Anak Singkong

Reads
476
Votes
5
Parts
5
Vote
Report
Anak singkong
Anak Singkong
Penulis A. Claresta

Chapter 5 - Segelas Teh Dari Bapak

Keesokan harinya, tim yang memasuki bilik pemain bukanlah tim yang sama dengan yang keluar kemarin. Mereka bermain persis seperti yang Bayu perintahkan: kacau, agresif, dan sama sekali tidak bisa diprediksi. Lawan mereka, yang terbiasa dengan ritme permainan yang teratur, dibuat kalang kabut. Kemenangan itu bukan sebuah kebetulan. Satu per satu, tim-tim profesional yang bermain ‘sesuai buku’ tumbang di hadapan gaya main warnet mereka yang liar.

Para caster yang tadinya bingung, kini mulai menciptakan istilah baru untuk mereka: “Chaos Theory-nya Anak Singkong”. Cemoohan berubah menjadi kekaguman, lalu berubah menjadi rasa takut. Mereka bukan lagi tim studi banding dari desa; mereka adalah kuda hitam paling berbahaya di turnamen. Dan setelah serangkaian kemenangan yang terasa mustahil, mereka akhirnya tiba di sana. Di puncak. Di malam sebelum pertempuran terakhir.

Malam sebelum Grand Final, kamar penginapan tim “Anak Singkong” tidak lagi terasa seperti ruang interogasi yang pengap, melainkan sebuah ruang komando perang. Kertas berisi peta Land of Dawn yang digambar Bayu kini tertempel di dinding, penuh dengan coretan spidol dan panah-panah yang terlihat mustahil. Suasana tegang, namun kali ini bukan ketegangan karena perpecahan, melainkan ketegangan yang terfokus.

“Kowe yakin, Bay?” tanya Gilang untuk kelima kalinya, menunjuk sebuah panah yang menukik tajam ke area jungle lawan sejak menit pertama. “Kalau gagal, Adi bisa langsung mati dan kita ketinggalan gold jauh banget.”

“Pasti berhasil,” sahut Adi, nadanya kini mantap. Ia menatap Bayu dengan kepercayaan penuh. “Kalau musuh main aman, mereka nggak akan nyangka aku bakal senekat itu.”

Bayu mengangguk. “Ini bukan soal nekat. Ini soal tempo,” jelasnya, menunjuk peta itu. “Tim profesional bermain dengan tempo yang rapi. Mereka punya jadwal farming, jadwal rotasi. Kita akan hancurkan jadwal itu. Kita nggak akan biarkan mereka bernapas. Kita mainkan musik kita, bukan musik mereka.”

Rina tersenyum. “Musik dangdut koplo di tengah konser orkestra,” katanya.

Dodi tertawa. “Mereka pasti pusing.”

“Pusing itu tujuannya,” kata Bayu. Matanya berkilat. “Kita buat mereka lupa cara bermain yang benar.”

Malam itu, mereka tidak lagi menonton ulang pertandingan lawan. Mereka justru menonton ulang pertandingan-pertandingan lama mereka sendiri di JayaNet, pertandingan yang kacau, penuh kesalahan, namun juga penuh dengan kreativitas liar dan kemenangan tak terduga. Mereka mencoba mengingat kembali siapa diri mereka sebenarnya. Mereka adalah tim “Anak Singkong”, tim yang lahir dari kekacauan, dan besok, mereka akan membawa kekacauan itu ke panggung termegah di Indonesia.

Cahaya ribuan lampu sorot terasa seperti terik matahari di tengah hari. Gemuruh puluhan ribu penonton di Jakarta International Velodrome terdengar seperti ombak lautan yang tak pernah berhenti. Di tengah panggung raksasa itu, lima anak muda dari Klaten berjalan memasuki bilik kedap suara mereka. Kaus sederhana mereka yang berwarna hijau zaitun dan cokelat tanah tampak begitu membumi di antara lautan lampu neon.

Di seberang panggung, tim “Celestial Knights” memasuki bilik mereka dengan arogansi sang juara bertahan. Leo, kapten mereka, memberikan senyum tipis ke arah kamera, sebuah senyum yang sudah ia latih ribuan kali, sementara di layar besar di belakangnya terpampang hero andalannya: Lancelot.

Di dalam bilik, Bayu menatap teman-temannya satu per satu. Ia bisa melihat kegugupan di mata mereka, tapi ia tidak lagi melihat ketakutan.

“Ingat,” katanya pelan lewat mikrofon di headset mereka. “Ojo main rapi. Main jelek wae. Main kayak di JayaNet.”

Mereka semua tersenyum. Pertandingan final pun dimulai.

