Bab 2. Mimpiku Berakhir Begitu Saja
Di hari Minggu yang cerah ini,rhea berniat untuk mengunjungi perpustakaan kota,ia pergi sendirian, ibunya sudah melarangnya tapi ia kekeh untuk tetap pergi," Tidak akan terjadi apa apa dengan ku Bu,lagian tempat nya juga dekat kok." Desisnya santai sambil tertawa tapi Bu ilah hanya menggeleng gelengkan kepalanya,dan menuruti kemauan anak sulungnya itu.
Rhea bergegas jalan menuju halte bus yang dekat dengan rumahnya,ia berjalan di bahu jalan, suasana jalan terbilang cukup ramai dengan mobil mobil besar yang pemuat barang,rhea tidak menghiraukan sekitar nya hanya fokus dengan hp nya sambil tertawa tawa membaca komentar lucu orang orang di videonya, suara klakson mobil terdengar sejak tadi,tapi rhea masih tidak menghiraukannya,sekali dua kali rhea menoleh kebelakang tapi menurutnya tidak ada apa apa hanya beberapa mobil dan sepeda motor yang melintas aman ia kembali melihat layar hp nya.
hingga suara klakson yang cukup panjang terdengar lagi cukup dekat ia menoleh ke sumber suara sontak matanya melotot dan suara teriaknya lantang,sebuah mobil truk besar sedang kehilangan kendali rem yang tanpa sengaja mengarah ke bahu jalan dan menabrak rhea dan juga dua rumah di dekatnya.
kondisi mobilnya cukup parah setelah menabrak rumah warga,orang orang ramai berdatangan untuk melihat kondisi kecelakaan nya,sang sopir yang ditemukan terkapar cukup parah di dekat mobilnya ada banyak luka di badannya, sementara dikabarkan ada saksi yang melihat ada satu korban lagi seorang cewek kemudian orang orang mencarinya,rhea belum ditemukan setelah dicari beberapa saat, sampai polisi datang dan mencari rhea lagi, polisi menemukan rhea sedang tergeletak tak sadarkan diri dibawah mobil Truk itu dengan mendekap tas dan hp nya, kondisinya cukup parah, terutama dibagian kaki , setelah menelpon ambulans, akhirnya rhea dilarikan ke rumah sakit.
Bu ilah yang membersihkan rumah dikejutkan dengan kedatangan dua polisi ke rumahnya, "Selamat siang Bu, apakah benar ini rumahnya Ananda Rhea Silvana?" Tanya salah satu polisi itu,Bu ilah bergidik gelisah dan bingung.
"Iya benar pak,ada apa ya?"
"Iya Bu, ananda Silvana Baru saja mengalami kecelakaan dan dilarikan ke rumah sakit." Mendengar itu,sontak sapu yang dipegang Bu ilah terjatuh.
"Ba.. bagaimana keadaan nya pak?" Lirihnya terbata bata.
"Sepertinya kondisinya cukup parah." Setelah itu,Bu ilah mengajak adik adik rhea untuk segera ke rumah sakit untuk melihat kondisi rhea.
...
Langkah gemetar mereka memasuki rumah sakit mencari nama kamar rhea, sesekali Roni menangis karena mendengar kabar kakaknya yang kecelakaan, Rhea yang malang itu sudah terlihat oleh ibunya dan adik adiknya,ia terbaring lemah dengan selang infus yang tertancap sempurna di tangannya, wajahnya pucat terpejam, tidak lagi bertanya tapi hanya menangis yang bisa dikeluarkan oleh Bu ilah, sementara adik adiknya duduk diluar ruangan dengan terus mendoakan rhea.
"Rhea... kenapa ini harus terjadi padamu nak.." lirih Bu ilah duduk di samping rhea,Bu ilah mengelus pelan pipi rhea.
"Coba saja kamu dengerin ibu tadi,kamu tidak akan mengalami ini." Sahutnya lagi mengelus kepala rhea,lalu mencium keningnya rhea.
Setelah beberapa jam rhea belum sadar, akhirnya malam harinya ia sadarkan diri,ia mulai sedikit demi sedikit berusaha membuka kedua matanya yang terasa berat itu,pandangan kabur yang pertama kali dilihatnya, tangannya mengucek pelan matanya hingga fokus nya mulai bertambah,ia bisa melihat langit langit ruangan itu dengan cukup jelas sekarang,"aku dimana..." Ujarnya sedikit panik dengan menoleh memperhatikan sekitar nya,ia mengingat satu tempat, Rumah sakit?
