Bab 3 – Misi Rahasia Squad Perempuan
Bab 3 – Misi Rahasia Squad Perempuan
Pagi itu, aku, Maya, Wulan, dan Evi duduk melingkar di ruang tamu rumah kakek. Sofa empuk, teh manis di atas meja, dan suasana serius yang nggak biasa. Dolce lagi utak-atik sesuatu di pojokan, sementara Fredy berdiri di belakang kakek, dengan ekspresi kayak bodyguard elit.
Kakek menatap kami satu per satu. Sorot matanya tajam, tapi penuh rasa percaya.
“Aku punya misi buat kalian,” katanya. “Misi penting. Rahasia. Dan… hanya kalian yang bisa.”
Kami saling lirik. Maya duduk tegak. Wulan menunduk pelan. Evi lagi nyicil cemilan di meja. Aku sendiri? Jantungku mulai deg-degan. Setiap kali kakek mulai kalimat pakai ‘aku punya misi’, itu berarti bakal ada masalah yang nggak bisa diselesaikan cuma pakai Google.
“Di Surabaya mulai muncul jenis obat baru,” lanjut kakek. “Bentuknya pil kecil, tapi efeknya luar biasa. Obat itu bisa melipatgandakan potensi tubuh manusia sampai lima kali lipat.”
“Lima kali?” Maya mengerutkan kening. “Kalau orang bisa lari 20 km/jam, jadi 100 km/jam?”
“Betul,” jawab Fredy. “Kalau loncat 2 meter, jadi 10 meter. Tapi… efek sampingnya brutal. Obat ini bikin pengguna jadi buas. Gila. Bahkan mutan bisa hilang kendali.”
Aku mengangguk. “Jadi kayak Hulk… tapi tanpa tanggung jawab.”
“Masalahnya,” kata kakek, “peredarannya mulai menyebar di kota. Tiga kasus kriminal terakhir—perampokan toko emas, penganiayaan polisi, dan pencurian motor massal—semuanya pelakunya pakai obat itu.”
Wulan akhirnya buka suara. “Dan kenapa kami, squad cewek, yang dikasih misi?”
Kakek tersenyum. “Karena kalian lebih tenang, lebih taktis dan nggak gampang ribut sendiri.”
Kami langsung kompak senyum lebar. Ya, bener juga sih. Kalau misi ini dikasih ke squad cowok, bisa-bisa mereka ribut gara-gara kode sandi atau berebut siapa yang jadi pemimpin operasi.
“Kita mulai penyelidikan malam ini,” kata Maya sambil mengaktifkan peta digital di jam tangannya. “Aku udah dapat titik-titik yang dicurigai jadi tempat distribusi.”
Evi menepuk-nepuk tas selempangnya. “Aku siap. Teleportasi aktif. Ketepel penuh. Cemilan juga udah ready.”
Wulan memasukkan sarung tangan kejutnya ke dalam saku jaket. “Kalau perlu penyembuhan, aku cover.”
Aku menarik napas dan menatap kakek. “Jangan khawatir. Kami yang akan tangani ini.”
Kakek mengangguk bangga. “Dan ingat, Fia… jangan cuma kuat di medan tempur. Tapi juga kuat menjaga sesama.”
Misi dimulai. Tim cewek siap turun ke jalan. Dan jujur aja… ini misi yang bakal jauh lebih serius dari sekadar menghadapi mutan pelempar ember.
Ngerumpi di Tengah Misi
Malam itu, kamar kami penuh tawa, bantal bertebangan, dan... popcorn. Maya, Wulan, Evi, dan aku berkumpul di kamarku—yang sebenarnya lebih cocok disebut markas kecil kami. Rencana awalnya sih mau bahas strategi misi penyusupan soal obat terlarang tadi.
Tapi kenyataannya?
Kami malah ngerumpiin Cahyo.
Iya, Cahyo. Cowok polos separuh kodok yang entah kenapa berhasil bikin jantung kami serempak skip beat. Padahal dari semua cowok di squad, dia yang paling bego logika, paling gampang disuruh-suruh, dan paling sering nyasar di gedung tempat dia sendiri pernah bertarung. Tapi justru itu yang bikin kami bingung. Kok bisa?
