Rahasia Ikal

Reads
1.4K
Votes
13
Parts
12
Vote
Report
Penulis Alfian N. Budiarto

Bagian 5

Tubuh Liana tiba-tiba terhuyung. Setengah keranjang cumi-cumi yang hendak ia pisahkan, jatuh ke tanah berpasir di bawah kakinya. Sedetik kemudian, tubuh perempuan itu ikut limbung di sebelah keranjang beraroma amis tadi.

“Liana kenapa?” tanya Tauke Isal yang kebetulan siang ini sedang berada di pelelangan. Padahal biasanya lelaki itu lebih sering berada di ibukota provinsi untuk mengurus usaha rumah makan seafood ternama yang ia kelola bersama sang istri. Wajahnya yang jarang berekspresi, tiba-tiba berubah panik.

“Pingsan, Pak. Sejak pagi tadi wajahnya memang kelihatan pucat. Barangkali memang Liana lagi enggak enak badan,” sahut karyawan laki-laki yang bertugas sebagai penakar timbangan.

“Kita bawa Liana ke puskesmas kabupaten!” perintah Tauke Isal cepat.

Tak seperti biasanya, bersama sang penakar timbangan, Tauke Isal ikut turun tangan membopong tubuh Liana ke dalam mobil. Padahal biasanya ia tak sedemikian perhatian kepada karyawan lain. Selalu ada sekat lebar antara majikan dan para bawahan di pelelangan. Namun, kali ini lelaki berperut buncit itu mendadak bertingkah tak seperti biasanya. Ia seolah benar-benar peduli pada kondisi Liana yang tengah tak sadarkan diri.

Mesin mobil terdengar dinyalakan. Tauke Isal sendiri yang duduk di kursi kemudi, sementara karyawan laki-laki yang membantu mengangkat tubuh Liana, duduk di belakang bersama sang pasien. Tak berapa lama, mobil segera melaju membelah jalanan berpasir, meninggalkan pelataran dan bau amis pelelangan. Setelahnya, lagi-lagi sesumbar gosip mengenai diri Liana dan sang majikan merebak di bibir para karyawan yang mereka tinggalkan. Bak dengung lebah yang diasapi.

“Lihat sendiri, kan, Liana pasti ada main dengan Tauke Isal,” ujar perempuan berdaster bunga-bunga kumuh, buruh paling vokal di antara yang lain.

Kayak e emang cem tu,” timpal yang lain.

“Lagian dulu ku pernah denger kalau mereka pernah ade hubungan spesial.”

“Hubungan spesial cemane?”

“Pokoknya mereka dulu dekat. Bahkan istri Tauke Isal pernah ngelabrak si Liana, sebelum dia kawin sama Kardi.”

“Almarhum Kardi, bapaknya Ikal?”

“Ho’oh.”

Seperti api yang disiram minyak, si perempuan berdaster kembang terus mengimbuhi ceritanya. “Kabarnya juga, setelah kematian Kardi tempo hari, Tauke Isal penah mencoba ngelamar Liana.”

“Serius?”

Si biang keladi mengangkat jarinya dan membentuk huruf V menggunakan telunjuk dan jari tengah. “Suer.”

“Terus ... diterima?”

“Ya dak lah. Kalau diterima, sekarang pasti Liana sudah jadi istri kedua Tauke Isal.”

“Bener juga. Emang apa alasan Liana nolak Tauke Isal?”

“Karena Liana itu bego. Diajak hidup enak, malah dak mau.”

“Mungkin Liana dak mau jadi bini kedua.”

“Kalau aku, bodo amat jadi istri kedua, yang penting hidup sejahtera. Kalau bisa, aku suruh Tauke Isal buat ceraiin istri pertamanya. Biar duitnya semua jatuh ke tanganku.” Terdengar kekehan di akhir kalimat si perempuan berdaster bunga-bunga kumal, ditimpali tawa sang lawan bicara.

***

Liana baru saja sadar dari pingsannya. Ia cukup kaget ketika mendapati dirinya berada di sebuah ruangan asing yang serba putih. Apalagi di dekatnya kini ada Tauke Isal yang duduk di salah satu kursi yang tak jauh dari ranjang tempat Liana terbaring.

“Sudah sadar, Dik Ana?” tanya Tauke Isal.

Dipanggil dengan sapaan yang tak biasa, Liana berujar. “Jangan panggil saya seperti itu, Pak.”

Dak apa-apa, Dik. Lagian kita dak lagi di pelelangan.”

“Maaf, saya risih, Pak.” Liana mencoba bicara jujur. “Apalagi status saya yang seorang janda dan status Pak Isal yang seorang lelaki beristri. Saya takut kalau ada yang dengar, malah salah paham dan jadi gosip.”

“Tapi ....”

“Panggil saya Liana seperti biasanya saja, Pak. Cuma Bang Kardi yang dulu boleh panggil saya demikian.”

“Mantan suami kau itu kan sudah mati, Li.”

“Bang Kardi masih suami saya, Pak. Bukan mantan. Dan lagi, suami saya itu masih hidup. Sampai sekarang belum ada yang bisa menemukan jasad Bang Kardi sejak peristiwa hari itu.”

“Kau memang perempuan keras kepala, Li.” Wajah Tauke Isal mulai memerah. Pertanda kalau lelaki berperut buncit itu mulai marah lantaran usahanya untuk mendekati Liana harus gagal. “Kalau kau mau kawin denganku, akan aku ceraikan istriku, Li,” ujar Tauke Isal kemudian, sebagai usaha terakhir yang bisa ia lakukan untuk bisa mendapatkan hati sang pujaan hati. “Lagi pula, sudah lima belas tahun kami menikah, tapi istriku itu tak kunjung bisa hamil.”

