Chapter 1 - Dua Dunia Bayu
Layar adalah sebuah semesta yang meledak dalam warna. Sinar laser ungu merobek formasi, disusul oleh hantaman perisai raksasa yang mengguncang tanah digital Land of Dawn. Di tengah kekacauan itu, suara Adi terdengar paling nyaring, medok dengan logat Jawa yang kental, serak oleh adrenalin dan asap rokok kretek.
“Kiri, Bay! Awas, gank dari kiri, lho!”
Bayu tidak menjawab. HP di genggamannya sudah usang; layarnya retak dan kacanya bahkan sudah sedikit terkikis di area kiri bawah, tempat ibu jarinya biasa mengendalikan pergerakan. Namun di atas permukaan yang penuh luka pertempuran itulah, jempol Bayu bergerak dengan kecepatan tak manusiawi, sementara matanya yang setajam elang fokus memindai peta kecil di sudut layar. Tiba-tiba, di layar Dodi, hero-nya berhenti bergerak sepersekian detik. Sebuah ikon Wi-Fi merah menyala di sudut atas layarnya. “Putus-putus! Ping-e naik, e!” keluh Dodi panik. Kepanikan sesaat menjalari tim. Musuh melihat celah itu dan mulai merangsek maju. Namun, bagi Bayu, jeda sepersekian detik akibat lag itu justru memberinya gambaran yang jernih. Ia melihat formasi lawan yang terlalu percaya diri. Di dunia nyata, ia hanya seorang pemuda kurus berusia sembilan belas tahun yang duduk di kursi plastik reyot. Tapi di sini, sebagai Sang Mid Laner, ia adalah sang arsitek kemenangan.
“Rin, Ulti sekarang!” perintah Bayu, suaranya datar namun tegas, menembus kebisingan warnet yang pengap.
Di layar, sesosok ksatria Wanita, Tank tebal andalan Rina, mengangkat pedangnya ke langit, memanggil hujan meteor yang menghujani lawan. Itulah celah sepersekian detik yang Bayu tunggu. Yve, karakter Mage-nya melesat ke depan, melepaskan rentetan sihir pamungkas yang menyapu bersih tiga hero musuh dalam sekejap.
“TRIPLE KILL!” suara dari dalam game menggema, nyaris tak terdengar di antara teriakan asli dari bilik sebelah.
“PUSH, woy! PUSH sekarang! Habisi Lord-nya! Gas pol, gas pol!” Gilang berteriak dari bilik sebelahnya, tangannya menggenggam erat ponsel yang kabel chargernya melintang di meja, matanya tak lepas dari hitungan mundur respawn musuh.
Tim mereka, lima anak muda yang menamai diri “Anak Singkong”, bergerak serempak. Mereka merangsek ke markas lawan, menghancurkan kristal pertahanan terakhir dalam ledakan cahaya yang memuaskan. Layar berubah biru, menampilkan kata kemenangan yang paling mereka dambakan: VICTORY.
Sorak-sorai pecah di sudut kecil warnet “JayaNet”. Adi melompat dari kursinya, meninju udara. Rina, satu-satunya perempuan di tim, tertawa lega sambil melepas headphone-nya yang sudah terkelupas. Dodi, si bungsu yang ceria, sudah melakukan tarian kemenangan yang aneh. Hanya Bayu yang tetap tenang. Ia bersandar di kursinya, menarik napas dalam-dalam, membiarkan adrenalin mereda. Kemenangan ini, dalam sebuah turnamen online kecil-kecilan dengan hadiah pulsa, terasa manis.
“Gila, Bay, timing Ulti-mu tadi, jos tenan!” kata Adi sambil menepuk bahu Bayu, matanya berbinar. “Aku kira kita udah bakal kalah, lho.”
“Kita menang ya karena Rina yang buka jalan,” jawab Bayu pelan, mengalihkan pujian. “Tanpa Tank kayak kamu, Carry itu nggak ada artinya.”
Rina tersenyum. “Kapten kita memang beda level, nih.” Ia lalu menoleh ke Adi, “Eh, kamu itu, Jungler, tadi hampir mati konyol tahu, untung aku cover.”
“Heh, itu namanya pengorbanan strategis, tahu!” balas Adi, tak mau kalah. “Biar musuhnya fokus ke aku, jadi kalian semua bisa bebas.”
Warnet JayaNet adalah semesta mereka. Terletak di pinggir jalan raya Klaten-Jogja, tempat ini adalah persinggahan bagi banyak jiwa. Sebuah ruangan persegi panjang yang remang-remang, beraroma campuran kopi basi, mie instan, dan asap rokok yang menempel permanen di dinding. Deretan komputer tua berbaris seperti prajurit lelah, masing-masing dengan ceritanya sendiri. Di sinilah tim “Anak Singkong” lahir dan berlatih. Di antara teriakan pemain game lain dan suara gaduh dari jalanan desa, mereka membangun strategi, mengasah kekompakan, dan merajut mimpi.
