MISI PENYELAMATAN
Kota terlihat jauh lebih sunyi setelah siaran mengerikan malam sebelumnya. Semua orang seolah berjalan sambil menunduk dan memegang napas, seperti ada monster besar berkeliaran di langit dan semua pihak hanya menunggu siapa yang akan dimakan lebih dulu. Jalan raya ramai tetapi terasa mati. Semua billboard menampilkan wajah Presiden Aveline dengan senyum tenang yang kini tidak lagi terlihat seperti simbol nasional, tetapi lebih seperti poster film horor yang tidak punya akhir.
Di layar publik tergantung slogan baru
“Hidup adalah pertunjukan. Nikmati perannya.”
Dan semuanya terasa semakin dingin.
Di sudut kota, satu bar kecil menjadi tempat semua wartawan nongkrong untuk membicarakan hal yang tidak boleh dibicarakan. Ezra duduk di tengah ruangan dengan hoodie hitam besar menutup wajah. Tidak ada yang menghampiri. Semua tahu Ezra adalah nama yang paling dicari, tapi bukan secara resmi. Bukan karena hukum. Karena Presiden ingin membungkamnya. Itu lebih menakutkan daripada apa pun.
Ezra memainkan ponsel seperti memegang bom waktu. Tidak ada pesan masuk selama berjam jam kecuali notifikasi propaganda pemerintah yang muncul tiap jam. Tiba tiba ponsel bergetar. Notifikasi baru. Pesan tanpa nama, tanpa nomor, tanpa identitas.
“Bunker bukan di istana. Di teater. Gedung kuno. Saluran bawah. Grid 07. Waktu terbatas.”
Pesan kedua masuk tepat setelahnya, seperti napas terakhir seseorang.
“Gunakan pintu panggung. Jangan percaya suara musik.”
Bar langsung terasa semakin mencekik. Ezra membaca pesan berulang ulang dengan wajah pucat. Kursi mulai terasa seperti perangkap dan udara menjadi terlalu tipis untuk dihirup. Pesan anonim itu begitu spesifik sampai tidak mungkin hanya teori. Satu satunya orang yang bisa mengirim petunjuk seperti itu adalah seseorang dari dalam bunker. Seseorang yang masih hidup. Seseorang yang sudah gila tetapi masih cukup waras untuk meminta bantuan.
Ezra berdiri dari kursi dengan langkah yang tidak stabil. Seorang wartawan tua memegang gelas bir dengan tangan gemetar dan berkata pelan tanpa menatap
“Jangan lakukan. Tidak ada yang kembali dari istana. Dan tidak akan ada yang kembali dari bunker.”
Ezra hanya menatapnya sebentar lalu berjalan keluar. Di luar, udara tidak lebih baik. Poster propaganda di mana mana. Warga-warga yang kehilangan ekspresi. Kamera keamanan baru yang bertuliskan “Pemerintah hanya merekam demi kenyamanan.” Ironi yang begitu kejam sampai terasa seperti ejekan langsung.
Malam tiba saat Ezra mencapai gedung teater kuno. Gedung tua itu tampak telah lama mati, tetapi lampu panggung dari dalam menyala samar samar seperti cahaya dari dunia lain. Bangunan itu pernah menjadi tempat pertunjukan opera dan hari ini menjadi tempat pemerintahan bayangan. Sebuah papan besar tergantung di depan pintu dengan tulisan emas
“Teater Nasional. Pertunjukan tidak pernah berhenti.”
Gerbang samping terkunci tetapi pintu panggung tidak. Pintu itu terbuka sedikit, seperti sengaja menunggu seseorang masuk. Langkah Ezra perlahan menembus kegelapan panggung. Musik klasik terdengar samar dari kejauhan. Nada lembut yang dulu romantis kini terdengar seperti suara mayat bernyanyi. Lampu panggung berkedip kedip menyorot debu dan kursi kosong yang tampak seperti para penonton yang ditelan waktu.
Di tengah panggung tergeletak boneka manusia ukuran besar yang wajahnya menyerupai salah satu menteri palsu. Boneka itu tersenyum lebar dengan gigi menghitam dan tubuhnya dipenuhi jarum. Tulisan merah di dada boneka berbunyi
“Jangan percaya aktor.”
