Bungkusan Rindu

Reads
285
Votes
1
Parts
4
Vote
Report
Bungkusan rindu
Bungkusan Rindu
Penulis Ela Raniyati

1

“Sagara ayo pulang nak, sebentar lagi ayah akan berangkat”.

Anara berteriak dari beranda rumahnya memanggil putra semata wayangnya yang sedang bermain bola dipinggir pantai bersama teman-temannya. Anara tinggal bersama suami dan anaknya didesa Bianglala yang sebagian besar penduduknya berprofesi sebagai nelayan. Suaminya bernama Bumi dan putra mereka yang bernama Sagara Putra Buana.

“iya bu”.

Sagara mengambil bolanya dan langsung berlari menuju kerumahnya yang terletak tidak jauh dari pantai tempatnya bermain. Ia menatap sang ayah yang tengah mempersiapkan peralatan untuk menangkap ikan dilaut, perlahan ia menaiki tangga untuk masuk kedalam rumahnya. Rumah Sagara berbentuk seperti rumah panggung yang terbuat dari kayu, memiliki lima buah anak tangga yang juga terbuat dari kayu.

“mandi ya nak, habis itu berangkat ke musholla”, Anara masih sibuk menyiapkan bekal untuk suaminya malam ini. Sudah menjadi tradisi ditempat mereka kalau anak-anak akan sholat magrib dimusholla, dan langsung mengaji dengan pak ustad. Sagara duduk dikursi meja makan memperhatikan kegiatan ibunya, ia merebahkan kepalanya ke meja “iya bu, aku kapan boleh ikut ayah melaut bu?”, matanya menatap Anara dengan lembut.

Anara tersenyum dan mengusap pelan rambut putranya “nanti ya nak, sekarang Gara harus rajin sekolah dan mengaji”. Sagara berdiri dari kursi dan memeluk sang ibu “aku kasihan melihat ayah harus melaut sendirian malam-malam bu”, tangan mungilnya memainkan ujung baju Anara.

Anara berjongkok mensejajarkan tingginya dengan sang putra “nanti kalau Gara sudah besar, sudah kuat untuk mengarungi lautan pasti ayah akan minta ditemani sama Gara”, ia mengapit pelan hidung mancung Sagara yang merupakan warisan dari gen Bumi yang memiliki hidung mancung. Sagara melompat kegirangan, ia sudah tidak sabar untuk menemani sang ayah melaut “kalau begitu aku mandi dulu bu”, ia mencium sekilas pipi Anara dan berlari menuju kamar mandi yang berada dibagian belakang rumah.

Bibir Anara melengkung membentuk senyuman, kebahagiaannya dan Bumi terasa lengkap dengan kehadiran Sagara diantara mereka. Ia berjalan keluar rumah untuk menemui Bumi “bekalnya sudah bang”, lalu duduk dianak tangga paling bawah menatap suaminya yang masih sibuk mempersiapkan peralatan. Bumi menatap Anara dan tersenyum “terimakasih, abang berangkat setelah sholat”, kemudian berjalan mendekati Anara dan mengajaknya masuk kedalam rumah.

Setelah selesai melaksanakan sholat isya, Bumi mulai mempersiapkan semua peralatannya dan memasukkan bekal dari Anara kedalam tasnya “abang berangkat ya dek, kamu jaga Sagara ya”, lalu mengecup puncak kepala istrinya cukup lama. Anara merasa aneh karena tidak biasanya Bumi menciumnya lama, namun tidak terlalu dipedulikannya. Ia mengantarkan suaminya sampai ke tempat perahu Bumi berada, ia melambaikan tangan saat perahu suaminya mulai menjauh.

