Bagian 1
Sepeda motor butut itu terus membelah jalanan setapak yang dipenuhi semak keramunting[1] liar di sisi kiri serta kanannya. Suara cempreng knalpot berkarat yang sudah dilas berkali-kali hanya agar tetap bisa menempel dengan body kendaraan era awal 2000-an itu lebih terdengar serupa bunyi mesin pompa penyedot pasir timah milik warga lokal. Parahnya lagi, asap yang mengebul di ujung saluran pembuangan karburator itu, mampu bersaing dengan mesin fogging yang biasa dimanfaatkan untuk mengatasi wabah demam berdarah. Si pemilik motor, ialah seorang guru sekolah dasar bernama lengkap Esti Mayastri atau acap disapa Bu Esti. Dengan hati-hati, perempuan berusia pertengahan kepala empat itu berusaha mengendalikan jalannya kendaraan tadi. Sebab, jika tersungkur, selain akan mencelakakan dirinya sendiri, ia juga akan turut membahayakan bidan desa yang kini duduk di jok bagian belakang. Berkali-kali terdengar seruan istigfar dari bibir Nur, tenaga honorer di bidang kesehatan itu.
“Bener dak, Bu, ini jalan e?[2]” tanya Nur sembari mencengkeram erat ujung seragam kuning khaki Bu Esti hanya agar tak terpelanting dari atas boncengan.
“Aok. Inilah die jalan e, Nur. Dak de yang lain dak[3].”
“Alangke jauh e rumah murid Ibu ni[4].”
“Ya, cem tulah, Nur. Cube ka bayangke bai macem mane letih e si Ikal jalan kaki bolak-balik lewat jalan ni tiap ari ke sekolah[5].”
“Aih, dak tebayang dak, Bu. Men ku yang jadi murid Ibu tu, mending ku berenti sekolah bai. Dak kawa ku sekolah agik. Ngeletihin badan bai[6].”
“Itulah beda e ka kek Ikal[7], Nur.”
Lagi-lagi Bu Esti membanggakan murid kesayangannya itu. Bagaimana tidak, selama ini Ikal memang dikenal sebagai seorang murid yang mandiri dan tergolong cerdas. Ia selalu bisa menangkap pelajaran baru yang diajarkan dengan sedemikian mudah. Di tengah segala keterbatasan ekonomi, Ikal selalu menampilkan semangatnya dalam mengejar pendidikan. Alhasil, sedari awal diterima masuk sekolah dasar hingga kini bocah dua belas tahun itu telah duduk di bangku kelas 6, Ikal selalu menjadi jawara kelas. Ditambah sikapnya yang tak banyak tingkah, membuat simpati para guru jatuh pada bocah berambut ikal—seperti namanya—dengan sedikit bau apak matahari itu. Termasuk perhatian Bu Esti tentunya.
“Memangnya Ikal dak[8] punya sepeda ok[9], Bu?”
“Dulu ade. Tapi, lah lame rusak. Ku kini pun agik usaha nabung buat bantu belike Ikal sepeda baru[10]. Sekalian buat kendaraan pas dia lanjut SMP kelak.”
Pahamlah kini Nur tentang bagaimana hubungan kedekatan antara Bu Esti dengan murid kesayangannya itu. Pun alasan mengapa kini guru sekolah dasar di kampung pesisir tersebut rela mengajaknya mengunjungi rumah sang murid untuk sekadar menengok kondisi kesehatan ibu Ikal. Dari penuturan Bu Esti, Nur tahu kalau sudah hampir sepekan Ikal tak pernah masuk sekolah. Kabarnya, bocah itu terpaksa tinggal di rumah demi mengurus ibunya yang mulai sakit-sakitan. Selain tentu saja untuk menggantikan tugas Liana—ibunya—menjadi seorang buruh pilah ikan di pelelangan. Kalau tidak demikian, dari mana ibu tunggal dan anaknya itu bisa mendapatkan pemasukan untuk tetap mengebulkan dapur mereka. Sehari saja tak bekerja, artinya sama saja bahwa keduanya harus mampu menahan perut yang perih melilit. Lapar. Tapi, di balik itu semua, ada yang lebih Bu Esti takutkan terhadap diri Ikal. Guru berhati lembut itu takut kalau-kalau murid kesayangan tersebut akan lebih memilih untuk putus sekolah dan terlalu dini menggugurkan mimpi-mimpinya yang terbilang besar.
