3
Seorang pemuda terbaring dibrankar rumah sakit dengan berbagai peralatan medis melekat ditubuhnya. Ia telah mengalami koma kurang lebih tiga tahun, sejak saat ditemukan diantara bebatuan karang oleh seorang saudagar dari kota Paramuti. Tidak ada tahu yang identitasnya, karena semuanya hanyut dilautan saat Sagara dihantam badai yang sangat dahsyat ditengah laut. Berita ditemukannya pemuda dilaut telah menyebar keseluruh penjuru kota Paramuti, namun tidak ada satu orang pun yang mengenalinya.
Saudagar tersebut bernama Pak Brata dan istrinya bernama Bu Ria. Mereka sudah menikah cukup lama namun tidak memiliki keturunan. Selama Sagara dirawat dirumah sakit, merekalah yang mengurus semua keperluannya. Pak Brata dan Bu Ria berharap bisa memiliki anak, dan mereka yakin Tuhan menjawab do’a mereka melalui penemuan Sagara oleh Pak Brata.
“aku harap dia akan menjadi anak kita pak”, Bu Ria menggenggam tangan suaminya duduk dikursi didepan ruangan tempat Sagara.
“kita tidak tahu asal usulnya, bapak yakin dia pasti memiliki keluarga yang juga sedang mencarinya bu”, Pak Brata memeluk dan mengelus lembut punggung istrinya.
“tapi ini sudah sangat lama pak”.
Pak Brata hanya mengangguk menanggapi Bu Ria, ia juga sangat ingin memiliki anak. Namun ia sadar jika saat ini bukan waktu yang tepat, mereka akan menunggu Sagara siuman. Setiap hari pasangan suami istri tersebut akan selalu datang kerumah sakit untuk memantau langsung keadaan Sagara.
Hari yang sangat ditunggu Pak Brata dan Bu Ria pun datang, dimana do’a mereka selama ini dijabah oleh Tuhan. Jari Sagara mulai melakukan pergerakan kecil, hal tersebut langsung disadari Bu Ria. Ia memanggil suaminya untuk memberitahu dokter, beberapa tenaga medis langsung memenuhi brankar Sagara. Pak Brata dan Bu Ria menunggu dengan cemas didepan ruangan.
Tidak lama mereka dipanggil dokter untuk memasuki ruangan, dan ternyata Sagara telah benar-benar siuman. Namun ia masih sulit melakukan pergerakkan karena otot-ototnya mengalami kaku akibat dari koma yang ia alami beberapa waktu ini. Dokter dan beberapa suster pamit keluar, menyisakan Sagara yang menatap bingung dua orang didepannya.
“ma-af ba-pak dan ibu si-a-pa?”, ucapan Sagara terdengar terbata-bata, lidahnya juga terasa sedikit kaku.
Pak Brata dan Bu Ria tersenyum menatap Sagara, mereka merasa bahagia bisa melihat Sagara berbicara langsung dengan mereka.
“saya Pak Brata dan ini Bu Ria istri saya, kurang lebih tiga tahun yang lalu saya menemukan kamu diantara bebatuan karang dengan berbagai luka ditubuh, lalu saya membawamu dan merawatmu dirumah sakit ini”, jelas Pak Brata.
Siang itu pak Brata sedang mengecek beberapa perahu miliknya, perahu yang biasa ia sewakan untuk para nelayan yang tidak memiliki perahu sendiri. Ia berjalan ke arah batu karang yang tampak menarik dimatanya, tujuannya yaitu untuk menambah beberapa koleksi batu didalam akuarium kecil didalam kamarnya.
Mata pak Brata terbelalak selihat seorang laki-laki terdampar tanpa atasan, ia hanya mengenakan celana panjang bewarna hitam. Pak Brata segera memanggil beberapa karyawannya untuk mengangkat Sagara ke tempat kering dan mengecek nadinya. Ternyata masih berdetak, ia segera membawa Sagara kerumah sakit yang tidak jauh dari tempatnya berada saat itu.
Beberapa tenaga medis tampak sibuk menangani Sagara, mereka melakukan beberapa tindakan dan memasang beberapa alat ditubuh Sagara yang pak Brata sendiri tidak tahu apa namanya. Tubuh Sagara terdapat beberapa memar dan luka robek akibat hantaman batu dan benda keras lainnya selama terombang ambing dilautan lepas.
Setelah berapa lama ditangangi, Sagara tak kunjung sadar hingga dinyatakan koma. Pak Brata memberitahu Bu Ria tentang Sagara, tidak lama bu Ria menyusul suaminya dirumah sakit. Setelah beberapa bulan Sagara koma, bu Ria menyampaikan niatnya untuk menjadikan Sagara sebagai anaknya. Tentu saja hal tersebut tidak langsung disetujui pak Brata. Mereka menunggu hingga Sagara sadar dari komanya.
“terimakasih banyak pak, bu telah menolong saya”, Sagara mencoba tersenyum namun masih sedikit kaku.
