Bab 3 : Kembali Ke Tubuh
2025
“Woawww! Tunggu dulu kak, ada listrik di jariku!”, jerit Aruna.
Terapis perempuan itu hanya tertawa, sambil memutar jari-jari Aruna yang ditusuk jarum-jarum logam halus di beberapa titik tubuhnya dengan perlahan.
“Kakak kecewa karena apa?”, tanya si Terapis pada Aruna.
“Banyak, Kak!” Aruna tertawa sambil menjerit karena tusukan jarum-jarum itu.
Setelah sesi terapi, si Terapis menjelaskan ketidak-seimbangan energi dalam diri Aruna. Kakinya yang terasa berat dan menegang bertahun-tahun ternyata adalah manifestasi dari rasa tidak aman dalam diri Aruna.
Padahal 2 tahun ini aku sangat gencar menyuarakan healing, ternyata aku belum kemana-mana, pikirnya.
Aku kira aku sudah cukup sembuh, pikirnya. Dia teringat hari-harinya selama ini. Sebenarnya tidak ada yang berubah. Dia masih juga bertengkar hebat dengan suaminya. Dia masih berada di kondisi finansial yang sama. Tubuhnya juga masih belum segar.
Sepulangnya ke rumah dia kembali menarik buku jurnal lamanya, dia teringat tahun-tahun penuh tangis yang ditorehkannya pada tiap lembar. Betapa dalam dia mengorek dan berusaha memaafkan masa lalunya.
Tapi ada 1 yang dia masih belum lakukan, dia belum mengakui masalah dalam hatinya beberapa tahun belakangan ini. Dunia healing membuatnya terlalu cepat menerima keadaannya saat ini. Tampilan bijak dan bahagia yang erat menjadi stereotype dunia healing dan self development. Dia sangat gencar menyuarakan kesadaran. Tapi bagi orang-orang sekitarnya, dia masih menjadi monster.
Aruna merenungkan kegiatan sehari-harinya, bagaimana dia masih malas-malasan merawat diri, padahal dia yang paling gencar menyuarakan self love. Semua ritual-ritual itu terasa dangkal dan menjadi beban baginya. Hingga ia lupa menjalankan ritualnya sendiri. Dia terlalu sibuk menjadi guru dan menyelamatkan orang lain.
Dan akhirnya hari-harinya diisi dengan menuangkan isi hatinya di kertas kosong, dengan jujur mengakui perasaannya tanpa diatur, dia menerapkan semua ritual-ritual yang dipelajarinya sesuai dengan apa yang dia ingin lakukan. Dia belajar melihat hidup bukan sebagai beban.
Aruna memeluk tubuhnya dan menangis, ada rasa pilu dari dalam dirinya, seperti jeritan jiwa yang akhirnya didengar.
Pikiran memang bisa menipu. Ternyata semua healingnya hanya berdasarkan atas pembalasan bagi orang-orang yang menyakitinya dulu. Aruna ingin dikenal sebagai orang yang lebih baik daripada sebelumnya.
Namun tubuhnya lelah dengan segala pertunjukan topeng ini. Jiwanya ingin Aruna benar-benar menjadi lebih baik, bukan hanya terlihat lebih baik.
Aruna memutuskan untuk benar-benar merawat dirinya. Dia berhenti menyuarakan kesadaran di sosial medianya.
“Woawww! Tunggu dulu kak, ada listrik di jariku!”, jerit Aruna.
Terapis perempuan itu hanya tertawa, sambil memutar jari-jari Aruna yang ditusuk jarum-jarum logam halus di beberapa titik tubuhnya dengan perlahan.
“Kakak kecewa karena apa?”, tanya si Terapis pada Aruna.
“Banyak, Kak!” Aruna tertawa sambil menjerit karena tusukan jarum-jarum itu.
Setelah sesi terapi, si Terapis menjelaskan ketidak-seimbangan energi dalam diri Aruna. Kakinya yang terasa berat dan menegang bertahun-tahun ternyata adalah manifestasi dari rasa tidak aman dalam diri Aruna.
Padahal 2 tahun ini aku sangat gencar menyuarakan healing, ternyata aku belum kemana-mana, pikirnya.
Aku kira aku sudah cukup sembuh, pikirnya. Dia teringat hari-harinya selama ini. Sebenarnya tidak ada yang berubah. Dia masih juga bertengkar hebat dengan suaminya. Dia masih berada di kondisi finansial yang sama. Tubuhnya juga masih belum segar.
Sepulangnya ke rumah dia kembali menarik buku jurnal lamanya, dia teringat tahun-tahun penuh tangis yang ditorehkannya pada tiap lembar. Betapa dalam dia mengorek dan berusaha memaafkan masa lalunya.
Tapi ada 1 yang dia masih belum lakukan, dia belum mengakui masalah dalam hatinya beberapa tahun belakangan ini. Dunia healing membuatnya terlalu cepat menerima keadaannya saat ini. Tampilan bijak dan bahagia yang erat menjadi stereotype dunia healing dan self development. Dia sangat gencar menyuarakan kesadaran. Tapi bagi orang-orang sekitarnya, dia masih menjadi monster.
Aruna merenungkan kegiatan sehari-harinya, bagaimana dia masih malas-malasan merawat diri, padahal dia yang paling gencar menyuarakan self love. Semua ritual-ritual itu terasa dangkal dan menjadi beban baginya. Hingga ia lupa menjalankan ritualnya sendiri. Dia terlalu sibuk menjadi guru dan menyelamatkan orang lain.
Dan akhirnya hari-harinya diisi dengan menuangkan isi hatinya di kertas kosong, dengan jujur mengakui perasaannya tanpa diatur, dia menerapkan semua ritual-ritual yang dipelajarinya sesuai dengan apa yang dia ingin lakukan. Dia belajar melihat hidup bukan sebagai beban.
Aruna memeluk tubuhnya dan menangis, ada rasa pilu dari dalam dirinya, seperti jeritan jiwa yang akhirnya didengar.
Pikiran memang bisa menipu. Ternyata semua healingnya hanya berdasarkan atas pembalasan bagi orang-orang yang menyakitinya dulu. Aruna ingin dikenal sebagai orang yang lebih baik daripada sebelumnya.
Namun tubuhnya lelah dengan segala pertunjukan topeng ini. Jiwanya ingin Aruna benar-benar menjadi lebih baik, bukan hanya terlihat lebih baik.
Aruna memutuskan untuk benar-benar merawat dirinya. Dia berhenti menyuarakan kesadaran di sosial medianya.
Other Stories
Haruskah Bertemu?
Aku bertemu dengan wanita di gerbong yang sama dengan satu kursi juga. Dia sangat riang se ...
Cinta Di Ibukota
Sari, gadis desa yang polos, terjerat dalam hubungan berbahaya dengan fotografer ambisius ...
Dante Fairy Tale
“Dante! Ayo bangun, Sayang. Kamu bisa terlambat ke sekolah!” kata seorang wanita ge ...
DI BAWAH PANJI DIPONEGORO
Damar, seorang petani terpanggil jiwanya untuk berjuang mengusir penjajah Belanda di bawah ...
Kado Dari Dunia Lain
"Jika Kebahagiaan itu bisa dibeli, maka aku akan membelinya." Di tengah kondisi hidup Yur ...
Arti Yang Tak Pernah Usai
Siapa sangka liburan akhir tahun beberapa mahasiswa ini membawa dua insan menyelesaikan se ...