BAB 3 LANGKAH KECIL
Pagi itu, setelah malam panjang penuh doa dan air mata, Azzam berdiri di depan cermin kamar kosnya. Wajahnya masih terlihat letih, tapi ada tekad baru di dalam sorot matanya.
“Mulai hari ini, aku harus berdiri di atas kakiku sendiri. Nggak ada lagi alasan untuk berhenti,” gumamnya.
Ia menyalakan laptop tuanya yang sering lemot. Di layar, masih ada folder berisi puluhan sketsa desain kaos dan hoodie buatannya. Garis-garis sederhana, tapi penuh makna.
Percakapan dengan Farhan
Siang harinya, Azzam bertemu Farhan di warung kopi langganan. Farhan, sahabatnya sejak SMA, adalah orang pertama yang selalu mendukung mimpinya.
Farhan menatap Azzam dengan cemas. “Zam, kamu yakin baik-baik aja? Setelah semua yang terjadi sama Nadia…”
Azzam tersenyum tipis, meski masih terlihat pahit. “Aku nggak baik-baik aja, Han. Tapi aku sadar, aku nggak bisa terus tenggelam dalam sedih. Aku harus mulai lagi. Usaha ini—sketsa ini aku nggak mau sia-siakan.”
Farhan mengangguk mantap. “Kalau gitu, ayo kita jalan bareng. Aku bantu sebisaku. Kita bisa mulai kecil, jualan online dulu.”
“Modal kita cuma sedikit, Han.”
“Yang penting jalan. Modal bisa dicari, kalau niat udah kuat,” jawab Farhan menyemangati.
Percakapan itu membuat hati Azzam hangat. Setidaknya, ia tidak sendirian.
Usaha Pertama
Beberapa hari kemudian, Azzam meminjam uang dari tabungan tipisnya dan sedikit tambahan dari Farhan. Ia mencetak 50 kaos dengan desain sederhana bertuliskan kata motivasi: “Bangkit dari Luka.”
Mereka memotret kaos itu dengan kamera ponsel seadanya, lalu mengunggahnya ke Instagram.
Azzam mengetik caption panjang:
“Setiap luka bisa jadi kekuatan. Setiap kegagalan bisa jadi awal perjalanan baru. Ini bukan sekadar kaos, tapi pengingat untuk kita semua yang masih berjuang.”
Hari pertama, tidak ada yang beli. Hari kedua, hanya satu orang memesan teman lama Azzam. Tapi meski kecil, hatinya bergetar saat melihat notifikasi pertama itu.
“Han! Ada yang order satu kaos!” seru Azzam dengan mata berbinar.
Farhan menepuk bahunya. “Lihat kan? Semua dimulai dari satu langkah kecil. Besok pasti lebih banyak.”
Jatuh Bangun
Minggu-minggu berikutnya penuh perjuangan. Banyak calon pembeli yang menawar harga terlalu murah, ada yang membatalkan pesanan tiba-tiba. Bahkan, pernah sekali Azzam ditipu oleh pembeli fiktif hingga rugi ongkir.
Malam itu, ia duduk di kos dengan wajah murung. “Kenapa susah banget ya, Han? Kadang aku kepikiran… apa Nadia benar? Apa aku cuma buang-buang waktu?”
Farhan menatapnya tajam. “Zam, dengar. Semua orang sukses pasti pernah ditertawakan, diremehkan, bahkan gagal berkali-kali. Tapi bedanya, mereka nggak berhenti. Kamu mau jadi orang yang berhenti atau orang yang terus jalan?”
Kata-kata itu menghantam hati Azzam. Ia terdiam lama, lalu tersenyum samar. “Aku nggak akan berhenti, Han. Sekecil apa pun langkahnya, aku akan terus jalan.”
Cahaya Kecil
Perlahan, pesanan mulai bertambah. Satu, dua, lalu lima kaos terjual setiap minggu. Tidak banyak, tapi cukup memberi semangat.
Suatu hari, seorang mahasiswa yang membeli kaos Azzam mengunggah fotonya di Instagram dengan caption:
> “Kaos ini bikin aku semangat lagi. Terima kasih, @azzura.wear.”
Postingan itu mendapat banyak like dan komentar. Dari situlah, akun Azzam mulai mendapat perhatian.
Malam itu, ia menatap layar ponselnya dengan senyum lebar. “Han, lihat! Desain kita mulai dilihat orang!”
Farhan menepuk bahunya dengan bangga. “Aku udah bilang kan? Luka kamu bukan akhir. Justru ini awalnya.”
Di balik rasa lelah, Azzam merasakan cahaya kecil lahir di dalam dirinya. Langkahnya masih goyah, tapi ia tahu satu hal: ia sedang menuju jalan yang benar.
“Mulai hari ini, aku harus berdiri di atas kakiku sendiri. Nggak ada lagi alasan untuk berhenti,” gumamnya.
Ia menyalakan laptop tuanya yang sering lemot. Di layar, masih ada folder berisi puluhan sketsa desain kaos dan hoodie buatannya. Garis-garis sederhana, tapi penuh makna.
