Bab 7. Ras Aneh Dan Curhat Di Rumah Pak Suroso
Bab 7
Ras Aneh dan Curhat di Rumah Pak Suroso
Hari itu, aku dan Fredy berangkat ke rumah Pak Suroso. Rumahnya nggak jauh beda dengan rumah warisan kakekku. Dari luar, rumahnya megah, gaya kolonial juga... bedanya, halaman depannya penuh tanaman bonsai yang bentuknya aneh-aneh. Ada yang mirip kepala singa, ada yang kayak patung ondel-ondel, ada juga yang entah kenapa mirip bakwan.
Fredy bisik ke aku, "Mas... itu bonsai, apa jajanan pasar?"
Aku cuma melotot sambil nyengir. "Nggak usah banyak nanya. Ini rumah orang sakti, jangan protes dulu."
Kami masuk ruang tamu. Pak Suroso duduk di kursi rotan, sambil minum teh hijau. Mukanya tenang banget, kayak orang habis yoga tiga jam. Di sekeling rumah, pasukan putih, jalan mondar madir. Aku merasa Pak Suroso agak paranoit dengan keselamatannya.
Aku langsung duduk, sambil nyodorin buku catatan kakek.
"Pak... saya mau belajar... soal dunia di balik senjata-senjata ini. Biar nggak kayak ayam mabok pas masuk portal nanti," kataku sambil elus-elus pedang elf.
Pak Suroso manggut-manggut, naruh tehnya.
"Bagus, Handoyo. Kamu harus paham dulu siapa saja yang bisa kamu hadapi. Dunia di balik portal itu... luas, jauh lebih gila dari dunia kita," katanya pelan.
Aku langsung duduk tegap, Fredy juga merhatiin serius. Sesekali melirik suguhan jajanan pasar. Sempat Fredy berbisik. "Itu jajanan pasar apa dari bonsai ya". Aku cuek nggak menggubris.
Pak Suroso buka gulungan kain tua, isinya gambar peta dan catatan ras-ras aneh.
"Di dunia itu," kata Pak Suroso sambil nunjuk gambar, "ada berbagai ras. Misalnya elf. Mereka terbagi lagi jadi elf hutan, elf sungai, elf langit."
Aku langsung nyeletuk.
"Ah! Elf langit! Itu kayak Chintya... calon istri idaman saya!" kataku sambil cengar-cengir.
Fredy langsung lempar bantal ke kepalaku. "Fokus, Mas!"
Pak Suroso lanjut, pura-pura nggak denger ocehanku.
"Selain elf, ada Beastskin, separuh manusia separuh binatang. Biasanya jago berperang dan kuat."
"Waduh... kalau dia marah, nendang pasti kayak ditabrak truk," gumamku.
Pak Suroso senyum tipis.
"Lalu ada orc. Badannya besar, kasar, kuat, tapi tidak terlalu pintar. Biasanya dipakai pasukan sebagai petarung garis depan."
Aku langsung nyatet di buku catatan. "Catat: jangan ngajak orc debat politik," tulisku.
"Lanjut... goblin. Kecil, licik, cepat. Biasanya mereka suka bikin perangkap dan jarah harta."
Aku langsung ngebayangin goblin jadi calo tiket konser.
"Waduh... repot juga," kataku.
"Berikutnya... dragonian, manusia naga. Mereka bisa mengeluarkan api, es atau petir sesuai warna tubuhnya, punya sisik keras, dan sangat agresif."
Aku langsung pucat.
"Lah... ini mah setengah Godzilla!"
"Selain itu ada juga birdfolk atau Beastkin versi burung. manusia bersayap. Bisa terbang, dan terkenal punya penglihatan tajam."
Aku garuk kepala.
"Kalau birdfolk ngelihat kita dari atas, kita kayak semut kecebong dong...," kataku.
Pak Suroso tertawa kecil.