Punggung terasa seperti diiris. Tangan gemetar ingin kembali, tapi ada sesuatu yang lebih kuat dari ketakutan. Keinginan untuk mengungkap kebenaran atau hanya dorongan gila untuk tidak kalah oleh presiden psikopat. Tidak ada kepastian. Tidak ada jawaban.
Bayangan bergerak di balkon penonton. Suara tertawa datar terdengar pelan, bukan tawa Aveline tetapi suara seseorang yang kehilangan kewarasan. Lalu sunyi. Ezra melanjutkan perjalanan menuju ujung panggung. Di belakang tirai terdapat pintu logam tua. Pintu itu mengarah ke tangga menurun. Bau besi karat dan darah langsung menusuk. Misi baru saja dimulai dan sudah terasa seperti neraka.
Tangga berakhir di koridor sempit bercat merah tua, seperti berjalan di dalam perut binatang raksasa. Di dinding kiri tergantung masker teater dengan senyum besar. Salah satu masker meneteskan cairan hitam yang mengalir ke lantai seperti air liur makhluk kelaparan. Lampu berkedip. Musik klasik tetap mengalun tetapi semakin rusak seperti kaset yang diputar di dasar kuburan.
Ezra mengeluarkan senter kecil dan mengarahkannya ke depan. Setiap langkah terdengar menggema terlalu keras. Dinding penuh poster pertunjukan palsu yang menampilkan anggota kabinet sebagai pemeran drama. Tapi poster poster itu disobek, dicoret, atau dirobek wajahnya oleh sesuatu yang berusaha melawan delusi penguasa.
Ezra berbisik tanpa sadar
“Di mana bunker itu.”
Tiba tiba suara pelan menjawab dari kegelapan
“Di sini.”
Seorang menteri asli berdiri di ujung lorong dengan kondisi mengenaskan. Tangannya gemetar dan rantainya masih menggantung dari pergelangan. Bajunya robek. Kulitnya luka luka. Mata membengkak. Tetapi ia masih hidup. Masih bernapas. Masih berusaha.
Suaranya serak dan retak
“Tidak banyak waktu. Dia akan datang. Musik akan berubah. Jika musik berubah jangan bergerak.”
Ezra ingin menolongnya tetapi menteri itu menggeleng keras
“Tidak. Tujuanmu bukan menyelamatkan satu orang. Tujuanmu menyelamatkan negara. Rekaman rekaman. Bukti. Komputer server. Semua ada di ruang terakhir bunker. Jangan percaya apa pun. Jangan percaya siapapun.”
Tiba tiba musik berubah. Nada klasik berubah menjadi lagu ceria yang terdengar seperti lagu parade anak anak. Menteri itu menjerit dan menutup telinganya
“Jangan bergerak. Jangan bergerak. Jangan beri tepuk tangan.”
Ezra membeku di tempat. Lampu merah menyala. Speaker memutar suara anak anak tertawa. Lalu suara langkah kaki banyak orang mendekat dari berbagai arah, cepat, tak seirama, seperti kawanan hewan lapar. Para menteri palsu muncul dari kegelapan dengan kostum panggung yang mewah, tetapi wajah mereka penuh riasan buruk seperti badut pembunuh. Senyum mereka lebar sampai ke telinga dan mata mereka kosong.
Salah satu berteriak sambil tertawa
“Pertunjukan tambahan. Penonton baru. Hebat sekali.”
Yang lain menari sambil mengayunkan pisau berkilat
“Naskah belum selesai sampai ada darah.”
Menteri asli mencoba berteriak
“Lari. Mereka tidak bisa melihat jika musik berhenti.”
Tetapi musik tidak berhenti. Para aktor mendekat makin cepat. Ezra mundur sambil menahan napas. Langkah langkah, gerakan tangan, semuanya berpacu pada satu naluri: bertahan hidup. Dalam detik detik kacau itu Ezra mengambil palu besi dari rak panggung darurat dan memukul tombol panel listrik di dinding. Percikan besar berloncatan dan musik berhenti total.
Para aktor beku seketika di tempat dengan postur aneh, pisau dan senyum menggantung seperti patung berhantu. Sunyi total. Menteri asli menangis, bukan lega, tetapi karena tahu semuanya baru permulaan.
