Bab 23 — Dua Jalur, Dua Ancaman
Bab 23 — Dua Jalur, Dua Ancaman
Kota Stromcoast masih tenang di permukaannya. Tapi kami tahu—ini hanyalah ketenangan sebelum badai.
Di balik tembok-tembok tinggi, di luar parit dan barikade yang dibuat rakyat, dua kekuatan besar sedang bergerak menuju kami: bangsa Elf dan bangsa Dwarf.
Tapi untuk sampai ke kota, mereka tak bisa sembarang menerobos.
Jalur barat, sempit dan curam, hanya bisa dilewati dengan pasukan ringan. Jalur ini akan jadi rute utama bangsa Elf, yang terkenal dengan kecepatan dan kelincahan mereka.
Jalur selatan, lebih lebar dan berbatu, cocok untuk gerak lambat tapi kuat. Jalur ini jadi incaran bangsa Dwarf, lengkap dengan pasukan berat dan senjata-senjata ledakan mereka.
Tapi kabar baik datang dari mata-mata bangsa Nekomimi yang menyelinap dari celah-celah gua gunung. Mereka melaporkan pertempuran besar pecah antara pasukan Elf dan Dwarf di bagian barat gunung. Entah karena ego, dendam lama, atau hanya karena siapa yang berhak menyerang dulu—yang pasti, mereka saling serang.
Kami semua yang mendengar laporan itu langsung berdiri dari kursi.
“Ini bisa jadi peluang emas,” kata Fredy. “Kalau mereka habis-habisan di barat, kita bisa fokus bertahan di selatan.”
Namun, sisi selatan masih menyisakan tanda tanya besar.
Bangsa Dragonian belum menunjukkan pergerakan. Tapi justru itu yang paling menakutkan. Karena ketika mereka bergerak, biasanya langsung menghantam tanpa aba-aba.
---
Hari itu juga kami berkumpul di aula utama istana. Meja bundar besar di tengah ruangan kini dikelilingi semua pemimpin ras sekutu: Nekomimi, Ras Tikus, Ras Anjing, Ras Manusia Campuran, dan tentunya kami—manusia dari dunia lain.
Raja Arthur Stoneaxe berdiri di depan peta besar yang terpajang di dinding. Tangannya menunjuk jalur-jalur strategis.
Empat Klan, Satu Sumpah
Aula utama kerajaan Stromcoast dipenuhi ketegangan dan sorot mata tajam dari para pemimpin ras.
Raja Arthur Stoneaxe baru saja memetakan jalur pertahanan saat derap langkah berat menggema dari luar.
Pintu besar aula terbuka pelan… lalu BRUK!—didorong keras oleh tangan sekuat baja berotot.
Empat sosok tinggi besar melangkah masuk, masing-masing dikelilingi pengikut dengan jubah, senjata, dan aroma hutan serta medan perang.
Klan Beastkin telah tiba.
Klan Serigala: dipimpin oleh Kael Shadowfang, tinggi, bermata kuning tajam, dan tatapannya seperti bisa mengendus kebohongan.
Klan Harimau: dipimpin oleh Rasha Firestripe, tubuhnya kekar, garis-garis loreng di wajah dan lengan.
Klan Elang: dipimpin oleh Nareen Windtalon, satu-satunya perempuan, dengan jubah bulu, mata tajam, dan rambut putih keperakan.
Klan Beruang: dipimpin oleh Borgun Ironclaw, berbadan raksasa, jalannya lambat tapi mengguncang lantai aula setiap melangkah.
Semua terdiam, kecuali suara napas berat Fredy di sampingku yang udah kayak kipas angin bocor.
Raja Arthur bangkit dari tahtanya dan menunduk. “Atas nama Stromcoast, kota bagi semua ras, aku mohon maaf harus mengganggu kedamaian kalian, para Beastkin.”
Kael dari Klan Serigala angkat tangan.
“Kami datang bukan karena kau meminta, Raja Batu,” katanya, suaranya berat seperti lolongan di hutan gelap.
“Kami datang karena musuhmu adalah musuh kami.”
Rasha dari Klan Harimau menimpali, “Bangsa elf, dwarf, dan dragonian terlalu lama memandang rendah ras lain. Mereka memburu kami, memperbudak klan kami di masa lalu, dan menyebut kami ‘setengah hewan, setengah otak’. Tapi kini… setengah otak ini akan membuat mereka lari terbirit-birit.”
