DARAH NAGA

Reads
2.3K
Votes
0
Parts
27
Vote
Report
Penulis Dwi Nurcahyono

Bab 9. Kepala Naga, Peluru, Dan Fredy Yang Masih Ngapalin

Bab 9

Kepala Naga, Peluru, dan Fredy yang Masih Ngapalin

3 Januari 1990.

Pukul 05.30 tepat.

Langit Laut Jawa masih setengah gelap, angin dingin, kabut tipis kayak kuah bakso.

Aku?

Ngantuk berat. Udah kayak guling empuk rasanya, tapi harus tetap melek.

Dina dan Agus? Seger banget. Dina sambil stretching, Agus sambil latihan narik busur kayak mau olimpiade.

Fredy?

Mukanya udah mirip kertas buram. Dia masih pegang kamus absurd bikinan Albert, mulutnya komat-kamit, "Asinan Mang Ucup... bom sate... cumi ninja..."

Aku tepuk pundak Fredy sambil nguap. "Fred... kalau kamu hafal semua, nanti tak traktir bakso sekapal," kataku sambil ketawa setengah sadar.

Tiba-tiba...

WEEEENG WEEEENG WEEEENG!

Sirine di kapal Pak Suroso meraung kencang. Bunyi yang bikin bulu kuduk naik kayak harga cabai pas Lebaran.

Kami semua langsung lari ke dek, senjata di tangan.

Aku pegang pedang elf, Dina bawa belati, Agus udah siapkan busur elf, Fredy nyeret tas dwarf sambil masih komat-kamit.

Dedy udah pasang perisai, berdiri paling depan kayak garda satpam kondangan.

Albert? Dia bawa helm lele nyetrum. Entah mau diapain.

Kami menatap portal yang sekarang udah robek memanjang sampai 3 meter, dan masih terus koyak, kayak sobekan celana anak kecil jatuh dari sepeda.

Lalu...

Keluar... kepala naga.

Segede kepala truk kontainer.

Mata merah menyala, nafasnya berasap kayak knalpot bis tua. Badannya masih tertahan di portal, kelihatan meronta.

Aku menelan ludah. "Astaga... ini kalau batuk, satu kapal bisa hilang!" kataku sambil mundur dua langkah.

Tanpa aba-aba, sepuluh kapal di sekitar kami langsung melepaskan hujan peluru.

DAK DAK DAK DAK!

Suara senapan berat, meriam, semua nembak ke arah kepala naga itu.

Tapi...

Kulitnya keras banget. Peluru mental kayak dilempar ke wajan.

Pak Suroso teriak di radio kapal. "Semua! Siapkan bom! Fokus di mata dan mulut!"

Kami langsung ganti taktik. Bom asap, bom fragmentasi, bahkan bom aroma sate cak suro keluaran Fredy dikeluarin. Fredy sambil panik, "Cumi ninja! Eh... bom sate! Aduh, lupa lagi! Bom granat model SDF!"

Akhirnya keluar juga granat yang benar. Fredy lempar ke arah mulut naga.

BOOM!

Suara ledakan besar, naga mengaum keras.

Dina lompat ke samping, Agus menembak panah elf. Panah itu langsung berubah jadi akar, nancep di mata naga, melilit keras.

Naga makin marah, badannya bergetar.

Aku maju, pegang pedang elf sambil mikir emosi: Dompet kecopetan, Fredy kepleset sabun, Chintya nikah sama orc...

Langsung pedang jadi tajam super enteng. Aku tebas lidah naga yang keluar sedikit.

SYUT!

Lidah putus, naga jerit panjang.

Air laut berombak, kapal goyang hebat. Albert jatuh sambil pakai helm lele, untung nggak kesetrum.

Kami semua terengah-engah.

Portal masih terbuka, tapi kepala naga mundur, nahan luka. Beberapa kapal hampir karam. Di udara, bau mesiu, asap, dan... entah kenapa ada aroma sate cak suro.

Aku lihat Fredy duduk lemes, kamus di pangkuan, napas megap-megap.

"Mas... ini buku... aku hapal sampai huruf F... abis ini, terserah nasib..." katanya sambil ketawa miris.