Mereka bergegas menuruni lorong lain. Di akhir lorong terdapat pintu besar bertuliskan
“Ruang Produksi Nasional.”
Minister berbisik
“Rekaman penyiksaan. Rekaman penculikan. Rekaman manipulasi. Semua disimpan untuk konsumsi Aveline sendiri. Ia menontonnya untuk tertawa. Simpan file. Tunjukkan ke dunia. Itu cara menghancurkannya.”
Pintu dibuka. Ruangan itu seperti perpaduan laboratorium, studio film, dan kamar penyiksaan. Layar besar menampilkan klip klip penderitaan menteri asli dari berbagai hari. Di pojok ruangan terdapat kursi kayu dengan bekas darah dan kamera langsung diarahkan ke sana. Di sebelah kursi terletak alat alat penyiksaan bercorak perak yang dipoles bersih seperti koleksi seni. Semuanya tersusun rapi seolah ada estetika tersendiri dalam penderitaan.
Menteri asli mendorong Ezra ke komputer pusat
“Ambil. Cepat. Sebelum musik kembali.”
Ezra menyalakan konsole dan mulai mengunduh semua file. Setiap nama menteri dan setiap tanggal penculikan muncul satu per satu. Soundtrack penderitaan menjadi bukti nyata. Mata menteri itu berkaca kaca, bukan berharap selamat tetapi berharap kebenaran keluar.
Tiba tiba lampu ruangan berkedip. Musik ceria berputar lagi. Pintu bunker tertutup otomatis. Suara tawa Aveline muncul dari speaker
“Penonton favoritku akhirnya turun ke panggung.”
Seluruh ruangan terasa runtuh. Menteri asli memukulkan tubuh ke panel kontrol tetapi terlontar oleh sengatan listrik. Aktor menteri palsu mulai memasuki ruangan dari pintu samping seperti pemain kabaret pembantai. Ezra menarik USB berisi rekaman dan memasukkannya ke dalam saku. Misi berhasil, tapi nyawa terancam.
Menteri asli menatap Ezra untuk terakhir kalinya dan berkata dengan suara terputus putus
“Bawa keluar. Jangan biarkan negara ini jadi panggung selamanya.”
Ia lalu menghalangi pintu dengan tubuhnya sendiri agar Ezra punya waktu kabur. Para aktor menusuk tubuhnya berulang ulang sambil tertawa, dan darahnya menciprati lantai dan wajah para aktor yang tetap tersenyum seperti sedang menikmati slapstick komedi. Pemandangan itu begitu menjijikan sampai otak menolak percaya tetapi mata tetap melihat.
Ezra mengambil kesempatan melarikan diri melalui pintu darurat sempit. Alarm berbunyi. Lampu berkedip merah. Musik semakin keras. Seluruh teater berubah menjadi labirin mimpi buruk. Setiap langkah adalah adu cepat antara nyawa dan kegilaan. Di dekat pintu keluar, poster Presiden Aveline jatuh dari dinding dan menampakkan lubang udara. Ezra masuk tanpa pikir panjang dan merangkak menyusuri terowongan ventilasi gelap dengan napas berat.
Lampu kota terlihat dari celah di ujung terowongan. Pilihan terakhir. Ezra menjatuhkan diri ke gang belakang teater, berguling di tanah, kehabisan napas dan tenaga. Tapi USB tetap tergenggam erat. Misi selesai. Buktinya ada. Satu langkah menuju kebenaran.
Di belakang, gang menggema dengan tawa aktor menteri dan musik parade yang semakin menjauh namun tetap menguntit. Seperti suara iblis yang tidak memerlukan tubuh untuk mengejar. Langit kota menampilkan hologram wajah Aveline dengan senyum yang kini lebih besar dari sebelumnya. Suaranya menggema melalui pengeras suara kota
“Pertunjukan semakin menarik. Penonton mulai ingin bertarung kembali.”
Dan kota tahu.
Pertempuran baru baru saja dimulai.
Di layar publik tergantung slogan baru
“Hidup adalah pertunjukan. Nikmati perannya.”
Dan semuanya terasa semakin dingin.
