Dari Luka Menjadi Cahaya

Reads
1.8K
Votes
12
Parts
11
Vote
Report
Dari luka menjadi cahaya
Dari Luka Menjadi Cahaya
Penulis Bayu Alfianur

PENUTUP BAB 10

Kini Azzam berdiri sebagai CEO muda sukses. Dari ruang kontrakan sempit, ia kini memimpin sebuah perusahaan Lumina yang memberi makna bagi banyak orang. Ia membangun program beasiswa, membuka ribuan lapangan kerja, dan menulis buku inspiratif “Luka yang Menjadi Cahaya.” Namanya dikenal luas, kisahnya dikagumi banyak kalangan.

Dalam sebuah konferensi besar, seorang jurnalis bertanya,

Jurnalis: “Pak Azzam, apa rahasia terbesar dari kesuksesan Anda?”

Azzam tersenyum, lalu menjawab dengan mantap:

Azzam: “Aku tidak pernah ingin membuktikan pada orang lain. Aku hanya ingin membuktikan pada diriku sendiri, bahwa luka bukan akhir, tapi awal perjalanan menuju cahaya.”

Kata-kata itu disambut tepuk tangan panjang. Banyak orang yang merasa terinspirasi.

Namun, di barisan belakang ruangan, seorang wanita terdiam dengan mata berkaca-kaca. Ia adalah Nadia. Wanita yang dulu meninggalkan Azzam demi pria lain. Kini ia menyaksikan dengan matanya sendiri bagaimana lelaki yang pernah ia abaikan berdiri gagah di atas panggung, disorot cahaya, dielu-elukan banyak orang.

Hatinya bergetar. Rasa penyesalan menyeruak, bercampur dengan kekaguman. Ia menunduk, menahan air mata yang hampir jatuh.

Sementara itu, Azzam yang berdiri di atas panggung sempat menoleh sekilas ke arah belakang. Matanya menangkap sosok itu sosok yang pernah ia cintai sepenuh hati, lalu meninggalkannya di saat ia masih berjuang.

Tapi kali ini, tidak ada lagi luka. Tidak ada lagi amarah. Hanya ada senyum tenang. Senyum seorang lelaki yang sudah berdamai dengan masa lalunya, dan memilih melangkah maju.

Azzam (dalam hati): “Terima kasih, Nadia. Karena pernah meninggalkan, aku belajar berjalan sendiri. Dan dari luka itu, aku menemukan cahaya.”

Lampu panggung meredup. Tepuk tangan masih bergema. Dan di antara keramaian itu, kisah lama yang pernah menorehkan luka kini menutup dengan sebuah kenyataan: Azzam sudah menang bukan atas Nadia, bukan atas dunia, tapi atas dirinya sendiri.

Malamnya, ketika semua orang sudah pulang, Azzam berdiri sendiri di depan jendela kantornya yang berada di lantai paling atas. Ia menatap gemerlap lampu kota. Senyum tipis muncul di wajahnya, bukan senyum puas, tapi senyum syukur.

Azzam (dalam hati): “Dulu aku pernah hampir hancur. Ditinggalkan, direndahkan, bahkan hampir menyerah. Tapi ternyata, luka itu adalah anugerah. Karena dari sanalah aku belajar arti perjuangan. Dan cahaya yang kupikul ini bukan hanya untukku, tapi untuk banyak orang.”

Dengan hati yang lapang, Azzam menutup malam itu dengan doa.
Satu bab kehidupannya telah selesai, tapi jalan baru sedang terbuka di hadapannya. Jalan yang lebih luas, lebih besar, dan tentu saja lebih penuh ujian.

Namun kini, ia sudah siap. Karena ia tahu: cahaya yang lahir dari luka tidak akan pernah padam.



Other Stories
Ablasa

Perjalanan Nindya dan teman-temannya ke Nusakambangan berubah mencekam saat mereka tersada ...

After Meet You

kacamata hitam milik pria itu berkilat tertimpa cahaya keemasan, sang mata dewa nyaris t ...

Broken Wings

Bermimpi menjadi seorang ballerina bukan hanya tentang gerakan indah, tapi juga tentang ke ...

Seoul Harem

Raka Aditya, pemuda tangguh dari Indonesia, memimpin keluarganya memulai hidup baru di gem ...

Dua Mata Saya ( Halusinada )

Raihan berendam di bak mandi yang sudah terisi air hangat itu, dikelilingi busa berlimpah. ...

Cerita Guru Sarita

Sarita merasa berbeda dari keluarganya karena mata cokelatnya yang dianggap mirip serigala ...

Download Titik & Koma