2
Malam itu angin bertiup cukup kencang, namun Sagara tetap ingin melaut. Anara hanya bisa mendo’akan keselamatan sang putra. Perahu Sagara mulai didorong ketengah laut, dan mulai berlayar mengarungi lautan. Anara masih berdiri ditempat semula, ia merasakan hal yang sama saat ia melepas kepergian Bumi kala itu. Perasaannya tidak karuan, jantungnya berdegup kencang. Ia pulang kerumah untuk melaksanakan sholat, mendo’akan dan memohon keselamatan sang putra agar kembali dengan selamat.Sama hal dengan sebelumnya, Anara akan bangun sebelum waktu subuh untuk membuatkan makanan kesukaan sang putra ketika kembali dari laut. Senyumnya merekah melihat sambal cumi pedas telah terhidang dimeja makan dengan asap yang masih mengepul ke udara. Anara segera melaksanakan sholat ketika azan berkumandang, dan bergegas menuju pantai menunggu permata hatinya menepi.Perasaan cemas mulai menghantuinya, dikala matahari mulai meninggi namun perahu Sagara belum tampak. Anara memainkan jemarinya sambil berjalan mondar mandir ditepian pantai, matanya terus menatap lautan berharap perahu milik sang putra menepi. Hingga azan zuhur berkumandang tidak ada tanda-tanda kembalinya Sagara, ia bergegas kembali kerumah untuk melaksanakan sholat. Anara melaksanakan sholat dengan berurai air mata, ia menumpahkan tangis kekhawatirannya didalam do’a. Setelah selesai sholat ia kembali ke pantai dengan harapan yang masih sama.Hingga malam menjelang, Sagara tak kunjung kembali. Anara tak kuasa menahan sesak didadanya, pandangannya menggelap dan ambruk ke pasir pantai. Anara mengerjapkan matanya, kepalanya masih terasa sangat pusing. Perlahan penglihatannya mulai jelas, ia melihat beberapa tetangganya berkumpul mengelilinginya. Mereka serentak mengucap syukur saat Anara sadar, ternyata Anara pingsan semalaman. Ia ditemukan tidak sadarkan diri dipinggir pantai oleh salah seorang nelayan yang akan pergi melaut. Mengingat hal tersebut tangis Anara kembali pecah, ia menatap sang ibu untuk menanyakan kepulangan Sagara. Mbok Yati menggelengkan kepalanya yang Anara simpulkan berarti Sagara belum kembali.Anara berdiri dan berniat untuk kembali ke pantai, namun sebelum ke pintu ia kembali tak sadarkan diri. Beberapa jam kemudian ia kembali sadar, pertanyaan yang sama dari Anara dan jawaban tetap sama dari mbok Yati. Malam itu Anara lalui dengan selalu berdo’a diatas sajadahnya, isakan dan rintihan permohonan keselamatan sang putra terus mengalir dari bibirnya.Mbok Yati terbangun karena mendengar bunyi benda jatuh yang sangat nyaring dari arah dapur rumahnya, ia bergegas untuk melihat sumber suara tersebut. Ternyata Anara menjatuhkan sebuah wajan ketika hendak memasak makanan kesukaan Sagara. Matanya berbinar melihat masakan yang sudah terhidang dimeja makan, Anara melewati mbok Yati yang berdiri dipintu dapur tanpa sepatah katapun. Ia bergegas berwudhu dan melaksanakan sholat. Anara berpamitan ke mbok Yati untuk ke pantai menunggu Sagara pulang daru melaut.Hal itu selalu dilakukan Anara selama tiga bulan belakangan ini. Ia akan terus memasak sebelum subuh dan bergegas ke pantai setelah sholat. Masakan Anara sangat banyak, ia selalu memasak dengan porsi yang tidak sedikit. Lama kelamaan mbok Yati tidak enak hati melihat makanan yang selalu tersisa dan pada akhirnya hanya akan dibuang. Uang mereka juga mulai menipis karena Anara tidak lagi bekerja, mereka hanya hidup dari uang tabungan Anara yang diberikan Sagara dari hasil melautnya. Anara selalu menyisihkan uang tersebut untuk biaya masa depan Sagara yang ingin menjadi seorang tentara.Tanpa sepengetahuan Anara, mpok Yati membungkus sambal tersebut dengan daun pisang dan menyisakannya sedikit untuk mereka makan hari itu. Pagi harinya mbok Yati akan menjajahkan sambal tersebut keliling kampung. Hari pertama sambal mbok Yati hanya laku beberapa bungkus saja, namun ia tidak menyerah mengulanginya esok hari karena Anara akan memasaknya setiap hari.Satu tahun berlalu, Anara tidak lagi pergi kepantai disubuh hari. Namun ia akan duduk didepan rumahnya sambil terus menatap laut hingga matahari mulai meninggi. Tidak ada lagi pekerjaan yang ia lakukan selain menatap laut dan masuk ke dalam kamar untuk menyendiri. Kebiasaan yang tidak pernah berubah yaitu memasak sambal cumi pedas sebelum subuh.Kegiatan mbok Yati juga tidak pernah berubah, yaitu menjajahkan sambal dipagi hari. Makin hari sambal buatan Anara semakin terkenal kelezatannya. Satu tahun lamanya mbok Yati menjajah, hingga pada suatu hari seorang saudagar kaya raya dari desa sebelah yang bernama Beno datang menemui mbok Yati untuk memesan sambal. Pak Beno akan mengadakan acara pernikahan anak sulungnya, ia ingin memesan sambal dalam jumlah besar.Mbok Yati memanggil Anara untuk bertemu pak Beno, setelah pak Beno menjelaskan semuanya Anara menyanggupi pesanan pak Beno. Uang muka yang dikasih pak Beno jumlahnya lumayan besar. Subuh setelah sholat subuh mbok Yati mengajak Anara yang duduk didepan rumah menatap laut untuk menemaninya belanja bahan-bahan ke pasar. “Nara, temanin ibu belanja bahan-bahan ke pasar ya, ibu tidak kuat belanja sebanyak itu sendirian, pasti berat nak”, mbok Yati menyentuh lembut lengan putrinya.Anara menoleh kepada mbok Yati, lalu kembali menatap lautan. Tidak lama ia berdiri dan tersenyum kepada ibunya yang sudah hampir menangis melihat keadaan putrinya.