Aku nyaris tepuk tangan, tapi Fredy langsung cubit lenganku. "Ini bukan seminar motivasi, bro," bisiknya.
Nareen dari Klan Elang berdiri anggun.
“Stromcoast adalah satu-satunya tempat di dunia ini di mana ras kami bisa berjalan tanpa diawasi, hidup tanpa dikejar. Kota ini akan kami lindungi, bukan demi politik… tapi demi masa depan.”
Borgun dari Klan Beruang hanya mengangkat kapaknya dan berkata pendek.
“Mereka akan tahu rasa.”
Seketika seluruh ruangan bergemuruh tepuk tangan. Bahkan pak Dedy, yang biasanya cuma manggut-manggut, terlihat mengusap matanya. (Entah karena terharu atau kena debu dari bulu-bulu Klan Elang.)
Raja Arthur mengangguk. “Kalau begitu, kita satu. Satu sumpah. Satu perlawanan.”
Aku melirik Chintya, yang tersenyum melihat para klan beastkin berdiri tegak. Mereka tidak hanya membawa kekuatan… tapi juga harapan.
Dan diam-diam, aku bergumam dalam hati:
“Oke… dengan begini, peluang kita menang naik jadi… 1 banding 12. Masih kecil, tapi lumayan daripada sebelumnya yang 1 banding nangis.”
Sumpah di Balik Pedang
Suasana di aula istana Stromcoast hening kembali setelah tepuk tangan atas kedatangan empat klan beastkin mereda. Tapi ketegangan belum sepenuhnya pergi.
Aku melangkah maju ke tengah aula, didampingi Chintya yang setia berdiri di sampingku. Nafasku berat, tenggorokanku kering. Tapi aku tahu… aku harus bicara.Dengan suara agak gemetar, aku membuka pembicaraan.
“Yang Mulia, Raja Arthur Stoneaxe... para pemimpin klan Beastkin… dan semua yang hadir…”
Aku mengangkat pedang pusaka warisan kakekku. Mata pedang itu berkilat pelan, seperti ikut menyesal atas semua kekacauan yang terjadi.
“Pedang ini... pedang perobek portal... mungkin terlihat seperti harapan. Tapi faktanya… pedang inilah alasan bangsa elf, dwarf, dan dragonian bersiap menyerang kota kita.”
Chintya menunduk pelan. Aku tahu dia merasa bersalah juga—bangsa elf langit punya sejarah kelam, dan pedang ini pernah jadi simbol pengkhianatan di masa lalu.
“Aku… kami… minta maaf,” lanjutku. “Jika karena pedang ini, kota kalian… rumah kalian… akan dihancurkan. Tapi aku berjanji akan bertarung sampai akhir, untuk mempertahankan kota ini, dan membuktikan bahwa tidak semua manusia… pengecut.”
Semua terdiam. Bahkan Fredy tidak mengunyah permen karetnya.
Lalu Kael Shadowfang dari Klan Serigala maju. “Handoyo. Di klan kami, kami percaya pada tindakan, bukan asal usul. Kau mungkin membawa pedang, tapi kau juga membawa kebenaran.”
Rasha Firestripe menimpali, “Pedang itu hanya alat. Tapi hati yang membawanya—itulah yang menentukan siapa pemilik sejati.”
Nareen Windtalon melangkah anggun ke depan. “Jika pedang itu jadi alasan perang… maka kita akan jadikan persatuan kita jadi alasan kemenangan.”
Borgun Ironclaw hanya mengangkat tinjunya dan berteriak, “Untuk Stromcoast!”
Raja Arthur Stoneaxe berdiri dari tahtanya. Suaranya lantang menggema ke seluruh aula.
“Mulai hari ini, pedang itu bukan simbol ancaman. Tapi simbol perjuangan. Kita tidak berperang karena senjata, tapi karena kebenaran. Dan kebenaran adalah Semua bangsa sederajat. Tidak ada ras yang lebih tinggi!”
Semua pemimpin ras mengangkat tangan kanan mereka—baik berbulu, bersisik, bercakar, atau bersarung tangan logam.
