Bagian 6
Ikal yang baru saja pulang dari sekolah, segera mendorong pintu rumahnya yang memang jarang sekali dikunci. Selain tak ada barang berharga yang bisa disatroni maling, kampung pesisir mereka memang terkenal aman dari pencuri.
Begitu daun pintu terkuak, alangkah kagetnya Ikal ketika mendapati sang ibu ada di dalamnya. Liana sedang duduk di atas balai-balai dari anyaman bambu di kamar mereka. Padahal waktu belumlah menunjukkan waktu untuk perempuan itu pulang bekerja. Begitu mendapati sepasang mata Liana yang tampak sembab, Ikal menduga kalau kondisi tubuh sang ibu kembali memburuk.
“Mak ngape nangis? Agik sakit?[1]” tanya bocah itu sembari melepaskan tas usang di punggungnya dan mulai memijit pundak sang ibu.
Cepat-cepat Liana menyeka sisa air mata yang menggantung di sudut netra dan segera menggeleng. “Mak cuma capek, Kal. Ka[2] dak perlu khawatir,” jawab Liana menenangkan. Perempuan itu lantas berdiri dan beranjak menuju dapur. “Cepat ganti baju ikak, Kal. Lalu, makan. Mak lah masak telur dadar kesukaanmu.”
Ikal yang mendengar bahwa siang ini sang ibu telah bisa memasak sesuatu, pada akhirnya tersenyum semringah. Itu artinya ibunya tersebut telah mendapatkan gaji harian dari pelelangan. Padahal bukan begitu adanya. Ikal tidak pernah tahu bahwa uang yang Liana belanjakan tadi adalah uang pesangon terakhir dari Tauke Isal.
Di dapur, Liana yang sedang menyiapkan piring untuk sang putra, terlihat begitu bimbang. Sebab, ketika sang majikan menyodorkan amplop berisi uang pesangon untuknya, laki-laki tersebut kembali menegaskan sebuah pilihan berat. Liana ingat betul bagaimana kalimat lelaki itu sebelum mereka berpisah siang tadi.
“Pesangon ini setidaknya cukup untuk memenuhi kebutuhanmu selama seminggu ke depan. Setelah itu, terserah kamu, Li. Kamu bisa benar-benar berhenti bekerja, atau memilih menikah denganku dengan jaminan hidup sejahtera. Jangan lupa, jika kamu memilih pilihan yang kedua, masa depan Ikal sudah barang tentu juga akan terjamin.”
Masih dengan pikiran yang kalut, Liana kembali ke meja makan. Dituangkannya air dalam kendi tanah liat ke dalam gelas untuk Ikal. Perempuan itu tahu betul bahwa sang putra pasti tengah dahaga setelah menempuh perjalanan yang sedemikian melelahkan. Air segar dari dalam kendi, Liana harap mampu mengobati letih yang menjalari tubuh Ikal.
Liana tentu masih ingat betul bagaimana dulu Ikal acap berandai-andai. Di suatu siang yang terik ketika bocah dua belas tahun itu baru saja pulang sekolah dan tunai mengganti seragamnya dengan pakaian rumah, tiba-tiba saja putra Liana ini membayangkan di dalam bilik tempat tinggal mereka yang sederhana terdapat sebuah lemari pendingin seperti yang Ikal dapati di sebuah lapak di dekat kantin sekolahnya.
“Mak, men[3] kelak kita beduit, Ikal pengin punya kulkas. Biar tiap ari kite bise minum aik[4] es. Pasti segeeer ... apalagi men pas balik dari sekolah,” ujar bocah itu dengan polosnya.
Mendengar pernyataan Ikal yang tiba-tiba, Liana hanya tersenyum sembari mengamini doa sang putra. Namun, untuk urusan air es, sepertinya Liana punya ide yang ia harap mampu sedikit membahagiakan Ikal. Meski ia tak memiliki cukup uang, namun perempuan tersebut seolah teringat sesuatu. Perkara kendi milik salah seorang buruh pelelangan yang berasal dari Pulau Jawa. Kendi yang selalu dibawa setiap kali si buruh berangkat bekerja. Katanya, air yang diperam di dalam kendi rasanya akan jauh lebih sejuk ketimbang air minum yang disimpan di dalam teko. Awalnya Liana sama sekali tak percaya akan hal tersebut sebelum kemudian ia mencoba sendiri mencicipi air yang ia kucurkan dari moncong kendi sang rekan kerja. Benar saja, di cuaca yang terik, Liana merasa tenggorokannya tengah diguyur segar air dari kulkas. Perempuan paruh baya tersebut masih nyaris tak percaya dengan apa yang ia rasakan barusan. Barulah setelahnya, si buruh pelelangan menawarkan jasa apabila ada yang hendak memesan kendi seperti miliknya. Dengan bahan baku tanah liat yang cukup berlimpah di Bangka, rekan Liana itu yakin dirinya akan mampu membuat kendi yang sama kualitasnya dengan kendi yang sengaja ia bawa dari kampung halamannya di Jawa.
