Bab 20: Kepulauan Naga
Bab 20: Kepulauan Naga
Kami terbang ke selatan menuju Kepulauan Naga. Udara di atas lautan terasa lembab dan pekat oleh kabut sihir yang entah datang dari mana. Fredy terdiam, Chintya tegang, dan aku… ya seperti biasa, sibuk berdebat sama bebekku yang nggak berhenti ngoceh soal arah angin yang bikin bulunya kering sebelah.
Begitu kami mendekat ke wilayah Kepulauan Naga, pemandangan berubah drastis. Langit dipenuhi siluet-siluet besar bersayap. Naga-naga. Ada yang melayang malas di udara, ada yang bertengger di dinding-dinding tebing menjulang tinggi, dan beberapa malah terlihat berenang di laut seperti buaya terbang.
Lalu, dari balik awan, muncul seekor naga kecil. Ukurannya kira-kira sebesar kambing. Tapi bukan kambing biasa, lebih mirip kambing yang sempat kulihat di desa yang doyan nabrak motor. Bedanya, yang ini bisa ngomong.
“Hei, siapa kalian?!” teriaknya dengan suara cempreng yang agak nggak matching sama sosoknya.
Aku reflek menjawab, “Kami datang dengan damai! Nggak bawa permusuhan, cuma bawa bebek cerewet dan satu batu darah naga!”
Naga kecil itu mendekat, menatap kami satu-satu, lalu mendecak.
“Hmm… manusia, manusia, dan… kamu apa?” dia menunjuk bebekku.
“Dia? Kepala logistik,” jawabku asal.
“Baiklah. Ikuti aku. Pimpinan kami ingin tahu kenapa ada manusia membawa darah dari saudara kami yang gugur.”
Kami terbang mengikutinya, menelusuri celah-celah di antara tebing curam. Lalu, naga kecil itu masuk ke dalam sebuah goa besar. Dan di situ, segalanya berubah.
Kami masuk ke dunia bawah tanah yang luas. Sangat luas. Bahkan lebih besar dari kota Stormcoast. Lantainya ditumbuhi tumbuhan aneh bercahaya, sungai kecil berkilau mengalir di tengah-tengah, dan yang paling mencengangkan—langit buatan berawan yang menggantung di atas, entah dari sihir atau teknologi naga.
“Selamat datang di Aetherdrak,” kata naga kecil itu. “Kota para naga sejati.”
Kami semua terdiam. Bahkan bebekku pun tak bersuara. Fredy bergumam, “Oke... ini lebih gila dari semua misi kita sebelumnya.”
Dan aku cuma bisa menjawab, “Yap... dan kita bahkan belum mulai menjelaskan kenapa aku bunuh naga mereka.”
Aetherdrak, Tanah Para Naga
Kami berdiri di dalam ruangan megah bawah tanah, langit-langitnya berawan seperti sore yang abadi. Suasana terasa berat, bukan karena tekanan udara, tapi karena... ya, ada seekor naga raksasa di hadapan kami.
Naga itu... luar biasa besar. Jangankan badan, giginya aja ukurannya tiga kali tinggi tubuhku. Sumpah demi bulu bebekku, kalau aku kepleset masuk mulutnya, aku yakin aku cuma bakal nyangkut... di gusi.
Dia menundukkan kepala sedikit, dan suaranya menggelegar tapi berwibawa, seperti suara narator film dokumenter hewan, cuma pakai efek bass ekstra.
“Aku Aslan. Pemimpin para naga. Kalian datang membawa darah cucuku. Katakan, apa maksud kalian?”
Aku maju satu langkah. Suaraku hampir nggak keluar karena tenggorokan rasanya seperti dikunci sama ketakutan. Tapi kupaksakan juga bicara.
“Yang Mulia Aslan... Pertama-tama, aku… aku minta maaf karena telah membunuh cucu Anda,” kataku jujur. “Kami tidak tahu. Kami hanya mengira itu makhluk buas dari portal yang akan menyerang dunia kami. Kami bertugas menghalau siapa pun yang keluar dari sana.”
Aslan tidak bicara. Hanya diam menatap kami, seperti sedang mempertimbangkan apakah kami layak di-oven atau dipanggang biasa. Aku lanjut cepat-cepat sebelum dia berubah pikiran.