Dan serentak, di tengah ruangan megah yang dindingnya dihiasi lukisan sejarah, mereka bersumpah:
“Demi masa depan semua ras! Demi kedamaian! Demi Stromcoast! Kami bersumpah untuk bertempur bersama!”
Aku berdiri di tengah mereka, masih memegang pedang. Tapi kini terasa lebih ringan. Karena aku tidak sendiri.
Chintya menggenggam tanganku.
“Kau tidak harus membawa beban ini sendiri,” bisiknya.
Dan untuk pertama kalinya, pedang perobek portal bukan hanya milikku. Tapi milik mereka semua… para pejuang yang percaya pada masa depan tanpa kasta.
Bagus, bab ini menunjukkan pembagian strategi dan kekuatan dengan cara yang jelas dan epik. Berikut lanjutan narasinya yang konsisten dengan nada cerita sebelumnya:
Strategi di Bawah Langit Tiga Bulan
Setelah sumpah suci dilantangkan, suasana aula kembali dipenuhi suara langkah berat, peta terbentang, dan pikiran-pikiran tajam menyusun rencana.
Di tengah ruang takhta yang diterangi obor kristal, Raja Arthur Stoneaxe membuka gulungan peta besar Stromcoast dan wilayah sekitarnya. Tangannya yang kekar menunjuk dua arah utama: jalur barat dan jalur selatan.
“Dari laporan para peninjau, jalur barat masih diperebutkan bangsa elf dan dwarf. Mereka mungkin bertempur satu sama lain, tapi jika salah satu menang, mereka akan menyerbu kita. Kita tidak bisa bergantung pada konflik internal mereka,” ujarnya.
Kepala klan Serigala, Kael Shadowfang, mengangguk. “Kami, Serigala, akan mengamankan jalur barat. Kami kenal hutan-hutan yang mengelilingi gunung seperti kami kenal napas kami sendiri.”
“Dan kami akan bersama mereka,” timpal Rasha Firestripe dari Klan Harimau. “Kami akan menjadi penjaga bayangan di antara pohon dan kabut.”
Raja Arthur menepuk dada lapis bajanya. “Aku ikut bersama kalian. Jika musuh hendak menyerbu dari barat, mereka harus melewati kampak besiku terlebih dulu.”
Lalu, Nareen Windtalon dari Klan Elang berbicara. “Di selatan, bangsa dragonian bergerak dalam formasi udara. Kami, Elang, akan menunggu mereka di atas awan.”
“Dan kami, Beruang, akan jadi benteng di daratan. Tak satu pun dari mereka akan lolos,” tambah Borgun Ironclaw dengan suara dalamnya yang menggema.
Kemudian semua mata tertuju padaku.
Raja Arthur menatapku penuh arti. “Dan kamu, pewaris pedang portal, punya tugas yang tak kalah penting.”
Aku menarik napas. “Kami—aku, Chintya, Fredy, Dina, dan Agus—akan menjalankan misi rahasia. Jalur kami tidak di peta. Tapi hasilnya bisa menentukan kemenangan atau kekalahan.”
“Apa tujuan misi ini?” tanya Kael.
“Rahasia,” jawab Chintya tegas, “tapi percayalah… jika kami berhasil, darah tidak perlu sebanyak itu tertumpah di medan perang.”
Pak Sukoco mengangkat tangan. “Kalau begitu, saya dan pasukan putih akan tetap di kota bersama Dedy dan Albert. Kami siap bergerak kapan saja dibutuhkan.”
Raja Arthur menutup pertemuan dengan suara yang membakar semangat.
“Malam ini kita tidur dengan senjata di samping. Besok… kita bertarung bukan demi tanah, tapi demi kesetaraan semua makhluk!”
Semua kepala klan dan pemimpin bangsa berdiri serentak dan menghantam dada masing-masing. Suara logam dan cakar bergema seperti guntur dalam aula batu itu.
Aku melirik Chintya, Fredy, Agus dan Dina. Di balik kegentingan ini, aku tahu kami bukan hanya prajurit. Kami adalah harapan terakhir.
Kota Stromcoast masih tenang di permukaannya. Tapi kami tahu—ini hanyalah ketenangan sebelum badai.
Di balik tembok-tembok tinggi, di luar parit dan barikade yang dibuat rakyat, dua kekuatan besar sedang bergerak menuju kami: bangsa Elf dan bangsa Dwarf.
