Ch 7. Namanya Kekerasan
Sudah tiga hari sejak kejadian itu, Amelia tidak melihat Ica di sekolah. Amelia juga tidak berani untuk datang ke rumah Ica. Hari-hari Amelia kembali sunyi dan sepi. Ia tidak punya teman.
Pagi itu, Bu Santi masuk kelas dengan wajah yang sedikit muram. Beliau hendak menyampaikan sebuah pengumuman. “Salah satu teman sekelas kalian pindah sekolah.” Amelia tertegun, air ludahnya tidak tertelan dan nafasnya tercekat. “Mungkinkah . . .” Batinnya.
Iya. Ica pindah sekolah. Alasan yang diberikan ke pihak sekolah adalah karena Ica pindah ke luar kota. Tapi, mendadak sekali. Amelia berpikir mungkin ini semua karena kejadian yang mereka alami. Tapi, Amelia tidak dapat memproses semuanya dengan baik. Yang ia tahu, sekarang ia benar-benar sendiri tanpa ada kesempatan untuk berbaikan dengan mantan sahabatnya itu.
Sebenarnya, Amelia tidak percaya dengan semua perkataan gadis berkuncir dua itu. Amelia juga merasa bahwa Ica ditekan. Namun, perasaan dikhianati menguasainya saat itu sehingga tak mampu mengejar Ica dan tak berani mendatanginya. Sekarang, Ica pindah rumah. Amelia semakin tak punya kesempatan untuk berbaikan. Akankah mereka berjumpa suatu hari kelak? Atau kisah ini menjadi kisah persahabatan yang berakhir luka? Amelia tidak tahu.
Hari-hari Amelia semakin berat. Tidak hanya komplotan 4 gadis hits pembuat onar yang menyerang Amelia, tapi seisi sekolah rasanya membencinya. Dodi hanya berani melihat dari jauh tapi tidak berani menolong saat banyak orang. Saat jalan ke kelas, Amelia diludahi. Saat makan di taman, ia dilempari sampah. Saat sendiri, ia dijambak dan ditampar. Fisiknya sakit, hatinya hancur.
Setiap pulang ke rumah, Amelia selalu menangis. Papa dan mama Amelia yang mendengar cerita dari nenek menjadi tidak tahan. Ini namanya kekerasan. Papa Amelia memutuskan untuk datang ke sekolah dan melaporkan kejadian ini. Pertemuan dengan kepala sekolah berlangsung cukup lama. Kepala sekolah menyatakan bahwa akan menindaklanjuti kejadian ini. Namun, papa Amelia merasa jawaban kepala sekolah tidak seserius itu dan masih menganggap masalah ini sepele, hanya kenakalan biasa. Papa Amelia beserta keluarga hanya bisa pasrah dan mempercayakan semua pada Yang Di Atas.
Benar saja, hampir sebulan berlalu tidak ada tindakan tegas apapun dari kepala sekolah. Pernah sekali dalam upacara hari Senin di bulan itu, kepala sekolah sebagai pembina upacara memberikan amanat upacara bahwa para siswa harus saling menghargai. Iya, sebatas itu. Akibatnya, kenakalan serta kekerasan yang dialami Amelia masih saja terjadi meski memang tidak seterang-terangan dulu. Amelia merasa sedih dan takut pergi ke sekolah.
“Ma, aku ga mau pergi ke sekolah”
Kata Amelia pagi itu sambil menangis.
Mamanya ikut berkaca-kaca sambil memeluk Amelia dan menguatkan dia. “Sabar ya, Nak, semuanya pasti berlalu. Kamu anak kuat.”
Pagi itu, Bu Santi masuk kelas dengan wajah yang sedikit muram. Beliau hendak menyampaikan sebuah pengumuman. “Salah satu teman sekelas kalian pindah sekolah.” Amelia tertegun, air ludahnya tidak tertelan dan nafasnya tercekat. “Mungkinkah . . .” Batinnya.