Babak awal berjalan persis seperti yang Bayu ramalkan: sengit dan brutal. “Anak Singkong” langsung bermain agresif. Adi, dengan Alucard-nya, tidak henti-hentinya menginvasi area jungle lawan, mencuri monster dan memancing keributan. Rina, dengan Freya Roam-nya, muncul di tempat-tempat tak terduga, menciptakan kepanikan. Celestial Knights, yang terbiasa dengan permainan tempo lambat dan terstruktur, tampak sedikit kewalahan.

Di meja komentator, para caster terdengar bingung. “Permainan yang sangat aneh dari Anak Singkong! Mereka mengabaikan farming di lane mereka sendiri dan terus-menerus mencoba memulai pertempuran!” seru salah satu caster.

“Benar sekali,” timpal Ibu Astari, yang duduk sebagai komentator tamu. Suaranya tenang di tengah riuh rendah itu. “Mereka tidak mencoba memenangkan game ini dengan cara biasa. Mereka mencoba memenangkan game ini dengan mencegah lawan mereka bermain.”

Namun, pengalaman adalah guru terbaik. Celestial Knights perlahan tapi pasti mulai beradaptasi. Mereka memperketat pertahanan, memancing kesalahan-kesalahan kecil dari permainan “Anak Singkong” yang terlalu agresif. Satu per satu, anggota tim “Anak Singkong” mulai tumbang. Menit kelima belas, kondisi menjadi kritis. Celestial Knights berhasil mendapatkan Lord dan kini sedang menyerbu markas “Anak Singkong” dari tiga jalur sekaligus.

“INI BENCANA UNTUK ANAK SINGKONG!” teriak sang caster. “Pertahanan mereka hancur! Sepertinya mimpi sang underdog akan berakhir di sini!”

Markas mereka hanya tinggal menunggu waktu. Di dalam bilik, kepanikan mulai terasa. “Kita harus bertahan!” teriak Gilang. “Nggak bisa! Mereka terlalu banyak!” balas Dodi.

Di tengah keputusasaan itu, Bayu menatap peta kecilnya. Ia melihat satu hal. Satu pola yang lahir dari ribuan jam bermain dengan koneksi internet yang buruk. Pola yang hanya bisa dilihat oleh mata yang terbiasa dengan jeda dan keterlambatan.

“Adi,” perintah Bayu, suaranya sangat tenang. “Mati wae.”

“Opo?!” Adi terperangah.

“Percoyo aku. Mati di dekat turret tengah mereka. Saiki.”

Tanpa ragu, Adi menerjang maju sendirian ke arah kerumunan lawan, sebuah pengorbanan yang terlihat seperti bunuh diri. Tentu saja ia langsung tewas. Tapi aksinya berhasil menarik perhatian empat pemain Celestial Knights selama tiga detik yang krusial.

Di meja komentator, semua bingung. “Apa yang dilakukan oleh Alucard itu?! Sebuah kesalahan fatal di momen sepenting ini!”

Hanya Ibu Astari yang mencondongkan tubuhnya ke depan, matanya menyipit. “Tunggu… itu bukan kesalahan.”

Tiga detik. Hanya itu yang Bayu butuhkan. Saat empat pemain lawan fokus pada Adi, pemain kelima mereka, Leo dengan Lancelot-nya yang lincah, berada di jalur atas, mencoba menghancurkan turret terakhir sendirian. Ia merasa aman.

“Sekarang,” bisik Bayu.

Yve miliknya, bersama Freya, Claude, dan Paquito, yang sejak tadi bersembunyi di semak-semak yang tak terduga, sebuah posisi yang sangat berisiko, langsung menggunakan semua skill ultimate mereka serempak, bukan untuk bertahan, tapi untuk melakukan teleportasi dan serangan kilat ke arah Leo.

Lancelot milik Leo bahkan tidak sempat bereaksi. Kapten tim Celestial Knights itu tumbang dalam sekejap.

Di meja komentator, Ibu Astari akhirnya tersenyum. “Itulah dia,” katanya. “Itu tim “Anak Singkong”. Mereka mengorbankan satu pemain untuk menciptakan ilusi kekalahan, hanya untuk menyerang jantung lawan saat mereka lengah. Mereka tidak melawan lima pemain. Mereka hanya melawan satu.”

Tanpa kapten mereka, serangan Celestial Knights menjadi kacau. Waktu respawn mereka terlalu lama. “Anak Singkong”, kini hanya berempat, tidak mencoba bertahan. Mereka melakukan persis seperti yang Bayu perintahkan. Mereka berlari lurus di jalur tengah yang kosong, mengabaikan segalanya, dan menghancurkan kristal markas lawan yang tak terjaga.

Layar berubah biru. VICTORY.

Keheningan melanda arena selama sedetik, sebelum akhirnya meledak dalam gemuruh sorak-sorai yang paling keras malam itu.