"Ada juga dwarf, pendek, kuat, ahli membuat senjata. Lalu fairy, ras peri kecil yang suka membantu atau menipu tergantung mood. Ada siren atau duyung, terkenal pandai bernyanyi dan menipu pelaut.
Aku langsung mikir keras.
"Berarti... kita harus siap lawan monster-musuh yang kayak gabungan Avatar, Lord of the Rings, sama iklan sabun mandi!"
Fredy tepuk jidat.
"Aku nggak yakin kita ke sana buat liburan, Mas."
Pak Suroso menatap kami serius.
"Dan perlu diingat... tiap ras memiliki suku masing-masing. Misalnya elf: ada elf hutan, elf sungai, elf langit. Dan masing-masing punya keahlian serta sifat yang berbeda."
Aku langsung merinding."Jadi... di sana kita bisa ketemu elf baik, elf marah, elf ngebucin... ah sudahlah."
Pak Suroso menghela napas.
"Benar. Kalian harus mengenali lawan dan kawan. Jangan pernah menilai hanya dari bentuk atau ras. Dunia itu jauh lebih kompleks."
Aku akhirnya duduk lemas, kepala panas kayak rice cooker.
Aku nengok Fredy. "Fred... masih semangat?"
Fredy cengengesan. "Semangat, Mas... tapi rasanya mendadak pengin daftar kuliah sastra aja, daripada lawan naga."
Aku nutup catatan, narik napas panjang.
"Oke... siap. Kita harus hadapi. Yang penting... jangan ada yang ngajak joget di sana," kataku sambil melotot ke Fredy.
Aku resmi sadar. Misi ini bukan cuma selamatin bumi... tapi juga tour keliling kebun binatang fantasy.
Koper Literasi dan Niat Ngelamar Elf
Setelah sejam lebih duduk di ruang tamu, Pak Suroso akhirnya berdiri, masuk ke gudang misteriusnya yang kayak lab rahasia di film-film. Beberapa menit kemudian, dia keluar lagi sambil nenteng satu koper besar, warnanya hitam legam, kelihatan kayak koper agen rahasia FBI.
Pak Suroso naruh koper itu di meja, bunyinya GEDUBRAK, sampai cangkir teh hampir mental.
"Ini... semua catatan yang kubuat selama puluhan tahun. Semua tentang makhluk-makhluk di dunia fantasy," kata Pak Suroso, nadanya berat. "Aku tidak tahu dunia seperti apa yang ada dibalik portal. Yang pasti ini catatan yang pernah ada dan tertulis di dunia kita"
Aku langsung bengong. Fredy udah siap pegang inhaler, takut pingsan duluan. Aku pelan-pelan buka koper itu. Isinya... buku, gulungan naskah, peta aneh, sketsa monster, bahkan ada foto makhluk yang kayak karnafal gagal di event mall.
Aku langsung nutup mulut.
"Waduh... ini sih bukan koper, ini kamus makhluk aneh edisi deluxe!" kataku sambil garuk kepala.
Pak Suroso duduk lagi, menatap kami.
"Kamu harus mempelajari ini semua. Kalau nanti ada makhluk yang lolos ke bumi, setidaknya kalian bisa mengenali, menahan, atau kalau perlu... langsung dieliminasi," katanya tegas.
Aku manggut pelan, sambil mikir keras.
Iya sih... ini penting.
Tapi... di satu sisi, hatiku nggak bisa bohong.
Aku melirik Fredy, sambil bisik pelan.
"Fred... sebenernya... aku nggak berharap kita masuk ke dunia fantasy itu. Serem. Banyak monster, banyak yang bisa bikin kita dadakan jadi sate," kataku sambil elus dada.
Fredy cengengesan.
"Bagus lah, Mas. Akhirnya punya pikiran waras," jawabnya.
Tapi aku langsung sambung, nadaku berubah.
"Tapi... ada satu alasan kenapa hati kecil gue pengen banget masuk... siapa lagi kalo bukan... Chintya," kataku sambil tatapan jauh ke langit-langit rumah.