Ia merasakan sebuah tangan yang menegang tangannya itu adalah tangan ibunya, "ibu..." Ucapnya jelas, Bu likah yang tadi tertidur akhirnya bangun setelah mendengar suara rhea.
"Rhea..kamu sudah sadar nak." Ucapnya sambil tersenyum,rhea masih berusaha mencerna semuanya,ia beberapa kali mengingat momen mengapa ia bisa sampai di rumah sakit.
"Maafkan aku buk,ibuk harus melihat ku seperti ini." Tukasnya meneteskan air matanya,lalu Diandra dan Roni memeluknya,ia tidak pernah menyangka bahwa ia akan terbaring dirumah sakit.
Seorang dokter laki laki masuk ke ruangan rhea, "selamat malam Bu..." Ucapnya kepada Bu ilah.
"Saya harus memeriksa lagi terlebih dahulu keadaan nya." Lalu Bu ilah keluar bersama anak anaknya.
Dokternya menjelaskan bahwa kondisinya cukup parah, "kamu harus dirawat disini sampai keadaan kamu benar benar pulih." Ucap dokter setelah memeriksa nya.
"Kamu belum boleh banyak gerak dulu,ini pasti akan sulit untuk mu tapi tolong selalu bertahan lah." Sahut lagi dokter.
"Bagaimana keadaan saya secara jelasnya dok?" Tanyanya pelan.
"Nanti kamu akan tahu dengan sendirinya, sekarang biarkan kamu istirahat dulu ya." Lalu dokternya pergi dan mengajak Bu ilah untuk bicara.
"Maaf Bu,saya harus mengatakan ini, bahwa putri ibuk mengalami kelumpuhan pada kedua kakinya karena kecelakaan itu." Penjelasan dokter seolah membuat Bu ilah tak berdaya,kenapa ini harus terjadi dengan anaknya? Anak sulungnya yang kini menjadi tulang punggung keluarganya,Bu ilah terus menangis karena kondisi rhea,ia serasa tidak percaya bahwa ini akan menimpa putrinya. Ia masuk kembali ke ruangan rhea dengan berusaha tegar,Bu ilah masih berusaha mengusap sisa sisa air matanya.
"Ibu..."ucap rhea tersenyum.
"Aku baik baik saja Bu." Sambungnya lagi,Bu ilah menghampiri rhea dan duduk disampingnya,Bu ilah sesaat menunjukkan senyuman palsunya kepada rhea.
"Dimana Diandra dan Roni?"
"Mereka ada,diluar,udah kamu istirahat aja rhea." Desis Bu ilah memegang tangan rhea.
Rhea berusaha bangun,ia begitu kesusahan hingga setengah badannya bangkit tapi dirinya baru sadar bahwa kakinya sama sekali tidak terasa,ia masih berusaha ingin menggerakkan kakinya tapi masih sama saja tidak bisa,"ibu...kakiku kenapa Bu?" Rhea melirik ibunya panik.
"Ibu kenapa kaki ku tidak bisa digerakkan,Bu... katakan..." Ujarnya lagi tapi tangisan Bu ilah pecah saat itu juga.
"Ibu kok nangis...Bu .. katakan sesuatu." Iya ikut meneteskan air matanya karena melihat ibunya yang menangis sambil memeluk nya.
"Maafkan ibu rhea, ibu harus mengatakan ini, bahwa kamu sekarang tidak akan bisa berjalan lagi,kaki kamu lumpuh."
Jelasnya,kedua tangan rhea yang semula Menggenggam punggung ibunya reflek melepaskannya tak berdaya, tatapan nya mulai kosong tak percaya. "Nggak....ini nggak mungkin..." Teriaknya sambil menangis,ia memukul mukul kakinya terus menerus,Bu ilah berusaha mencegahnya.
Sekarang ia hanya bisa termenung meratapi nasibnya,ia masih serasa tidak percaya bahwa ini akan terjadi, Panggung kemarin... adalah panggung Terakhir nya.
Teman temannya dan guru nya mulai berdatangan menjenguknya,rhea masih belum bisa menerima keadaannya.
