Chapter 4 - Peta Yang Hilang
Malam itu, di kamar penginapan mereka yang sempit dan pengap, bom waktu itu meledak.
Pintu kamar penginapan yang sempit itu ditutup dengan suara pelan, namun terasa seperti dentuman meriam di tengah keheningan yang menyiksa. Tidak ada yang bicara. Adi langsung melempar dirinya ke kasur tingkat atas, membenamkan wajahnya ke bantal yang apek. Rina duduk di tepi kasur bawah, bahunya merosot. Dodi, si bungsu, segera mengambil HP-nya, menyumbat telinga dengan earphone, dan menciptakan dunianya sendiri seolah tak sanggup menghadapi kenyataan.
Bayu hanya berdiri diam di dekat pintu, ranselnya masih menggantung di satu bahu. Ia bisa merasakan kekecewaan pekat dari setiap sudut ruangan. Gilang, yang terakhir masuk, berjalan ke meja kecil di sudut, meletakkan buku catatannya dengan kasar.
Keheningan itu berlangsung selama lima menit yang terasa seperti satu jam. Hanya suara kipas angin tua yang berderit dan dengung samar lalu lintas Jakarta dari luar.
Akhirnya, Gilang yang memecahnya. Suaranya tidak keras, tapi sinis dan tajam.
“Eman-eman, yo,” gumamnya, cukup untuk didengar semua orang. “Uang sumbangan dari cah-cah warnet, uang simpenan ibu’e Bayu... ludes cuma buat nonton kekalahan konyol.”
Adi langsung mengangkat kepalanya dari bantal. Matanya merah, menatap Gilang dengan tajam. “Lha maksudmu ngomong gitu opo, Lang?”
“Nggak ada maksud apa-apa, kok,” jawab Gilang, masih tanpa menatap Adi. Ia membuka buku catatannya. “Aku cuma ngitung. Ongkos kereta, penginapan tiga hari, makan… semuanya hangus dalam satu momen.”
“Itu tadi inisiatif!” bentak Adi, kini sepenuhnya bangkit duduk di tepi kasurnya. “Kalau kita nggak nekat ambil Lord, yo podo wae, pasti kalah pelan-pelan!”
“Inisiatif atau egois, to?” balas Gilang, akhirnya menoleh, suaranya naik satu oktaf. “Bayu udah teriak ‘Ojo!’, tapi kamu maju terus! Kamu pikir kamu siapa, Di? Pemain pro? Kita ini tim, bukan panggung buat kamu pamer sendirian!”
“Justru karena kita tim, kita harus berani ambil risiko!” Adi tidak mau kalah, ia melompat turun dari kasur atas. “Dan kamu! Lha mentalmu dari awal emang udah pesimis, kan? Cuma ngitungin duit, takut rugi! Kita nggak akan pernah menang kalau mental kita kayak bakul pasar, dikit-dikit takut rugi!”
“Lebih baik jadi bakul pasar daripada jadi penjudi nekat yang ngabisin modal tim!”
“Wis! Cukup!” Rina berdiri, suaranya bergetar. “Bertengkar yo nggak akan mengubah apa-apa. Kita kalah, yo wis. Kita kalah sebagai tim.”
“Tim?” cibir Adi, kini melampiaskan amarahnya ke segala arah. “Tim macam apa yang kaptennya cuma diam saja?!”
Pandangan semua orang kini beralih ke Bayu, yang masih berdiri mematung di dekat pintu.
“Dan kamu, Bay!” lanjut Adi, menunjuk Bayu. “Kenapa kamu diam saja dari tadi? Kenapa pas di game tadi kamu nggak teriak lebih keras? Kalau kamu kapten, pimpin kami! Jangan cuma kasih perintah terus pasrah!”
Tuduhan itu menggantung di udara. Bayu menatap Adi, lalu Gilang, lalu Rina yang menatapnya dengan cemas. Ia melihat wajah-wajah lelah yang penuh kekecewaan. Ia melihat cerminan dari kegagalannya sendiri. Beban di pundaknya terasa menghimpit hingga ia sulit bernapas. Suara ayahnya, suara Leo, suara caster, dan kini suara teman-temannya sendiri berputar di kepalanya.
