Bab 17 – Kota Stromcoast
Bab 17 – Kota Stromcoast
Kami akhirnya tiba di gerbang kota Stromcoast. Dari kejauhan, kota ini tampak seperti pertemuan antara arsitektur manusia, ukiran elf, benteng dwarf, dan dekorasi naga—eh, bukan. Yang terakhir itu cuma atap rumah berornamen sisik dan patung kepala naga di gerbang. Ngeri-ngeri lucu.
Di gerbang kota, kami disambut para penjaga dari ras yang berbeda. Ada manusia, ada yang telinganya lancip, kulitnya gelap kebiruan, dan satu lagi punya kepala seperti singa tapi badannya kekar seperti bodybuilder gym sore.
"Selamat datang di Stromcoast," kata penjaga manusia. "Silakan masuk. Tapi ingat, di kota ini semua ras sederajat. Tidak boleh merasa lebih tinggi dari yang lain."
Aku langsung bisik ke Fredy.
"Berarti nggak boleh sombong karena punya masa sejuta ya? kayak wakil rakyat?"
Fredy mengangguk serius.
Stromcoast ternyata kota yang... unik. Jalan-jalan besar dihias lampu sihir, kios-kios menjual makanan aneh seperti sate jamur api dan jus embun pagi. Di sudut kota, kulihat ada elf berdiskusi dengan dwarf, dan manusia sedang berdagang dengan ras reptilian bersisik merah.
Semua ras hidup berdampingan, dengan satu prinsip: kesetaraan dan toleransi. Tidak ada yang boleh mengaku rasnya paling hebat. Kalau ada yang sok—langsung diciduk penjaga kota. Dimasukkan ke penjara, dikasih ceramah multikultural selama 40 jam tanpa jeda.
Saat kami sampai di pusat kota, kami melihat kapak legendaris tertancap di batu besar. Di sana ada papan bertuliskan:
"Hanya raja sejati yang bisa mencabut kapak ini.
Yang memimpin dengan kekuatan hati, bukan hanya otot."
Dan di depan kapak itu berdiri seorang pria gagah berambut perak—Raja Arthur Stoneaxe.
Chintya memberi isyarat untuk hormat, dan kami semua membungkuk sedikit.
Arthur menatap kami dan tersenyum ramah.
“Selamat datang, para petualang. Stromcoast selalu membuka gerbangnya untuk para pembawa harapan… dan berita buruk.”
Aku reflek jawab, “Kami bawa dua-duanya, Yang Mulia.”
Arthur tertawa kecil. “Kalau begitu, mari duduk dan bicara.”
Dan dengan begitu, petualangan kami masuk ke babak baru—politik, aliansi, dan mungkin... percikan cinta di tengah kebhinekaan ras.
Ramalan dan Tugas Besar
Suasana aula kerajaan Stromcoast terasa berat. Langit di luar mendung, dan angin dari lautan utara menerpa jendela kaca berbingkai baja seperti sedang ikut menyampaikan firasat buruk. Kami berdiri di barisan belakang, bersama perwakilan ras lainnya. Ada manusia bertubuh tinggi dengan jubah keemasan, ras beastkin dengan telinga serigala dan mata tajam, hingga ras kecil berkulit hijau yang dikenal sebagai grellin—ahli ramuan dan intelijen.
Raja Arthur Stoneaxe duduk di singgasananya. Sosok besar berjanggut perak itu tampak tenang, namun matanya tajam seperti baja kapak yang ia pegang.
"Ramalan para penjaga waktu dari Ras Lumina telah disampaikan," ujar seorang penatua elf berjubah ungu yang duduk di kursi perak di sisi kanan raja. "Tiga bulan lalu, naga raksasa bermata emas terbang melintasi langit dan menuju Greatspire. Itu adalah tanda kebangkitan. Dan seperti yang kalian tahu, kebangkitan itu berarti... Perang Tiga Darah."
Seluruh ruangan diam.
Aku mengernyit. "Perang Tiga Darah? Kayak nama band metal."
Chintya menoleh padaku dan mencubit pelan.
“Perang Tiga Darah,” lanjut penatua itu, “adalah perang besar yang melibatkan tiga bangsa utama—Elf Purba, Dwarf Besi, dan Dragonian. Jika mereka bertarung lagi… dunia ini bisa pecah seperti zaman kejatuhan dulu.”
Kemudian, pemimpin ras beastkin, seorang wanita dengan surai seperti singa, berdiri. “Kami dari Tanah Selatan siap bergabung. Tapi kami butuh jaminan. Siapa pemilik pedang Perobek Portal itu sekarang?”