Jalanan desa Bianglala tidak terlalu gelap karena terdapat obor yang selalu dinyalakan setiap jarak 50 meter. Sagara dan teman-temannya berjalan kaki sambil bersenda gurau pulang dari musholla menuju rumah masing-masing. Salah satu temannya yang bernama Alim bercerita bahwa kemarin ayahnya baru pulang ngelayat kerumah temannya didesa sebelah yang meninggal akibat perahunya dihantam badai besar ketika mencari ikan dilaut. Sagara hanya diam mendengarkan Alim bercerita, perasaan takut mulai menyelimutinya mengingat sang ayah juga melaut sendirian. Mereka mulai berpisah diperempatan jalanan desa, karena arah rumah mereka yang berbeda-beda.

Matahari sudah mulai meninggi namun Bumi belum juga kembali dari laut, hal itu membuat Anara cemas. Ia mondar-mandir dihalaman depan rumahnya, matanya terus menatap harap suaminya muncul dengan selamat. Suara Sagara yang baru pulang sekolah mengagetkannya “ibu sedang apa? Ayah belum pulang ya bu?”, ia berjalan perlahan dan memeluk pinggang Anara. Sagara menangis dengan tangan masih memeluk ibunya. Anara memeluk Sagara dan membawanya duduk ditangga “kamu kenapa menangis sayang? Kita tunggu ayah ya, sebentar lagi ayah pasti pulang”, ia mengelus lembut lengan putranya. Anara berusaha tenang dihadapan putranya walaupun didalam hatinya begitu khawatir.

Tidak lama seorang laki-laki seumuran Bumi bernama Goan berlari menghampiri Anara dengan nafas terengah-engah “Nara, Bumi ada dipantai ujung, ia tadi malam dihantam badai”. Tanpa menunggu lama Anara berlari menuju arah yang ditunjuk Goan dengan mengenggam erat tangan Sagara. Buliran bening keluar tanpa permisi dari kelopak matanya, kakinya terasa seperti jeli yang tidak bisa menopang badannya ketika melihat Bumi sudah tidak bernafas. Tubuh kekar itu sekarang kaku dan dingin, tidak lagi membalas pelukannya dan Sagara. Tidak ada lagi senyum saat Anara menyambutnya didepan pintu rumah. Sagara meraung memanggil sang ayah yang tidak lagi mengusap lembut kepalanya dikala ia sedih. Semua orang ikut meneteskan air mata menyaksikan Anara dan Sagara yang begitu terpukul karena kepergian Bumi yang tiba-tiba.

Setelah Bumi dikebumikan, Anara duduk diujung tangga didepan rumahnya. Mata sembabnya menatap lurus lautan, tangannya menggenggam erat baju milik suaminya. Tangan mungil milik Sagara tiba-tiba menghapus pelan air mata dipipi Anara. Tatapan Anara beralih ke Sagara, hatinya semakin hancur melihat Bumi didalam diri putra mereka. cara Sagara menatap, berjalan, bahkan cara Sagara berpikir persis seperti ayahnya. Ia merengkuh putranya kedalam pelukan “jangan tinggalkan ibu ya nak”, tangisnya kembali pecah saat mencium puncak kepala Sagara.

Kepergian Bumi sebagai tulang punggung keluarga, membuat kehidupan Anara dan anaknya berubah drastis. Ia sekarang harus benting tulang untuk mencukupi kebutuhan hidup, setiap hari Anara bekerja sebagai pembuat ikan asin disalah satu pabrik didesanya. Dua bulan lalu ibu Anara datang dari kampung halamannya untuk menamani anak dan cucunya yang sekarang hanya tinggal berdua. Sagara sangat senang akan kehadiran mbok Yati, ia tidak terlalu merasakan kesepian seperti sebelumnya. Mbok Yati pandai merajut, dan hasil rajutannya akan dijual Anara pada pagi hari kepasar sebelum ia berangkat ke pabrik. Lama-kelamaan mbok Yati tidak bisa merajut dengan sempurna, penglihatannya mulai terganggu karena faktor umur. Sumber penghasilan mereka sekarang hanya bergantung pada upah Anara dipabrik.

