebih cepat segera berlari ke luar ruangan. Bu Santi yang mengajar saat itu terlihat kebingungan melihat Amelia yang tiba-tiba berlari keluar.

Amelia berpikir, ia harus di sana lebih dulu daripada Ica. Ica akan segera menyusulnya.
Sepuluh menit berlalu, Ica belum kunjung datang, tapi Amelia masih menunggu dengan ceria karena ia berpikir Ica masih mempersiapkan diri. Tiga puluh menit berlalu sudah, sekolah mulai sepi siswa. Amelia terus melirik ke arah lapangan tapi tidak menemui Ica. Amelia menghela nafas dan mulai mencari tempat duduk di dekat sana.

Setelah hampir satu jam dan Ica belum kunjung datang, Amelia mulai merasa lelah dan takut. Belum lagi hari mulai sore dan suasana belakang sekolah memang cukup menyeramkan. Di sana ada sebuah gedung tua dan pohon besar di belakangnya. Pohon itu cukup menyeramkan belum lagi banyaknya cerita hantu yang berseliweran di kalangan siswa.

“Klontang!”
Amelia terkejut mendengar suara besi atau sejenisnya terjatuh dan sepertinya itu dari dalam gedung tua. Amelia yang bosan menunggu akhirnya mencoba memberanikan diri untuk menanggapi rasa penasarannya. Ia mendekat ke gedung tua itu. Pintunya sedikit terbuka. Saat Amelia melongokan kepalanya ke sana, tiba-tiba ada dua tangan mendorong punggungnya.

Bruk. Amelia terjatuh dan tiba-tiba pintu gudang tertutup. Ruangan itu sangat gelap, Amelia yang tidak suka gelap berteriak dan menangis ketakutan.

Saat itu, sebuah tangan menjambak rambut Amelia hingga berdiri dari duduknya. Jambakan itu diiringi tawa beberapa anak perempuan. Tak sempat mencerna apa yang terjadi, Amelia merasakan tamparan di pipinya. Ruangan ini sangat gelap, ia tak dapat melihat apa yang terjadi atau siapa yang melakukan ini. Amelia hanya bisa menangis.

Amelia kembali didorong hingga besi-besi berjatuhan. Sambil terduduk, kedua tangannya berusaha menutupi wajahnya agar tak terlihat meskipun ruangan ini sangat gelap. Amelia tidak bisa lihat wajah pelakunya, tapi sepertinya ada tiga orang dan dari suaranya mereka semua perempuan. Sepertinya ada teman sekelas, tapi juga teman kelas sebelah. Itupun kalau mereka bisa disebut teman.

Amelia dijambak. Kepalanya sakit. Amelia dipukul entah dengan tangan atau dengan tongkat. Dia juga diludahi. Wajahnya tak karuan. Seragam putih dan rok merahnya juga sudah berantakan.

Suara Amelia hampir habis, teriakannya dan tangisannya tak lagi terdengar. Tubuhnya terluka tapi hatinya lebih parah. Amelia tergeletak di lantai gedung tua yang menjadi gudang besi rongsokan itu. Pandangannya kabur. Saat pintu mulai terbuka, sedikit cahaya masuk, ia dapat melihat ada tiga orang yang keluar dari gedung itu. Mereka adalah perempuan-perempuan yang menyiksa Ica waktu itu. Sayup-sayup terlihat, ada satu gadis lain menunggu di luar pintu.

Amelia heran. Entah kenapa tidak ada guru atau pak satpam yang datang mendengar suaranya. Apa mereka sudah pulang? Atau jangan-jangan mereka disuap supaya tidak datang? Atau mereka juga ingin Amelia disiksa?

Amelia bertanya di dalam hatinya, “apakah aku memang tidak pantas bahagia?” Ia tahu sekarang ini yang namanya “bully”.



Other Stories
Diary Superhero

lanjutan cerita kisah cinta superhero. dari sudut pandang Sefia. superhero berkekuatan tel ...

Ablasa

Perjalanan Nindya dan teman-temannya ke Nusakambangan berubah mencekam saat mereka tersada ...

Deru Suara Kagum

Perlahan keadaan mulai berubah. Pertemuan-pertemuan sederhana, duduk berdekatan , atau sek ...

Balada Cinta Kamilah

Sudah sebulan Kamaliah mengurung diri setelah membanting Athmar, pria yang ia cintai. Hidu ...

Adam & Hawa

Adam mencintai Hawa yang cantik, cerdas, dan sederhana, namun hubungan mereka terhalang ad ...

Zen Zen Sense (kehidupan Sebelumnya)

Aku pernah mengalami hal aneh seperti bertemu orang mati, kebetulan janggal, hingga melint ...

Download Titik & Koma