“Menikah bukan cuma perkara bisa punya anak, Pak. Bukan hal main-main. Tidak semudah itu juga buat  mengakhiri hubungan.”

“Susah bicara sama kau, Li.”

“Kalau begitu Pak Isal diam saja. Saya sudah baikan. Lebih baik kita balik saja ke pelelangan,” sahut Liana dengan nada ketus. Sesungguhnya ibu Ikal itu sudah sebegitu muak menghadapi kelakuan sang majikan yang selalu mencoba mendekatinya. Padahal berulang kali sudah ia katakan pada lelaki beristri itu kalau ia tak akan bisa menerima perasaan terlarang sang tauke. Baginya, ia masihlah istri sah Kardi, dan Liana selalu percaya kalau suaminya itu belumlah meninggal meski hingga detik ini lelaki itu tak kunjung kembali.

Mendengar ucapan Liana, amarah Tauke Isal semakin tersulut. Ia merasa perlu memberi pelajaran pada perempuan yang telah menolak cintanya mentah-mentah. “Sepertinya mulai besok kau tak perlu kerja di pelelangan lagi, Li.”

Liana yang hendak bangkit dari ranjang, seketika menoleh ke arah sang majikan. Kalimat yang baru saja bertandang ke gendang telinganya barusan, ibarat sebuah sambaran petir. Hanya dengan kalimat sederhana tersebut, seolah mampu meruntuhkan hidup Liana ke depannya. Juga mimpinya untuk bisa membesarkan dan memberi pendidikan yang layak untuk Ikal.

“Maaf, Pak, kalau ada kata-kata saya yang menyinggung perasaan Bapak. Tapi, saya mohon jangan pecat saya.” Liana mencoba menurunkan harga dirinya. Ia sungguh tak ingin kehilangan satu-satunya mata pencaharian yang bisa ia andalkan. Tanpa bekerja di pelelangan milik Tauke Isal, Liana tak akan memperoleh pundi-pundi rupiah untuk bisa mengepulkan asap di dapurnya, juga tak akan bisa mendapatkan ikan teri gratis sebagai bahan baku pembuatan rusip. Sedangkan untuk mencari pekerjaan di tempat lain, rasanya mustahil. Apalagi sekarang banyak tauke-tauke ikan skala kecil yang tengah diambang kebangkrutan. Angin laut yang kencang, harga bahan bakar yang semakin mahal, juga kondisi kapal yang tak lagi layak, membuat beberapa nelayan memilih gulung tikar dan banting setir menjadi petani sayur yang harganya tidak menentu.

“Itu sudah keputusanku, Li.” Tauke Isal menjeda sejenak ucapannya, sebelum kemudian tersenyum licik. Lelaki berperut tambun itu merasa kini dirinya sedang berada di atas angin. Lalu, setelah menyadari wajah Liana yang tak bisa berkutik, Tauke Isal kembali melanjutkan kalimatnya. “Kecuali kalau kau mau menerima lamaranku dan menjadi istri keduaku.”

Lagi, ucapan sang majikan berhasil menjelma petir di telinga Liana. Namun, kali ini jauh lebih dahsyat dari sebelum-sebelumnya. Pasalnya, tawaran Tauke Isal sungguh menjadi sebuah pilihan berat. Di satu sisi, Liana tak sanggup kehilangan pekerjaannya. Sedang di sisi lain, ia pun tak akan sudi menjadi madu. Biar bagaimana pun, Liana adalah seorang perempuan yang tak mampu menyakiti perasaan perempuan lain. Di dunia ini, tak ada satu pun perempuan yang mau berbagi cinta sang suami dengan perempuan lain. Pilihan sulit tadi sungguh berhasil menempatkan Liana di ujung tanduk.

“Kalau kau jadi istriku, akan aku sekolahkan Ikal sampai perguruan tinggi. Dengan begitu, anak laki-laki kau itu akan bisa mengejar mimpinya menjadi seorang guru atau apa pun yang ia inginkan. Kalau perlu, jadi dokter.”

Kalimat penutup yang diutarakan Tauke Isal kali ini mampu membuat tubuh Liana gemetar hebat. Di kepala perempuan itu sekarang, membayang sebuah gambaran masa depan sang putra yang berhasil mengenakan seragam kuning khaki khas seorang pegawai negeri sipil atau seragam putih seorang dokter.

***


Other Stories
Sonata Laut

Di antara riak ombak dan bisikan angin, musik lahir dari kedalaman laut. Piano yang terdam ...

Bahagiakan Ibu

Ibu Faiz merasakan ketenteraman dan kebahagiaan mendalam ketika menyaksikan putranya mampu ...

Hanya Ibu

kisah perjuangan bunga, pengamen kecil yang ditinggal ayahnya meninggal karena sakit jantu ...

Cinta Koma

Cinta ini tak tahu sampai kapan akan bertahan. Jika semesta tak mempertemukan kita, biarla ...

Cahaya Menembus Senesta

Manusia tidak akan mampu hidup sendiri, mereka membutuhkan teman. Sebab dengan pertemanan, ...

Mobil Kodok, Mobil Monyet

Seorang kakek yang ingin memperbaiki hubungan dengan anaknya yang telah lama memusuhinya. ...

Download Titik & Koma