Di dalam bilik, tim “Anak Singkong” melepas headset mereka, masih tertegun. Lalu perlahan, mereka saling pandang. Adi adalah yang pertama tertawa, tawa lega yang berubah menjadi isak tangis. Mereka berhamburan dari kursi, saling berpelukan di tengah bilik sempit itu, melompat-lompat seperti anak kecil.

Saat penyerahan piala, panggung terasa seperti mimpi. Confeti berwarna perak dan hijau turun dari langit-langit. Ibu Astari berjalan ke depan membawa piala yang berkilauan. Ia tidak menyerahkannya langsung pada Bayu. Ia berhenti di depannya, menatapnya dengan tatapan penuh hormat.

“Kamu tidak membuang petamu,” katanya pelan, hanya cukup untuk didengar Bayu.

Bayu hanya bisa mengangguk, tenggorokannya tercekat. Ia menerima piala itu. Rasanya berat, dingin, dan nyata. Ia mengangkatnya tinggi-tinggi, dan kilatan lampu kamera terasa seperti ribuan bintang yang meledak di depan matanya.

***

Epilog

Dua hari kemudian, Bayu tiba kembali di Klaten. Tidak ada arak-arakan. Hanya ada keheningan sore yang akrab dan aroma tanah basah setelah hujan. Ia masuk ke rumah, meletakkan ranselnya yang kini terasa lebih berat karena piala kecil di dalamnya.

Ayahnya, Pak Purnomo, sedang duduk di teras, menyeruput kopi. Ia hanya melirik Bayu sekilas, tanpa berkata apa-apa. Bayu juga tidak berkata apa-apa. Ia masuk ke dalam, meletakkan piala itu di atas meja belajarnya yang usang, lalu kembali ke teras, duduk di kursi lain, beberapa meter dari ayahnya.

Mereka duduk dalam diam selama beberapa menit, hanya ditemani suara jangkrik dan tetesan air dari atap.

“Neng TV mau enek beritamu, Le,” kata Pak Purnomo tiba-tiba, memecah keheningan. Ia tidak menatap Bayu, matanya masih lurus ke depan.

Bayu menunggu.

“Bapak yo ora ngerti,” lanjut ayahnya. “Kabeh kuwi… lampu-lampu, bengok-bengok… Bapak tetap ora ngerti. Tapi…” (Semua itu… lampu-lampu, teriakan-teriakan… Bapak tetap tidak mengerti. Tapi…)

Ia berhenti sejenak, menyesap kopinya.

“Mau Bapak ndelok wajahmu neng layar. Awakmu ketok… koyo ngerti tenan opo sing mbok lakoni.” (Kamu terlihat… seperti mengerti betul apa yang kamu lakukan.)

Pak Purnomo akhirnya menoleh, menatap lurus ke mata anaknya. Untuk pertama kalinya, Bayu tidak melihat cemoohan di sana. Ia tidak melihat kekecewaan. Ia melihat sesuatu yang baru, sesuatu yang belum pernah ia lihat sebelumnya: sebuah keraguan pada prinsip ayahnya sendiri, dan secercah rasa hormat.

Pak Purnomo bangkit, masuk ke dalam rumah. Beberapa saat kemudian, ia kembali membawa segelas teh hangat dan meletakkannya di meja di samping Bayu.

“Diminum tehnya, Le,” katanya.

Hanya itu. Tidak ada ucapan selamat. Tidak ada pelukan. Tapi bagi Bayu, segelas teh hangat itu terasa seperti piala kemenangan yang sesungguhnya. Ia menatap hamparan sawah di depan rumahnya, menyesap teh buatan ayahnya, dan untuk pertama kalinya, ia merasa kedua dunianya, dunia Land of Dawn dan dunia tanah Klaten, akhirnya berdamai.


Other Stories
Pra Wedding Escape

Nastiti yakin menikah dengan Bram karena pekerjaan, finansial, dan restu keluarga sudah me ...

Kita Pantas Kan?

Bukan soal berapa uangmu atau seberapa cantik dirimu tapi, bagaimana cara dirimu berdiri m ...

Bunga Untuk Istriku (21+)

Laras merasa pernikahannya dengan Rendra telah mencapai titik jenuh yang aman namun hambar ...

Ablasa

Perjalanan Nindya dan teman-temannya ke Nusakambangan menjadi menyeramkan setelah mereka t ...

Warung Kopi Reformasi

Di sebuah warung kopi sederhana di pinggir alun-alun Garut tahun 1998, hidup berjalan deng ...

Kala Menjadi Cahaya Menjemput Harapan Di Tengah Gelap

Hidup Arka runtuh dalam sekejap. Pekerjaan yang ia banggakan hilang, ayahnya jatuh sakit p ...

Download Titik & Koma