Ia tidak membantah. Ia tidak membela diri.
Bayu hanya membuka pintu kamar dengan pelan.
“Bay, arep neng endi?” tanya Rina panik. (Bay, mau ke mana?)
Bayu tidak menjawab. Ia melangkah keluar dan menutup pintu di belakangnya, meninggalkan teman-temannya dalam keheningan yang kini terasa jauh lebih canggung dan menyakitkan daripada sebelumnya. Bom waktu itu sudah meledak, dan serpihannya melukai mereka semua.
Ia tidak berhenti di tangga darurat penginapan yang kotor. Tempat itu terasa terlalu sempit untuk menampung rasa kecewanya yang meluap. Didorong oleh impuls yang tidak ia mengerti, ia berjalan keluar dari penginapan, menyusuri trotoar Jakarta, dan kembali ke sumber rasa sakitnya: arena turnamen.
Malam itu, arena yang siangnya riuh kini senyap. Hanya ada beberapa petugas kebersihan di lantai bawah. Mengabaikan larangan, Bayu menemukan sebuah tangga umum dan terus berjalan naik, melewati lantai demi lantai, hingga ia tiba di puncaknya: selasar penonton tingkat atas.
Di sini, udaranya terasa berbeda. Ruangan melingkar yang mahaluas itu kosong melompong. Ribuan kursi penonton berbaris dalam kegelapan seperti legiun yang tertidur. Langkah kakinya menggema di lantai beton yang dingin. Ia berjalan ke pagar pembatas dan menatap ke bawah. Jauh di sana, panggung utama tampak seperti miniatur, disinari satu lampu kerja temaram. Di sanalah tadi ia dipermalukan. Di sanalah mimpinya hancur.
Tuduhan Adi berputar-putar di kepalanya. “Tim macam apa yang kaptennya cuma diam saja?!” Mungkin Adi benar. Mungkin ia memang bukan kapten. Ia hanyalah seorang anak laki-laki dari Klaten yang bermimpi terlalu besar, yang kini tersesat di kota asing, setelah mengecewakan semua orang yang percaya padanya. Komunitas warnet, teman-temannya, dan ibunya. Wajah ayahnya yang penuh cemooh muncul di benaknya, seolah berkata, ‘Sudah kubilang.’
Rasa sepi yang akut mencengkeramnya. Ia tidak butuh solusi. Ia tidak butuh strategi baru. Ia hanya butuh pengingat bahwa di luar arena yang kejam ini, ada sebuah tempat yang ia sebut rumah. Ia butuh mendengar satu suara yang tidak akan menghakiminya.
Tangannya yang gemetar merogoh saku, mengeluarkan HP. Jarinya berhenti di atas kontak bernama “Ibu”. Ia hanya ingin mendengar suara ibunya. Mungkin ibunya akan bertanya hal sederhana seperti, “Sudah makan, Le?” Dan entah kenapa, Bayu merasa pertanyaan sesederhana itu sudah cukup untuk menambal sedikit lubang di hatinya. Dengan sisa harapan terakhir, ia menekan tombol panggil.
Nada sambung terdengar sekali, dua kali. Lalu, sebuah suara berat yang sangat ia kenal menjawab di seberang.
“Halo?” suara Pak Purnomo terdengar.
Harapan kecil di dada Bayu langsung padam, digantikan oleh rasa dingin yang menjalar.
“Pak…” suara Bayu tercekat.
Ada jeda sejenak. “Piye? Wes menang?” tanya ayahnya, nadanya datar, tanpa emosi.
“Kalah, Pak.”
Hening lagi. Bayu bisa mendengar suara televisi di latar belakang. Lalu ayahnya menghela napas, sebuah helaan napas yang terdengar lebih seperti kekecewaan yang pasrah daripada kemarahan.