Aku tepuk pundaknya.

"Fred... setidaknya kamu udah usaha. Yang penting, jangan sampai keluar nasi goreng dari tas di saat genting."

Kami semua tertawa, meskipun badan gemetar. Tapi kami tahu... ini baru permulaan.

Retakan itu belum sepenuhnya tertutup. Dan... mungkin masih banyak makhluk lain yang akan muncul.

Aku genggam pedang erat, menatap langit.

"Chintya... tunggu aku. Jangan dulu nikah sama naga langit ya," gumamku.

Loncat Gila, Pedang di Mata, dan Portal yang Melahap

Kepala naga akhirnya mundur. Kami semua bernapas lega, setengah ambruk di dek kapal. Pak Dedy langsung maju dengan sekoci, perisai elf-nya berubah, menumbuhkan akar-akar besar, kayak benalu. Akar itu langsung nutup celah portal.

Aku tepuk dada, "Wah... akhirnya bisa istirahat. Mau makan mie dulu, ah," gumamku.

Fredy jatuh terduduk, masih melototin kamus absurdnya.

Agus dan Dina saling jaga, Albert duduk sambil makan biskuit sambil pegang helm lele kesayangan.

Tiba-tiba...

BRAAAAAAARRRR!

Dari sela-sela akar, semburan api keluar!

Akar langsung kebakar, bau kayak sate kambing gosong. Kami semua kaget, mataku hampir copot saking kagetnya.

"INI NGGAK ADA DI SOP KAMI!!" teriakku.

Dari balik akar yang kebakar itu...

DUUUUUAAAARR!

Kepala naga nongol lagi! Matanya makin merah, napasnya makin panas, kayak hair dryer level iblis.

Pak Dedy kaget, terpental ke belakang. Bersama sekocinya

Api naga hampir nyamber!

Tiba-tiba... WUUUUSSS!

Dina melesat di atas air, belatinya berkilau. Dia berhasil nyelametin Pak Dedy pas banget sebelum kebakar.

Aku melongo. "Astaga... Dina bisa jalan di air?! Ini ninja mode on?!" kataku sambil nyari kamera candid.

Dina mendarat, narik Pak Dedy ke kapal. Agus langsung cover dengan tembakan busur elf, panah berubah jadi akar, berusaha ikat leher naga.

Sementara itu, kami semua kembali bombardir. Peluru, bom, bahkan Fredy sampai nekat coba panggil bom sate cak suro lagi.

Aku?

Panik setengah mati.

Otakku kacau.

Emosi campur aduk.

Aku mikir Chintya, duit di dompet, mantan, hutang kos di Jerman...

Semua numpuk!

Dan tiba-tiba...

Aku NEKAT.

Aku loncat.

IYA, LONCAT.

Dari kapal ke arah kepala naga, jaraknya... sekitar 50 meter!

Aku sendiri nggak paham kenapa. Mungkin efek pedang elf, mungkin efek bakso semalam.

Tiba-tiba, badanku melayang. Angin ngebut di kuping, aku hampir kencing saking takutnya.

Aku teriak sambil bawa pedang elf:

"WOOOOOOOYYYYYYYYYY!!!"

Dan... DUAAAAAK!

Aku mendarat di atas moncong naga.

Sakit? Iya.

Keren? GILA, IYA BANGET.

Aku genggam pedang erat, pikiranku cuma satu: Pokoknya tusuk!

Aku tancapkan pedang elf tepat di tengah antara kedua mata naga.

SYUUUUUT!

Naga mengaum panjang, kepalanya mundur. Matanya melotot, nafas makin keras. Badannya goyang, aku hampir jatuh ke air.

Tapi naga malah mundur ke portal...

Dan...

Aku...

TERSERET MASUK!

Aku sempat nengok ke belakang. Kulihat beberapa kapal di belakang ikut tersedot. Orang-orang panik, kapal miring, asap di mana-mana.

Lalu...

BLUUUUUUUR!

Semuanya gelap.

Aku pingsan.

Terakhir aku ingat, aku teriak dalam hati:

Chintya... tunggu aku...