Di sudut kota, satu bar kecil menjadi tempat semua wartawan nongkrong untuk membicarakan hal yang tidak boleh dibicarakan. Ezra duduk di tengah ruangan dengan hoodie hitam besar menutup wajah. Tidak ada yang menghampiri. Semua tahu Ezra adalah nama yang paling dicari, tapi bukan secara resmi. Bukan karena hukum. Karena Presiden ingin membungkamnya. Itu lebih menakutkan daripada apa pun.
Ezra memainkan ponsel seperti memegang bom waktu. Tidak ada pesan masuk selama berjam jam kecuali notifikasi propaganda pemerintah yang muncul tiap jam. Tiba tiba ponsel bergetar. Notifikasi baru. Pesan tanpa nama, tanpa nomor, tanpa identitas.
“Bunker bukan di istana. Di teater. Gedung kuno. Saluran bawah. Grid 07. Waktu terbatas.”
Pesan kedua masuk tepat setelahnya, seperti napas terakhir seseorang.
“Gunakan pintu panggung. Jangan percaya suara musik.”
Bar langsung terasa semakin mencekik. Ezra membaca pesan berulang ulang dengan wajah pucat. Kursi mulai terasa seperti perangkap dan udara menjadi terlalu tipis untuk dihirup. Pesan anonim itu begitu spesifik sampai tidak mungkin hanya teori. Satu satunya orang yang bisa mengirim petunjuk seperti itu adalah seseorang dari dalam bunker. Seseorang yang masih hidup. Seseorang yang sudah gila tetapi masih cukup waras untuk meminta bantuan.
Ezra berdiri dari kursi dengan langkah yang tidak stabil. Seorang wartawan tua memegang gelas bir dengan tangan gemetar dan berkata pelan tanpa menatap
“Jangan lakukan. Tidak ada yang kembali dari istana. Dan tidak akan ada yang kembali dari bunker.”
Ezra hanya menatapnya sebentar lalu berjalan keluar. Di luar, udara tidak lebih baik. Poster propaganda di mana mana. Warga-warga yang kehilangan ekspresi. Kamera keamanan baru yang bertuliskan “Pemerintah hanya merekam demi kenyamanan.” Ironi yang begitu kejam sampai terasa seperti ejekan langsung.
Malam tiba saat Ezra mencapai gedung teater kuno. Gedung tua itu tampak telah lama mati, tetapi lampu panggung dari dalam menyala samar samar seperti cahaya dari dunia lain. Bangunan itu pernah menjadi tempat pertunjukan opera dan hari ini menjadi tempat pemerintahan bayangan. Sebuah papan besar tergantung di depan pintu dengan tulisan emas
“Teater Nasional. Pertunjukan tidak pernah berhenti.”
Gerbang samping terkunci tetapi pintu panggung tidak. Pintu itu terbuka sedikit, seperti sengaja menunggu seseorang masuk. Langkah Ezra perlahan menembus kegelapan panggung. Musik klasik terdengar samar dari kejauhan. Nada lembut yang dulu romantis kini terdengar seperti suara mayat bernyanyi. Lampu panggung berkedip kedip menyorot debu dan kursi kosong yang tampak seperti para penonton yang ditelan waktu.
Di tengah panggung tergeletak boneka manusia ukuran besar yang wajahnya menyerupai salah satu menteri palsu. Boneka itu tersenyum lebar dengan gigi menghitam dan tubuhnya dipenuhi jarum. Tulisan merah di dada boneka berbunyi
“Jangan percaya aktor.”
Punggung terasa seperti diiris. Tangan gemetar ingin kembali, tapi ada sesuatu yang lebih kuat dari ketakutan. Keinginan untuk mengungkap kebenaran atau hanya dorongan gila untuk tidak kalah oleh presiden psikopat. Tidak ada kepastian. Tidak ada jawaban.
Bayangan bergerak di balkon penonton. Suara tertawa datar terdengar pelan, bukan tawa Aveline tetapi suara seseorang yang kehilangan kewarasan. Lalu sunyi. Ezra melanjutkan perjalanan menuju ujung panggung. Di belakang tirai terdapat pintu logam tua. Pintu itu mengarah ke tangga menurun. Bau besi karat dan darah langsung menusuk. Misi baru saja dimulai dan sudah terasa seperti neraka.