Tapi untuk sampai ke kota, mereka tak bisa sembarang menerobos.
Jalur barat, sempit dan curam, hanya bisa dilewati dengan pasukan ringan. Jalur ini akan jadi rute utama bangsa Elf, yang terkenal dengan kecepatan dan kelincahan mereka.
Jalur selatan, lebih lebar dan berbatu, cocok untuk gerak lambat tapi kuat. Jalur ini jadi incaran bangsa Dwarf, lengkap dengan pasukan berat dan senjata-senjata ledakan mereka.
Tapi kabar baik datang dari mata-mata bangsa Nekomimi yang menyelinap dari celah-celah gua gunung. Mereka melaporkan pertempuran besar pecah antara pasukan Elf dan Dwarf di bagian barat gunung. Entah karena ego, dendam lama, atau hanya karena siapa yang berhak menyerang dulu—yang pasti, mereka saling serang.
Kami semua yang mendengar laporan itu langsung berdiri dari kursi.
“Ini bisa jadi peluang emas,” kata Fredy. “Kalau mereka habis-habisan di barat, kita bisa fokus bertahan di selatan.”
Namun, sisi selatan masih menyisakan tanda tanya besar.
Bangsa Dragonian belum menunjukkan pergerakan. Tapi justru itu yang paling menakutkan. Karena ketika mereka bergerak, biasanya langsung menghantam tanpa aba-aba.
---
Hari itu juga kami berkumpul di aula utama istana. Meja bundar besar di tengah ruangan kini dikelilingi semua pemimpin ras sekutu: Nekomimi, Ras Tikus, Ras Anjing, Ras Manusia Campuran, dan tentunya kami—manusia dari dunia lain.
Raja Arthur Stoneaxe berdiri di depan peta besar yang terpajang di dinding. Tangannya menunjuk jalur-jalur strategis.
Empat Klan, Satu Sumpah
Aula utama kerajaan Stromcoast dipenuhi ketegangan dan sorot mata tajam dari para pemimpin ras.
Raja Arthur Stoneaxe baru saja memetakan jalur pertahanan saat derap langkah berat menggema dari luar.
Pintu besar aula terbuka pelan… lalu BRUK!—didorong keras oleh tangan sekuat baja berotot.
Empat sosok tinggi besar melangkah masuk, masing-masing dikelilingi pengikut dengan jubah, senjata, dan aroma hutan serta medan perang.
Klan Beastkin telah tiba.
Klan Serigala: dipimpin oleh Kael Shadowfang, tinggi, bermata kuning tajam, dan tatapannya seperti bisa mengendus kebohongan.
Klan Harimau: dipimpin oleh Rasha Firestripe, tubuhnya kekar, garis-garis loreng di wajah dan lengan.
Klan Elang: dipimpin oleh Nareen Windtalon, satu-satunya perempuan, dengan jubah bulu, mata tajam, dan rambut putih keperakan.
Klan Beruang: dipimpin oleh Borgun Ironclaw, berbadan raksasa, jalannya lambat tapi mengguncang lantai aula setiap melangkah.
Semua terdiam, kecuali suara napas berat Fredy di sampingku yang udah kayak kipas angin bocor.
Raja Arthur bangkit dari tahtanya dan menunduk. “Atas nama Stromcoast, kota bagi semua ras, aku mohon maaf harus mengganggu kedamaian kalian, para Beastkin.”
Kael dari Klan Serigala angkat tangan.
“Kami datang bukan karena kau meminta, Raja Batu,” katanya, suaranya berat seperti lolongan di hutan gelap.
“Kami datang karena musuhmu adalah musuh kami.”
Rasha dari Klan Harimau menimpali, “Bangsa elf, dwarf, dan dragonian terlalu lama memandang rendah ras lain. Mereka memburu kami, memperbudak klan kami di masa lalu, dan menyebut kami ‘setengah hewan, setengah otak’. Tapi kini… setengah otak ini akan membuat mereka lari terbirit-birit.”
Aku nyaris tepuk tangan, tapi Fredy langsung cubit lenganku. "Ini bukan seminar motivasi, bro," bisiknya.
Nareen dari Klan Elang berdiri anggun.