Rhea bergegas jalan menuju halte bus yang dekat dengan rumahnya,ia berjalan di bahu jalan, suasana jalan terbilang cukup ramai dengan mobil mobil besar yang pemuat barang,rhea tidak menghiraukan sekitar nya hanya fokus dengan hp nya sambil tertawa tawa membaca komentar lucu orang orang di videonya, suara klakson mobil terdengar sejak tadi,tapi rhea masih tidak menghiraukannya,sekali dua kali rhea menoleh kebelakang tapi menurutnya tidak ada apa apa hanya beberapa mobil dan sepeda motor yang melintas aman ia kembali melihat layar hp nya.
hingga suara klakson yang cukup panjang terdengar lagi cukup dekat ia menoleh ke sumber suara sontak matanya melotot dan suara teriaknya lantang,sebuah mobil truk besar sedang kehilangan kendali rem yang tanpa sengaja mengarah ke bahu jalan dan menabrak rhea dan juga dua rumah di dekatnya.
kondisi mobilnya cukup parah setelah menabrak rumah warga,orang orang ramai berdatangan untuk melihat kondisi kecelakaan nya,sang sopir yang ditemukan terkapar cukup parah di dekat mobilnya ada banyak luka di badannya, sementara dikabarkan ada saksi yang melihat ada satu korban lagi seorang cewek kemudian orang orang mencarinya,rhea belum ditemukan setelah dicari beberapa saat, sampai polisi datang dan mencari rhea lagi, polisi menemukan rhea sedang tergeletak tak sadarkan diri dibawah mobil Truk itu dengan mendekap tas dan hp nya, kondisinya cukup parah, terutama dibagian kaki , setelah menelpon ambulans, akhirnya rhea dilarikan ke rumah sakit.
Bu ilah yang membersihkan rumah dikejutkan dengan kedatangan dua polisi ke rumahnya, "Selamat siang Bu, apakah benar ini rumahnya Ananda Rhea Silvana?" Tanya salah satu polisi itu,Bu ilah bergidik gelisah dan bingung.
"Iya benar pak,ada apa ya?"
"Iya Bu, ananda Silvana Baru saja mengalami kecelakaan dan dilarikan ke rumah sakit." Mendengar itu,sontak sapu yang dipegang Bu ilah terjatuh.
"Ba.. bagaimana keadaan nya pak?" Lirihnya terbata bata.
"Sepertinya kondisinya cukup parah." Setelah itu,Bu ilah mengajak adik adik rhea untuk segera ke rumah sakit untuk melihat kondisi rhea.
...
Langkah gemetar mereka memasuki rumah sakit mencari nama kamar rhea, sesekali Roni menangis karena mendengar kabar kakaknya yang kecelakaan, Rhea yang malang itu sudah terlihat oleh ibunya dan adik adiknya,ia terbaring lemah dengan selang infus yang tertancap sempurna di tangannya, wajahnya pucat terpejam, tidak lagi bertanya tapi hanya menangis yang bisa dikeluarkan oleh Bu ilah, sementara adik adiknya duduk diluar ruangan dengan terus mendoakan rhea.
"Rhea... kenapa ini harus terjadi padamu nak.." lirih Bu ilah duduk di samping rhea,Bu ilah mengelus pelan pipi rhea.
"Coba saja kamu dengerin ibu tadi,kamu tidak akan mengalami ini." Sahutnya lagi mengelus kepala rhea,lalu mencium keningnya rhea.
Setelah beberapa jam rhea belum sadar, akhirnya malam harinya ia sadarkan diri,ia mulai sedikit demi sedikit berusaha membuka kedua matanya yang terasa berat itu,pandangan kabur yang pertama kali dilihatnya, tangannya mengucek pelan matanya hingga fokus nya mulai bertambah,ia bisa melihat langit langit ruangan itu dengan cukup jelas sekarang,"aku dimana..." Ujarnya sedikit panik dengan menoleh memperhatikan sekitar nya,ia mengingat satu tempat, Rumah sakit?
Ia merasakan sebuah tangan yang menegang tangannya itu adalah tangan ibunya, "ibu..." Ucapnya jelas, Bu likah yang tadi tertidur akhirnya bangun setelah mendengar suara rhea.
"Rhea..kamu sudah sadar nak." Ucapnya sambil tersenyum,rhea masih berusaha mencerna semuanya,ia beberapa kali mengingat momen mengapa ia bisa sampai di rumah sakit.
"Maafkan aku buk,ibuk harus melihat ku seperti ini." Tukasnya meneteskan air matanya,lalu Diandra dan Roni memeluknya,ia tidak pernah menyangka bahwa ia akan terbaring dirumah sakit.
