BAB 10 GERBANG BARU
Popularitas LUMINA semakin tak terbendung. Setelah diliput media lokal dan diulas influencer, pesanan datang dari berbagai kota. Azzam yang dulu harus menabung untuk membeli satu gulung kain, kini bisa memesan dalam jumlah besar.
Namun, keberhasilan kecil ini membuka pintu yang lebih besar dan tak semuanya mudah.
Undangan Tak Terduga
Suatu pagi, Azzam menerima email resmi dari sebuah perusahaan besar bernama Aurora Group, perusahaan fashion ternama yang kerap menggandeng brand kecil untuk kolaborasi.
“Kepada Bapak Azzam, pendiri LUMINA, kami tertarik dengan brand Anda dan ingin mengundang Anda berdiskusi mengenai kemungkinan kerja sama.”
Azzam membaca email itu berulang kali. Tangannya gemetar.
Azzam (berbisik): “Ya Allah… ini kesempatan yang luar biasa.”
Ia langsung menelpon Farhan.
Farhan: “Zam! Ini gila, bro! Kalau kamu berhasil kerja sama sama mereka, LUMINA bisa naik kelas dalam sekejap.”
Azzam: (menarik napas panjang) “Iya, Han. Tapi aku juga takut… jangan sampai aku kehilangan jati diri LUMINA.”
Pertemuan Pertama
Gedung Aurora Group menjulang tinggi, dengan lobi megah berlapis kaca. Azzam melangkah masuk dengan kemeja putih sederhana dan map berisi portofolio desain.
Ia disambut oleh Ibu Ratna, seorang manajer yang tampak berwibawa.
Ibu Ratna: “Azzam, saya kagum dengan kisah LUMINA. Brand kecil, tapi punya value yang kuat. Itulah yang membuat kami tertarik.”
Azzam: (tersenyum gugup) “Terima kasih, Bu. LUMINA memang saya bangun bukan sekadar bisnis, tapi juga sebagai pesan harapan.”
Diskusi berjalan serius. Aurora menawarkan untuk memproduksi ribuan item LUMINA, menjualnya lewat jaringan toko mereka di seluruh Indonesia.
Namun ada syarat: desain dan konsep LUMINA harus mengikuti arahan Aurora, termasuk mengurangi elemen kata-kata motivasi yang dianggap ‘terlalu niche’.
Pergulatan Batin
Sepulang dari pertemuan itu, Azzam duduk lama di kamarnya. Ia menatap catatan di dinding: “From Pain to Power.”
Azzam (dalam hati): “Kalau aku terima tawaran itu, LUMINA bisa besar dalam sekejap. Tapi kalau maknanya hilang, apa bedanya LUMINA dengan brand lain?”
Farhan datang menemuinya.
Farhan: “Zam, ini ujian. Kamu harus pilih: mau cepat terkenal tapi kehilangan jati diri, atau tetap di jalan yang kamu percaya meski lebih lambat?”
Azzam: (menatap sahabatnya) “Han, aku nggak mau LUMINA lahir dari luka tapi mati karena kehilangan makna.”
Keputusan
Keesokan harinya, Azzam kembali menemui Ibu Ratna. Dengan suara tegas namun sopan, ia berkata:
Azzam: “Bu, saya sangat berterima kasih atas tawarannya. Tapi saya harus menolak jika syaratnya mengubah jati diri LUMINA. Brand ini lahir bukan sekadar fashion, tapi juga pesan. Kalau pesan itu hilang, maka LUMINA bukan apa-apa lagi.”
Ibu Ratna menatapnya lama, lalu tersenyum.
Ibu Ratna: “Jarang ada anak muda yang berani menolak tawaran besar demi idealismenya. Baiklah, Azzam. Saya menghargai prinsip Anda. Kalau begitu, kami akan tawarkan skema lain: kolaborasi khusus dengan tetap mempertahankan konsep LUMINA.”
Azzam hampir tak percaya. Ia mengangguk penuh syukur.
Cahaya yang Lebih Terang
Beberapa bulan kemudian, kolaborasi itu diluncurkan. Hoodie edisi terbatas bertuliskan “Light After Pain” rilis di beberapa toko besar milik Aurora. Produk itu laris manis, bahkan banyak yang terjual habis hanya dalam hitungan hari.
Media kembali menyorot:
“LUMINA, Brand Lokal yang Berani Memegang Prinsip, Kini Menembus Pasar Nasional.”
Di kontrakannya, Azzam sujud syukur. Air matanya jatuh.
Azzam: “Ya Allah… terima kasih. Engkau benar-benar mengganti setiap luka dengan cahaya yang tak terbayangkan.”
Malam itu, Azzam menulis catatan baru di dinding mimpinya:
“Kesuksesan sejati bukan sekadar soal besar atau kecil, tapi tentang tetap setia pada cahaya yang kita bawa.”
Ia menatap ke depan. Jalan masih panjang, tapi kini ia tahu: LUMINA bukan lagi sekadar brand kecil. Ia sedang berdiri di gerbang baru menuju panggung yang lebih besar.
Namun, keberhasilan kecil ini membuka pintu yang lebih besar dan tak semuanya mudah.
Undangan Tak Terduga
Suatu pagi, Azzam menerima email resmi dari sebuah perusahaan besar bernama Aurora Group, perusahaan fashion ternama yang kerap menggandeng brand kecil untuk kolaborasi.