“Kedua… aku datang untuk mengembalikan darah naga itu. Supaya tidak disalahgunakan. Supaya tidak jadi alat perang. Karena... kami tahu, bangsa-bangsa di daratan sedang bersiap menggunakan darah itu untuk menciptakan pasukan super.”
Keheningan.
Lalu...
Aslan... tertawa. Serius. Suaranya menggema di seluruh ruangan. Suara naga ketawa ternyata... bikin telinga geli.
“Hahahaha! Manusia... kau jujur dan bodoh. Tapi terkadang, dunia butuh manusia seperti itu.”
Aku melirik Fredy. “Eh, itu pujian atau makian?”
Chintya berbisik, “Tenang, kayaknya dia lagi nggak laper.”
Aslan menundukkan kepalanya lagi, kali ini dengan tatapan... sedih?
“Darah yang kau bawa itu... berasal dari cucuku, Ardrak. Ia tidak dibunuh. Ia mengorbankan dirinya sendiri... membuka portal itu dengan sihir terakhirnya, untuk satu tujuan: membawa manusia dari Bumi agar bisa meluruskan sejarah kami yang selama ini disalahartikan.”
Aku bengong.
“Jadi… cucu Anda yang buka portal itu? Dan aku… aku malah….” Aku nggak sanggup melanjutkan kalimatku sendiri.
“Ya,” jawab Aslan lembut. “Tapi ia tahu risikonya. Ia tahu bahwa manusia dari Bumi tidak akan langsung percaya. Ia tahu bahwa kematiannya mungkin bagian dari jalan menuju kebenaran.”
Aku cuma bisa tertunduk. Bebekku juga, untuk pertama kalinya, nggak nyeletuk sama sekali. Mungkin dia juga sedih. Atau lagi mikir hari ini makan apa ? atau dimakan siapa?, entahlah.
Aslan kemudian berkata, “Karena kau datang dengan niat baik, dan karena kau mau mengembalikan darah cucuku… maka kami akan membantumu.”
Aku mengangkat kepala. “Membantu… gimana maksudnya?”
“Naga tidak akan berperang… tapi kami akan memberikanmu kebenaran. Sejarah asli yang tidak pernah ditulis oleh para elf, dwarf, atau manusia dragonian.”
Dan dengan itu… Aslan mengaumkan satu mantra. Langit buatan di atas kami bergetar, dan gambar-gambar sejarah mulai muncul seperti proyektor bioskop langit.
Saat itulah… kami menyaksikan kebenaran yang selama ini disembunyikan dunia.
Kebenaran Masa Lalu
Langit buatan di dalam ruang bawah tanah naga berubah seperti layar raksasa. Awan bergerak membentuk adegan-adegan masa lalu, sementara suara Aslan bergema, seperti dongeng kelam yang baru terkuak.
"Di sebuah benua terpencil bernama Drak’Terra, dahulu para naga hidup berdampingan dengan damai bersama manusia dan ras campuran atau beastkin, seperti Nekomimi, 4 klan beastkin ,Lupian, dan Tikusthal."
Di langit kami melihat gambaran sebuah dunia yang harmonis. Naga terbang di atas desa-desa manusia, ras hewan membantu panen dan membangun, dan semuanya tampak... damai. Bahkan ada anak kecil menunggang naga seperti kuda poni.
"Namun semua berubah ketika para pendatang dari Utara datang—bangsa Elf dan Dwarf. Mereka menyebrangi Gurun Kematian, tanah tandus penuh monster raksasa, dengan kapal-kapal gurun mereka."
Gambaran berikutnya menampilkan lautan pasir tak berujung. Di atasnya, ratusan kapal gurun melaju seperti perahu di lautan, dengan layar besar dan kaki-kaki baja. Tapi bayang-bayang besar muncul di balik bukit pasir. Monster raksasa seperti kalajengking berukuran menara. Cacing gurun setinggi pohon. Unta bersisik tiga kepala.
"Dari 500 kapal gurun yang dikirim, hanya 9 yang selamat. Enam milik bangsa Elf. Tiga milik bangsa Dwarf."