“Stromcoast adalah satu-satunya tempat di dunia ini di mana ras kami bisa berjalan tanpa diawasi, hidup tanpa dikejar. Kota ini akan kami lindungi, bukan demi politik… tapi demi masa depan.”
Borgun dari Klan Beruang hanya mengangkat kapaknya dan berkata pendek.
“Mereka akan tahu rasa.”
Seketika seluruh ruangan bergemuruh tepuk tangan. Bahkan pak Dedy, yang biasanya cuma manggut-manggut, terlihat mengusap matanya. (Entah karena terharu atau kena debu dari bulu-bulu Klan Elang.)
Raja Arthur mengangguk. “Kalau begitu, kita satu. Satu sumpah. Satu perlawanan.”
Aku melirik Chintya, yang tersenyum melihat para klan beastkin berdiri tegak. Mereka tidak hanya membawa kekuatan… tapi juga harapan.
Dan diam-diam, aku bergumam dalam hati:
“Oke… dengan begini, peluang kita menang naik jadi… 1 banding 12. Masih kecil, tapi lumayan daripada sebelumnya yang 1 banding nangis.”
Sumpah di Balik Pedang
Suasana di aula istana Stromcoast hening kembali setelah tepuk tangan atas kedatangan empat klan beastkin mereda. Tapi ketegangan belum sepenuhnya pergi.
Aku melangkah maju ke tengah aula, didampingi Chintya yang setia berdiri di sampingku. Nafasku berat, tenggorokanku kering. Tapi aku tahu… aku harus bicara.Dengan suara agak gemetar, aku membuka pembicaraan.
“Yang Mulia, Raja Arthur Stoneaxe... para pemimpin klan Beastkin… dan semua yang hadir…”
Aku mengangkat pedang pusaka warisan kakekku. Mata pedang itu berkilat pelan, seperti ikut menyesal atas semua kekacauan yang terjadi.
“Pedang ini... pedang perobek portal... mungkin terlihat seperti harapan. Tapi faktanya… pedang inilah alasan bangsa elf, dwarf, dan dragonian bersiap menyerang kota kita.”
Chintya menunduk pelan. Aku tahu dia merasa bersalah juga—bangsa elf langit punya sejarah kelam, dan pedang ini pernah jadi simbol pengkhianatan di masa lalu.
“Aku… kami… minta maaf,” lanjutku. “Jika karena pedang ini, kota kalian… rumah kalian… akan dihancurkan. Tapi aku berjanji akan bertarung sampai akhir, untuk mempertahankan kota ini, dan membuktikan bahwa tidak semua manusia… pengecut.”
Semua terdiam. Bahkan Fredy tidak mengunyah permen karetnya.
Lalu Kael Shadowfang dari Klan Serigala maju. “Handoyo. Di klan kami, kami percaya pada tindakan, bukan asal usul. Kau mungkin membawa pedang, tapi kau juga membawa kebenaran.”
Rasha Firestripe menimpali, “Pedang itu hanya alat. Tapi hati yang membawanya—itulah yang menentukan siapa pemilik sejati.”
Nareen Windtalon melangkah anggun ke depan. “Jika pedang itu jadi alasan perang… maka kita akan jadikan persatuan kita jadi alasan kemenangan.”
Borgun Ironclaw hanya mengangkat tinjunya dan berteriak, “Untuk Stromcoast!”
Raja Arthur Stoneaxe berdiri dari tahtanya. Suaranya lantang menggema ke seluruh aula.
“Mulai hari ini, pedang itu bukan simbol ancaman. Tapi simbol perjuangan. Kita tidak berperang karena senjata, tapi karena kebenaran. Dan kebenaran adalah Semua bangsa sederajat. Tidak ada ras yang lebih tinggi!”
Semua pemimpin ras mengangkat tangan kanan mereka—baik berbulu, bersisik, bercakar, atau bersarung tangan logam.
Dan serentak, di tengah ruangan megah yang dindingnya dihiasi lukisan sejarah, mereka bersumpah:
“Demi masa depan semua ras! Demi kedamaian! Demi Stromcoast! Kami bersumpah untuk bertempur bersama!”
Aku berdiri di tengah mereka, masih memegang pedang. Tapi kini terasa lebih ringan. Karena aku tidak sendiri.
Chintya menggenggam tanganku.
“Kau tidak harus membawa beban ini sendiri,” bisiknya.