Iya. Ica pindah sekolah. Alasan yang diberikan ke pihak sekolah adalah karena Ica pindah ke luar kota. Tapi, mendadak sekali. Amelia berpikir mungkin ini semua karena kejadian yang mereka alami. Tapi, Amelia tidak dapat memproses semuanya dengan baik. Yang ia tahu, sekarang ia benar-benar sendiri tanpa ada kesempatan untuk berbaikan dengan mantan sahabatnya itu.
Sebenarnya, Amelia tidak percaya dengan semua perkataan gadis berkuncir dua itu. Amelia juga merasa bahwa Ica ditekan. Namun, perasaan dikhianati menguasainya saat itu sehingga tak mampu mengejar Ica dan tak berani mendatanginya. Sekarang, Ica pindah rumah. Amelia semakin tak punya kesempatan untuk berbaikan. Akankah mereka berjumpa suatu hari kelak? Atau kisah ini menjadi kisah persahabatan yang berakhir luka? Amelia tidak tahu.
Hari-hari Amelia semakin berat. Tidak hanya komplotan 4 gadis hits pembuat onar yang menyerang Amelia, tapi seisi sekolah rasanya membencinya. Dodi hanya berani melihat dari jauh tapi tidak berani menolong saat banyak orang. Saat jalan ke kelas, Amelia diludahi. Saat makan di taman, ia dilempari sampah. Saat sendiri, ia dijambak dan ditampar. Fisiknya sakit, hatinya hancur.
Setiap pulang ke rumah, Amelia selalu menangis. Papa dan mama Amelia yang mendengar cerita dari nenek menjadi tidak tahan. Ini namanya kekerasan. Papa Amelia memutuskan untuk datang ke sekolah dan melaporkan kejadian ini. Pertemuan dengan kepala sekolah berlangsung cukup lama. Kepala sekolah menyatakan bahwa akan menindaklanjuti kejadian ini. Namun, papa Amelia merasa jawaban kepala sekolah tidak seserius itu dan masih menganggap masalah ini sepele, hanya kenakalan biasa. Papa Amelia beserta keluarga hanya bisa pasrah dan mempercayakan semua pada Yang Di Atas.
Benar saja, hampir sebulan berlalu tidak ada tindakan tegas apapun dari kepala sekolah. Pernah sekali dalam upacara hari Senin di bulan itu, kepala sekolah sebagai pembina upacara memberikan amanat upacara bahwa para siswa harus saling menghargai. Iya, sebatas itu. Akibatnya, kenakalan serta kekerasan yang dialami Amelia masih saja terjadi meski memang tidak seterang-terangan dulu. Amelia merasa sedih dan takut pergi ke sekolah.
“Ma, aku ga mau pergi ke sekolah”
Kata Amelia pagi itu sambil menangis.
Mamanya ikut berkaca-kaca sambil memeluk Amelia dan menguatkan dia. “Sabar ya, Nak, semuanya pasti berlalu. Kamu anak kuat.”
Other Stories
Se-birru Langit. Se-bening Embun
Liburan—antara tawa dan air mata. Birru dan Bening, saudara kembar yang harus berpisah s ...
Death Cafe
Sakti tidak dapat menahan diri lagi, ia penasaran dengan death cafe yang selama ini orang- ...
Ibu, Kuizinkan Engkau Jadi Egois Malam Ini
Setiap akhir tahun, ia pulang dengan harapan ibunya ada di rumah. Yang berulang justru dap ...
Kala Kisah Tentang Cahaya
Kala, seorang gadis desa yang dibesarkan oleh neneknya, MbahRum. tumbuh dalam keterbatasan ...
Desa Ria
Tidak ada yang bisa kupercaya. Di sini, di desa sialan ini, tidak ada lagi yang bisa kuper ...
Jjjjjj
ghjjjj ...