Semua mata mengarah ke… aku.
Aku yang tadinya mengunyah biskuit ikan asin dari kantong ransel langsung nyaris keselek. “Hah? Aku?”
Fredy, Dedy, Agus, dan yang lain menepuk jidat serempak.
Chintya maju. “Benar. Anak manusia ini pemiliknya sekarang. Pedang itu telah memilihnya.”
Seketika ruangan jadi gaduh. Ada yang berdiri, ada yang berbisik, bahkan beberapa beastkin tampak marah.
“Pedang yang bisa membuka jalan antar dunia diberikan pada… manusia dari dunia luar?!” seru seorang dwarf tua dengan palu di punggung.
Aku maju selangkah. "Ehem, saya memang bukan siapa-siapa. Tapi saya punya mimpi. Dan cinta."
Semua diam.
"Dan… sedikit keberanian. Sisanya… mungkin kebodohan."
Tiba-tiba raja Arthur tertawa. “Itu yang dunia ini butuhkan. Keberanian... dan kebodohan.”
Ia berdiri, menarik kapak dari batu di samping singgasana—kapak legendaris Stoneaxe. Cahaya biru menyala dari sisi bilahnya.
“Kalau kau benar-benar pemilik pedang itu, maka kita harus mempercayaimu. Dan kau harus melakukan satu hal…”
Aku meneguk ludah. “Apa itu?”
“Naik ke Greatspire. Cari tahu mengapa naga itu terbang ke sana. Dan kalau bisa, hindari perang sebelum dimulai.”
Aku mengangguk. Sambil tetap mikir... "Naik gunung? Nggak ada ojek, ya?"
Pengakuan dan Tekad
Ruangan kembali sunyi saat aku melangkah maju. Lampu kristal di langit-langit aula memantulkan bayanganku di lantai marmer.
“Maaf… aku cuma ingin menambahkan sesuatu,” kataku pelan, tapi cukup terdengar oleh semua yang hadir. “Tentang naga yang kalian sebut tadi…”
Beberapa petinggi ras mendongak. Raja Arthur mengangguk mempersilakan.
“Naga itu… sudah menjadi abu saat hendak keluar dari portal. Kami berusaha menutupnya. Aku… aku bahkan tidak sempat melihat wujud utuhnya. Yang tersisa hanya teriakan dan... serpihan abu yang beterbangan.”
Seluruh ruangan terdiam. Bahkan bebek tungganganku yang tadi meringkuk di pojokan aula ikut diam. Kwek pun tak ada.
“Kau… menghentikan seekor naga dari keluar ke dunia ini?” tanya salah satu beastkin berkepala serigala.
“Ehm… ya. Tapi sejujurnya aku juga nggak tahu kenapa dia jadi abu. Bisa jadi karena tekanan portal, atau mungkin... efek pedangnya.” Aku mengangkat pedang itu pelan. Pedang yang kini tergantung di punggungku, nyaris tak pernah kutarik. “Yang jelas, aku bukan pahlawan. Aku hanya orang yang kebetulan terlempar ke dunia kalian. Dan tujuan utamaku… cuma satu.”
Aku menatap mereka satu per satu. Mata manusia, beastkin, grellin, dan elf memandangku dengan campuran penasaran dan hormat.
“Aku ingin pulang ke duniaku. Itu saja. Aku tidak datang untuk mencari kemuliaan atau kuasa. Tapi…” aku menoleh pada Chintya yang berdiri di sampingku, lalu kembali ke Raja Arthur, “…kalau keberadaan pedang ini bisa membawa perang, maka aku akan membantu mencegahnya. Aku akan ikut bertarung—untuk dunia ini, demi menjaga harapan.”
Suara gemuruh memenuhi ruangan. Para perwakilan ras mulai berdiri dan bertepuk tangan. Beberapa beastkin bahkan memukul dadanya sebagai tanda hormat. Dwarf tua yang tadi menggerutu kini tersenyum tipis.
“Jarang ada manusia yang bicara dengan jujur di ruangan ini,” kata Raja Arthur sambil tertawa. “Kau tidak hanya membawa pedang... kau membawa harapan.”
Fredy di belakangku berbisik, “Harapan yang kadang bego, tapi ya sudahlah.”
Dedy menambahkan, “Yang penting bisa motong naga jadi abu.”
