Chapter 5: Tanpa Memberi Penjelasan
Sejak Faris mengetahui rahasia itu, ketegangan antara Faris dan Nayla menjadi benang tak kasat mata yang menjerat Faris. Ia harus mendampingi mereka dalam dua pertemuan lagi, dan setiap pertemuan adalah siksaan batin.
Dalam proses taaruf, pasangan diminta untuk saling bertukar visi, misi, dan harapan masa depan. Faris mendengarkan dengan saksama. Reza berbicara tentang impiannya membangun yayasan sosial. Nayla berbicara tentang mimpinya mendirikan rumah singgah untuk janda-janda korban KDRT. Mereka terdengar serasi, visi mereka selaras.
Pertemuan kedua, mereka membahas tentang keuangan dan pengelolaan rumah tangga. Faris mengamati Nayla begitu detail menjelaskan strategi bisnisnya. Ia melihat betapa Nayla kini sangat terikat pada stabilitas dan perencanaan, hal-hal yang tidak pernah ia pedulikan saat SMA. Ini adalah mekanisme pertahanan diri, Faris kini tahu.
Pertemuan ketiga direncanakan di luar ruang formal. Reza mengundang Nayla dan walinya (beserta Faris) untuk mengunjungi sebuah panti asuhan yang ia bantu renovasi. Reza ingin menunjukkan sisi praktis dari visi dakwahnya.
Faris mengamati Nayla. Nayla tampak natural berinteraksi dengan anak-anak panti. Ia tidak canggung, bahkan dengan sigap membantu seorang anak memasang jilbabnya yang miring. Ada kehangatan dan empati yang nyata, bukan kepura-puraan. Reza menatap Nayla dengan tatapan penuh pemujaan. Ini adalah wanita yang ia cari.
Ketika Nayla sedang sendirian, memandang ke kejauhan ke arah taman panti, Faris mendekatinya. Ia bertekad untuk menggali, untuk memastikan seberapa jauh Nayla mengubur Nisa.
“Visi kamu benar-benar mengagumkan, Nayla. Rumah singgah untuk janda korban KDRT. Itu sangat spesifik.”
Nayla menoleh, matanya redup. “Setiap orang membawa lukanya sendiri, Mas Faris. Saya hanya tahu bagaimana rasanya terpuruk dan butuh tempat berlindung. Bagi Nisa dulu, utang adalah KDRT finansial. Itu menghancurkan martabat dan jiwa. Jadi, ia hanya ingin membantu orang lain membangun kembali hidup mereka dari kehancuran.”
“Reza adalah pendengar yang baik. Dia akan mendukung ini,” kata Faris, sambil menunjuk Reza yang sedang berdiskusi serius dengan kepala panti.
Nayla menghela napas, nadanya tiba-tiba berubah personal. "Mas Faris, kamu terlihat sangat disiplin dengan prinsip. Apakah kamu pernah berpikir, apa jadinya kalau kamu memilih jalan yang lebih berisiko dalam hidupmu, jalan yang bukan kepastian? Kamu seperti membangun benteng yang sempurna, Mas Faris."
Faris merasakan hawa dingin menjalar di punggungnya. Ia harus sangat berhati-hati agar Nayla tidak curiga bahwa ia sudah tahu.
"Takdir tidak bekerja dengan 'jika', Nayla. Takdir bekerja dengan 'sekarang'," jawab Faris, mengutip salah satu filosofi hidup yang sering ia gunakan untuk menasihati kliennya. "Dan 'sekarang' adalah kamu sedang dalam proses yang baik dengan Reza. Saya harus menjadi benteng, Nayla. Karena benteng melindungi kota. Dan kota itu adalah persahabatan saya dengan Reza, dan proses suci yang sedang kamu jalani. Saya tidak akan menghancurkannya.”
Nayla mengangguk pelan, air mata yang hampir menetes kini ia tahan. Ia mengerti. Faris tidak akan melanggar prinsipnya.
Other Stories
Kasih Ibu #1 ( Hhalusinada )
pengorbanan seorang ibu untuk putranya, Angga, yang memiliki penyakit skizofrenia. Ibu rel ...
Membabi Buta
Mariatin dan putrinya tinggal di rumah dua kakak beradik tua yang makin menunjukkan perila ...
Kado Dari Dunia Lain
Kamu pasti pernah lelah akan kehidupan? Bahkan sampai di titik ingin mengakhirinya? Sepert ...
Tea Love
Miranda tak ingin melepas kariernya demi full time mother, meski suaminya meminta begitu. ...
Kita Pantas Kan?
Bukan soal berapa uangmu atau seberapa cantik dirimu tapi, bagaimana cara dirimu berdiri m ...
Yume Tourou (lentera Mimpi)
Kanzaki Suraha, seorang Shinigami, bertugas menjemput arwah yang terjerumus iblis. Namun i ...