Aku refleks bersiul pelan. "Gila, 491 kapal hancur cuma buat nyebrang…"
"Setibanya mereka di Drak’Terra, mereka menemukan sumber daya yang luar biasa, yaitu Kristal Mana. Batu bercahaya yang menjadi sumber kekuatan sihir."
Tampak kilauan kristal-kristal biru, ungu, dan hijau. Mereka tumbuh dari tanah seperti bunga cahaya.
"Bangsa Elf dan Dwarf mulai menambang secara rakus. Mereka tidak mengerti keseimbangan alam. Para naga memperingatkan—kristal itu bukan cuma energi, tapi bagian dari kehidupan Drak'Terra."
Gambaran naga-naga berkumpul di depan tambang, menghadang para penambang elf. Tapi...
"Bangsa Elf dan Dwarf tidak mendengar. Bahkan lebih buruk, mereka menyebar propaganda ke bangsa manusia dan ras campuran—bahwa para naga adalah makhluk buas yang ingin menguasai benua."
Tampak gulungan kertas disebar ke kota-kota: “Hati-hati! Naga Menculik Anak!”
Lalu gambar buatan naga yang memakan penduduk. Lalu...
"Gosip menjadi kebenaran. Hasutan menjadi bara. Dan akhirnya, perang pun pecah. Bangsa naga melawan gabungan kekuatan Elf, Dwarf, manusia, dan ras campuran."
Langit menampilkan pertempuran besar. Naga-naga melawan pasukan sihir elf dan mesin tempur dwarf. Kota-kota terbakar. Gunung runtuh. Sungai mengering. Suara-suara jerit pilu menggema.
"Bangsa naga kalah jumlah. Dan yang lebih parah, bangsa Elf menggunakan sihir terlarang: Kutukan Lidah."
Tampak cahaya ungu membungkus mulut para naga. Setelah itu, naga mencoba bicara, tapi tidak dimengerti. Bahkan ketika diberi air terjemahan sihir pun... tetap tak bisa.
"Mereka dikutuk. Tak bisa bicara dengan makhluk lain. Hanya naga-naga istimewa yang lahir dengan karunia lidah tua masih bisa berbicara. Dan mereka diburu."
Gambaran naga kecil disergap di hutan. Anak naga yang baru bisa bicara... diburu dan dibakar hidup-hidup oleh pemburu elf.
Aku gemetar.
"Dan seperti itulah sejarah ditulis oleh para pemenang. Di seluruh Drak’Terra, para naga disebut penjajah. Monster. Pembunuh. Padahal, kami hanya... penjaga."
Langit kembali normal. Aslan menatap kami. Matanya, yang tadi terasa seperti bara panas, kini seperti danau tenang yang menyimpan luka lama.
"Dan darah cucuku... adalah kunci. Ia membuka portal ke Bumi karena ia percaya: di antara manusia, pasti ada yang cukup bodoh atau cukup berani untuk mencari kebenaran yang sebenarnya."
Aku… menelan ludah. Rasanya kayak makan nasi tapi nggak pakai air.
Chintya berbisik, "Cuy... berarti selama ini sejarah yang kita pelajari... salah?"
Aku mengangguk pelan. “Dan yang lebih parah... aku yang bunuh cucunya.”
Aslan menunduk. “Kau menyesal. Itu cukup. Sekarang... keputusan ada di tangan kalian. Apakah ingin menyebarkan kebenaran ini... atau membiarkannya terkubur seperti yang lain.”
Aku memandang langit buatan di atas kami. Rasanya kayak memandangi sejarah dunia yang baru saja di-patch sama admin semesta.
Dan dalam hati... aku tahu. Kami tidak akan diam.
Kami akan melawan sejarah yang salah.
Kami akan membalik dunia.
Kami terbang ke selatan menuju Kepulauan Naga. Udara di atas lautan terasa lembab dan pekat oleh kabut sihir yang entah datang dari mana. Fredy terdiam, Chintya tegang, dan aku… ya seperti biasa, sibuk berdebat sama bebekku yang nggak berhenti ngoceh soal arah angin yang bikin bulunya kering sebelah.