Tangga berakhir di koridor sempit bercat merah tua, seperti berjalan di dalam perut binatang raksasa. Di dinding kiri tergantung masker teater dengan senyum besar. Salah satu masker meneteskan cairan hitam yang mengalir ke lantai seperti air liur makhluk kelaparan. Lampu berkedip. Musik klasik tetap mengalun tetapi semakin rusak seperti kaset yang diputar di dasar kuburan.
Ezra mengeluarkan senter kecil dan mengarahkannya ke depan. Setiap langkah terdengar menggema terlalu keras. Dinding penuh poster pertunjukan palsu yang menampilkan anggota kabinet sebagai pemeran drama. Tapi poster poster itu disobek, dicoret, atau dirobek wajahnya oleh sesuatu yang berusaha melawan delusi penguasa.
Ezra berbisik tanpa sadar
“Di mana bunker itu.”
Tiba tiba suara pelan menjawab dari kegelapan
“Di sini.”
Seorang menteri asli berdiri di ujung lorong dengan kondisi mengenaskan. Tangannya gemetar dan rantainya masih menggantung dari pergelangan. Bajunya robek. Kulitnya luka luka. Mata membengkak. Tetapi ia masih hidup. Masih bernapas. Masih berusaha.
Suaranya serak dan retak
“Tidak banyak waktu. Dia akan datang. Musik akan berubah. Jika musik berubah jangan bergerak.”
Ezra ingin menolongnya tetapi menteri itu menggeleng keras
“Tidak. Tujuanmu bukan menyelamatkan satu orang. Tujuanmu menyelamatkan negara. Rekaman rekaman. Bukti. Komputer server. Semua ada di ruang terakhir bunker. Jangan percaya apa pun. Jangan percaya siapapun.”
Tiba tiba musik berubah. Nada klasik berubah menjadi lagu ceria yang terdengar seperti lagu parade anak anak. Menteri itu menjerit dan menutup telinganya
“Jangan bergerak. Jangan bergerak. Jangan beri tepuk tangan.”
Ezra membeku di tempat. Lampu merah menyala. Speaker memutar suara anak anak tertawa. Lalu suara langkah kaki banyak orang mendekat dari berbagai arah, cepat, tak seirama, seperti kawanan hewan lapar. Para menteri palsu muncul dari kegelapan dengan kostum panggung yang mewah, tetapi wajah mereka penuh riasan buruk seperti badut pembunuh. Senyum mereka lebar sampai ke telinga dan mata mereka kosong.
Salah satu berteriak sambil tertawa
“Pertunjukan tambahan. Penonton baru. Hebat sekali.”
Yang lain menari sambil mengayunkan pisau berkilat
“Naskah belum selesai sampai ada darah.”
Menteri asli mencoba berteriak
“Lari. Mereka tidak bisa melihat jika musik berhenti.”
Tetapi musik tidak berhenti. Para aktor mendekat makin cepat. Ezra mundur sambil menahan napas. Langkah langkah, gerakan tangan, semuanya berpacu pada satu naluri: bertahan hidup. Dalam detik detik kacau itu Ezra mengambil palu besi dari rak panggung darurat dan memukul tombol panel listrik di dinding. Percikan besar berloncatan dan musik berhenti total.
Para aktor beku seketika di tempat dengan postur aneh, pisau dan senyum menggantung seperti patung berhantu. Sunyi total. Menteri asli menangis, bukan lega, tetapi karena tahu semuanya baru permulaan.
Mereka bergegas menuruni lorong lain. Di akhir lorong terdapat pintu besar bertuliskan
“Ruang Produksi Nasional.”
Minister berbisik
“Rekaman penyiksaan. Rekaman penculikan. Rekaman manipulasi. Semua disimpan untuk konsumsi Aveline sendiri. Ia menontonnya untuk tertawa. Simpan file. Tunjukkan ke dunia. Itu cara menghancurkannya.”
