Bab 9 SAAT DUNIA MULAI MELIHAT
Setelah badai penipuan dan keterlambatan produksi, Azzam berhasil melewati ujian pertamanya. Ia kehilangan sebagian uang, tapi memperoleh sesuatu yang lebih berharga: kepercayaan dan mental baja.
Kini, ia melangkah lebih hati-hati. Produksi tidak lagi terburu-buru, komunikasi dengan pelanggan lebih jujur, dan perlahan, brand kecilnya mulai menarik perhatian.
Ulasan yang Menggema
Suatu malam, seorang pelanggan bernama Dina mengunggah foto dirinya memakai hoodie LUMINA dengan caption panjang.
“Aku beli hoodie ini bukan cuma karena desainnya, tapi karena ceritanya. Dari ‘pain to power’. Terima kasih LUMINA, aku merasa punya energi baru.”
Postingan itu viral kecil-kecilan di Twitter, mendapat ribuan retweet. Banyak orang yang penasaran dengan brand yang punya pesan kuat.
Followers LUMINA melonjak menjadi 15 ribu dalam seminggu.
Azzam menatap layar ponselnya dengan hati bergetar.
Azzam: (berbisik) “Ya Allah… akhirnya dunia mulai melihat.”
Media Lokal Meliput
Beberapa hari kemudian, seorang jurnalis dari media lokal menghubunginya.
Jurnalis: “Mas Azzam, kami tertarik menulis tentang kisah brand LUMINA. Katanya lahir dari pengalaman pribadi yang cukup pahit ya?”
Azzam: (tersenyum tipis) “Iya, benar. LUMINA lahir dari luka yang saya alami. Tapi saya percaya, luka bisa jadi cahaya kalau kita mau.”
Artikel berjudul “LUMINA: Brand Lokal yang Lahir dari Luka, Membawa Pesan Harapan” terbit di portal berita online. Artikel itu dibagikan ratusan kali di Facebook dan WhatsApp grup.
Influencer Melirik
Beberapa influencer muda yang aktif di Instagram mulai tertarik. Seorang konten kreator fashion bernama Kevin Pradipta, dengan ratusan ribu followers, tiba-tiba menghubungi Azzam.
Kevin: “Bro, aku suka banget konsep LUMINA. Kalau boleh, kirimin aku sample hoodie. Aku bakal review di kontenku.”
Azzam: (terkejut) “Serius, Kak? Padahal brand aku masih kecil.”
Kevin: “Justru itu. Aku suka dukung brand lokal yang punya value.”
Azzam pun memberanikan diri mengirimkan hoodie terbaiknya. Seminggu kemudian, Kevin mengunggah video review dengan caption:
“Respect sama anak muda kayak Azzam, founder LUMINA. Bukan cuma bikin baju, tapi juga bikin semangat. Brand lokal yang harus kalian dukung!”
Video itu ditonton lebih dari 500 ribu kali. Pesanan langsung melonjak hingga 400 pcs dalam beberapa hari.
Rasa Syukur dan Kelelahan
Kenaikan pesanan membuat Azzam dan tim kecilnya kewalahan. Farhan bahkan ikut begadang untuk membantu mengepak barang.
Farhan: (sambil menempelkan label) “Zam, kita kayak pabrik berjalan ya, hahaha.”
Azzam: (tersenyum lelah) “Iya, Han. Tapi ini lelah yang indah. Aku dulu pernah jatuh, sekarang Allah kasih gantinya. Aku nggak boleh ngeluh.”
Mereka tidur hanya 3–4 jam sehari, tapi semangat mengalahkan rasa letih.
Pertemuan Mengejutkan
Suatu sore, saat mengantarkan paket ke ekspedisi, Azzam tak sengaja bertemu dengan seseorang yang sangat dikenalnya—Nadia.
Nadia mengenakan gaun elegan, terlihat mapan, dan menggandeng tas mahal. Tatapan mereka bertemu sejenak.
Nadia: (terkejut) “Azzam? Kamu… sekarang ngapain?”
Azzam: (tersenyum tenang, meski hatinya bergetar) “Aku lagi jalani bisnis kecil, namanya LUMINA. Alhamdulillah, mulai jalan.”
Nadia: (melirik paket-paket di tangan Azzam) “Oh… bagus kalau kamu udah sibuk. Semoga sukses ya.”
Ia tersenyum singkat, lalu pergi.
Azzam menatap punggung Nadia menjauh. Kali ini, ia tidak merasa kecil. Ia justru tersenyum lega.
Azzam (dalam hati): “Dulu aku merasa hancur karena ditinggalkanmu. Sekarang aku sadar, kepergianmu justru jalanku menemukan diriku sendiri.”
Malam itu, setelah semua paket selesai, Azzam duduk di mejanya. Ia menulis catatan baru di dinding penuh target:
“Luka yang dulu menjeratku, kini jadi jalan yang mengangkatku. Dunia mulai melihat, tapi aku tak akan lupa: cahaya ini lahir dari gelap.”
Ia tersenyum, menyalakan laptop, dan mulai merancang koleksi baru. Kali ini, bukan hanya tentang luka, tapi juga tentang syukur.
Kini, ia melangkah lebih hati-hati. Produksi tidak lagi terburu-buru, komunikasi dengan pelanggan lebih jujur, dan perlahan, brand kecilnya mulai menarik perhatian.
Ulasan yang Menggema
Suatu malam, seorang pelanggan bernama Dina mengunggah foto dirinya memakai hoodie LUMINA dengan caption panjang.
