Cahaya Suratemu
Matahari bisa pergi dan berubah wujud sebagai Senja yang turut pamit
Cahayanya terang, meninggalkan jejak rindu yang lekang
Dan Ayahmu bekerja keras untuk tidak menjadi salah satu dari cahaya itu, ia memilih menjadi api meski seringkali cahaya dalam dirinya redup, meski begitu tak kan biarkan semangat dalam jiwanya ikut terbakar.
Pohon-pohon sengon yang berjajar rapat, dan rimbun. Ranting daunnya bila tertiup angin kencang saling bersandaran, menjadi baju perisai sengat bengisnya dunia luar Desa Sinuriyam, lalu ketika langit berganti malam berubah menjadi selimut untuk malam-malam yang hitam gulita berduka memeluk kesunyian yang damai.
Hanya satu damar cempluk, yang sinar cahayanya mungil dan yang nyalanya benderang secercah di hati putih bersih Suratemu, anak gadis yang terkenal taat beribadah, rajin berangkat mengaji meski telapak kaki mulusnya perlahan terkikis digosok kerikil tajam. Telinganya diciptakan tidak terlalu tebal dan tipis, tetapi berlapis baja yang kebal warita hal-hal superantural dari mulut ke mulut di tempat dirinya tinggal itu. Sebab yang paling ia takuti adalah ketika Bapaknya jatuh sakit, siapa lagi yang akan menjadi lampu penerang jalannya menuju ketaatan, karena Bapak nya yang selalu menanti pergi dan kembalinya ia dari surau, di Buk Abang sambil memangku damar cempluk.
Cukup hanya pohon sengon lah yang menanggung dan menyukai kesunyian, Suratemu hanya seorang diri dari kelompok timur yang mau melampah jauh mengaji di Surau. Setiap bada salat maghrib, Suratemu hanya murojaah sendirian.
Hingga suatu hari, hatinya merasa sangat senang sekali memiliki beberapa teman bareng mengaji dari kelompok timur.
Malam itu, langit bercahaya dan berkilau meski tiada gugusan bintang seakan tengah ikut merayakannya juga, Suratemu kini bermurojaah dengan saling menyimak satu sama lain, belajar bersama-sama sampai tak terasa waktu cepat berlalu, tiba di waktu salat isya lalu pulang bersama.
Matanya yang sipit mencari-cari sosok wajah teduh, dengan senyum manis yang selalu diobral, meski kelopak itu terbuka lebar-lebar, tak dapat dirinya menemukan. Di Buk Abang, cahaya terang lebih benderang sejauh mata memandangnya dari jarak belasan meter. Lampu petromax di kail jemari tangan yang lebih renta, Pak Tumirin. Bapak dari teman mengaji Suratemu, Muslikha yang juga sebagai sahabatnya menggantikan Bapaknya menjadi penuntun jalan.
Suratemu cemas, sepanjang perjalanan juga terus terdiam.
* Catatan Kaki
1). Damar Cepluk adalah : Lampu minyak tanah yang disertai dengan kaca pelindung api (torong atau semprong), yang dinamai “pelita” atau “cempluk, damar, dimar, suluh.
Other Stories
Impianku
ini adalah sebuah cerita tentang impianku yang tertunda selama 10 tahun ...
Melepasmu Dalam Senja
Cinta pertama yang melukis warna Namun, mengapa ada warna-warna kelabu yang mengikuti? M ...
Seoul Harem
Raka Aditya, pemuda tangguh dari Indonesia, memimpin keluarganya memulai hidup baru di gem ...
Yume Tourou (lentera Mimpi)
Kanzaki Suraha, seorang Shinigami, bertugas menjemput arwah yang terjerumus iblis. Namun i ...
Nestapa
Masa kecil Zaskia kurang bahagia, karena kedua orangtua memilih bercerai. Ayahnya langsung ...
Dua Tangkai Edelweis
Dalam liburan singkat di Cianjur, Rani—remaja tomboy berhati lembut—mengalami pertemua ...