“ayo bu, Nara ganti baju sebentar ya, setelah itu kita langsung jalan”, Anara berjalan memasuki rumah untuk bersiap.Air mata mbok Yati lolos dari pelupuk matanya, ia tidak menyangka sang putri akan mau menemaninya. Ia juga melihat seperti sudah ada perubahan Anara sedikit pulih. Harapan mbok Yati yaitu hanya ingin putrinya bisa menerima dan mengikhlaskan takdir hidupnya, walaupun ia tahu kehilangan yang dirasakan putrinya tidaklah mudah, ditinggal suami dan anak saat sedang melaut. Hal terakhir yang paling menyakitkan yaitu tidak ada kabar dari jasad sang putra. Anara selalu yakin bahwa putranya masih hidup, namun sudah lebih satu tahun tetap belum ada kabar baik yang mereka tunggu. Mbok Yati sudah merelakan sang cucu jika memang sudah tiada, namun tidak dengan Anara yang masih yakin dengan nalurinya sebagai ibu dari Sagara.“ayo bu, kita jalan, nanti kesiangan dan bahan-bahan banyak yang habis”, Anara menggandeng lengan ibunya.Mbok Yati menghapus cepat air matanya, senyumnya mereka melihat keadaan putrinya pagi ini.“ayo nak”, mbok Yati dan Anara berjalan kaki menuju pasar yang tidak jauh dari rumah.Semua bahan sudah dibeli, saat ini mbok Yati dan Anara tengan berada dibecak motor yang mengantar pulang kerumah. Banyaknya barang belanjaan membuat Anara dan Mbok Yati kesulitan untuk pulang berjalan kaki, akhirnya mereka memutuskan untuk menaiki becak motot.Sesampainya dirumah, ibu anak tersebut bersiap untuk memulai memasak sambal. Mereka berada didapur hampir setengah hari, hingga sambal matang sesuai porsi yang dipesan pak Beno. Mbok Yati tak henti mengucap syukur didalam hatinya melihat kesibukan putrinya, hingga pikirannya sedikit teralihkan dari kesedihan yang selama ini ia rasakan.Sore menjelang magrib, sebuah mobil bewarna putih milik pak Beno terparkir didepan rumah Anara. Beberapa orang turun untuk menjemput pesanan sambal. Semuanya telah dimasukkan kedalam mobil, lalu pak Beno mendekati Anara dan memberikan uang sisa pembayaran. Anara bersyukur atas rezeki yang diberikan Tuhan lewat pak Beno. Ia bertekad ingin mengembangkan usaha sambalnya dengan modal yang ia miliki.Anara mulai memesan beberapa kemasan untuk dagangannya. Ia mulai mempersiakan nama untuk sambal yang ingin ia jual, mbok Yati hanya mendampingi dan memberi support tiap langkah yang diambil putrinya saat ini. Akhirnya sambal Anara diberi nama “Bungkusan Rindu”, karena sambal ini merupakan bentuk rindu sang ibu terhadap kepulangan putranya.Semuanya berjalan lancar seperti yang diharapkan Anara dan Mbok Yati, tidak sampai tiga tahun sambal buatan Anara meledak dipasaran. Pesanan mulai datang dari berbagai pelosok daerah, Anara dan ibunya mulai kualahan. Akhirnya Anara mulai mempekerjakan beberapa orang ibu rumah tangga dikampungnya. Setahun terakhir sambal Anara sudah meraja diberbagai pasaran, dan saat ini ia telah memiliki kurang lebih lima puluh orang karyawan. Anara tidak memasak dirumahnya lagi, melainkan disebuah bangunan baru yang ia dirikan tepat disamping rumahnya. Rumah Anara juga sudah direnovasi menjadi semakin luas. Anara merasa bahagia ketika bisa membuka lapangan pekerjaan untuk orang-orang didesanya. Bukan hanya itu, saat ini Anara sedang membangun sebuah masjid didesanya. Kehidupan Anara berubah 180 derajat beberapa tahun belakangan ini. Ia sibuk mengurus bisnisnya yang akan membuka cabang dibeberapa daerah. Ditengah kesibukannya, Anara masih menyempatkan diri untuk sesekali berdiri dipantai menatap lautan dengan harapan yang masih seperti dulu yaitu kembalinya sang putra tercinta.
Other Stories
Luka
LUKA Tiga sahabat. Tiga jalan hidup. Tiga luka yang tak kasatmata. Moana, pejuang garis ...
Tersesat
Qiran yang suka hal baru nekat mengakses deep web dan menemukan sebuah lagu, lalu memamerk ...
Mewarnai Bawah Laut
ini adalah buku mewarnai murah dan meriah untuk anak kelas 4 sd ...
Death Cafe
Sakti tidak dapat menahan diri lagi, ia penasaran dengan death cafe yang selama ini orang- ...
Baca Tanpa Dieja
itulah cara jpload yang bener da baik ...
Death Cafe
Sakti terdiam sejenak. Baginya hantu gentayangan tidak ada. Itu hanya ulah manusia usil ...