Pasti Ada Jalan

Reads
674
Votes
1
Parts
10
Vote
Report
Penulis Rijke Rie

Bab 2 - Dilarang Di Sini

“Sari!”

Teriakan Bu Dewi membuat Sari hampir saja tersedak. Demikian juga dengan Raka. Ibu dan anak itu saling memandang dengan bias kekuatiran.

“Sari, cepat sini!” jerit Bu Dewi.

Spontan Sari meletakkan piringnya. Tergopoh menuju ke sumber suara. Raka pun mengikuti ibunya dari belakang.

“Kayak gini jangan taruh di sini dong! Nanti orang jijik liatnya.” Jari telunjuk Bu Dewi yang tebal menunjuk karung milik Raka. “Bau itu.”

“Itu nggak bau, Bu…. Kardus-kardusnya bersih, saya ambil dari—”

“Nggak bau ya bagi hidungmu! Sudah terbiasa dengan hidup jorok!” tukas Bu Dewi. “Buat orang lain ini bau, jijik. Sari, Sari… ajarin anakmu sopan santun!”

“Ya, Bu. Maafkan Raka.” Sari bergerak cepat. Mengambil karung itu. Lalu menggandeng Raka untuk kembali ke belakang.

“Kalian berdua itu dibiarin semakin ngelunjak ya! Capek ngasih taunya. Awas aja setelah ini anakmu duduk di depan warung, sok-sok belajar.” Bu Dewi berseru seraya kembali ke kursinya. “Aku tau tujuanmu itu menarik simpati pelangganku kan, biar anakmu dikasihani. Yang ada bikin sial warungku!”

“Mak… maafin aku ya,” bisik Raka. “Aku lupa soal karung.”

Sari menelan ludah. “Udah, ayuk habisin makannya.”

Raka mengangguk pasrah. Dia kembali mulai mengunyah. Perasaan yang tadi sempat senang, kini menjadi sedikit berkurang.

“Jangan sedih di depan makanan, pamali,” lirih Sari. Menampakkan senyum di wajah lelahnya. “Kita harus bersyukur masih bisa makan nasi.”

“Nasi sisa orang makan, Mak.” Suara Raka sendu.

“Raka, jangan begitu. Ingat, kita pernah nggak makan berhari-hari kan? Jadi kita harus bersyukur,” bujuk Sari. Dia sempatkan untuk mengulurkan tangan. Mengusap pucuk kepala anaknya. “Jangan terlalu dengerin omelan jelek Bu Dewi. Dia memang begitu ke semua orang. Pelanggan juga dijudesin apalagi kita.”

Raka terdiam. Mulutnya kembali mengunyah.

“Raka!” Suara Bu Dewi terdengar lagi. Lebih menggelegar dibanding yang tadi. “Habis makan kamu langsung pulang ya. Jangan duduk lama-lama di warung ini. Ibumu lagi kerja, lagian kamu sudah besar, harusnya berani menunggu di rumah.”

Sari mendongak cepat, berusaha tersenyum pada sang anak. Namun dia tidak dapat menyembunyikan tangannya yang menggenggam sendok menjadi bergetar.

Raka menunduk semakin dalam. Menghela napas. Suaranya lirih, hampir seperti bisikan. “Tuh kan, Mak….”

Sari menelan ludah. Netranya memanas.

Anaknya yang sudah dua belas tahun ini, bukannya tidak berani berada di rumah sendirian. Justru Sari yang tidak berani meninggalkan Raka, tepatnya tidak ingin mengambil resiko.

Sudah banyak kasus yang Sari dengar mengenai penganiayaan, pelecehan atau hal buruk lainnya terhadap anak-anak. Penjahat jaman sekarang sadis, dan Sari hanya ingin Raka selalu dalam pandangan matanya jika hari sudah menuju gelap.

Sari yakin jika dia membiarkan Raka pergi dari warung setelah ini, pasti anaknya akan kembali memulung. Dan dia tidak ingin itu terjadi. Gelap itu rawan sekali, makanya Sari hanya memperbolehkan Raka memulung di siang hari dan tempat yang ramai.

“Pe er-ku gimana, Mak.” Raka kembali berbisik. Memecah lamunan ibunya. “Kupikir masih bisa ngerjain depan warung, kayak biasa….”

Sari menghela napas. “Kalau di sini kurang terang ya?”

Raka mengangguk. Dengan sedikit mendesah lelaki kecil itu berucap, “Seandainya listrik rumah kita nyala ya, Mak.”

“Kita usahakan segera ya. U-uang hari ini mau Mamak belikan gas dulu.” Sari menengadah sedih. Menghembus napas diam-diam. Token listrik atau gas sama pentingnya, tetapi gas itu mendesak, untuk kebutuhan perut mereka.

Mendadak dia melihat cahaya terpancar dari atas mereka. Pancaran lampu jalanan.

“Ka, kalau kamu ngerjain di seberang warung, di bawah lampu jalanan… gimana?” Hati-hati sekali Sari bicara.

“Oh iya, Mak. Bisa, bisa….” Wajah tampan Raka yang kusam kembali menyulut gairah. “Itu kan sudah di luar warung, bukan area Bu Dewi lagi ya, Mak?”

“Iya, Mamak juga bisa liat kamu dari warung sesekali. Tapi janji kamu nggak akan pergi dari situ. Harus tetap duduk, kalau ada orang mencurigakan kamu harus teriak ya.”

Raka mengangguk lagi.

“Janji ya? Kalau melanggar Mamak sedih.

“Iya, Mak.”

“Ayo tinggal satu suap,” titah Sari. “Mamak ambil minum dulu.”

Raka tergesa menyuapkan sesendok nasi terakhir. Menelannya dengan susah payah, sebab telinganya mendengar sentakan Bu Dewi kepada ibunya.

“Jangan ambil banyak-banyak. Kamu pikir itu air gratis apa? Aku juga beli pakai uang tau!"


Other Stories
Tea Love

Miranda tak ingin melepas kariernya demi full time mother, meski suaminya meminta begitu. ...

Jodoh Nyasar Alina

Alina, si sarjana dari Eropa, pulang kampung cuma gara-gara restu Nyak-nya. Nggak bisa ker ...

Melepasmu Untuk Sementara

Perjalanan meraih tujuan tidaklah mudah, penuh rintangan dan cobaan yang hampir membuat me ...

Mauren Lupakan Masa Lalu

Mauren menolak urusan cinta karena trauma keluarga dan nyaman dengan tampilannya yang mask ...

Blind

Ketika dunia gelap, seorang hampir kehilangan harapan. Tapi di tengah kegelapan, cinta dar ...

Separuh Dzrah

Saat salam terakhir dalam salat mulai terdengar, di sana juga akan mulai terdengar suar ...

Download Titik & Koma