Alhasil, beberapa pekan setelah sedikit bernego tentang harga, Liana sengaja pulang lebih awal demi memberi kejutan pada sang putra yang sebentar lagi akan pulang dari sekolahnya. Kendi berisi penuh dengan air minum, Liana siapkan di atas meja makan sejak sejam lalu. Kata si pembuat, semakin lama air disimpan di dalam kendi, makan akan semakin dingin dan sejuk ketika ditenggak. Benar saja, tepat ketika Ikal tiba di rumah, Liana segera menuangkan air dari kendi ke dalam gelas dan menyodorkannya pada Ikal yang punggung dan pelipisnya dibasahi peluh.
“Hmm ... Mak beli batu es di mane?” tanya bocah itu ketika mengira bahwa air yang diminumnya merupakan percampuran air rebusan dalam teko yang dibubuhi lelehan batu es yang mencair.
“Kayak aik kulkas kan, Kal?” tanya Liana balik.
“Aok, Mak.”
“Padahal itu cuma aik kendi, loh.”
“Kendi?” Bola mata Ikal berputar, pertanda bingung. Wajar saja, kata ‘kendi’ merupakan kata baru yang ada dalam kamus di kepala Ikal. Sebagai bocah asli kelahiran tanah Bangka, Ikal tentu belum pernah mendengar kata tersebut. Barulah setelah Liana menunjuk sebuah benda mirip teko namun terbuat dari tanah liat, barulah Ikal paham makna ‘kendi’.
“Mak sengaja beli biar ka bisa minum aik dingin tiap ari.”
Meski sederhana, namun hadiah dari sang ibu sudah lebih dari cukup untuk membahagiakan Ikal. Dengan gegas, bocah berambut ikal itu langsung mendekat hangat tubuh Liana.
“Makasih, Mak.”
Mendapatkan respon yang cukup mengharukan, Liana hanya bisa tersenyum simpul. “Same-same, Kal. Semoga kelak ka bise jadi orang sukses,” ujar Liana sembari mengusap pucuk kepala sang putra.
Sungguh, ingatan membahagiakan perkara kenangan kendi tidaklah seberapa dibandingkan dengan penawaran sulit Tauke Isal siang tadi. Penawaran yang terus berkelindan dan berputar-putar di kepala Liana. Hingga karena kurang konsentrasi, ketika air di dalam gelas Ikal belum penuh terisi, tanpa sengaja Liana malah menyenggol bibir gelas dengan ujung moncong kendi. Seketika gelas plastik itu pun roboh di atas meja makan kayu dan menumpahkan basah hingga menetes ke permukaan tanah berpasir yang menjadi lantai rumah Ikal. Tak berapa lama, gelas plastik tadi pun ikut-ikutan mendarat di dekat kaki meja.
Pluk!
“Mak ... Mak lagi sakit, ok?” tanya Ikal sekali lagi dengan perasaan khawatir.
Liana menggeleng pelan. “Dak, Kal. Mak cuma capek bai.”
Dengan segera Liana meraih kain serbet di atas meja makan dan menyeka tumpahan air minum di atas meja. Setelah itu, ibu Ikal tersebut beranjak ke dapur untuk mengambil gelas yang baru. Namun, tepat ketika tangan menyentuh gelas pengganti yang hendak ia ambil, tanpa mampu dibendung air mata Liana kembali pecah menganak sungai. Kembali penawaran sulit dari Tauke Isal menari-nari di dalam tempurung kepalanya.
***
[1] “Ibu kenapa menangis? Masih sakit?”
[2] Kamu
[3] kalau
[4] air
Other Stories
Buah Mangga
buah mangga enak rasanya ...
Curahan Hati Seorang Kacung
Saat sekolah kita berharap nantinya setelah lulus akan dapat kerjaan yang bagus. Kerjaan ...
Cinta Di Balik Rasa
memendam rasa bukanlah suatu hal yang baik, apalagi cinta!tapi itulah yang kurasakan saat ...
Jaki & Centong Nasi Mamak
Jaki, pria 27 tahun. Setiap hari harus menerima pentungan centong nasi di kepalanya gara-g ...
Suara Cinta Gadis Bisu
Suara cambukan menggema di mansion mewah itu, menusuk hingga ke relung hati seorang gadis ...
Dari Luka Menjadi Cahaya
Azzam adalah seorang pemuda sederhana dengan mimpi besar. Ia percaya bahwa cinta dan kerja ...