Fredy langsung lempar bantal ke mukaku. "Astaga! Mas... serius?! Itu ngimpi mas. Ngimpi orang kecapean saat latihan"
Aku ketawa sambil elus pedang elf.
"Iya... siapa tau aku bisa lamar Chintya di sana. Kalau diterima, alhamdulillah... kalau ditolak atau dibelah dua... ya setidaknya mati dalam perjuangan cinta," kataku dramatis sambil kibas rambut.
Fredy cuma geleng-geleng, udah pasrah sama kelakuanku.
"Mas... kalau kamu dibelah dua, saya nggak mau jahitin," katanya datar.
Aku langsung ngakak sambil angkat tangan.
"Tenang, Fred... kalau aku dibelah, bagian kepala serahkan ke Surabaya, bagian kaki kirim ke Jerman. Biar internasional," kataku sambil ketawa sendiri.
Pak Suroso menatap kami lama, sambil geleng-geleng.
"Yah... semoga kalian bisa bertahan. Yang penting, ingat tugas utama kalian: jangan sampai ada makhluk yang keluar ke bumi," katanya sambil menepuk koper.
Aku angkat koper itu sambil mikir.
"Koper ini berat... tapi lebih berat lagi beban jomblo di umur 35," gumamku sambil jalan ke luar.
Dan malam itu. Aku resmi bawa koper literasi monster, plus mimpi gila buat ngelamar cewek elf kuping lancip yang baru ketemu di mimpi.
Sungguh... hidupku makin mirip sinetron kehabisan plot.
Ras Aneh dan Curhat di Rumah Pak Suroso
Hari itu, aku dan Fredy berangkat ke rumah Pak Suroso. Rumahnya nggak jauh beda dengan rumah warisan kakekku. Dari luar, rumahnya megah, gaya kolonial juga... bedanya, halaman depannya penuh tanaman bonsai yang bentuknya aneh-aneh. Ada yang mirip kepala singa, ada yang kayak patung ondel-ondel, ada juga yang entah kenapa mirip bakwan.
Fredy bisik ke aku, "Mas... itu bonsai, apa jajanan pasar?"
Aku cuma melotot sambil nyengir. "Nggak usah banyak nanya. Ini rumah orang sakti, jangan protes dulu."
Kami masuk ruang tamu. Pak Suroso duduk di kursi rotan, sambil minum teh hijau. Mukanya tenang banget, kayak orang habis yoga tiga jam. Di sekeling rumah, pasukan putih, jalan mondar madir. Aku merasa Pak Suroso agak paranoit dengan keselamatannya.
Aku langsung duduk, sambil nyodorin buku catatan kakek.
"Pak... saya mau belajar... soal dunia di balik senjata-senjata ini. Biar nggak kayak ayam mabok pas masuk portal nanti," kataku sambil elus-elus pedang elf.
Pak Suroso manggut-manggut, naruh tehnya.
"Bagus, Handoyo. Kamu harus paham dulu siapa saja yang bisa kamu hadapi. Dunia di balik portal itu... luas, jauh lebih gila dari dunia kita," katanya pelan.
Aku langsung duduk tegap, Fredy juga merhatiin serius. Sesekali melirik suguhan jajanan pasar. Sempat Fredy berbisik. "Itu jajanan pasar apa dari bonsai ya". Aku cuek nggak menggubris.
Pak Suroso buka gulungan kain tua, isinya gambar peta dan catatan ras-ras aneh.
"Di dunia itu," kata Pak Suroso sambil nunjuk gambar, "ada berbagai ras. Misalnya elf. Mereka terbagi lagi jadi elf hutan, elf sungai, elf langit."
Aku langsung nyeletuk.
"Ah! Elf langit! Itu kayak Chintya... calon istri idaman saya!" kataku sambil cengar-cengir.