“Yo wes Bapak duga. Sudahlah, mulih wae, Le. Sawah iseh butuh bantuanmu.”
KLIK. Telepon ditutup.
Tidak ada bentakan. Tidak ada amarah. Hanya sebuah kalimat pasrah yang terasa ribuan kali lebih menyakitkan. Harapan terakhirnya pupus. Ia menunduk, membiarkan bahunya bergetar. Di tengah gemerlap ibu kota, di puncak mimpinya, Bayu merasa sendirian dan kalah total.
Tiba-tiba, sebuah pintu dari arah lounge VIP di ujung selasar terbuka dengan suara mendesis pelan, membiarkan seberkas cahaya hangat keluar. Sesosok wanita melangkah keluar, sepertinya mencari udara. Ia berhenti di dekat pagar pembatas, beberapa meter dari Bayu, menatap ke arah panggung yang sama.
Wanita itu sepertinya baru menyadari kehadiran Bayu, tetapi Bayu tidak menyadarinya. Ia menoleh, tidak terkejut, hanya menatapnya dengan tatapan analitis yang tenang.
“Pemandangan yang berbeda dari atas sini, bukan?” kata Ibu Astari, suaranya yang dalam terasa bergema di ruangan kosong itu.
Bayu tersentak kaget. Ia buru-buru menoleh, dan saat melihat siapa yang berbicara, matanya membelalak. Jantungnya serasa melompat ke tenggorokan. Ia refleks berdiri, hampir tersandung kakinya sendiri, lalu menunduk sedikit, tidak berani menatap langsung.
“Eh… I-iya, Bu,” jawabnya gugup, suaranya nyaris tidak keluar. Rasanya ia ingin menghilang ditelan bumi. Idolanya melihatnya di titik terendah, dengan mata yang masih sembap.
Ibu Astari tidak mengomentari kegugupan Bayu. Ia hanya berjalan mendekat dengan tenang, berdiri di sampingnya di pagar pembatas, ikut menatap ke arah panggung di bawah.
“Saya tidak bicara soal panggung itu,” kata Ibu Astari pelan, memecah keheningan yang canggung. “Saya bicara tentang strategi timmu di pertandingan pertama.”
Barulah Bayu mengangkat kepalanya, terkejut. Bukan kasihan. Bukan basa-basi. Wanita ini langsung membahas hal yang paling penting. Matanya yang sembap bertemu dengan tatapan tajam namun tenang dari Ibu Astari.
“Permainan timmu kacau, tapi ada polanya,” lanjut Ibu Astari, kini lebih fokus. “Terutama pilihan Roamer-mu yang menggunakan Freya. Itu bakat, atau kecerobohan?”
Bayu menelan ludah, bingung harus menjawab apa. Pertanyaan itu, sebuah pertanyaan teknis yang serius, justru membuatnya sedikit lebih tenang. Ini adalah bahasa yang ia mengerti.
“Kami… kami kalah, Bu.”
“Semua tim pernah kalah,” jawab Ibu Astari. “Saya tidak bertanya hasil akhir. Saya bertanya tentang prosesnya. Kenapa kamu memilih strategi yang begitu berisiko?”
Pertanyaan itu menohok Bayu. Untuk pertama kalinya, ada yang bertanya tentang “kenapa”-nya, bukan hanya mencemooh hasilnya. Dinding pertahanannya mulai runtuh. Ia kembali menatap ke panggung di bawah, dan kini ia siap untuk jujur.
“Karena… karena strategi itu adalah satu-satunya cara yang kami tahu, Bu,” jawab Bayu jujur, suaranya lirih. “Itu cara bermain kami di warnet. Kacau, hanya mengandalkan insting… tapi berhasil.”
Ia berhenti sejenak, matanya kembali menatap kosong ke panggung di bawah.
“Tapi kemudian kami sampai di sini,” lanjutnya, kini dengan nada pahit. “Saya melihat cara tim-tim profesional. Rapi, disiplin, mengikuti meta. Tiba-tiba… cara kami terasa salah. Terasa seperti cara anak kampung yang memalukan. Jadi, saya ragu. Saat seharusnya kami bermain liar, saya malah menyuruh mereka bermain hati-hati. Kami mencoba meniru kerapian mereka, tapi kami bukan mereka. Kami malah jadi… berantakan.”