Begitu kami mendekat ke wilayah Kepulauan Naga, pemandangan berubah drastis. Langit dipenuhi siluet-siluet besar bersayap. Naga-naga. Ada yang melayang malas di udara, ada yang bertengger di dinding-dinding tebing menjulang tinggi, dan beberapa malah terlihat berenang di laut seperti buaya terbang.
Lalu, dari balik awan, muncul seekor naga kecil. Ukurannya kira-kira sebesar kambing. Tapi bukan kambing biasa, lebih mirip kambing yang sempat kulihat di desa yang doyan nabrak motor. Bedanya, yang ini bisa ngomong.
“Hei, siapa kalian?!” teriaknya dengan suara cempreng yang agak nggak matching sama sosoknya.
Aku reflek menjawab, “Kami datang dengan damai! Nggak bawa permusuhan, cuma bawa bebek cerewet dan satu batu darah naga!”
Naga kecil itu mendekat, menatap kami satu-satu, lalu mendecak.
“Hmm… manusia, manusia, dan… kamu apa?” dia menunjuk bebekku.
“Dia? Kepala logistik,” jawabku asal.
“Baiklah. Ikuti aku. Pimpinan kami ingin tahu kenapa ada manusia membawa darah dari saudara kami yang gugur.”
Kami terbang mengikutinya, menelusuri celah-celah di antara tebing curam. Lalu, naga kecil itu masuk ke dalam sebuah goa besar. Dan di situ, segalanya berubah.
Kami masuk ke dunia bawah tanah yang luas. Sangat luas. Bahkan lebih besar dari kota Stormcoast. Lantainya ditumbuhi tumbuhan aneh bercahaya, sungai kecil berkilau mengalir di tengah-tengah, dan yang paling mencengangkan—langit buatan berawan yang menggantung di atas, entah dari sihir atau teknologi naga.
“Selamat datang di Aetherdrak,” kata naga kecil itu. “Kota para naga sejati.”
Kami semua terdiam. Bahkan bebekku pun tak bersuara. Fredy bergumam, “Oke... ini lebih gila dari semua misi kita sebelumnya.”
Dan aku cuma bisa menjawab, “Yap... dan kita bahkan belum mulai menjelaskan kenapa aku bunuh naga mereka.”
Aetherdrak, Tanah Para Naga
Kami berdiri di dalam ruangan megah bawah tanah, langit-langitnya berawan seperti sore yang abadi. Suasana terasa berat, bukan karena tekanan udara, tapi karena... ya, ada seekor naga raksasa di hadapan kami.
Naga itu... luar biasa besar. Jangankan badan, giginya aja ukurannya tiga kali tinggi tubuhku. Sumpah demi bulu bebekku, kalau aku kepleset masuk mulutnya, aku yakin aku cuma bakal nyangkut... di gusi.
Dia menundukkan kepala sedikit, dan suaranya menggelegar tapi berwibawa, seperti suara narator film dokumenter hewan, cuma pakai efek bass ekstra.
“Aku Aslan. Pemimpin para naga. Kalian datang membawa darah cucuku. Katakan, apa maksud kalian?”
Aku maju satu langkah. Suaraku hampir nggak keluar karena tenggorokan rasanya seperti dikunci sama ketakutan. Tapi kupaksakan juga bicara.
“Yang Mulia Aslan... Pertama-tama, aku… aku minta maaf karena telah membunuh cucu Anda,” kataku jujur. “Kami tidak tahu. Kami hanya mengira itu makhluk buas dari portal yang akan menyerang dunia kami. Kami bertugas menghalau siapa pun yang keluar dari sana.”
Aslan tidak bicara. Hanya diam menatap kami, seperti sedang mempertimbangkan apakah kami layak di-oven atau dipanggang biasa. Aku lanjut cepat-cepat sebelum dia berubah pikiran.
“Kedua… aku datang untuk mengembalikan darah naga itu. Supaya tidak disalahgunakan. Supaya tidak jadi alat perang. Karena... kami tahu, bangsa-bangsa di daratan sedang bersiap menggunakan darah itu untuk menciptakan pasukan super.”
Keheningan.
Lalu...