Fredy langsung lempar bantal ke kepalaku. "Fokus, Mas!"
Pak Suroso lanjut, pura-pura nggak denger ocehanku.
"Selain elf, ada Beastskin, separuh manusia separuh binatang. Biasanya jago berperang dan kuat."
"Waduh... kalau dia marah, nendang pasti kayak ditabrak truk," gumamku.
Pak Suroso senyum tipis.
"Lalu ada orc. Badannya besar, kasar, kuat, tapi tidak terlalu pintar. Biasanya dipakai pasukan sebagai petarung garis depan."
Aku langsung nyatet di buku catatan. "Catat: jangan ngajak orc debat politik," tulisku.
"Lanjut... goblin. Kecil, licik, cepat. Biasanya mereka suka bikin perangkap dan jarah harta."
Aku langsung ngebayangin goblin jadi calo tiket konser.
"Waduh... repot juga," kataku.
"Berikutnya... dragonian, manusia naga. Mereka bisa mengeluarkan api, es atau petir sesuai warna tubuhnya, punya sisik keras, dan sangat agresif."
Aku langsung pucat.
"Lah... ini mah setengah Godzilla!"
"Selain itu ada juga birdfolk atau Beastkin versi burung. manusia bersayap. Bisa terbang, dan terkenal punya penglihatan tajam."
Aku garuk kepala.
"Kalau birdfolk ngelihat kita dari atas, kita kayak semut kecebong dong...," kataku.
Pak Suroso tertawa kecil.
"Ada juga dwarf, pendek, kuat, ahli membuat senjata. Lalu fairy, ras peri kecil yang suka membantu atau menipu tergantung mood. Ada siren atau duyung, terkenal pandai bernyanyi dan menipu pelaut.
Aku langsung mikir keras.
"Berarti... kita harus siap lawan monster-musuh yang kayak gabungan Avatar, Lord of the Rings, sama iklan sabun mandi!"
Fredy tepuk jidat.
"Aku nggak yakin kita ke sana buat liburan, Mas."
Pak Suroso menatap kami serius.
"Dan perlu diingat... tiap ras memiliki suku masing-masing. Misalnya elf: ada elf hutan, elf sungai, elf langit. Dan masing-masing punya keahlian serta sifat yang berbeda."
Aku langsung merinding."Jadi... di sana kita bisa ketemu elf baik, elf marah, elf ngebucin... ah sudahlah."
Pak Suroso menghela napas.
"Benar. Kalian harus mengenali lawan dan kawan. Jangan pernah menilai hanya dari bentuk atau ras. Dunia itu jauh lebih kompleks."
Aku akhirnya duduk lemas, kepala panas kayak rice cooker.
Aku nengok Fredy. "Fred... masih semangat?"
Fredy cengengesan. "Semangat, Mas... tapi rasanya mendadak pengin daftar kuliah sastra aja, daripada lawan naga."
Aku nutup catatan, narik napas panjang.
"Oke... siap. Kita harus hadapi. Yang penting... jangan ada yang ngajak joget di sana," kataku sambil melotot ke Fredy.
Aku resmi sadar. Misi ini bukan cuma selamatin bumi... tapi juga tour keliling kebun binatang fantasy.
Koper Literasi dan Niat Ngelamar Elf
Setelah sejam lebih duduk di ruang tamu, Pak Suroso akhirnya berdiri, masuk ke gudang misteriusnya yang kayak lab rahasia di film-film. Beberapa menit kemudian, dia keluar lagi sambil nenteng satu koper besar, warnanya hitam legam, kelihatan kayak koper agen rahasia FBI.
Pak Suroso naruh koper itu di meja, bunyinya GEDUBRAK, sampai cangkir teh hampir mental.
