TAWA PRESIDEN
Aku selalu menganggap siaran langsung dari Istana hanya formalitas yang membosankan, semacam rutinitas politik yang tidak perlu dipikirkan. Tapi malam ini terasa berbeda sejak detik pertama layar TV menyala. Ada sesuatu di udara yang dingin, ada kesunyian yang aneh, seperti seluruh negara menahan napas tanpa menyadari. Presiden Aveline muncul di podium dengan gaun merah darah yang berkilau seperti kaca pecah. Parasnya begitu tenang dan sempurna sampai terasa tidak manusiawi. Senyumnya tipis, terlalu tipis, seperti sedang menyembunyikan sesuatu yang kelewat besar. Aku duduk di ruang tamu tanpa sadar menggenggam tangan sendiri. Di sekelilingku keluarga terdiam seperti patung. Tidak ada yang bicara. Tidak ada yang ingin bicara. Rasanya lebih aman begitu.
Aveline mengangkat mikrofon perlahan lalu tertawa pelan. Tidak seperti manusia biasa tertawa. Lebih mirip dengungan pisau yang digesekkan ke kaca. Aku bisa merasakan bulu kuduk berdiri. Seluruh studio di belakangnya gelap, hanya garis lampu tipis yang membentuk siluet tubuh para menteri. Atau para aktor. Atau entah apa mereka sebenarnya. Aku bahkan tidak yakin apa yang aku tonton lagi.
Aveline berkata dengan nada lembut
"Aku melihat teori konspirasi beredar di internet. Kalian semua benar benar imajinatif. Jenius. Kreatif. Fantastis."
Ia menepuk tangan pelan seperti sedang menonton pertunjukan badut.
"Ternyata rakyatku suka hiburan lebih dari kebijakan. Tidak apa. Aku suka hiburan juga."
Tawa pecah lagi dan aku tidak bisa berpaling. Tatapannya seperti menembus layar lalu menatap langsung ke mataku. Aku merasa kecil. Sangat kecil. Seperti masyarakat seluruh negara hanyalah boneka yang dipandang dari panggung tinggi.
Ia berjalan perlahan, tumit sepatunya mengetuk lantai dengan suara yang memantul seperti denting jam kematian.
"Kalian penasaran ke mana menteri menteri itu menghilang kan"
Tidak ada jeda. Tidak ada sensor. Kata kata itu jatuh begitu saja. Seluruh keluargaku menarik napas bersamaan. Aku ikut terjebak. Ini bukan siaran politik biasa. Ini pengakuan. Atau permainan. Atau keduanya.
Aveline menunjuk balik ke panggung dengan gerakan elegan
"Di belakangku berdiri orang orang luar biasa. Mereka hebat. Mereka bisa menjadi siapapun yang kubutuhkan. Tentara. Ekonom. Dokter. Sejarawan. Hanya berbekal naskah. Dan naskah itu kutulis sendiri."
Para menteri palsu melangkah maju. Mereka tersenyum lebar tapi senyum itu aneh. Seperti dipaksa. Seperti wajah mereka dilatih untuk merepresentasikan kebahagiaan padahal seluruh tubuh mereka berteriak takut. Salah satu dari mereka, yang seharusnya Menteri Pertahanan, berdiri sedikit gemetar lalu dengan suara tinggi berkata
"Saya bangga melayani negara dengan seni peran saya."
Ia tampak akan menangis tetapi tertahan oleh senyum konyol yang dipaksakan.
Aveline menepuk kepala pria itu seperti memuji anjing sirkus.
"Lihat kan. Sangat berbakat."
Hatiku merosot. Ini menjijikan. Ini brutal. Ini berbahaya. Presiden sedang mempermalukan pemerintahnya sendiri di depan seluruh rakyat. Dan semua orang hanya bisa menonton. Karena tidak ada pilihan lain.
Aveline menunduk ke kamera, dekat sekali, terlalu dekat sampai aku bisa melihat urat halus di matanya.
"Masalahnya hanya satu. Kalian semua mulai curiga. Terlalu cepat."
Televisi menampilkan potongan gambar teori konspirasi yang populer di internet. Postingan Ezra, potongan video dari warganet, meme tentang menteri palsu. Aveline menertawakannya keras keras sampai bahunya berguncang.
"Terima kasih. Kalian membuat aku semakin terkenal. Dan kalian menonton pertunjukan dengan setia."