Ibu Astari mengangguk pelan, seolah jawaban itu adalah sesuatu yang sudah ia duga.
“Cara untuk menang adalah cara yang paling kamu kuasai. Bukan cara yang paling populer,” kata Ibu Astari, nadanya kini sedikit lebih hangat. “Anak-anak profesional itu, mereka berlatih di gaming house dengan fasilitas sempurna. Mereka tidak kenal sinyal putus-nyambung. Mereka tidak kenal kekacauan warnet yang bising. Kamu kenal.”
Ia menatap lurus ke mata Bayu.
“Peta tempurmu itu ada di warnet remang-remang di Klaten, bukan di panggung megah ini. Jangan lupakan itu.”
Kata-kata itu menghantam Bayu seperti gelombang. Validasi. Di saat ia merasa paling bodoh dan gagal, seorang legenda justru memberitahunya bahwa dunianya, dunia yang diremehkan ayahnya, adalah sebuah kelebihan.
Ibu Astari tersenyum tipis. “Dulu, saat saya mulai, semua orang bilang perempuan tidak punya tempat di e-sport. Mereka ingin saya bermain aman, menjadi support. Tapi saya tahu, peta saya adalah menjadi penyerang. Saya mengikuti peta saya sendiri, bukan peta yang orang lain buatkan untuk saya.” Ia berhenti sejenak, membiarkan ceritanya meresap.
“Mereka semua di luar sana,” katanya sambil menunjuk ke arah arena, “terlatih untuk melawan meta. Mereka tidak terlatih untuk melawan kekacauanmu. Gunakan itu.”
Ibu Astari memberikan satu anggukan terakhir yang penuh makna. “Jangan buang petamu hanya karena orang lain tidak bisa membacanya.”
Ia lalu berbalik dan pergi dengan langkah yang sama tenangnya saat ia datang, meninggalkan Bayu yang tertegun di tengah keheningan.
Bayu tidak lagi merasa sendirian. Ia merasa dilihat. Kata-kata Ibu Astari… peta tempurmu ada di warnet… berputar-putar di kepalanya. Sebuah percikan api kembali menyala di dalam dirinya, kini lebih terang dan lebih panas dari sebelumnya.
Ia kembali ke kamar penginapan dengan langkah yang berbeda. Bukan lagi langkah gontai orang kalah, melainkan langkah mantap seseorang yang telah menemukan tujuan. Saat ia membuka pintu, keheningan canggung langsung menyambutnya. Adi, Gilang, Rina, dan Dodi masih duduk di posisi yang sama saat ia pergi, terjebak dalam kebekuan pasca-pertengkaran. Mereka semua menatapnya, mungkin mengira ia akan meminta maaf atau justru memulai pertengkaran baru.
Bayu tidak melakukan keduanya. Ia mengabaikan ketegangan itu, berjalan lurus ke arah tas Rina, mengeluarkan sebuah buku catatan dan spidol. Tanpa berkata apa-apa, ia menyobek selembar kertas kosong dan berlutut di lantai, mulai menggambar peta Land of Dawn dengan garis-garis yang cepat dan pasti.
“Kita salah,” katanya pelan, suaranya tenang namun membelah keheningan. Semua mata tertuju padanya.
Gilang mendengus sinis dari sudut ruangan. “Salah? Yo jelas salah. Harusnya kita nggak usah ke sini dari awal. Buang-buang duit, buang-buang waktu.”
“Oh, sekarang baru sadar salah?” timpal Adi tajam, masih duduk di kasur atas, nadanya penuh tuduhan. “Tadi pas aku yang disalahin, kamu meneng wae.”
Bayu berhenti menggambar sejenak. Ia mengangkat kepalanya, menatap lurus ke arah Adi. Untuk pertama kalinya, ia tidak menghindari tatapan itu.