"Ini... semua catatan yang kubuat selama puluhan tahun. Semua tentang makhluk-makhluk di dunia fantasy," kata Pak Suroso, nadanya berat. "Aku tidak tahu dunia seperti apa yang ada dibalik portal. Yang pasti ini catatan yang pernah ada dan tertulis di dunia kita"
Aku langsung bengong. Fredy udah siap pegang inhaler, takut pingsan duluan. Aku pelan-pelan buka koper itu. Isinya... buku, gulungan naskah, peta aneh, sketsa monster, bahkan ada foto makhluk yang kayak karnafal gagal di event mall.
Aku langsung nutup mulut.
"Waduh... ini sih bukan koper, ini kamus makhluk aneh edisi deluxe!" kataku sambil garuk kepala.
Pak Suroso duduk lagi, menatap kami.
"Kamu harus mempelajari ini semua. Kalau nanti ada makhluk yang lolos ke bumi, setidaknya kalian bisa mengenali, menahan, atau kalau perlu... langsung dieliminasi," katanya tegas.
Aku manggut pelan, sambil mikir keras.
Iya sih... ini penting.
Tapi... di satu sisi, hatiku nggak bisa bohong.
Aku melirik Fredy, sambil bisik pelan.
"Fred... sebenernya... aku nggak berharap kita masuk ke dunia fantasy itu. Serem. Banyak monster, banyak yang bisa bikin kita dadakan jadi sate," kataku sambil elus dada.
Fredy cengengesan.
"Bagus lah, Mas. Akhirnya punya pikiran waras," jawabnya.
Tapi aku langsung sambung, nadaku berubah.
"Tapi... ada satu alasan kenapa hati kecil gue pengen banget masuk... siapa lagi kalo bukan... Chintya," kataku sambil tatapan jauh ke langit-langit rumah.
Fredy langsung lempar bantal ke mukaku. "Astaga! Mas... serius?! Itu ngimpi mas. Ngimpi orang kecapean saat latihan"
Aku ketawa sambil elus pedang elf.
"Iya... siapa tau aku bisa lamar Chintya di sana. Kalau diterima, alhamdulillah... kalau ditolak atau dibelah dua... ya setidaknya mati dalam perjuangan cinta," kataku dramatis sambil kibas rambut.
Fredy cuma geleng-geleng, udah pasrah sama kelakuanku.
"Mas... kalau kamu dibelah dua, saya nggak mau jahitin," katanya datar.
Aku langsung ngakak sambil angkat tangan.
"Tenang, Fred... kalau aku dibelah, bagian kepala serahkan ke Surabaya, bagian kaki kirim ke Jerman. Biar internasional," kataku sambil ketawa sendiri.
Pak Suroso menatap kami lama, sambil geleng-geleng.
"Yah... semoga kalian bisa bertahan. Yang penting, ingat tugas utama kalian: jangan sampai ada makhluk yang keluar ke bumi," katanya sambil menepuk koper.
Aku angkat koper itu sambil mikir.
"Koper ini berat... tapi lebih berat lagi beban jomblo di umur 35," gumamku sambil jalan ke luar.
Dan malam itu. Aku resmi bawa koper literasi monster, plus mimpi gila buat ngelamar cewek elf kuping lancip yang baru ketemu di mimpi.
Sungguh... hidupku makin mirip sinetron kehabisan plot.
Other Stories
November Kelabu
Veya hanya butuh pengakuan, sepercik perhatian, dan seulas senyum dari orang yang seharusn ...
Pada Langit Yang Tak Berbintang
Langit memendam cinta pada Kirana, sahabatnya, tapi justru membantu Kirana berpacaran deng ...
Pahlawan Revolusi
tes upload cerita jgn di publish ...
Tersesat
Tak dipungkiri, Qiran memang suka hal-hal baru. Dia suka mencari apa pun yang sekiranya bi ...
Bungkusan Rindu
Setelah kehilangan suami tercintanya karena ganasnya gelombang laut, Anara kembali menerim ...
Queen, The Last Dance
Di panggung megah, di tengah sorak sorai penonton yang mengelu-elukan namanya, ada air mat ...