Pintu dibuka. Ruangan itu seperti perpaduan laboratorium, studio film, dan kamar penyiksaan. Layar besar menampilkan klip klip penderitaan menteri asli dari berbagai hari. Di pojok ruangan terdapat kursi kayu dengan bekas darah dan kamera langsung diarahkan ke sana. Di sebelah kursi terletak alat alat penyiksaan bercorak perak yang dipoles bersih seperti koleksi seni. Semuanya tersusun rapi seolah ada estetika tersendiri dalam penderitaan.
Menteri asli mendorong Ezra ke komputer pusat
“Ambil. Cepat. Sebelum musik kembali.”
Ezra menyalakan konsole dan mulai mengunduh semua file. Setiap nama menteri dan setiap tanggal penculikan muncul satu per satu. Soundtrack penderitaan menjadi bukti nyata. Mata menteri itu berkaca kaca, bukan berharap selamat tetapi berharap kebenaran keluar.
Tiba tiba lampu ruangan berkedip. Musik ceria berputar lagi. Pintu bunker tertutup otomatis. Suara tawa Aveline muncul dari speaker
“Penonton favoritku akhirnya turun ke panggung.”
Seluruh ruangan terasa runtuh. Menteri asli memukulkan tubuh ke panel kontrol tetapi terlontar oleh sengatan listrik. Aktor menteri palsu mulai memasuki ruangan dari pintu samping seperti pemain kabaret pembantai. Ezra menarik USB berisi rekaman dan memasukkannya ke dalam saku. Misi berhasil, tapi nyawa terancam.
Menteri asli menatap Ezra untuk terakhir kalinya dan berkata dengan suara terputus putus
“Bawa keluar. Jangan biarkan negara ini jadi panggung selamanya.”
Ia lalu menghalangi pintu dengan tubuhnya sendiri agar Ezra punya waktu kabur. Para aktor menusuk tubuhnya berulang ulang sambil tertawa, dan darahnya menciprati lantai dan wajah para aktor yang tetap tersenyum seperti sedang menikmati slapstick komedi. Pemandangan itu begitu menjijikan sampai otak menolak percaya tetapi mata tetap melihat.
Ezra mengambil kesempatan melarikan diri melalui pintu darurat sempit. Alarm berbunyi. Lampu berkedip merah. Musik semakin keras. Seluruh teater berubah menjadi labirin mimpi buruk. Setiap langkah adalah adu cepat antara nyawa dan kegilaan. Di dekat pintu keluar, poster Presiden Aveline jatuh dari dinding dan menampakkan lubang udara. Ezra masuk tanpa pikir panjang dan merangkak menyusuri terowongan ventilasi gelap dengan napas berat.
Lampu kota terlihat dari celah di ujung terowongan. Pilihan terakhir. Ezra menjatuhkan diri ke gang belakang teater, berguling di tanah, kehabisan napas dan tenaga. Tapi USB tetap tergenggam erat. Misi selesai. Buktinya ada. Satu langkah menuju kebenaran.
Di belakang, gang menggema dengan tawa aktor menteri dan musik parade yang semakin menjauh namun tetap menguntit. Seperti suara iblis yang tidak memerlukan tubuh untuk mengejar. Langit kota menampilkan hologram wajah Aveline dengan senyum yang kini lebih besar dari sebelumnya. Suaranya menggema melalui pengeras suara kota
“Pertunjukan semakin menarik. Penonton mulai ingin bertarung kembali.”
Dan kota tahu.
Pertempuran baru baru saja dimulai.
Other Stories
Kala Kisah Menjadi Cahaya
seorang anak bernama Kala Putri Senja, ia anak yatim piatu sejak bayi dan dibesarkan oleh ...
Ruf Mainen Namen
Lieben .... Hoffe .... Auge .... Traurig .... ...
Hopeless Cries
Merasa kesepian, tetapi sama sekali tidak menginginkan kehadiran seseorang untuk menemanin ...
Mission Escape
Apa yang akan lo lakukan jika Nyokap lo menjadikan lo sebagai ‘bahan gosip’ ke tetangg ...
Jodoh Nyasar Alina
Alina, si sarjana dari Eropa, pulang kampung cuma gara-gara restu Nyak-nya. Nggak bisa ker ...
Melepasmu Untuk Sementara
Menetapkan tujuan adalah langkah pertama mencapai kesuksesanmu. Seperti halnya aku, tahu ...