Percakapan dengan Farhan
Siang harinya, Azzam bertemu Farhan di warung kopi langganan. Farhan, sahabatnya sejak SMA, adalah orang pertama yang selalu mendukung mimpinya.
Farhan menatap Azzam dengan cemas. “Zam, kamu yakin baik-baik aja? Setelah semua yang terjadi sama Nadia…”
Azzam tersenyum tipis, meski masih terlihat pahit. “Aku nggak baik-baik aja, Han. Tapi aku sadar, aku nggak bisa terus tenggelam dalam sedih. Aku harus mulai lagi. Usaha ini—sketsa ini aku nggak mau sia-siakan.”
Farhan mengangguk mantap. “Kalau gitu, ayo kita jalan bareng. Aku bantu sebisaku. Kita bisa mulai kecil, jualan online dulu.”
“Modal kita cuma sedikit, Han.”
“Yang penting jalan. Modal bisa dicari, kalau niat udah kuat,” jawab Farhan menyemangati.
Percakapan itu membuat hati Azzam hangat. Setidaknya, ia tidak sendirian.
Usaha Pertama
Beberapa hari kemudian, Azzam meminjam uang dari tabungan tipisnya dan sedikit tambahan dari Farhan. Ia mencetak 50 kaos dengan desain sederhana bertuliskan kata motivasi: “Bangkit dari Luka.”
Mereka memotret kaos itu dengan kamera ponsel seadanya, lalu mengunggahnya ke Instagram.
Azzam mengetik caption panjang:
“Setiap luka bisa jadi kekuatan. Setiap kegagalan bisa jadi awal perjalanan baru. Ini bukan sekadar kaos, tapi pengingat untuk kita semua yang masih berjuang.”
Hari pertama, tidak ada yang beli. Hari kedua, hanya satu orang memesan teman lama Azzam. Tapi meski kecil, hatinya bergetar saat melihat notifikasi pertama itu.
“Han! Ada yang order satu kaos!” seru Azzam dengan mata berbinar.
Farhan menepuk bahunya. “Lihat kan? Semua dimulai dari satu langkah kecil. Besok pasti lebih banyak.”
Jatuh Bangun
Minggu-minggu berikutnya penuh perjuangan. Banyak calon pembeli yang menawar harga terlalu murah, ada yang membatalkan pesanan tiba-tiba. Bahkan, pernah sekali Azzam ditipu oleh pembeli fiktif hingga rugi ongkir.
Malam itu, ia duduk di kos dengan wajah murung. “Kenapa susah banget ya, Han? Kadang aku kepikiran… apa Nadia benar? Apa aku cuma buang-buang waktu?”
Farhan menatapnya tajam. “Zam, dengar. Semua orang sukses pasti pernah ditertawakan, diremehkan, bahkan gagal berkali-kali. Tapi bedanya, mereka nggak berhenti. Kamu mau jadi orang yang berhenti atau orang yang terus jalan?”
Kata-kata itu menghantam hati Azzam. Ia terdiam lama, lalu tersenyum samar. “Aku nggak akan berhenti, Han. Sekecil apa pun langkahnya, aku akan terus jalan.”
Cahaya Kecil
Perlahan, pesanan mulai bertambah. Satu, dua, lalu lima kaos terjual setiap minggu. Tidak banyak, tapi cukup memberi semangat.
Suatu hari, seorang mahasiswa yang membeli kaos Azzam mengunggah fotonya di Instagram dengan caption:
> “Kaos ini bikin aku semangat lagi. Terima kasih, @azzura.wear.”
Postingan itu mendapat banyak like dan komentar. Dari situlah, akun Azzam mulai mendapat perhatian.
Malam itu, ia menatap layar ponselnya dengan senyum lebar. “Han, lihat! Desain kita mulai dilihat orang!”
Farhan menepuk bahunya dengan bangga. “Aku udah bilang kan? Luka kamu bukan akhir. Justru ini awalnya.”
Di balik rasa lelah, Azzam merasakan cahaya kecil lahir di dalam dirinya. Langkahnya masih goyah, tapi ia tahu satu hal: ia sedang menuju jalan yang benar.
Other Stories
The Unkindled Of The Broken Soil
Di dunia yang terpecah belah dan terkubur di bawah abu perang masa lalu, suara adalah keme ...
Cinta Koma
Cinta ini tak tahu sampai kapan akan bertahan. Jika semesta tak mempertemukan kita, biarla ...
Agum Lail Akbar
Tentang seorang anak yang terlahir berkebutuhan khusus, yang memang Allah ciptakan untuk m ...
Aruna Yang Terus Bertanya
Cuplikan perjalanan waktu hidup Aruna yang selalu mempertanyakan semua hal dalam hidupnya, ...
Di Bawah Langit Al-ihya
Tertulis kisah ini dengan melafazkan nama-Mu juga terbingkailah namanya. Berharap mega t ...
Dante Fairy Tale
“Dante! Ayo bangun, Sayang. Kamu bisa terlambat ke sekolah!” kata seorang wanita ge ...