Tahun ajaran baru dimulai satu bulan lagi, kebutuhan peralatan sekolah Sagara memerlukan dana yang lumayan banyak. Anara tidak bisa hanya mengandalkan upahnya, ia mulai mencari pekerjaan tambahan dengan bekerja sebagai buruh cuci dirumah salah satu saudagar dikampung bianglala yang bernama Roni. Setelah satu bulan bekerja, Anara bersyukur gajinya cukup untuk memenuhi semua keperluan sekolah Sagara. Anara semakin giat untuk bekerja, pagi hingga sore ia akan bekerja dipabrik sedangkan sore hingga jam sembilan malam ia akan bekerja dirumah saudagar Roni.

Setelah empat bulan bekerja, tiba-tiba saudagar Roni mengutarakan niatnya untuk menjadikan Anara istri ketiganya. Tentu saja hal tersebut tidak disetujui Anara, ia masih belum bisa melupakan Bumi. Ia juga tidak berniat untuk menggantikan posisi suaminya dengan siapapun, fokus Anara sekarang hanya membesarkan putra semata wayangnya. Hal itu membuat saudagar Roni murka, ia memecat Anara dari pekerjaannya. Kehilangan pekerjaan dirumah saudagar Roni membuat keuangan keluarga Anara kembali serba kekurangan.

Anara akan bekerja serabutan dari sore hingga malam, bahkan Anara tidak malu jika ada yang menawarkannya menjadi tukang angkat belanjaan dari pasar kerumahnya. Semua yang bisa menghasilkan uang akan Anara lakukan.

Tiga tahun berlalu setelah kepergian Bumi, Sagara sudah menginjak usia remaja. Ia sudah duduk dibangku sekolah menengah pertama. Setiap hari ia bekerja sebagai buruh angkat dipabrik ikan asin tempat Anara bekerja. Awalnya Anara tidak mengizinkan karena takut mengganggu sekolah, namun Sagara berhasil meyakinkan sang ibu yang akhirnya memberi izin. Sagara tidak memiliki waktu bermain seperti remaja pada umumnya, ia lebih memilih menghabiskan waktunya untuk bekerja membantu ibunya mencari uang untuk kebutuhan sehari-hari.

Tanpa Sagara dan mbok Yati ketahui, hampir setiap malam Anara menangisi keadaan sang putra yang tidak seberuntung temannya yang lain. Rasa rindu kepada suaminya semakin membuncah saat melihat putranya tertidur lelap.

“andai bang Bumi masih ada, pasti Sagara tidak akan merasakan kepahitan hidup seperti saat ini, ia akan tertawa lepas bermain dengan anak seusianya, bukan menjadi tukang angkat barang yang bahkan melebihi bobot dirinya”.

Tidak terasa waktu begitu cepat berlalu, Sagara sudah menyelesaikan pendidikannya dibangku sekolah menengah pertama. Sagara sudah memasuki sekolah menengah atas, prestasinya tidak pernah menurun walaupun waktu belajarnya terkadang tersita oleh bekerja. Ia tidak pernah lalai akan kewajibannya sebagai seorang pelajar. Sagara memiliki cita-cita ingin menjadi seorang TNI Angkatan Laut.

Malam minggu merupakan malam yang sangat ditunggu oleh para pelajar, karena besoknya mereka libur. Sore harinya Sagara menemui sang paman, adik kandunng Bumi yang bernama Samudra. Sagara berniat untuk ikut bersama sang paman melaut.

“izin dulu kepada ibumu, kalau ibumu mengizinkan nanti malam aku tunggu sehabis sholat isya dipantai”, Samudra mengelus puncak kepala keponakannya.

“baik paman”, Sagara berlari kembali kerumah untuk meminta izin Anara.