Aslan... tertawa. Serius. Suaranya menggema di seluruh ruangan. Suara naga ketawa ternyata... bikin telinga geli.
“Hahahaha! Manusia... kau jujur dan bodoh. Tapi terkadang, dunia butuh manusia seperti itu.”
Aku melirik Fredy. “Eh, itu pujian atau makian?”
Chintya berbisik, “Tenang, kayaknya dia lagi nggak laper.”
Aslan menundukkan kepalanya lagi, kali ini dengan tatapan... sedih?
“Darah yang kau bawa itu... berasal dari cucuku, Ardrak. Ia tidak dibunuh. Ia mengorbankan dirinya sendiri... membuka portal itu dengan sihir terakhirnya, untuk satu tujuan: membawa manusia dari Bumi agar bisa meluruskan sejarah kami yang selama ini disalahartikan.”
Aku bengong.
“Jadi… cucu Anda yang buka portal itu? Dan aku… aku malah….” Aku nggak sanggup melanjutkan kalimatku sendiri.
“Ya,” jawab Aslan lembut. “Tapi ia tahu risikonya. Ia tahu bahwa manusia dari Bumi tidak akan langsung percaya. Ia tahu bahwa kematiannya mungkin bagian dari jalan menuju kebenaran.”
Aku cuma bisa tertunduk. Bebekku juga, untuk pertama kalinya, nggak nyeletuk sama sekali. Mungkin dia juga sedih. Atau lagi mikir hari ini makan apa ? atau dimakan siapa?, entahlah.
Aslan kemudian berkata, “Karena kau datang dengan niat baik, dan karena kau mau mengembalikan darah cucuku… maka kami akan membantumu.”
Aku mengangkat kepala. “Membantu… gimana maksudnya?”
“Naga tidak akan berperang… tapi kami akan memberikanmu kebenaran. Sejarah asli yang tidak pernah ditulis oleh para elf, dwarf, atau manusia dragonian.”
Dan dengan itu… Aslan mengaumkan satu mantra. Langit buatan di atas kami bergetar, dan gambar-gambar sejarah mulai muncul seperti proyektor bioskop langit.
Saat itulah… kami menyaksikan kebenaran yang selama ini disembunyikan dunia.
Kebenaran Masa Lalu
Langit buatan di dalam ruang bawah tanah naga berubah seperti layar raksasa. Awan bergerak membentuk adegan-adegan masa lalu, sementara suara Aslan bergema, seperti dongeng kelam yang baru terkuak.
"Di sebuah benua terpencil bernama Drak’Terra, dahulu para naga hidup berdampingan dengan damai bersama manusia dan ras campuran atau beastkin, seperti Nekomimi, 4 klan beastkin ,Lupian, dan Tikusthal."
Di langit kami melihat gambaran sebuah dunia yang harmonis. Naga terbang di atas desa-desa manusia, ras hewan membantu panen dan membangun, dan semuanya tampak... damai. Bahkan ada anak kecil menunggang naga seperti kuda poni.
"Namun semua berubah ketika para pendatang dari Utara datang—bangsa Elf dan Dwarf. Mereka menyebrangi Gurun Kematian, tanah tandus penuh monster raksasa, dengan kapal-kapal gurun mereka."
Gambaran berikutnya menampilkan lautan pasir tak berujung. Di atasnya, ratusan kapal gurun melaju seperti perahu di lautan, dengan layar besar dan kaki-kaki baja. Tapi bayang-bayang besar muncul di balik bukit pasir. Monster raksasa seperti kalajengking berukuran menara. Cacing gurun setinggi pohon. Unta bersisik tiga kepala.
"Dari 500 kapal gurun yang dikirim, hanya 9 yang selamat. Enam milik bangsa Elf. Tiga milik bangsa Dwarf."
Aku refleks bersiul pelan. "Gila, 491 kapal hancur cuma buat nyebrang…"
"Setibanya mereka di Drak’Terra, mereka menemukan sumber daya yang luar biasa, yaitu Kristal Mana. Batu bercahaya yang menjadi sumber kekuatan sihir."
Tampak kilauan kristal-kristal biru, ungu, dan hijau. Mereka tumbuh dari tanah seperti bunga cahaya.