Perasaanku berubah menjadi dingin. Jadi ini semua memang pertunjukan. Negara ini bukan lagi negara. Ini panggung drama yang disutradarai oleh seorang psikopat. Kami semua penonton yang membayar dengan pajak dan masa depan.
Latar panggung berubah. Lampu merah menyala. Musik orkestra menggelegar dari belakang layar seperti soundtrack horor kelas atas. Kamera memperbesar pada pintu baja yang terbuka pelan dari sisi kiri panggung. Bau visualnya begitu kuat sampai aku seolah mencium metal berkarat, darah basi, dan lembap ruang bawah tanah walau hanya melalui layar.
Seseorang diseret keluar. Menteri asli. Yang hilang. Rambutnya kotor dan kusut. Kakinya berdarah. Tangannya diborgol. Napasnya berat. Matanya memohon. Seluruh tubuhku membeku. Aku tidak siap melihat ini. Tidak ada rakyat yang siap melihat ini. Tapi tidak ada pilihan. Siaran ini tanpa sensor.
Menteri asli itu berteriak
"Tolong. Tolong lepaskan kami. Kami masih hidup. Kami disekap. Kami tidak pernah mundur dari jabatan kami."
Suara itu seperti suara manusia terakhir yang mencoba tetap menjadi manusia di tengah kekacauan.
Aveline tersenyum lembut
"Kita perlu sedikit realisme untuk memperindah drama nasional. Mereka adalah figure background sekarang. Mereka tidak penting lagi."
Semua penonton di negara ini mungkin merasakan hal yang sama seperti aku saat ini. Perasaan jijik dan takut menyatu. Aku ingin mematikan TV tapi tubuhku tidak mau bergerak. Seolah Aveline mengendalikan refleks kami juga.
Kamera memperlihatkan seluruh bunker mini di panggung. Ada lebih banyak menteri asli. Diikat. Mulut disumpal. Sebagian tidak sadarkan diri. Satu orang memuntahkan darah. Yang lain meronta seperti binatang. Salah satu menangis tanpa suara. Adegan itu tidak terlihat seperti teater lagi. Terlalu nyata. Terlalu mentah. Terlalu mengerikan.
Aveline memegang mikrofon kembali
"Kalian merasa takut"
Ia tertawa sebentar
"Bagus. Rasa takut membuat kalian patuh."
Kemudian ia menunjuk ke kamera lagi
"Sebagian dari kalian pasti berpikir untuk protes. Atau memberontak. Jangan lakukan. Kalian akan menjadi partisipan pertunjukan berikutnya. Dan kalian tidak ingin berada di atas panggung. Percayalah."
Para menteri palsu berdiri membentuk barisan. Mereka mulai bernyanyi dengan lirik yang mengerikan namun disusun seperti lagu upacara
"Kami berdiri demi negara. Kami setia pada naskah. Kami memainkan peran kami hingga akhir."
Aveline mengangkat kedua tangan seperti dirigen musik. Musik menjadi semakin dramatis. Para menteri palsu menyeringai dengan mata kosong. Menteri asli meronta tak berdaya. Kamera bergerak dengan sudut sinematik yang terlalu indah untuk adegan yang begitu menjijikkan. Semua ini adalah satire. Sakit jiwa tapi sempurna.
Aveline menutup pertunjukan dengan kalimat yang menggema di seluruh ruang tamu
"Kalian semua menonton. Kalian semua bertepuk tangan. Kalian semua mencintai drama ini. Jadi jangan pura pura shock. Kalian ingin hiburan. Dan aku memberikannya."
Kemudian ia tertawa keras. Untuk pertama kalinya aku merasakan tawa seseorang bisa menjadi ancaman fisik. Seperti tekanan pisau ke tenggorokan.
Layar berubah menjadi hitam. Tidak ada kredit. Tidak ada ucapan terima kasih. Tidak ada lagu penutup. Hanya layar gelap. Tapi tawanya masih terdengar, terus menerus, seakan memenuhi ruangan bahkan setelah TV dimatikan. Aku merasa seperti ia masih menertawakan kami melalui dinding, langit, dan udara nasional.
Aku menutup wajahku dengan tangan gemetar. Aku sadar sesuatu. Aku bukan lagi warga negara. Aku hanya penonton. Dan negara ini bukan lagi negara. Negara ini adalah teater neraka dengan satu dalang yang memegang semua benang.
Dan Aveline baru saja memulai aksinya.