Dan untuk pertama kalinya, pedang perobek portal bukan hanya milikku. Tapi milik mereka semua… para pejuang yang percaya pada masa depan tanpa kasta.
Bagus, bab ini menunjukkan pembagian strategi dan kekuatan dengan cara yang jelas dan epik. Berikut lanjutan narasinya yang konsisten dengan nada cerita sebelumnya:
Strategi di Bawah Langit Tiga Bulan
Setelah sumpah suci dilantangkan, suasana aula kembali dipenuhi suara langkah berat, peta terbentang, dan pikiran-pikiran tajam menyusun rencana.
Di tengah ruang takhta yang diterangi obor kristal, Raja Arthur Stoneaxe membuka gulungan peta besar Stromcoast dan wilayah sekitarnya. Tangannya yang kekar menunjuk dua arah utama: jalur barat dan jalur selatan.
“Dari laporan para peninjau, jalur barat masih diperebutkan bangsa elf dan dwarf. Mereka mungkin bertempur satu sama lain, tapi jika salah satu menang, mereka akan menyerbu kita. Kita tidak bisa bergantung pada konflik internal mereka,” ujarnya.
Kepala klan Serigala, Kael Shadowfang, mengangguk. “Kami, Serigala, akan mengamankan jalur barat. Kami kenal hutan-hutan yang mengelilingi gunung seperti kami kenal napas kami sendiri.”
“Dan kami akan bersama mereka,” timpal Rasha Firestripe dari Klan Harimau. “Kami akan menjadi penjaga bayangan di antara pohon dan kabut.”
Raja Arthur menepuk dada lapis bajanya. “Aku ikut bersama kalian. Jika musuh hendak menyerbu dari barat, mereka harus melewati kampak besiku terlebih dulu.”
Lalu, Nareen Windtalon dari Klan Elang berbicara. “Di selatan, bangsa dragonian bergerak dalam formasi udara. Kami, Elang, akan menunggu mereka di atas awan.”
“Dan kami, Beruang, akan jadi benteng di daratan. Tak satu pun dari mereka akan lolos,” tambah Borgun Ironclaw dengan suara dalamnya yang menggema.
Kemudian semua mata tertuju padaku.
Raja Arthur menatapku penuh arti. “Dan kamu, pewaris pedang portal, punya tugas yang tak kalah penting.”
Aku menarik napas. “Kami—aku, Chintya, Fredy, Dina, dan Agus—akan menjalankan misi rahasia. Jalur kami tidak di peta. Tapi hasilnya bisa menentukan kemenangan atau kekalahan.”
“Apa tujuan misi ini?” tanya Kael.
“Rahasia,” jawab Chintya tegas, “tapi percayalah… jika kami berhasil, darah tidak perlu sebanyak itu tertumpah di medan perang.”
Pak Sukoco mengangkat tangan. “Kalau begitu, saya dan pasukan putih akan tetap di kota bersama Dedy dan Albert. Kami siap bergerak kapan saja dibutuhkan.”
Raja Arthur menutup pertemuan dengan suara yang membakar semangat.
“Malam ini kita tidur dengan senjata di samping. Besok… kita bertarung bukan demi tanah, tapi demi kesetaraan semua makhluk!”
Semua kepala klan dan pemimpin bangsa berdiri serentak dan menghantam dada masing-masing. Suara logam dan cakar bergema seperti guntur dalam aula batu itu.
Aku melirik Chintya, Fredy, Agus dan Dina. Di balik kegentingan ini, aku tahu kami bukan hanya prajurit. Kami adalah harapan terakhir.
Other Stories
Kita Pantas Kan?
Bukan soal berapa uangmu atau seberapa cantik dirimu tapi, bagaimana cara dirimu berdiri m ...
My Love
Sandi dan Teresa menunda pernikahan karena Teresa harus mengajar di Timor Leste. Lama tak ...
Kastil Piano
Kastil Piano. Sebuah benda transparan mirip bangunan kastil kuno yang di dalamnya terdapat ...
Hati Yang Terbatas
Kinanti mempertahankan cintanya meski hanya membawa bahagia sesaat, ketakutan, dan luka. I ...
Mewarnai
ini adalah contoh uplot buku ...
Tea Love
Miranda tak ingin melepas kariernya demi full time mother, meski suaminya meminta begitu. ...