Bang Udin, pemilik warnet berbadan tambun dengan kaus yang selalu sama, hanya tersenyum dari balik meja kasirnya. Ia sudah melihat ratusan anak seperti mereka. Baginya, mereka hanya sumber pemasukan billing per jam. “Sudah, jangan teriak-teriak wae! Yang lain jadi keganggu, lho!” teriaknya, lebih karena kebiasaan daripada benar-benar marah. Ia lalu melirik jam. “Billing kalian tinggal lima menit!”
Saat teman-temannya masih merayakan, pandangan Bayu tertumbuk pada layar di seberang. Sebuah video YouTube sedang diputar, menampilkan wawancara dengan seorang wanita anggun dan berwibawa di sebuah panggung megah. Judul video itu terbaca jelas: “Ibu Astari: E-sport Bukan Sekadar Game, Tapi Seni Strategi.”
Bayu terdiam, mendengarkan.
“…kemenangan sejati,” kata Ibu Astari di video itu, suaranya tenang namun menusuk, “bukan saat kamu punya perlengkapan terbaik atau koneksi tercepat. Kemenangan sejati adalah saat kamu bisa membaca peta pertarungan lebih baik dari lawanmu, bahkan saat petamu buta sekalipun.”
Kata-kata itu meresap ke dalam diri Bayu. Sosok itu adalah Ibu Astari, seorang legenda hidup di dunia e-sport yang kini memegang jabatan terhormat sebagai Komisioner Liga. Sosok yang ia kagumi dari jauh, dari bilik warnetnya yang sempit. Ia adalah bukti bahwa dunia yang ia geluti ini nyata dan dihormati.
“Woy, Bay! Ngelamun wae!” seru Gilang, si realistis. “Udah jam sepuluh, nih. Billing-nya udah habis. Besok lagi, ya?”
Bayu mengangguk, menarik diri dari lamunannya. Realita kembali memukulnya. Ia pulang dengan sepeda tuanya, melewati jalanan desa yang gelap dan sunyi, diapit hamparan sawah yang baru saja ditanami. Kontras yang tajam dengan dunianya yang penuh cahaya beberapa menit yang lalu. Udara malam yang dingin terasa menusuk kulit, membawanya kembali pada kenyataan yang tak bisa ia hindari.
Rumahnya adalah sebuah bangunan sederhana di ujung desa. Aroma tanah basah dan masakan ibunya menyambutnya. Di ruang tengah, ayahnya, Pak Purnomo, sedang membersihkan cangkul, otot-otot lengannya yang keras terlihat jelas. Ibu Ratna, ibunya, muncul dari dapur membawa segelas teh hangat.
“Dari mana saja jam segini, Le?” tanya Ibu Ratna lembut, ada nada khawatir dalam suaranya.
“Dari warnet, Bu. Tadi ada tanding,” jawab Bayu pelan, menghindari tatapan ayahnya.
Pak Purnomo meletakkan cangkulnya dengan suara berdebam. Ia tidak menoleh, tapi suaranya berat dan tajam. “Tanding, tanding. Apa to yang kamu dapat dari pencet-pencet HP-mu itu, Bay? Apa bisa buat bayar pupuk?”
Bayu terdiam. Ini adalah pertarungan yang tidak pernah bisa ia menangkan. Di Land of Dawn, ia adalah seorang raja. Di rumah ini, ia hanyalah seorang anak yang belum dewasa di mata ayahnya.
“Itu ada strateginya, Pak. Bukan cuma main-main,” Bayu mencoba menjelaskan, suaranya nyaris berbisik.
Pak Purnomo akhirnya berbalik. Wajahnya yang keras menatap Bayu. “Strategi? Lha Bapak ini setiap hari juga pakai strategi, Le. Menanam singkong biar bisa panen pas harga bagus. Itu baru strategi beneran. Hasilnya bisa kamu makan. Lha hasil strategimu itu apa, hm? Cuma tulisan ‘VICTORY’ di layar?”
“Pak, sudah, to…” Ibu Ratna mencoba menengahi.
“Biarin saja, Bu,” sela Pak Purnomo, matanya masih terkunci pada Bayu. “Yo Bapak cuma mau tanya, sampai kapan kamu mau hidup dari uang receh buat bayar billing? Lihat teman-temanmu, sudah pada kerja di kota. Kamu mau jadi apa, to? Penjaga warnet?”
Setiap kata terasa seperti tamparan. Bayu tidak punya jawaban. Ia hanya menunduk, mengepalkan tangannya. Di matanya, ayahnya hanya melihat anak pemalas yang kecanduan game. Ayahnya tidak melihat arsitek strategi yang baru saja memimpin timnya meraih kemenangan.
Tanpa berkata apa-apa lagi, Bayu berjalan menuju kamarnya yang sempit. Ia bisa mendengar ibunya mencoba menenangkan ayahnya di ruang tengah. “Bapak itu, lho, keras sekali sama anaknya. Dia itu pancen punya bakat, Pak. Kita saja yang mungkin belum mengerti dunianya.” Suara ibunya terdengar lirih, nyaris tertelan oleh suara jangkrik di luar.