Aveline mengangkat mikrofon perlahan lalu tertawa pelan. Tidak seperti manusia biasa tertawa. Lebih mirip dengungan pisau yang digesekkan ke kaca. Aku bisa merasakan bulu kuduk berdiri. Seluruh studio di belakangnya gelap, hanya garis lampu tipis yang membentuk siluet tubuh para menteri. Atau para aktor. Atau entah apa mereka sebenarnya. Aku bahkan tidak yakin apa yang aku tonton lagi.
Aveline berkata dengan nada lembut
"Aku melihat teori konspirasi beredar di internet. Kalian semua benar benar imajinatif. Jenius. Kreatif. Fantastis."
Ia menepuk tangan pelan seperti sedang menonton pertunjukan badut.
"Ternyata rakyatku suka hiburan lebih dari kebijakan. Tidak apa. Aku suka hiburan juga."
Tawa pecah lagi dan aku tidak bisa berpaling. Tatapannya seperti menembus layar lalu menatap langsung ke mataku. Aku merasa kecil. Sangat kecil. Seperti masyarakat seluruh negara hanyalah boneka yang dipandang dari panggung tinggi.
Ia berjalan perlahan, tumit sepatunya mengetuk lantai dengan suara yang memantul seperti denting jam kematian.
"Kalian penasaran ke mana menteri menteri itu menghilang kan"
Tidak ada jeda. Tidak ada sensor. Kata kata itu jatuh begitu saja. Seluruh keluargaku menarik napas bersamaan. Aku ikut terjebak. Ini bukan siaran politik biasa. Ini pengakuan. Atau permainan. Atau keduanya.
Aveline menunjuk balik ke panggung dengan gerakan elegan
"Di belakangku berdiri orang orang luar biasa. Mereka hebat. Mereka bisa menjadi siapapun yang kubutuhkan. Tentara. Ekonom. Dokter. Sejarawan. Hanya berbekal naskah. Dan naskah itu kutulis sendiri."
Para menteri palsu melangkah maju. Mereka tersenyum lebar tapi senyum itu aneh. Seperti dipaksa. Seperti wajah mereka dilatih untuk merepresentasikan kebahagiaan padahal seluruh tubuh mereka berteriak takut. Salah satu dari mereka, yang seharusnya Menteri Pertahanan, berdiri sedikit gemetar lalu dengan suara tinggi berkata
"Saya bangga melayani negara dengan seni peran saya."
Ia tampak akan menangis tetapi tertahan oleh senyum konyol yang dipaksakan.
Aveline menepuk kepala pria itu seperti memuji anjing sirkus.
"Lihat kan. Sangat berbakat."
Hatiku merosot. Ini menjijikan. Ini brutal. Ini berbahaya. Presiden sedang mempermalukan pemerintahnya sendiri di depan seluruh rakyat. Dan semua orang hanya bisa menonton. Karena tidak ada pilihan lain.
Aveline menunduk ke kamera, dekat sekali, terlalu dekat sampai aku bisa melihat urat halus di matanya.
"Masalahnya hanya satu. Kalian semua mulai curiga. Terlalu cepat."
Televisi menampilkan potongan gambar teori konspirasi yang populer di internet. Postingan Ezra, potongan video dari warganet, meme tentang menteri palsu. Aveline menertawakannya keras keras sampai bahunya berguncang.
"Terima kasih. Kalian membuat aku semakin terkenal. Dan kalian menonton pertunjukan dengan setia."
Perasaanku berubah menjadi dingin. Jadi ini semua memang pertunjukan. Negara ini bukan lagi negara. Ini panggung drama yang disutradarai oleh seorang psikopat. Kami semua penonton yang membayar dengan pajak dan masa depan.
Latar panggung berubah. Lampu merah menyala. Musik orkestra menggelegar dari belakang layar seperti soundtrack horor kelas atas. Kamera memperbesar pada pintu baja yang terbuka pelan dari sisi kiri panggung. Bau visualnya begitu kuat sampai aku seolah mencium metal berkarat, darah basi, dan lembap ruang bawah tanah walau hanya melalui layar.
Seseorang diseret keluar. Menteri asli. Yang hilang. Rambutnya kotor dan kusut. Kakinya berdarah. Tangannya diborgol. Napasnya berat. Matanya memohon. Seluruh tubuhku membeku. Aku tidak siap melihat ini. Tidak ada rakyat yang siap melihat ini. Tapi tidak ada pilihan. Siaran ini tanpa sensor.