Evi mulai duluan.
“Dulu dia tembak aku waktu awal SMA. Tiap hari bawa bunga plastik, cokelat seribuan, dan surat cinta yang ditulis di sobekan buku tugas,” curhat Evi sambil selonjoran di kasur bawah.
“Terus lo tolak?” tanya Wulan sambil nyemil keripik.
“Yaiyalah. Dia nyebelin banget. Nanya PR ke aku tiap hari kayak gak punya otak. Aku pikir dia cuma naksir karena aku pinter.”
Aku dan Maya langsung ketawa pelan.
“Tapi… sejak dia berhenti ngejar aku dan malah sering bareng sama kalian…” lanjut Evi pelan, “...aku jadi kangen ditanya PR. Gila gak sih?”
“Gak gila,” jawab Maya. “Gue juga suka ditanya PR... walau bukan sama Cahyo.” (Kami tahu itu sindiran halus buat Aryo yang nyebelin tapi bikin deg-degan.)
Wulan angkat tangan. “Kalau aku, gak pernah ditembak Cahyo. Tapi... tiap dia nyengir tolol sambil bawa makanan, aku ngerasa kayak... pengen nyuapin dia.”
“Awww...” kami bertiga kompak.
“Eh tapi serius,” sambungku. “Cahyo itu... beda. Kadang bego, tapi selalu duluan maju pas ada bahaya. Kadang tolol, tapi selalu bikin hati kita tenang. Aku pernah lihat dia diludahin mutan, jatuh dari gedung, terus bangun sambil senyum... ‘aku gak papa, yang penting kalian aman’.”
Kami terdiam sebentar.
Lalu Maya nyeletuk, “Jadi siapa nih yang beneran naksir Cahyo?”
Semua mata menoleh ke satu sama lain.
Evi senyum malu.
Wulan pura-pura main HP.
Maya nyengir dan bilang, “Gue sih suka cewek yang suka Cahyo.”
Aku? Aku diam.
Karena jawaban paling jujur itu... gak selalu harus diucapkan duluan.
Rahasia yang Tetap Kusimpan
Setelah Evi curhat panjang soal cowok polos separuh kodok yang tak kunjung nembak, giliran Wulan yang bicara.
Dengan suaranya yang lembut dan posisi duduk bersila sambil peluk bantal, dia mulai cerita pelan-pelan. “Dari kelas satu, aku udah suka sama Cahyo. Waktu itu, aku pernah lihat dia bantu ibunya bawa dagangan pulang. Panas-panasan, bawa ember, galon, dan tas belanjaan... tapi dia tetap senyum. Itu... bikin aku ngerasa, dia cowok paling baik sedunia.”
Kami semua terdiam. Wulan jarang ngomong panjang, apalagi soal hati. Tapi malam ini... dia buka diri.
“Tapi aku cuma bisa diam. Aku bukan tipe yang bisa ngomong duluan. Baru waktu kelas dua, aku sempat ngobrol sama dia. Tapi... ya gitu. Dia udah berubah.”
“Jadi mutan,” potong Maya pelan.
Wulan mengangguk. “Dan dia pernah bilang... dia takut punya pacar. Karena dia takut gak bisa jaga. Katanya, dia lebih milih ngelindungi semua orang dulu daripada satu orang yang dia cinta.”
Aku menunduk. Kata-kata Wulan barusan... mengena banget. Karena aku tahu betul, Cahyo memang begitu.
Maya tersenyum tipis. “Aku awalnya cuma deketin Cahyo karena misi cari informasi tentang Pak Handoyo. Mau cari tahu apa dia bener-bener punya darah naga. Tapi... lama-lama... aku suka dia beneran. Bukan karena kekuatannya. Tapi karena... dia selalu jadi yang paling manusiawi... di antara kita semua.”
Evi sudah mulai nyender sambil ngucek mata. “Ngantuk banget sumpah...”
Wulan mulai rebahan.
Maya udah nutupin muka pakai selimut.
Dan giliran aku untuk cerita.
Tapi Mereka sudah tidur.
