Chapter 13: Aku Ikhlas
Ia mulai mengenal Sarah lebih dalam. Sarah, seorang ahli gizi di sebuah rumah sakit swasta, memiliki kepribadian yang tenang, sehangat teh yang diseduh pelan. Ia tidak memiliki drama masa lalu yang meledak-ledak. Ia adalah stabilitas yang Faris butuhkan.
Sarah tidak memintanya menjadi Faris yang dulu, yang penuh api. Sarah menerima Faris yang sekarang: fasilitator takdir yang matang dan berprinsip. Ia menerima benteng itu, karena ia tahu, benteng itu dibangun untuk melindungi.
Faris belajar bahwa Nayla adalah cinta yang mengajarinya tentang luka dan kekuatan. Sarah adalah cinta yang mengajarinya tentang kedamaian dan kesinambungan.
Faris menuliskan sebuah refleksi di buku hariannya: Nisa adalah kembang api yang indah tapi cepat padam. Nayla adalah bintang yang jauh dan sudah menjadi milik langit lain. Tapi Sarah... Sarah adalah api unggun. Hangat, stabil, dan siap menemaniku dalam kegelapan yang panjang. Inilah takdir yang kudapatkan setelah merelakan takdir yang kuinginkan.
Dua bulan setelah pernikahan Reza dan Nayla, Faris membawa Sarah ke rumahnya, memperkenalkan pada ibunya.
"Dia wanita yang baik, Ris," kata Ibu Faris setelah Sarah pulang. "Dia tidak mendesak, tapi dia menenangkan."
Faris tersenyum. "Faris tidak lagi mencari gairah, Bu. Faris mencari ketenangan."
Satu bulan kemudian, Reza menelepon.
"Ris, lo ke mana aja, sih? Kita jarang ketemu!" suara Reza terdengar riang.
"Lagi sibuk sama klien baru, Za. Prosesnya makin intens," jawab Faris.
"Oh ya, gue cuma mau ngabarin. Nayla hamil, Bro! Lo bakal jadi Om!"
Faris tersenyum, senyum yang benar-benar lepas dan tulus. "Alhamdulillah, Za. Selamat ya. Jaga Nayla baik-baik."
"Pasti, Ris. Eh, ngomong-ngomong soal klien baru... cewek yang lo bilang kriteria nya oke banget itu, gimana? " tanya Reza."Kok lo nggak pernah cerita lagi."
Faris menatap buku di pangkuannya. Di sampingnya, ada sebuah kartu nama. Faris telah memberanikan diri. Ia telah melakukan taaruf lagi, tetapi kali ini, ia adalah subjeknya, bukan perantara. Ia sedang menjalani proses dengan seorang wanita bernama Sarah, seorang ahli gizi yang cerdas dan tenang.
"Dia bagus, Za," kata Faris. "Dia bukan kembang api, tapi dia seperti bintang. Cahayanya stabil dan menuntun. Doakan saja, ya. Sebentar lagi, Insya Allah, aku akan jadi subjek utama taarufku sendiri."
"Pasti, Bro. Lo juga pantas bahagia. Lo itu perantara taaruf terbaik yang pernah ada. Lo pantas jadi subjek utama taaruf lo sendiri."
Faris menutup telepon, meletakkan ponselnya, dan kembali menatap langit. Ia memikirkan Nayla, Nisa, Reza, dan Sarah.
Ia sadar. Nisa dan Faris adalah kisah yang terhenti karena waktu, karena trauma yang belum selesai, karena ia belum dewasa. Nayla dan Reza adalah kisah yang dimulai karena kesiapan, karena stabilitas, karena cinta yang memberi ruang. Faris dan Sarah, ia berharap, akan menjadi kisah tentang ketenangan yang ditemukan setelah badai besar.
Faris membalik kartu nama Sarah di mejanya. Turut Berduka Cinta adalah babak yang telah selesai. Sekarang, ia siap menulis babak baru: Turut Menyambut Takdir. Ia kembali fokus pada bukunya, hatinya tenang. Tidak ada lagi penyesalan, hanya harapan.
Other Stories
Cahaya Menembus Senesta
Manusia tidak akan mampu hidup sendiri, mereka membutuhkan teman. Sebab dengan pertemanan, ...
Membabi Buta
Mariatin dan putrinya tinggal di rumah dua kakak beradik tua yang makin menunjukkan perila ...
Sayonara ( Halusinada )
Raga berlari di tengah malam, tanpa sekalipun menengok ke belakang. Ia kelalahan hingga te ...
Aku Pulang
Raina tumbuh di keluarga rapuh, dipaksa kuat tanpa pernah diterima. Kemudian, hadir sosok ...
Adam & Hawa
Adam mencintai Hawa yang cantik, cerdas, dan sederhana, namun hubungan mereka terhalang ad ...
First Love Fall
Rena mengira dengan mendapat beasiswa akan menjadi petualangan yang menyenangkan. Tapi sia ...