Chapter 9: Di Hidupmu
"Jangan, Za. Jangan gegabah," Faris memohon. "Ini bukan tentang gue atau perasaan kami di masa lalu. Ini tentang Nayla yang sekarang. Dia sudah jujur sama aku. Dia benar-benar ingin menjalani hidup baru, Za. Dia memilih kamu, karena kamu memberinya rasa aman, yang dulu tidak bisa gue berikan. Itu pengakuan Nayla, bukan Faris."
"Omong kosong! Kalau dia memilih gue, kenapa tatapan matanya selalu ke lo?"
"Itu adalah cara kami merelakan," kata Faris, tatapannya kini berubah tulus. "Kami sedang saling membantu mengubur masa lalu itu, Za. Dan cara terbaik untuk menguburnya adalah dengan membiarkan Nayla bahagia di masa depannya, bersamamu. Gue janji, gue akan mundur. Gue akan menghilang dari hidup Nayla setelah ini. Gue memilih lo, Za. Gue memilih persahabatan kita, di atas cinta yang datang dari masa lalu."
Reza menatap Faris lama sekali, mencoba mencari kebohongan di mata sahabatnya, namun ia hanya menemukan kesakitan yang tulus dan pengorbanan yang tak terhitung harganya.
Faris tahu ia harus mengakhiri drama ini, bukan dengan merebut Nayla kembali, tetapi dengan mendorongnya menuju Reza. Inilah ujian sebenarnya dari kedewasaan dan keimanan yang selama ini ia klaim.
Ia mengatur pertemuan terakhir dengan Nayla, jauh dari Reza. Mereka bertemu di taman yang sepi, di bawah pohon beringin yang rindang. Suasana taman itu terasa sunyi, seolah alam pun menahan napas menyaksikan drama ini.
"Reza sudah tahu," kata Faris, langsung, tanpa basa-basi.
Wajah Nayla memucat. Ia menggenggam tepi jilbabnya, kebiasaan lama Nisa saat panik. "Apa yang dia bilang?"
"Dia marah. Dia merasa dikhianati. Dia ingin membatalkan pernikahan."
Nayla menutup wajahnya, air mata mulai mengalir deras. "Ternyata aku tidak pernah bisa lari dari Nisa. Masa lalu itu selalu mengejar. Aku sudah berusaha sekuat tenaga menjadi Nayla yang baru, Faris. Aku sudah mencoba ikhlas, mencoba mencintai Reza. Tapi takdir memang lucu, ya? Aku bertemu kamu saat aku sedang berjuang untuk masa depanku, dan kamu ada di sana, di masa depanku."
Faris meraih tangan Nayla, hanya sekali, untuk memberikan kekuatan, sebelum segera melepaskannya. Sentuhan itu terasa listrik, pengingat akan janji-janji masa lalu, dan rasa sakit kehilangan yang sama. Tepat sebelum Faris menarik tangannya, Nayla menahan, hanya sepersekian detik, sebuah permohonan terakhir.
Nayla menunduk, gemetar. “Tanganmu. Persis seperti yang aku ingat. Selalu memberikan kekuatan, tapi sekarang... kenapa kamu menggunakannya untuk mendorongku menjauh?”
Other Stories
Anak Singkong
Sebuah tim e-sport dari desa, "Anak Singkong", mengguncang panggung nasional. Dengan strat ...
Diary Anak Pertama
Sejak ibunya meninggal saat usianya baru menginjak delapan tahun, Alira harus mengurus adi ...
Puzzle
Karina menyeret kopernya melewati orang-orang yang mengelilingi convayer belt. Koper ber ...
Boneka Sempurna
Bagi Abrian, hidup adalah penjara tanpa jeruji. Selama bertahun-tahun, ia adalah korbam ta ...
Just Open Your Heart
Terkutuk cinta itu! Rasanya menyakitkan bukan karena ditolak, tapi mencintai sepihak dan d ...
Cinta Di Balik Rasa
memendam rasa bukanlah suatu hal yang baik, apalagi cinta!tapi itulah yang kurasakan saat ...