Beberapa saat kemudian, pintu kamarnya diketuk pelan. Ibu Ratna masuk membawa sepiring nasi dan telur mata sapi. Ia tidak banyak bicara, hanya meletakkan piring itu di meja belajar Bayu yang penuh coretan strategi di kertas-kertas bekas. Di bawah piring itu, terselip selembar uang dua puluh ribuan yang sedikit lecek.
“Dipangan, yo, Le. Ini buat jajan besok. Ojo ngomong Bapak,” katanya sambil mengusap kepala Bayu. Hanya usapan itu, tanpa ceramah, tanpa pertanyaan, sudah cukup menjadi jangkar bagi Bayu di tengah badai keraguannya. Ibunya mungkin tidak mengerti, tapi ia selalu berusaha untuk ada.
Keesokan harinya, suasana di warnet terasa berbeda. Tim “Anak Singkong” berkumpul bukan untuk bermain, tapi untuk membahas masa depan. Euforia kemenangan semalam sudah menguap, digantikan oleh realita.
“Piye iki? Turnamen kemarin itu yang terakhir buat kita, kan? Duitnya dari mana lagi?” tanya Gilang, selalu yang paling praktis. Ia mengeluarkan beberapa lembar uang kusut dari sakunya. “Uang kas tim kita tinggal segini. Cuma cukup buat bayar paket Wi-Fi dua hari di sini.”
Rina menambahkan dengan helaan napas, “Mau latihan di rumahku, sinyalnya naik turun. Di rumah Bayu, bapaknya ngomel terus. Cuma di sini kita bisa main serius.”
“Aku bisa coba minta ke orang tuaku, tapi paling cuma dikasih sedikit,” sahut Dodi dengan wajah muram, semangatnya yang biasa hilang entah ke mana.
Rina menatap teman-temannya dengan sedih. “Mungkin... memang sudah waktunya kita berhenti.”
Semua terdiam. Kata-kata Rina terasa seperti vonis. Mereka tahu ini adalah akhirnya. Mimpi mereka terbentur oleh dinding yang sama seperti biasa: uang.
Bayu menatap layar ponselnya yang menampilkan halaman login game. Ia merasa lelah. Mungkin ayahnya benar. Mungkin ini memang hanya buang-buang waktu. Dengan lesu, ia membuka emailnya, hendak memberitahu panitia turnamen kecil itu bahwa timnya bubar.
Namun, matanya terpaku pada satu email baru di kotak masuk. Pengirimnya: Official National E-sport League.
Subjeknya: UNDANGAN KUALIFIKASI BABAK UTAMA - JAKARTA.
Jantung Bayu seolah berhenti berdetak. Tangannya sedikit gemetar saat membuka email itu. Ia membaca isinya, kalimat demi kalimat, matanya melebar tak percaya. Mereka tidak hanya diundang, tapi panitia pusat rupanya memantau turnamen-turnamen kecil di daerah. Mereka melihat potensi dalam permainan tim “Anak Singkong” yang tidak ortodoks.
“Cah… rene kabeh,” panggilnya, suaranya serak. “Kalian harus baca ini.”
Adi, Rina, Gilang, dan Dodi mengerubungi ponsel Bayu. Mata mereka membelalak saat membaca isi email itu. Ada keheningan total selama beberapa detik, yang kemudian pecah oleh teriakan Adi yang paling keras.
“KITA LOLOS KE JAKARTA!”
Warnet seketika riuh. Mereka melompat, berpelukan, tidak percaya dengan apa yang mereka baca. Para penghuni warnet lain yang tadinya sibuk sendiri kini ikut mendekat, penasaran. Bang Udin bahkan sampai bangkit dari kursinya, ikut mengintip layar ponsel itu dari balik bahu mereka, dan untuk pertama kalinya, senyumnya tampak tulus.
Mereka, tim dari desa di Klaten, tim yang berlatih dengan HP seadanya, mendapat undangan ke panggung terbesar di negeri ini. Mimpi paling liar mereka menjadi kenyataan.
Di tengah euforia itu, setelah tawa dan teriakan mulai mereda, Gilang kembali menjadi suara realita. Ia menatap teman-temannya satu per satu, wajahnya serius.
“Keren, sih. Tapi…” katanya pelan, “kita ke Jakarta naik apa?”
Semua terdiam. Pertanyaan itu menggantung di udara pengap warnet, lebih berat dari asap rokok manapun. Babak baru perjuangan mereka baru saja dimulai.
Other Stories
Osaka Meet You
Buat Nara, mama adalah segalanya.Sebagai anak tunggal, dirinya dekat dengan mama dibanding ...
Hellend ( Noni Belanda )
Sudah sering Pak Kasman bermimpi tentang hantu perempuan bergaun zaman kolonial yang terus ...
Kucing Emas
Suasana kelas 11 IPA SMA Kartini, Jakarta senin pagi cukup kondusif. Berhubung ada rapat ...
Petualangan Di Negri Awan
seorang anak kecil menemukan negeri ajaib di balik awan dan berusaha menyelamatkan dari ke ...
Viral
Nayla, mantan juara 1 yang terkena PHK, terpaksa berjualan donat demi bertahan. Saat video ...