Keinginan Sagara tentu saja ditolak mentah-mentah oleh sang ibu, trauma akan kehilangan Bumi untuk selamanya akibat ganasnya ombak lautan masih membekas dihati dan pikirannya sampai saat ini. Ia takut kejadian serupa akan kembali menimpa putra satu-satunya, berbagai upaya Sagara lakukan untuk meluluhkan hati ibunya. Akhirnya Anara luluh dan memberi izin Sagara pergi melaut bersama sang paman. Malam itu ia mengantarkan Sagara ke pantai untuk berangkat melaut pertama kalinya.

“Sam, titip ponakanmu ya, jaga dia, mbak takut kejadian mas mu akan kembali menimpa Sagara”, mata Anara menatap penuh kekhawatiran.

“baik mbak, jangan lupa do’akan kami ya mbak”, Samudra mulai mendorong perahunya ketengah laut.

Anara masih berdiri ditempat semula, ia terus menatap pelita yang mulai samar dari pandangan. Perasaan takut dan cemas masih bersarang dihatinya, ia berbalik dan melangkah gontai menuju rumah. Mbok Yati duduk ditangga menunggu Anara pulang, ia merasakan hal yang sama dengan Anara. Mbok Yati takut akan kehilangan yang kedua kalinya akan menimpa putri semata wayangnya.

Sebelum subuh Anara sudah berkecimpung didapur membuatkan masakan kesukaan sang putra yaitu sambal cumi pedas. Setelah melaksanakan sholat subuh, Anara bergegas ke pantai untuk menunggu kepulangan Sagara dan Samudra. Jantungnya berdetak kencang, matanya terus menatap lautan lepas. Bibir Anara melengkung membentuk senyuman saat melihat perahu Samudra dan Sagara mulai menepi. Ia membuang nafas legah dan segera memeluk sang putra. Sagara yang paham akan kegelisahan sang ibu pun memeluk erat tubuh ibunya yang semakin kurus. Semenjak kepergian Bumi, Anara memang mengalami penurunan berat badan yang sangat drastis.

Sejak saat itu Sagara semakin sering pergi mengikuti Samudra melaut ketika libur sekolah. Sagara sering membayangkan jika ia pergi melaut bersama sang ayah, Samudra memang memiliki perawakan yang mirip dengan sang abang. Kegiatan ini dilakukan Sagara hingga ia lulus SMA, saat ini Sagara mulai melaut sendirian menggunakan perahu peninggalan sang ayah yang ia perbaiki bersama Sam. Waktu luang ini ia manfaatkan dikala menunggu waktu tes masuk TNI AL yang ia idamkan sedari dulu.

Sagara tidak ingin melanjutkan kebangku perkuliahan karena tidak ingin semakin membebani ibunya masalah biaya. Awalnya Anara bersikeras supaya Sagara melanjutkan pendidikannya kebangku perkuliahan, namun Sagara menolak dengan alasan ia ingin langsung mengikuti tes TNI. Setiap hari ia akan melatih fisik dan juga akademiknya. Ia sungguh sangat berambisi meraih cita-citanya, hingga bisa membanggakan ibu dan almarhum ayahnya.


Other Stories
Menolak Jatuh Cinta

Rasa aneh sudah sembilan bulan lenyap, ntah mengapa kini kembali menyusup di sudut hatik ...

Awan Favorit Mamah

Hidup bukanlah perjalanan yang mudah bagi Mamah. Sejak kecil ia tumbuh tanpa kepastian sia ...

Mak Comblang Jatuh Cinta

Miko jatuh cinta pada sahabatnya sejak SD, Gladys. Namun, Gladys justru menyukai Vino, kak ...

Hafidz Cerdik

Jarum jam menunjuk di angka 4 kurang beberapa menit ketika Adnan terbangun dari tidurnya ...

Bunga Untuk Istriku (21+)

Laras merasa pernikahannya dengan Rendra telah mencapai titik jenuh yang aman namun hambar ...

Mother & Son

Zyan tak sengaja merusak gitar Dana. Rasa bersalah membawanya pulang dalam diam, hingga na ...

Download Titik & Koma