Ch 9. Namaku Amelia!
Hari ini, hari penerimaan rapor. Amelia datang ke sekolah bersama mamanya. Hanya gugup, tapi mamanya berusaha terus menenangkan. Waktu yang ditunggu pun tiba. Bu Santi memanggil Amelia dan mamanya untuk menghadap. Bu Santi memasang wajah datar agak murung. Namun kata-katanya menenangkan, “Amelia dan Mama, tetap sabar dan kuat ya. Saya tahu Amelia ini anak pintar dan kuat. Saya juga mendengar apa yang Amelia alami setahun ini. Saya juga minta maaf karena tidak dapat berbuat banyak.” Bu Santi juga menceritakan kejadian pindahnya Ica ke sekolah lain juga pasti berdampak bagi Amelia. Nilai Amelia menurun dan terus menurun sejak saat itu. Belum lagi, ketidakhadiran Amelia di sekolah yang sangat banyak membuat salah satu syarat kenaikan kelas tidak terpenuhi. Nilai ujian Amelia yang kosong dan jelek juga membuatnya tidak dapat naik ke kelas enak. Dengan sedih hati, Bu Santi mengatakan kalau Amelia harus mengulang kelas lima ini.
Amelia menangis, mamanya menenangkan sudah siap dengan kenyataan ini. Membawa rapor dan anaknya keluar, mama Amelia terlihat sedikit menangis.
Malam itu, Amelia dan kedua orang tuanya pergi keluar untuk makan bersama di depot favorit mereka. Amelia memesan menu andalannya yaitu nasi rawon. Ia sangat suka rawon di depot itu. Acara makan ini sekaligus untuk menghibur Amelia dan memulihkan semangatnya menjalani hari-hari yang akan datang. Pada waktu mencuci tangan setelah makan, Amelia melihat di ujung ruangan ada dua orang anak SD sepertinya seumuran dengan dia sedang makan bersama ditemani seorang nenek. Sekilas terbersit dalam bayangannya, dirinya sedang makan bersama Ica dan nenek Amelia yang sudah tiada. Entah bagaimana kabar Ica, Amelia berharap suatu ketika bisa berjumpa lagi dengan dia. Amelia sudah memaafkan Ica karena ia merasa Ica juga dijebak. Suatu saat, pasti ada waktu ketika Amelia mendengar semuanya langsung dari mulut Ica. Mendengar kebenaran yang sebenarnya.
Sebulan liburan telah berlalu. Kini Amelia kembali ke sekolah sebagai murid kelas 5. Teman-teman lamanya sudah berada di kelas 6. Tapi, hal ini tidak menjadi masalah bagi Amelia. Ia sudah lebih kuat, ia lebih tegar. Hari itu ia masuk ke kelas dengan wajah tersenyum. Wali kelasnya tahun ini bukan Bu Santi tapi Pak Rosi. Pak Rosi terkenal cukup galak di kalangan siswa. Apakah tahun ini akan menegangkan? Tapi Amelia tetap melangkah maju sambil tidak melupakan apa yang terjadi di belakangnya. Bagi dia, apa yang sudah terjadi selama setahun lalu, itulah yang membuatnya menjadi Amelia seperti hari ini. Memori itu tetap berharga dan tetap mendewasakannya.
Saat itu, Amelia maju memperkenalkan diri. Ada seorang siswa yang memanggil dan mengolok dia, “Hei Ame - lia. Pok Ame Ame belalang kupu kupu, hahaha.” Tapi dengan senyum lantang ia menjawab, “Namaku, Amelia!”
Amelia menangis, mamanya menenangkan sudah siap dengan kenyataan ini. Membawa rapor dan anaknya keluar, mama Amelia terlihat sedikit menangis.
Malam itu, Amelia dan kedua orang tuanya pergi keluar untuk makan bersama di depot favorit mereka. Amelia memesan menu andalannya yaitu nasi rawon. Ia sangat suka rawon di depot itu. Acara makan ini sekaligus untuk menghibur Amelia dan memulihkan semangatnya menjalani hari-hari yang akan datang. Pada waktu mencuci tangan setelah makan, Amelia melihat di ujung ruangan ada dua orang anak SD sepertinya seumuran dengan dia sedang makan bersama ditemani seorang nenek. Sekilas terbersit dalam bayangannya, dirinya sedang makan bersama Ica dan nenek Amelia yang sudah tiada. Entah bagaimana kabar Ica, Amelia berharap suatu ketika bisa berjumpa lagi dengan dia. Amelia sudah memaafkan Ica karena ia merasa Ica juga dijebak. Suatu saat, pasti ada waktu ketika Amelia mendengar semuanya langsung dari mulut Ica. Mendengar kebenaran yang sebenarnya.
Sebulan liburan telah berlalu. Kini Amelia kembali ke sekolah sebagai murid kelas 5. Teman-teman lamanya sudah berada di kelas 6. Tapi, hal ini tidak menjadi masalah bagi Amelia. Ia sudah lebih kuat, ia lebih tegar. Hari itu ia masuk ke kelas dengan wajah tersenyum. Wali kelasnya tahun ini bukan Bu Santi tapi Pak Rosi. Pak Rosi terkenal cukup galak di kalangan siswa. Apakah tahun ini akan menegangkan? Tapi Amelia tetap melangkah maju sambil tidak melupakan apa yang terjadi di belakangnya. Bagi dia, apa yang sudah terjadi selama setahun lalu, itulah yang membuatnya menjadi Amelia seperti hari ini. Memori itu tetap berharga dan tetap mendewasakannya.
Saat itu, Amelia maju memperkenalkan diri. Ada seorang siswa yang memanggil dan mengolok dia, “Hei Ame - lia. Pok Ame Ame belalang kupu kupu, hahaha.” Tapi dengan senyum lantang ia menjawab, “Namaku, Amelia!”
Other Stories
Seoul Harem
Raka Aditya, pemuda tangguh dari Indonesia, memimpin keluarganya memulai hidup baru di gem ...
Kau Bisa Bahagia
Airin harus menikah dalam 40 hari demi warisan ayahnya, namun hatinya tetap pada Arizal, c ...
Coincidence Twist
Kejadian sederhana yang tak pernah terpikirkan sedikitpun oleh Sera menyeretnya pada hal-h ...
Melepasmu Untuk Sementara
Menetapkan tujuan adalah langkah pertama mencapai kesuksesanmu. Seperti halnya aku, tahu ...
Dia Bukan Dia
Sebuah pengkhianatan yang jauh lebih gelap dari perselingkuhan biasa. Malam itu, di tengah ...
Harapan Dalam Sisa Senja
Apa yang akan dalam pikiran ketika dinyatakan memiliki penyakit kronis? Ketika hidup berg ...