Lereng Gunung, Kapal Nyangkut, dan Dunia Baru

Aku pelan-pelan buka mata. Kepalaku pusing kayak abis muter-muter di wahana komidi putar sambil makan duren. Kulitku perih, napas berat, dan... bau rumput?!

"Mas... MAS!! Bangun, Mas!!" Suara Fredy.

Kenceng banget, kayak toa masjid pas subuh.

Aku melek, lihat Fredy goyang-goyang pundakku. Mukanya kusut, rambutnya acak-acakan kayak sapu ijuk habis dipake ngepel sawah.

Aku grogi, "Fred... kita di mana? Aku... aku mimpi kan? Ini lagi di Surabaya? Atau di mall?"

Fredy geleng-geleng, napasnya berat. "Mas... kita... kita kesedot! Kita bener-bener masuk ke dunia fantasi itu!!"

Aku langsung duduk, reflek lihat sekitar. Rumput tinggi, pohon gede, langit biru aneh, ada dua matahari kecil nongol di sudut.

Lereng gunung tinggi banget, di kejauhan ada kabut tebal.Burung warna ungu terbang sambil bawa buah. Kadal raksasa seliweran santai, kayak joget.

Aku makin melongo. "Fred... serius ini? Dunia fantasi? Ini bukan studio Hollywood kan?"

Fredy tepuk jidat. "Mas... liat ke sana tuh!" katanya sambil nunjuk ke belakang.

Aku nengok...

Astaga.

TIGA KAPAL!

Iya, kapal yang kemarin di laut Jawa, sekarang nyangkut di lereng gunung!

Kayak odong-odong nyasar ke gunung Bromo.

Kapal miring, ada yang nancep di tanah, ada yang nempel di bebatuan.

Anak buah kapal pada keluar, jatuh-jatuhan, ada yang muntah, ada yang foto foto.

Fredy garuk kepala. "Naga itu... entah kemana. Terakhir kelihatan kebakar kayak sate tumpuk, terus ilang. Mungkin jadi abu di portal. Portal juga udah ilang, nutup sendiri."

Aku merinding, elus pedang elf di pinggang. "Astaga... kita bener-bener di dunia fantasy. Ini rasanya kayak novel lord of the ring"

Fredy cuma bisa menghela napas.

"Yang jelas, kita di sini... dan portal nggak bisa balik. Mau nggak mau, kita harus bertahan. Tiga kapal, orang-orang kita, senjata, semua udah di sini."

Aku berdiri, lihat ke langit. Angin gunung sejuk, aroma bunga aneh kayak perpaduan lavender sama kecap manis.

Aku senyum kecut. "Yaudah lah... lagian aku juga punya misi lain... nyari Chintya...," kataku pelan sambil melamun.

Fredy cuma geleng-geleng sambil buka kamus tas dwarf. "Mau dunia mana pun, kamus ini tetep bikin pusing," katanya sambil ketawa miris.

Aku tarik napas dalam-dalam, tepuk pundak Fredy. "Yuk, Fred... kita bangunin yang lain. Kita bikin markas. Siapa tahu di sini ada Indomie rasa elf."

Dan kami pun mulai menata langkah di tanah asing, tanah yang bakal jadi awal petualangan paling gila seumur hidup kami.



Other Stories
Bahagiakan Ibu

Ibu Faiz merasakan ketenteraman dan kebahagiaan mendalam ketika menyaksikan putranya mampu ...

Dante Fairy Tale

“Dante! Ayo bangun, Sayang. Kamu bisa terlambat ke sekolah!” kata seorang wanita gemu ...

Mereka Yang Tak Terlihat

Saras, anak indigo yang tak dipahami ibunya, hidup dalam pertentangan dan kehilangan. Saat ...

Melepasmu Untuk Sementara

Menetapkan tujuan adalah langkah pertama mencapai kesuksesanmu. Seperti halnya aku, tahu ...

Reuni

Kutukan Kastil Piano membuat cinta Selina berbalik jadi kebencian, hingga akhirnya ia mema ...

Melupakan

Agatha Zahra gadis jangkung berwajah manis tengah memandang hujan dari balik kaca kamarn ...

Download Titik & Koma