Seorang dokter laki laki masuk ke ruangan rhea, "selamat malam Bu..." Ucapnya kepada Bu ilah.
"Saya harus memeriksa lagi terlebih dahulu keadaan nya." Lalu Bu ilah keluar bersama anak anaknya.
Dokternya menjelaskan bahwa kondisinya cukup parah, "kamu harus dirawat disini sampai keadaan kamu benar benar pulih." Ucap dokter setelah memeriksa nya.
"Kamu belum boleh banyak gerak dulu,ini pasti akan sulit untuk mu tapi tolong selalu bertahan lah." Sahut lagi dokter.
"Bagaimana keadaan saya secara jelasnya dok?" Tanyanya pelan.
"Nanti kamu akan tahu dengan sendirinya, sekarang biarkan kamu istirahat dulu ya." Lalu dokternya pergi dan mengajak Bu ilah untuk bicara.
"Maaf Bu,saya harus mengatakan ini, bahwa putri ibuk mengalami kelumpuhan pada kedua kakinya karena kecelakaan itu." Penjelasan dokter seolah membuat Bu ilah tak berdaya,kenapa ini harus terjadi dengan anaknya? Anak sulungnya yang kini menjadi tulang punggung keluarganya,Bu ilah terus menangis karena kondisi rhea,ia serasa tidak percaya bahwa ini akan menimpa putrinya. Ia masuk kembali ke ruangan rhea dengan berusaha tegar,Bu ilah masih berusaha mengusap sisa sisa air matanya.
"Ibu..."ucap rhea tersenyum.
"Aku baik baik saja Bu." Sambungnya lagi,Bu ilah menghampiri rhea dan duduk disampingnya,Bu ilah sesaat menunjukkan senyuman palsunya kepada rhea.
"Dimana Diandra dan Roni?"
"Mereka ada,diluar,udah kamu istirahat aja rhea." Desis Bu ilah memegang tangan rhea.
Rhea berusaha bangun,ia begitu kesusahan hingga setengah badannya bangkit tapi dirinya baru sadar bahwa kakinya sama sekali tidak terasa,ia masih berusaha ingin menggerakkan kakinya tapi masih sama saja tidak bisa,"ibu...kakiku kenapa Bu?" Rhea melirik ibunya panik.
"Ibu kenapa kaki ku tidak bisa digerakkan,Bu... katakan..." Ujarnya lagi tapi tangisan Bu ilah pecah saat itu juga.
"Ibu kok nangis...Bu .. katakan sesuatu." Iya ikut meneteskan air matanya karena melihat ibunya yang menangis sambil memeluk nya.
"Maafkan ibu rhea, ibu harus mengatakan ini, bahwa kamu sekarang tidak akan bisa berjalan lagi,kaki kamu lumpuh."
Jelasnya,kedua tangan rhea yang semula Menggenggam punggung ibunya reflek melepaskannya tak berdaya, tatapan nya mulai kosong tak percaya. "Nggak....ini nggak mungkin..." Teriaknya sambil menangis,ia memukul mukul kakinya terus menerus,Bu ilah berusaha mencegahnya.
Sekarang ia hanya bisa termenung meratapi nasibnya,ia masih serasa tidak percaya bahwa ini akan terjadi, Panggung kemarin... adalah panggung Terakhir nya.
Teman temannya dan guru nya mulai berdatangan menjenguknya,rhea masih belum bisa menerima keadaannya.
Other Stories
Ablasa
Perjalanan Nindya dan teman-temannya ke Nusakambangan menjadi menyeramkan setelah mereka t ...
Curahan Hati Seorang Kacung
Saat sekolah kita berharap nantinya setelah lulus akan dapat kerjaan yang bagus. Kerjaan ...
Keikhlasan Cinta
6 tahun Hasrul pergi dari keluarganya, setelah dia kembali dia dipertemukan kembali dengan ...
Separuh Dzarah
Saat salam terakhir dalam salat mulai terdengar, di sana juga akan mulai terdengar suara ...
Titik Nol
Gunung purba bernama Gunung Ardhana konon menyimpan Titik Nol, sebuah lokasi mistis di man ...
Mozarella Bukan Cinderella
Moza tinggal di Panti Asuhan Muara Kasih Ibu sejak ia pertama kali melihat dunia. Seseo ...