“Aku beli hoodie ini bukan cuma karena desainnya, tapi karena ceritanya. Dari ‘pain to power’. Terima kasih LUMINA, aku merasa punya energi baru.”
Postingan itu viral kecil-kecilan di Twitter, mendapat ribuan retweet. Banyak orang yang penasaran dengan brand yang punya pesan kuat.
Followers LUMINA melonjak menjadi 15 ribu dalam seminggu.
Azzam menatap layar ponselnya dengan hati bergetar.
Azzam: (berbisik) “Ya Allah… akhirnya dunia mulai melihat.”
Media Lokal Meliput
Beberapa hari kemudian, seorang jurnalis dari media lokal menghubunginya.
Jurnalis: “Mas Azzam, kami tertarik menulis tentang kisah brand LUMINA. Katanya lahir dari pengalaman pribadi yang cukup pahit ya?”
Azzam: (tersenyum tipis) “Iya, benar. LUMINA lahir dari luka yang saya alami. Tapi saya percaya, luka bisa jadi cahaya kalau kita mau.”
Artikel berjudul “LUMINA: Brand Lokal yang Lahir dari Luka, Membawa Pesan Harapan” terbit di portal berita online. Artikel itu dibagikan ratusan kali di Facebook dan WhatsApp grup.
Influencer Melirik
Beberapa influencer muda yang aktif di Instagram mulai tertarik. Seorang konten kreator fashion bernama Kevin Pradipta, dengan ratusan ribu followers, tiba-tiba menghubungi Azzam.
Kevin: “Bro, aku suka banget konsep LUMINA. Kalau boleh, kirimin aku sample hoodie. Aku bakal review di kontenku.”
Azzam: (terkejut) “Serius, Kak? Padahal brand aku masih kecil.”
Kevin: “Justru itu. Aku suka dukung brand lokal yang punya value.”
Azzam pun memberanikan diri mengirimkan hoodie terbaiknya. Seminggu kemudian, Kevin mengunggah video review dengan caption:
“Respect sama anak muda kayak Azzam, founder LUMINA. Bukan cuma bikin baju, tapi juga bikin semangat. Brand lokal yang harus kalian dukung!”
Video itu ditonton lebih dari 500 ribu kali. Pesanan langsung melonjak hingga 400 pcs dalam beberapa hari.
Rasa Syukur dan Kelelahan
Kenaikan pesanan membuat Azzam dan tim kecilnya kewalahan. Farhan bahkan ikut begadang untuk membantu mengepak barang.
Farhan: (sambil menempelkan label) “Zam, kita kayak pabrik berjalan ya, hahaha.”
Azzam: (tersenyum lelah) “Iya, Han. Tapi ini lelah yang indah. Aku dulu pernah jatuh, sekarang Allah kasih gantinya. Aku nggak boleh ngeluh.”
Mereka tidur hanya 3–4 jam sehari, tapi semangat mengalahkan rasa letih.
Pertemuan Mengejutkan
Suatu sore, saat mengantarkan paket ke ekspedisi, Azzam tak sengaja bertemu dengan seseorang yang sangat dikenalnya—Nadia.
Nadia mengenakan gaun elegan, terlihat mapan, dan menggandeng tas mahal. Tatapan mereka bertemu sejenak.
Nadia: (terkejut) “Azzam? Kamu… sekarang ngapain?”
Azzam: (tersenyum tenang, meski hatinya bergetar) “Aku lagi jalani bisnis kecil, namanya LUMINA. Alhamdulillah, mulai jalan.”
Nadia: (melirik paket-paket di tangan Azzam) “Oh… bagus kalau kamu udah sibuk. Semoga sukses ya.”
Ia tersenyum singkat, lalu pergi.
Azzam menatap punggung Nadia menjauh. Kali ini, ia tidak merasa kecil. Ia justru tersenyum lega.
Azzam (dalam hati): “Dulu aku merasa hancur karena ditinggalkanmu. Sekarang aku sadar, kepergianmu justru jalanku menemukan diriku sendiri.”
Malam itu, setelah semua paket selesai, Azzam duduk di mejanya. Ia menulis catatan baru di dinding penuh target:
“Luka yang dulu menjeratku, kini jadi jalan yang mengangkatku. Dunia mulai melihat, tapi aku tak akan lupa: cahaya ini lahir dari gelap.”
Ia tersenyum, menyalakan laptop, dan mulai merancang koleksi baru. Kali ini, bukan hanya tentang luka, tapi juga tentang syukur.
Other Stories
After Honeymoon
Sama-sama tengah menyembuhkan rasa sakit hati, bertemu dengan nuansa Pulau Dewata yang sel ...
Aku Pamit Mencari Jati Diri??
Seorang anak kecil yang pernah mengalami perlakuan tidak mengenakan dalam hidupnya. Akibat ...
Aku Bukan Pilihan
Cukup lama Rama menyendiri selepas hubungannya dengan Santi kandas, kini rasa cinta itu da ...
Blind
Ketika dunia gelap, seorang hampir kehilangan harapan. Tapi di tengah kegelapan, cinta dar ...
Katamu Aku Cantik
Ratna adalah korban pelecehan seksual di masa kecil dan memilih untuk merahasiakannya samb ...
Bahagiakan Ibu
Jalan raya waktu pagi lumayan ramai. Ibu dengan hati-hati menyetir sepeda motor. Jalan ber ...