“Kepada Bapak Azzam, pendiri LUMINA, kami tertarik dengan brand Anda dan ingin mengundang Anda berdiskusi mengenai kemungkinan kerja sama.”
Azzam membaca email itu berulang kali. Tangannya gemetar.
Azzam (berbisik): “Ya Allah… ini kesempatan yang luar biasa.”
Ia langsung menelpon Farhan.
Farhan: “Zam! Ini gila, bro! Kalau kamu berhasil kerja sama sama mereka, LUMINA bisa naik kelas dalam sekejap.”
Azzam: (menarik napas panjang) “Iya, Han. Tapi aku juga takut… jangan sampai aku kehilangan jati diri LUMINA.”
Pertemuan Pertama
Gedung Aurora Group menjulang tinggi, dengan lobi megah berlapis kaca. Azzam melangkah masuk dengan kemeja putih sederhana dan map berisi portofolio desain.
Ia disambut oleh Ibu Ratna, seorang manajer yang tampak berwibawa.
Ibu Ratna: “Azzam, saya kagum dengan kisah LUMINA. Brand kecil, tapi punya value yang kuat. Itulah yang membuat kami tertarik.”
Azzam: (tersenyum gugup) “Terima kasih, Bu. LUMINA memang saya bangun bukan sekadar bisnis, tapi juga sebagai pesan harapan.”
Diskusi berjalan serius. Aurora menawarkan untuk memproduksi ribuan item LUMINA, menjualnya lewat jaringan toko mereka di seluruh Indonesia.
Namun ada syarat: desain dan konsep LUMINA harus mengikuti arahan Aurora, termasuk mengurangi elemen kata-kata motivasi yang dianggap ‘terlalu niche’.
Pergulatan Batin
Sepulang dari pertemuan itu, Azzam duduk lama di kamarnya. Ia menatap catatan di dinding: “From Pain to Power.”
Azzam (dalam hati): “Kalau aku terima tawaran itu, LUMINA bisa besar dalam sekejap. Tapi kalau maknanya hilang, apa bedanya LUMINA dengan brand lain?”
Farhan datang menemuinya.
Farhan: “Zam, ini ujian. Kamu harus pilih: mau cepat terkenal tapi kehilangan jati diri, atau tetap di jalan yang kamu percaya meski lebih lambat?”
Azzam: (menatap sahabatnya) “Han, aku nggak mau LUMINA lahir dari luka tapi mati karena kehilangan makna.”
Keputusan
Keesokan harinya, Azzam kembali menemui Ibu Ratna. Dengan suara tegas namun sopan, ia berkata:
Azzam: “Bu, saya sangat berterima kasih atas tawarannya. Tapi saya harus menolak jika syaratnya mengubah jati diri LUMINA. Brand ini lahir bukan sekadar fashion, tapi juga pesan. Kalau pesan itu hilang, maka LUMINA bukan apa-apa lagi.”
Ibu Ratna menatapnya lama, lalu tersenyum.
Ibu Ratna: “Jarang ada anak muda yang berani menolak tawaran besar demi idealismenya. Baiklah, Azzam. Saya menghargai prinsip Anda. Kalau begitu, kami akan tawarkan skema lain: kolaborasi khusus dengan tetap mempertahankan konsep LUMINA.”
Azzam hampir tak percaya. Ia mengangguk penuh syukur.
Cahaya yang Lebih Terang
Beberapa bulan kemudian, kolaborasi itu diluncurkan. Hoodie edisi terbatas bertuliskan “Light After Pain” rilis di beberapa toko besar milik Aurora. Produk itu laris manis, bahkan banyak yang terjual habis hanya dalam hitungan hari.
Media kembali menyorot:
“LUMINA, Brand Lokal yang Berani Memegang Prinsip, Kini Menembus Pasar Nasional.”
Di kontrakannya, Azzam sujud syukur. Air matanya jatuh.
Azzam: “Ya Allah… terima kasih. Engkau benar-benar mengganti setiap luka dengan cahaya yang tak terbayangkan.”
Malam itu, Azzam menulis catatan baru di dinding mimpinya:
“Kesuksesan sejati bukan sekadar soal besar atau kecil, tapi tentang tetap setia pada cahaya yang kita bawa.”
Ia menatap ke depan. Jalan masih panjang, tapi kini ia tahu: LUMINA bukan lagi sekadar brand kecil. Ia sedang berdiri di gerbang baru menuju panggung yang lebih besar.
Other Stories
Death Cafe
Sakti terdiam sejenak. Baginya hantu gentayangan tidak ada. Itu hanya ulah manusia usil ...
Harapan Dalam Sisa Senja
Apa yang akan dalam pikiran ketika dinyatakan memiliki penyakit kronis? Ketika hidup berg ...
Blek Metal
Cerita ini telah pindah lapak. ...
Hati Yang Beku
Jasmine menatap hamparan metropolitan dari lantai tiga kostannya. Kerlap-kerlip ibukota ...
Flower From Heaven
Setelah lulus SMA, Sekar Arum tidak melanjutkan kuliah seperti dua saudara kembarnya, Dyah ...
Gadis Loak & Dua Pelita
SEKAR. Gadis 16 tahun, penjual kue pasar yang dijuluki "gadis loak" karena sering menukar ...