“Kamu bener, Di. Aku tadi diam saja,” kata Bayu. Pengakuan itu membuat Adi sedikit terkejut. “Aku diam karena aku juga mikir seperti kalian. Aku kira cara kita salah. Aku kira gaya main kita yang berantakan itu memalukan.”
Ia menunduk kembali ke kertas di lantai. “Aku coba maksa kita main rapi kayak mereka, tim-tim profesional itu. Aku coba niru peta mereka. Dan itu adalah kesalahan terbesarku.”
Ia mulai menggambar panah-panah aneh di atas peta kertasnya, menunjukkan pergerakan yang tidak lazim, pergerakan yang melanggar semua aturan meta.
“Kita tidak akan main rapi lagi,” lanjutnya, suaranya kini penuh keyakinan. “Kita akan bermain kayak di JayaNet. Kita akan gunakan kekacauan kita sebagai senjata.”
Ia menatap Adi. “Adi, Alucard-mu tidak akan farming dengan tenang. Aku mau kamu jadi hantu. Masuk jungle mereka, curi monster mereka, buat mereka panik. Ojo main aman. Main liar kayak yang kamu mau, tapi lakukan dengan sengaja.”
Mata Adi yang tadinya penuh amarah, kini menunjukkan secercah rasa ingin tahu.
Bayu beralih ke Rina. “Rin, kamu bukan lagi tameng pasif. Freya Roam-mu itu senjata kejutan kita. Kamu bukan pelindung yang nunggu di belakang, kamu adalah ujung tombak kekacauan kita. Buka setiap pertarungan.”
Rina menatap Bayu, tertegun oleh intensitas baru dalam suaranya.
Terakhir, ia menatap Gilang. “Lang, aku tahu ini kedengarannya berisiko. Kalkulasimu mungkin bilang ini strategi bunuh diri.”
“Lha terus ngopo kita harus melakukannya?” tanya Gilang, nadanya masih skeptis.
“Karena risiko terbesar adalah mencoba jadi tim lain yang bukan diri kita sendiri,” jawab Bayu. “Itu sudah pasti kalah. Lawan kita terlatih melawan permainan yang rapi. Mereka tidak terlatih melawan lima anak warnet dari Klaten yang main sakarepe dewe.” (semaunya sendiri)
Keheningan kembali menyelimuti ruangan, namun kali ini berbeda. Bukan lagi keheningan yang canggung, melainkan keheningan yang penuh pertimbangan. Mereka melihat Bayu yang berbeda. Bukan lagi kapten pendiam yang ragu-ragu, tapi seorang ahli strategi yang merangkul identitas mereka sepenuhnya.
Adi adalah yang pertama bergerak. Ia melompat turun dari kasur atas, berjongkok di seberang Bayu, ikut menatap peta kertas itu.
“Coba jelasin lebih detail soal invasi jungle-nya,” katanya, nadanya kini serius.
Mereka bukan lagi lima anak desa yang tersesat, melainkan adalah tim “Anak Singkong”, dan mereka baru saja menemukan kembali peta mereka sendiri.
Other Stories
Kenangan Indah Bersama
tentang cinta masa smk,di buat dengan harapan tentang kenangan yang tidak bisa di ulang ...
Mak Comblang Jatuh Cinta
Miko jatuh cinta pada sahabatnya sejak SD, Gladys. Namun, Gladys justru menyukai Vino, kak ...
After Honeymoon
Sama-sama tengah menyembuhkan rasa sakit hati, bertemu dengan nuansa Pulau Dewata yang sel ...
Ablasa
Perjalanan Nindya dan teman-temannya ke Nusakambangan menjadi menyeramkan setelah mereka t ...
Pertemuan Di Ujung Kopi
Dari secangkir kopi yang tumpah, Aira tak pernah tahu bahwa hidupnya akan berpapasan kemba ...
Hafidz Cerdik
Jarum jam menunjuk di angka 4 kurang beberapa menit ketika Adnan terbangun dari tidurnya ...