Sudah menjadi hal lumrah bagi anak-anak di kampung pesisir untuk tak tamat mengenyam bangku sekolah. Alasannya, bocah yang masih terlalu belia itu harus mengemban tanggung jawab besar bagi keluarganya yang sedemikian melarat: membantu mencari pundi-pundi rupiah di tempat pelelangan ikan atau tak jarang ikut serta orangtuanya pergi melaut, bahkan turut serta menambang pasir timah secara tradisional—meski risikonya sedemikian besar. Tentu Bu Esti tak ingin Ikal bernasib sama dengan anak-anak kebanyakan di kampung mereka tadi. Sebab, kepada beliau, bocah berambut ikal tersebut pernah mengungkapkan cita-citanya yang juga kelak ingin mengabdikan dirinya di dunia pendidikan seperti apa yang selama ini Bu Esti tekuni. Bagi Ikal, Bu Esti adalah sumber inspirasinya.
Deru suara motor butut masih memekik-mekik membelah udara. Di ujung jalan setapak yang kini mulai dibaluri butiran pasir pantai, tampak sebuah rumah sederhana yang berdiri di pesisir. Rumah doyong beratap daun nipah kering itu menghadap langsung ke arah laut, seolah setia menyambut matahari terbit saban pagi. Di atas jok belakang, Bidan Nur mulai bisa bernapas lega. Dadanya tak lagi naik-turun. Tidak lagi khawatir kalau-kalau motor yang dikemudikan oleh seorang guru sekolah dasar itu akan terperosok ke dalam semak-semak. Semakin mempertipis rentang jarak dengan satu-satunya rumah yang berdiri di kejauhan tadi, jalan setapak itu pun semakin lebar ukurannya. Jua hanya ada sekumpulan padang ilalang di sepanjang mata memandang.
“Akhirnya ...,” gumam Nur begitu Bu Esti kini telah menurunkan injakan standar serta mematikan mesin motor tepat di samping rumah Ikal, di bawah sebatang pohon kelapa mandul.
Aroma rusip[11] khas Bangka seketika menyeruak. Sebagaimana yang Bu Esti ketahui, selain bekerja sebagai buruh di pusat pelelangan ikan, ibu Ikal memang seorang pembuat rusip yang andal. Sudah beberapa kali perempuan berkulit sawo matang itu memberikan rusip buatannya secara cuma-cuma kepada para guru di sekolah. Sebagai balas budi yang tak seberapa karena telah sudi mendidik sang putra, katanya. Mengingat perihal lezatnya rusip buatan ibu Ikal, pikiran Bu Esti seketika seolah dibawa melayang pada sekumpulan pucuk-pucuk daun singkong ranum di kebun belakang rumahnya. Setelah ini, barangkali ia akan meminang dua atau tiga botol rusip kepada di empunya.
Begitu berdiri di depan pelataran teras rumah berlantaikan pasir pantai, Bu Esti segera menyapa siapa pun yang mungkin ada di dalam rumah.
“Permisi! Apa ada orang di dalam?”