Aku menatap langit-langit kamar. Hening. Sunyi. Tapi hatiku penuh. Bukan karena aku kecewa gak dapat giliran.
Tapi karena aku lega.
Aku bersyukur... rahasia kecilku tentang Cahyo masih aman.
Untuk sekarang.
Untuk malam ini.
Karena perasaanku... biarlah cuma aku yang tahu.
Aku menoleh kanan-kiri.
Evi sudah ngorok halus, kayak ringtone whale song.
Wulan peluk bantal sambil senyum kecil, mungkin lagi mimpi Cahyo jadi kasir Indomaret.
Maya? Dia udah setengah ngiler, setengah ketawa kecil—kayak lagi mimpi ngetawain aku.
Aku sendiri masih melek.
Ngeliatin atap kamar, yang catnya udah mulai pudar, tapi tetap jadi saksi bisu semua rahasia anak-anak ini.
Di kepala, aku ulang lagi semua cerita malam ini.
Evi yang nunggu ditembak.
Wulan yang diam-diam nyimpen perasaan dari lama.
Maya yang awalnya cuma pura-pura, tapi akhirnya beneran jatuh.
Dan aku?
Ya, aku ketawa kecil sendiri.
Karena satu-satunya orang yang paling kocak di cerita drama cinta ini... ternyata adalah aku.
Yang nahan rahasia.
Yang nggak bakal pernah cerita kalau... ya, aku juga suka Cahyo.
Aku tarik selimut.
Mataku mulai berat.
Dan sebelum tidur, aku bisik pelan ke diri sendiri:
“Semoga besok, nggak ada yang baca pikiranku.”
Karena kalau ketahuan?
Waduh, lebih chaos daripada kita teleport salah kamar mandi.
Pagi itu, aku, Maya, Wulan, dan Evi duduk melingkar di ruang tamu rumah kakek. Sofa empuk, teh manis di atas meja, dan suasana serius yang nggak biasa. Dolce lagi utak-atik sesuatu di pojokan, sementara Fredy berdiri di belakang kakek, dengan ekspresi kayak bodyguard elit.
Kakek menatap kami satu per satu. Sorot matanya tajam, tapi penuh rasa percaya.
“Aku punya misi buat kalian,” katanya. “Misi penting. Rahasia. Dan… hanya kalian yang bisa.”
Kami saling lirik. Maya duduk tegak. Wulan menunduk pelan. Evi lagi nyicil cemilan di meja. Aku sendiri? Jantungku mulai deg-degan. Setiap kali kakek mulai kalimat pakai ‘aku punya misi’, itu berarti bakal ada masalah yang nggak bisa diselesaikan cuma pakai Google.
“Di Surabaya mulai muncul jenis obat baru,” lanjut kakek. “Bentuknya pil kecil, tapi efeknya luar biasa. Obat itu bisa melipatgandakan potensi tubuh manusia sampai lima kali lipat.”
“Lima kali?” Maya mengerutkan kening. “Kalau orang bisa lari 20 km/jam, jadi 100 km/jam?”
“Betul,” jawab Fredy. “Kalau loncat 2 meter, jadi 10 meter. Tapi… efek sampingnya brutal. Obat ini bikin pengguna jadi buas. Gila. Bahkan mutan bisa hilang kendali.”
Aku mengangguk. “Jadi kayak Hulk… tapi tanpa tanggung jawab.”
“Masalahnya,” kata kakek, “peredarannya mulai menyebar di kota. Tiga kasus kriminal terakhir—perampokan toko emas, penganiayaan polisi, dan pencurian motor massal—semuanya pelakunya pakai obat itu.”
Wulan akhirnya buka suara. “Dan kenapa kami, squad cewek, yang dikasih misi?”
Kakek tersenyum. “Karena kalian lebih tenang, lebih taktis dan nggak gampang ribut sendiri.”
Kami langsung kompak senyum lebar. Ya, bener juga sih. Kalau misi ini dikasih ke squad cowok, bisa-bisa mereka ribut gara-gara kode sandi atau berebut siapa yang jadi pemimpin operasi.