Aku menoleh, “Nggak aku motong juga sih, lebih ke... dia motong dirinya sendiri.”
Mereka tertawa pelan.
Raja Arthur mengangkat tangan. “Baiklah. Maka mulai hari ini, kalian bukan hanya pengembara. Tapi utusan Stromcoast. Dan misi pertama kalian… mendaki Gunung Greatspire.”
Aku hanya bisa mengangguk. Dalam hati, perasaanku campur aduk. Antara takut, deg-degan, dan... penasaran kenapa Chintya dari tadi tersenyum kecil tiap aku bicara.
Mungkin... mungkin ada satu alasan lagi untuk tetap tinggal di dunia ini sedikit lebih lama.
Misi Darah Naga
Raja Arthur menurunkan kapak besinya perlahan ke lantai. Suaranya menggema seperti petir mengguncang batu.
"Gunung Greatspire… adalah kunci," katanya sambil menatap kami satu per satu. "Dan kau, Anak Dunia Lain, harus ke sana lagi."
Aku langsung ngedrop. "Lah, lagi? Udah pernah ke sana tuh kaki. Mana hampir mati disedot portal. Sekarang disuruh balik?"
Raja Arthur tersenyum tipis. "Setiap kali seekor naga mati, akan muncul sebongkah batu merah yang kami sebut Dragonblood Core—darah naga. Batu itu menyimpan kekuatan luar biasa. Tapi hanya bisa dilihat… dan diambil… oleh pembunuh sang naga."
Aku langsung nyengir pahit. "Berarti… saya?"
"Ya," jawabnya tegas.
Aku menghela napas panjang. Fredy dari belakang nyeletuk, “Wah, selamat ya. Kamu resmi jadi ojek darah naga.”
Agus menimpali, “Ambil, terus bikin batu akik naga. Laris.”
“Ngimpi,” sahut Dina. “Itu batu bisa dipakai buat bikin senjata kerajaan. Kekuatannya bisa mengimbangi kekuatan ras Dragonian.”
Raja Arthur kemudian berdiri dan menatap peta besar yang terbentang di meja batu di tengah aula. "Kami akan mempersiapkan pasukan. Tapi kami butuh waktu. Sementara itu, kalian pergi ke Greatspire. Ambil batu itu. Karena jika ramalan benar, kekuatan dari Dragonblood Core akan jadi penentu nasib kita semua."
Dedy mengangkat tangannya. “Terus kita naik apa, Yang Mulia? Ojek naga?”
Arthur tersenyum. “Kami akan memberi kalian tunggangan terbaik dari istal kerajaan. Kuda terbang, griffin, atau kalau kau suka… bebek raksasa.”
Semua menatapku.
“Jangan-jangan bebek yang kemarin udah nunggu,” kata Agus pelan.
Aku tutup muka. “Astaga. Bebek itu kayak mantan yang belum move on.”
Chintya menahan senyum. “Bebek itu setia, loh.”
“Setia cerewet,” sahutku cepat. “Tiap jalan kwek kwek kwek kayak komentator bola.”
Namun di tengah candaan dan keluhan, aku tahu ini bukan misi biasa. Ini bisa jadi awal dari sesuatu yang lebih besar.
Dan meskipun aku ogah-ogahan, dalam hati kecilku… ada bagian dari diriku yang merasa siap.
Siap untuk kembali ke tempat itu.
Siap untuk menghadapi apa pun yang menunggu di Gunung Greatspire.
Siap—karena mungkin, untuk pertama kalinya dalam hidup, aku punya sesuatu yang layak untuk diperjuangkan.
Dan ya… mungkin juga karena aku mulai suka senyumnya Chintya.
Other Stories
Suara Cinta Gadis Bisu
Suara cambukan menggema di mansion mewah itu, menusuk hingga ke relung hati seorang gadis ...
Deru Suara Kagum
Perlahan keadaan mulai berubah. Pertemuan-pertemuan sederhana, duduk berdekatan , atau sek ...
Akibat Salah Gaul
Nien, gadis desa penerima beasiswa di sekolah elite Jakarta, kerap dibully hingga dihadapk ...
Air Susu Dibalas Madu
Nawasena adalah anak dari keluarga yang miskin. Ia memiliki cita-cita yang menurut orang-o ...
November Kelabu
Veya hanya butuh pengakuan, sepercik perhatian, dan seulas senyum dari orang yang seharusn ...
Nestapa
Masa kecil Zaskia kurang bahagia, karena kedua orangtua memilih bercerai. Ayahnya langsung ...