Namun, meski telah tiga kali banyaknya perempuan itu mengulang pertanyaan dengan setengah memekik, tak kunjung ada jawaban yang menyahut dari dalam. Sesaat, guru sekolah dasar tersebut mengeluarkan praduganya: barangkali Ikal dan ibunya sedang berada di pelelangan ikan sehingga menyisakan rumah dalam keadaan kosong. Tapi, begitu mengingat lagi alasannya datang mengunjungi rumah sederhana beratap nipah kering di hadapannya, Bu Esti seketika menjadi ragu atas praduganya barusan. Dengan kondisi kesehatan yang kabarnya tidak sedang baik, mustahil ibu Ikal memaksakan diri bekerja. Kecuali jika memang dalam beberapa hari belakangan, kondisi kesehatan perempuan itu perlahan-lahan mulai membaik. Maka, pikiran buruk Bu Esti mengenai kemungkinan Ikal yang bisa jadi selama ini telah diam-diam memutuskan untuk berhenti sekolah, kembali berkelindan di dalam tempurung kepala. Sungguh, Bu Esti benar-benar tak rela bila salah satu tunas bangsa kebanggaannya itu harus pupus sebelum berkembang dan terpaksa mengubur dalam-dalam semua mimpi-mimpi besarnya.
Baru saja Bu Esti hendak berputar haluan dan memutuskan pulang dengan tangan hampa, tiba-tiba Nur malah mencoba mendorong pelan pintu rumah Ikal yang rupanya tak terkunci untuk berusaha sedikit mengintip. Betapa kagetnya bidan desa yang hingga kini masih berstatus sebagai tenaga honorer itu ketika mendapati apa yang ada di dalam rumah. Bahkan, ketika daun pintu tadi sengaja ia buka lebih lebar, sepasang tungkai Bu Esti yang sedari tadi berdiri di belakangnya, seketika lemas.
Tubuh sang guru sekolah dasar itu pun lantas hanya mampu terduduk di atas kasarnya permukaan hamparan pasir yang menjadi alas teras rumah Ikal tersebut!
***
[1] tumbuhan semak dengan bunga berwarna merah hijau, buahnya bulat berwarna merah kecokelat-cokelatan dan enak dimakan, daunnya dapat digunakan sebagai obat luka. Sering pula disebut kemunting (Rhodomyrtus tomentosa)
[2] “Benar tidak, Bu, ini jalannya?”
[3] “Iya. Inilah jalannya, Nur. Tidak ada yang lain.”
[4] “Alangkah jauhnya rumah murid ibu ini.”
[5] “Ya, begitulah, Nur. Coba kamu bayangkan gimana lelahnya si Ikal jalan kaki bolak-balik ke sekolah setiap hari.”
[6] “Aih, enggak akan terbayang, Bu. Kalau saya yang jadi murid Ibu itu, lebih baik saya berhenti sekolah. Enggak mau sekolah lagi. Capek-capekin badan saja.”
[7] Bedanya kamu dengan Ikal
[8] Tidak
[9] Ya
[10] Dulu ada. Tapi, sudah lama rusak. Saya sekarang juga lagi usaha nabung untuk bantu belikan Ikal sepeda baru.
[11] Makanan tradisional masyarakat Bangka yang terbuat dari ikan teri segar yang telah difermentasikan. Biasanya dimakan sebagai pendamping lalapan daun singkong.
Other Stories
Balada Cinta Kamaliah
Badannya jungkir balik di udara dan akhirnya menyentuh tanah. Sebuah bambu ukuran satu m ...
Coincidence Twist
Kejadian sederhana yang tak pernah terpikirkan sedikitpun oleh Sera menyeretnya pada hal-h ...
Perahu Kertas
Satu tahun lalu, Rehan terpaksa putus sekolah karena keadaan ekonomi keluarganya. Sekarang ...
Bad Close Friend
Denta, siswa SMA 91 Cirebon yang urakan dan suka tawuran, tak pernah merasa cocok berteman ...
Yang Dekat Itu Belum Tentu Lekat
Dua puluh tahun sudah aku berkarya disini. Di setiap sudut tempat ini begitu hangat, penuh ...
Gm.
menakutkan. ...