"Bangsa Elf dan Dwarf mulai menambang secara rakus. Mereka tidak mengerti keseimbangan alam. Para naga memperingatkan—kristal itu bukan cuma energi, tapi bagian dari kehidupan Drak'Terra."
Gambaran naga-naga berkumpul di depan tambang, menghadang para penambang elf. Tapi...
"Bangsa Elf dan Dwarf tidak mendengar. Bahkan lebih buruk, mereka menyebar propaganda ke bangsa manusia dan ras campuran—bahwa para naga adalah makhluk buas yang ingin menguasai benua."
Tampak gulungan kertas disebar ke kota-kota: “Hati-hati! Naga Menculik Anak!”
Lalu gambar buatan naga yang memakan penduduk. Lalu...
"Gosip menjadi kebenaran. Hasutan menjadi bara. Dan akhirnya, perang pun pecah. Bangsa naga melawan gabungan kekuatan Elf, Dwarf, manusia, dan ras campuran."
Langit menampilkan pertempuran besar. Naga-naga melawan pasukan sihir elf dan mesin tempur dwarf. Kota-kota terbakar. Gunung runtuh. Sungai mengering. Suara-suara jerit pilu menggema.
"Bangsa naga kalah jumlah. Dan yang lebih parah, bangsa Elf menggunakan sihir terlarang: Kutukan Lidah."
Tampak cahaya ungu membungkus mulut para naga. Setelah itu, naga mencoba bicara, tapi tidak dimengerti. Bahkan ketika diberi air terjemahan sihir pun... tetap tak bisa.
"Mereka dikutuk. Tak bisa bicara dengan makhluk lain. Hanya naga-naga istimewa yang lahir dengan karunia lidah tua masih bisa berbicara. Dan mereka diburu."
Gambaran naga kecil disergap di hutan. Anak naga yang baru bisa bicara... diburu dan dibakar hidup-hidup oleh pemburu elf.
Aku gemetar.
"Dan seperti itulah sejarah ditulis oleh para pemenang. Di seluruh Drak’Terra, para naga disebut penjajah. Monster. Pembunuh. Padahal, kami hanya... penjaga."
Langit kembali normal. Aslan menatap kami. Matanya, yang tadi terasa seperti bara panas, kini seperti danau tenang yang menyimpan luka lama.
"Dan darah cucuku... adalah kunci. Ia membuka portal ke Bumi karena ia percaya: di antara manusia, pasti ada yang cukup bodoh atau cukup berani untuk mencari kebenaran yang sebenarnya."
Aku… menelan ludah. Rasanya kayak makan nasi tapi nggak pakai air.
Chintya berbisik, "Cuy... berarti selama ini sejarah yang kita pelajari... salah?"
Aku mengangguk pelan. “Dan yang lebih parah... aku yang bunuh cucunya.”
Aslan menunduk. “Kau menyesal. Itu cukup. Sekarang... keputusan ada di tangan kalian. Apakah ingin menyebarkan kebenaran ini... atau membiarkannya terkubur seperti yang lain.”
Aku memandang langit buatan di atas kami. Rasanya kayak memandangi sejarah dunia yang baru saja di-patch sama admin semesta.
Dan dalam hati... aku tahu. Kami tidak akan diam.
Kami akan melawan sejarah yang salah.
Kami akan membalik dunia.
Other Stories
Itsbat Cinta
Hayati memulai pagi dengan senyum, mencoba mengusir jenuh dan resah yang menghinggapi hati ...
Bisikan Lada
Tiga pemuda nekat melanggar larangan sesepuh demi membuktikan mitos, namun justru mengalam ...
Erase
Devi, seorang majikan santun yang selalu menghargai orang lain, menenangkan diri di ruang ...
Cahaya Dalam Ketidakmungkinan
Nara pernah punya segalanya—hidup yang tampak sempurna, bahagia tanpa cela. Hingga suatu ...
Tersesat
Qiran yang suka hal baru nekat mengakses deep web dan menemukan sebuah lagu, lalu memamerk ...
Deru Suara Kagum
Perlahan keadaan mulai berubah. Pertemuan-pertemuan sederhana, duduk berdekatan , atau sek ...