“Kita mulai penyelidikan malam ini,” kata Maya sambil mengaktifkan peta digital di jam tangannya. “Aku udah dapat titik-titik yang dicurigai jadi tempat distribusi.”
Evi menepuk-nepuk tas selempangnya. “Aku siap. Teleportasi aktif. Ketepel penuh. Cemilan juga udah ready.”
Wulan memasukkan sarung tangan kejutnya ke dalam saku jaket. “Kalau perlu penyembuhan, aku cover.”
Aku menarik napas dan menatap kakek. “Jangan khawatir. Kami yang akan tangani ini.”
Kakek mengangguk bangga. “Dan ingat, Fia… jangan cuma kuat di medan tempur. Tapi juga kuat menjaga sesama.”
Misi dimulai. Tim cewek siap turun ke jalan. Dan jujur aja… ini misi yang bakal jauh lebih serius dari sekadar menghadapi mutan pelempar ember.
Ngerumpi di Tengah Misi
Malam itu, kamar kami penuh tawa, bantal bertebangan, dan... popcorn. Maya, Wulan, Evi, dan aku berkumpul di kamarku—yang sebenarnya lebih cocok disebut markas kecil kami. Rencana awalnya sih mau bahas strategi misi penyusupan soal obat terlarang tadi.
Tapi kenyataannya?
Kami malah ngerumpiin Cahyo.
Iya, Cahyo. Cowok polos separuh kodok yang entah kenapa berhasil bikin jantung kami serempak skip beat. Padahal dari semua cowok di squad, dia yang paling bego logika, paling gampang disuruh-suruh, dan paling sering nyasar di gedung tempat dia sendiri pernah bertarung. Tapi justru itu yang bikin kami bingung. Kok bisa?
Evi mulai duluan.
“Dulu dia tembak aku waktu awal SMA. Tiap hari bawa bunga plastik, cokelat seribuan, dan surat cinta yang ditulis di sobekan buku tugas,” curhat Evi sambil selonjoran di kasur bawah.
“Terus lo tolak?” tanya Wulan sambil nyemil keripik.
“Yaiyalah. Dia nyebelin banget. Nanya PR ke aku tiap hari kayak gak punya otak. Aku pikir dia cuma naksir karena aku pinter.”
Aku dan Maya langsung ketawa pelan.
“Tapi… sejak dia berhenti ngejar aku dan malah sering bareng sama kalian…” lanjut Evi pelan, “...aku jadi kangen ditanya PR. Gila gak sih?”
“Gak gila,” jawab Maya. “Gue juga suka ditanya PR... walau bukan sama Cahyo.” (Kami tahu itu sindiran halus buat Aryo yang nyebelin tapi bikin deg-degan.)
Wulan angkat tangan. “Kalau aku, gak pernah ditembak Cahyo. Tapi... tiap dia nyengir tolol sambil bawa makanan, aku ngerasa kayak... pengen nyuapin dia.”
“Awww...” kami bertiga kompak.
“Eh tapi serius,” sambungku. “Cahyo itu... beda. Kadang bego, tapi selalu duluan maju pas ada bahaya. Kadang tolol, tapi selalu bikin hati kita tenang. Aku pernah lihat dia diludahin mutan, jatuh dari gedung, terus bangun sambil senyum... ‘aku gak papa, yang penting kalian aman’.”
Kami terdiam sebentar.
Lalu Maya nyeletuk, “Jadi siapa nih yang beneran naksir Cahyo?”
Semua mata menoleh ke satu sama lain.
Evi senyum malu.
Wulan pura-pura main HP.
Maya nyengir dan bilang, “Gue sih suka cewek yang suka Cahyo.”
Aku? Aku diam.
Karena jawaban paling jujur itu... gak selalu harus diucapkan duluan.
Rahasia yang Tetap Kusimpan
Setelah Evi curhat panjang soal cowok polos separuh kodok yang tak kunjung nembak, giliran Wulan yang bicara.
Dengan suaranya yang lembut dan posisi duduk bersila sambil peluk bantal, dia mulai cerita pelan-pelan. “Dari kelas satu, aku udah suka sama Cahyo. Waktu itu, aku pernah lihat dia bantu ibunya bawa dagangan pulang. Panas-panasan, bawa ember, galon, dan tas belanjaan... tapi dia tetap senyum. Itu... bikin aku ngerasa, dia cowok paling baik sedunia.”