“nama kamu siapa nak?”, tanya Bu Ria dengan tatapan lembut.
“Sagara bu”, jawab Sagara.
“kamu sekarang istirahat saja ya nak, nanti kalau kamu sudah benar-benar pulih kita ngobrol banyak”, tutur pak Brata lembut.
Sagara mengangguk menanggapinya, sedangkan Bu Ria masih setia menatap Sagara yang ia harapkan bisa menjadi anak angkatnya. Pak Brata menyentuh pelan lengan istrinya, dan mengajaknya duduk disofa disudut ruangan. Ia tahu arti tatapan sang istri yang sangat berharap terhadap Sagara. Perlahan pak Brata memberi pengertian terhadap bu Ria agar tidak terlalu mengharapkan Sagara.
Setelah satu minggu siuman, Sagara sudah diperbolehkan pulang. Namun ia harus selalu melakukan terapi untuk memulihkan kembali otot-ototnya yang kaku. Bu Ria begitu bahagia merawat Sagara, setiap Sagara kerumah sakit untuk terapi ia akan dengan telaten mendampingi, walaupun terkadang pak Brata tidak bisa mendampingi karena urusan pekerjaan. Dirumah pun ia akan sangat teliti dengan kebutuhan Sagara, Bu Ria benar-benar menikamati perannya sebagai seorang ibu.
Sagara diminta untuk memanggil Bapak dan Ibuk oleh Bu Ria, ia sangat ingin mendengar panggilan itu didalam rumahnya. Akhirnya keinginan Bu Ria dikabulkan melalu Sagara. Pak Brata menatap Sagara dan menceritakan kala ia menemukan Sagara.
“saya sebenarnya masih memiliki ibu yang bernama Anara buk, ayah saya sudah lama meninggal karena melaut juga, ia dihantam badai besar dan ditemukan mengapung oleh nelayan lain”, jelas Sagara ketika sedang berada didalam mobil bersama Bu Ria dan Pak Brata pulang dari terapi dari rumah sakit.
“kamu ingat nama kampung tempat kamu berasal nak?”, Pak Brata melirik Sagara dari kaca mobil.
“Desa Bianglala pak”.
Desa Bianglala meiliki jarak yang cukup jauh dari kota Paramuti, jika ditempuh dengan perjalanan darat akan menghabiskan waktu kurang lebih enam jam perjalanan. Pak Brata menatap sang istri sekilas, tampak raut cemas dan takut kehilangan. Ia paham betul isi hati sang istri, namun juga tidak mungkin menahan Sagara untuk tetap bersama mereka. Sedangkan ia memiliki keluarga yang pasti sedang menunggu putra mereka untuk kembali ulang.
Lima bulan sudah berlalu Sagara tinggal bersama pak Broto dan bu Ria. Mereka memperlakukan Sagara seperti anak kandung mereka sendiri. Sagara juga bahagia bisa merasakan kasih sayang dari orang tua lengkap. Namun ia juga sangat merindukan ibu dan neneknya. Pagi itu mereka bertiga sedang bersiap-siap untuk berangkat ke Desa Bianglala mengantarkan Sagara.
“jangan lupakan ibuk sama bapak ya nak, kami sangat menyayangimu seperti anak kandung kami, kamu adalah putra yang selama ini kamu tunggu nak, sering-seringlah pulang kerumah ini jengukin bapak sama ibuk”, tangis Bu Ria pecah ketika akan keluar dari rumah. Ia memeluk Sagara erat, seakan melepas putra tercintanya merantau jauh.
“iya buk, aku tidak akan pernah melupakan ibuk dan bapak, semua kebaikan kalian selama ini. aku akan selalu menemui bapak dan ibuk disini karena aku adalah anak bapak dan ibuk juga”, Sagara pun menangis dalam pelukan bu Ria.
Pak Brata pun ikut memeluk Sagara dan istrinya, mereka saling menumpahkan kasih dan sayang yang mereka rasakan. Tepat jam enam pagi, mobil mereka keluar dari komplek menuju jalanan yang akan membawa mereka ke arah Desa Bianglala.
Other Stories
Nyanyian Hati Seruni
Awalnya ragu dan kesal dengan aturan ketat sebagai istri prajurit TNI AD, ia justru belaja ...
Aroma Kebahagiaan Di Dapur
Hazea menutup pintu rapat-rapat pada cinta setelah dikhianati oleh sahabat dan kekasihnya ...
Deska
Perlahan keadaan mulai berubah. Pertemuan-pertemuan sederhana, duduk berdekatan , atau sek ...
Blek Metal
Cerita ini telah pindah lapak. ...
FILOSOFI SAMPAH (Catatan Seorang Pemulung)
Samsuri, seorang pemulung yang kehilangan istri dan anaknya akibat tragedi masa lalu, menj ...
Viral
Nayla, mantan juara 1 yang terkena PHK, terpaksa berjualan donat demi bertahan. Saat video ...