Menteri asli itu berteriak
"Tolong. Tolong lepaskan kami. Kami masih hidup. Kami disekap. Kami tidak pernah mundur dari jabatan kami."
Suara itu seperti suara manusia terakhir yang mencoba tetap menjadi manusia di tengah kekacauan.
Aveline tersenyum lembut
"Kita perlu sedikit realisme untuk memperindah drama nasional. Mereka adalah figure background sekarang. Mereka tidak penting lagi."
Semua penonton di negara ini mungkin merasakan hal yang sama seperti aku saat ini. Perasaan jijik dan takut menyatu. Aku ingin mematikan TV tapi tubuhku tidak mau bergerak. Seolah Aveline mengendalikan refleks kami juga.
Kamera memperlihatkan seluruh bunker mini di panggung. Ada lebih banyak menteri asli. Diikat. Mulut disumpal. Sebagian tidak sadarkan diri. Satu orang memuntahkan darah. Yang lain meronta seperti binatang. Salah satu menangis tanpa suara. Adegan itu tidak terlihat seperti teater lagi. Terlalu nyata. Terlalu mentah. Terlalu mengerikan.
Aveline memegang mikrofon kembali
"Kalian merasa takut"
Ia tertawa sebentar
"Bagus. Rasa takut membuat kalian patuh."
Kemudian ia menunjuk ke kamera lagi
"Sebagian dari kalian pasti berpikir untuk protes. Atau memberontak. Jangan lakukan. Kalian akan menjadi partisipan pertunjukan berikutnya. Dan kalian tidak ingin berada di atas panggung. Percayalah."
Para menteri palsu berdiri membentuk barisan. Mereka mulai bernyanyi dengan lirik yang mengerikan namun disusun seperti lagu upacara
"Kami berdiri demi negara. Kami setia pada naskah. Kami memainkan peran kami hingga akhir."
Aveline mengangkat kedua tangan seperti dirigen musik. Musik menjadi semakin dramatis. Para menteri palsu menyeringai dengan mata kosong. Menteri asli meronta tak berdaya. Kamera bergerak dengan sudut sinematik yang terlalu indah untuk adegan yang begitu menjijikkan. Semua ini adalah satire. Sakit jiwa tapi sempurna.
Aveline menutup pertunjukan dengan kalimat yang menggema di seluruh ruang tamu
"Kalian semua menonton. Kalian semua bertepuk tangan. Kalian semua mencintai drama ini. Jadi jangan pura pura shock. Kalian ingin hiburan. Dan aku memberikannya."
Kemudian ia tertawa keras. Untuk pertama kalinya aku merasakan tawa seseorang bisa menjadi ancaman fisik. Seperti tekanan pisau ke tenggorokan.
Layar berubah menjadi hitam. Tidak ada kredit. Tidak ada ucapan terima kasih. Tidak ada lagu penutup. Hanya layar gelap. Tapi tawanya masih terdengar, terus menerus, seakan memenuhi ruangan bahkan setelah TV dimatikan. Aku merasa seperti ia masih menertawakan kami melalui dinding, langit, dan udara nasional.
Aku menutup wajahku dengan tangan gemetar. Aku sadar sesuatu. Aku bukan lagi warga negara. Aku hanya penonton. Dan negara ini bukan lagi negara. Negara ini adalah teater neraka dengan satu dalang yang memegang semua benang.
Dan Aveline baru saja memulai aksinya.
Other Stories
Curahan Hati Seorang Kacung
Saat sekolah kita berharap nantinya setelah lulus akan dapat kerjaan yang bagus. Kerjaan ...
Namaku May
Belajar tak mengenal usia, gender, maupun status sosial. Kisah ini menginspirasi untuk ter ...
Jodoh Nyasar Alina
Alina, si sarjana dari Eropa, pulang kampung cuma gara-gara restu Nyak-nya. Nggak bisa ker ...
Hafidz Cerdik
Adnan bersyukur masih ada acara bermanfaat seperti *Hafidz Cilik Indonesia*, tempat ia dan ...
Di Bawah Langit Al-ihya
Meski jarak dan waktu memisahkan, Amri dan Vara tetap dikuatkan cinta dan doa di bawah lan ...
Kacamata Kematian
Arsyil Langit Ramadhan lagi naksir berat sama cewek bernama Arshita Bintang Oktarina. Ia b ...