Kami semua terdiam. Wulan jarang ngomong panjang, apalagi soal hati. Tapi malam ini... dia buka diri.
“Tapi aku cuma bisa diam. Aku bukan tipe yang bisa ngomong duluan. Baru waktu kelas dua, aku sempat ngobrol sama dia. Tapi... ya gitu. Dia udah berubah.”
“Jadi mutan,” potong Maya pelan.
Wulan mengangguk. “Dan dia pernah bilang... dia takut punya pacar. Karena dia takut gak bisa jaga. Katanya, dia lebih milih ngelindungi semua orang dulu daripada satu orang yang dia cinta.”
Aku menunduk. Kata-kata Wulan barusan... mengena banget. Karena aku tahu betul, Cahyo memang begitu.
Maya tersenyum tipis. “Aku awalnya cuma deketin Cahyo karena misi cari informasi tentang Pak Handoyo. Mau cari tahu apa dia bener-bener punya darah naga. Tapi... lama-lama... aku suka dia beneran. Bukan karena kekuatannya. Tapi karena... dia selalu jadi yang paling manusiawi... di antara kita semua.”
Evi sudah mulai nyender sambil ngucek mata. “Ngantuk banget sumpah...”
Wulan mulai rebahan.
Maya udah nutupin muka pakai selimut.
Dan giliran aku untuk cerita.
Tapi Mereka sudah tidur.
Aku menatap langit-langit kamar. Hening. Sunyi. Tapi hatiku penuh. Bukan karena aku kecewa gak dapat giliran.
Tapi karena aku lega.
Aku bersyukur... rahasia kecilku tentang Cahyo masih aman.
Untuk sekarang.
Untuk malam ini.
Karena perasaanku... biarlah cuma aku yang tahu.
Aku menoleh kanan-kiri.
Evi sudah ngorok halus, kayak ringtone whale song.
Wulan peluk bantal sambil senyum kecil, mungkin lagi mimpi Cahyo jadi kasir Indomaret.
Maya? Dia udah setengah ngiler, setengah ketawa kecil—kayak lagi mimpi ngetawain aku.
Aku sendiri masih melek.
Ngeliatin atap kamar, yang catnya udah mulai pudar, tapi tetap jadi saksi bisu semua rahasia anak-anak ini.
Di kepala, aku ulang lagi semua cerita malam ini.
Evi yang nunggu ditembak.
Wulan yang diam-diam nyimpen perasaan dari lama.
Maya yang awalnya cuma pura-pura, tapi akhirnya beneran jatuh.
Dan aku?
Ya, aku ketawa kecil sendiri.
Karena satu-satunya orang yang paling kocak di cerita drama cinta ini... ternyata adalah aku.
Yang nahan rahasia.
Yang nggak bakal pernah cerita kalau... ya, aku juga suka Cahyo.
Aku tarik selimut.
Mataku mulai berat.
Dan sebelum tidur, aku bisik pelan ke diri sendiri:
“Semoga besok, nggak ada yang baca pikiranku.”
Karena kalau ketahuan?
Waduh, lebih chaos daripada kita teleport salah kamar mandi.
Other Stories
DARAH NAGA
Handoyo, harus menjaga portal yang terbuka agar mahkluk dunia fantasy tidak masuk ke bumi. ...
After Honeymoon
Sama-sama tengah menyembuhkan rasa sakit hati, bertemu dengan nuansa Pulau Dewata yang sel ...
Mauren, Lupakan Masa Lalu
“Nico bangun Sayang ... kita mulai semuanya dari awal anggap kita mengenal pribadi ya ...
Anak Singkong
Sebuah tim e-sport dari desa, "Anak Singkong", mengguncang panggung nasional. Dengan strat ...
Buku Mewarnai
ini adalah buku mewarnai srbagai contoh upload buku ...
Kacamata Kematian
Arsyil Langit Ramadhan lagi naksir berat sama cewek bernama Arshita Bintang Oktarina. Ia b ...