Konselor

Reads
649
Votes
0
Parts
7
Vote
Report
Penulis Rizkinawala

Akasia Di Mata Orang Lain

Selama tiga bulan Wayan terus mencari-cari dokter Akasia. Dia hanya mengetahui nama dokter itu. Suatu hari, Wayan kembali mengunjungi rumah sakit, mencoba mencari informasi lain tentang wanita itu di resepsionis.

“Ada yang bisa saya bantu? Mau daftar untuk apa?” Tanya seorang wanita berseragam rapi.

“Saya ingin mendaftar di poli tempat Dokter Akasia berjaga?”

“Dokter Akasia?” Wanita penjaga meja informasi itu sedikit tersenyum. “Kalau boleh tahu, apa hubungan Bapak dengan dokter Akasia?”

Wayan terdiam sejenak. “...Saya pamannya.”

Petugas itu menatapnya lebih tajam, memperhatikan Wayan. “Saya baru tahu kalau dokter Akasia punya paman,” katanya terhenti, “Maaf, saya tidak bermaksud merendahkan, tapi Dokter Akasia jarang sekali menceritakan keluarganya. Dia selalu mengatakan hal yang berbeda-beda tentang keluarganya.”

Petugas itu melanjutkan bercerita. “Pernah, kami mendapat satu shift malam bersama, dan dia menemaniku mengobrol cukup lama di disini. Kami bercerita tentang keluarga kami. Aku menceritakan padanya kalau aku datang dari pelosok desa di Yogyakarta. Begitu aku menanyakkan padanya dari mana dia berasal, Dokter Akasia enggan menjawab, tapi dia bilang ‘ibunya adalah seorang pemain teater handal dan ayahnya seorang supir.’ Aku tidak langsung percaya, karena ada rumor mengatakan kalau direktur rumah sakit ini adalah ayahnya. Tapi, kalau pun iya, aku tidak mengerti kenapa dokter Akasia mengaku ayahnya seorang supir. Lalu, aku main-main untuk mengetahui seperti apa sebenarnya. Aku menanyakan padanya mengapa ia tidak menjadi seorang aktris dengan wajah seperti itu, siapa tahu bakat ibunya turun padanya. Tiba-tiba saja dia marah.”

Petugas itu meniruka perkataan Akasia padanya. “Aku kasian sekali melihatmu duduk sendiri, makannya aku datang untuk menemanimu mengobrol disini. Setelah mengobrol panjag denganmu, aku baru tahu rupanya cara pandangmu seperti pertunjukan film drama romantis murahan yang pemeran utamanya secara diam-diam mengharap iba seseorang.”

“Maksud dokter Kia?” tanyaku padanya saat itu.

“Ya, kamu seenaknya memintaku menjadi seorang aktris. Memangnya kamu kenal dengan Rhowe Dahlia? Seorang pemain teater handal bahkan ketika di rumah pun dia akan melakukan perannya menjadi apa pun. Entah menjadi juru masak yang terampil menggunakan pisau, tukang kayu yang sibuk memasang papan kayu di setiap jendela rumah, atau seorang pengrajin yang ahli dalam mengikat”

“Maaf, tapi aku tidak mengerti maksud Dokter Kia.”

Akasia tertawa, “’Pemikaranmu luar biasa!’ Lalu, dokter Akasia meninggalkanku dengan tatapan yang sinis. Aku ingat sekali.” Petugas itu menghela napas, “Esoknya, aku menceritakan apa yang terjadi semalam pada temanku, saat temanku mendengarnya dia justru tertawa dan berkata, ‘bahakan seluruh pegawai di rumah sakit ini tidak ada yang mau bicara dengannya, tapi kau malah melakukannya.”’

Wayan mencermati cerita petugas itu. Benaknya terusik. Ia kembali bertanya-tanya tentang keyakinannya. Apakah dokter itu adalah Tanika? Rasanya, tidak mungkin Tanika bersikap kasar seperti itu. Tanika memang anak yang mudah mengambek, tapi dia adalah anak yang sopan pada orang lain

“Dokter Akasia sudah tidak bekerja lagi di sini. Akhirnya direktur rumah sakit memecatnya. Aku tidak memihak siapa pun, tapi dokter Akasia seperti perempuan aneh. Dia masih muda, tapi tempramennya tidak mencerminkan dirinya sebagai seorang konselor anak sama sekali. Pada saat direktur memecatnya, itu menjadi berita besar di rumah sakit ini. Bayangkan saja, dia membanting plak nama direktur yang terbuat dari kaca sambil mengumpatkan kata-kata kasar. Tapi, hari kacau itu berlalu cepat dengan perayaan pemecatannya yang sudah tidak bergabung dengan rumah sakit ini lagi. Kami semua jadi lebih tenang sekarang tanpa dokter Akasia.”

Wayan mengangguk pelan setelah mengucapkan terima kasih, lalu meninggalkan meja informasi tanpa mengatakan apapun lagi, langkahannya pelan seraya menelaah cerita yang dia dengar tadi

Ia kepalang bingung. Satu sisi, wanita yang dilihatnya amat mirip dengan Tanika. Tapi disisi lain, menurut cerita orang-orang yang bekerja dengannya, wanita itu amat kacau. Hampir tidak ada yang menyukainya. Ia tidak tahu apakah harus menceritakannya pada Musonif atau tetap menyimpannya sendiri. Tapi, ia ingin Musonif melihat wanita itu. Benar atau bukan dokter itu adalah Tanika. Setidaknya, kerinduan Musonif selama lima belas tahun pada putrinya dapat menghentikan sesaknya sebentar.

Paling tidak, walau hanya sekali, Wayan berharap Musonif dan Eda dapat bertemu dengan dokter itu.

Setelah kembali ke kios, Wayan menghela napas dalam. Ia mengalihkan pandangannya dari poster-poster tindik di dinding ke arah Musonif. Dalam tatapan itu, rasa iba melecuti dirinya. Melihat Musonif tidak pernah mengganti posisi duduknya sambil terus menatap pintu, dan hal itu membuatnya sedikit sesak. Namun, di balik harapannya Musonif dapat bertemu dengan Tanika, Wayan lebih menginginkan setidaknya Musonif dapat merelakannya. Meski berat, tapi itulah kenyataan. 


Other Stories
Namaku May

Belajar tak mengenal usia, gender, maupun status sosial. Kisah ini menginspirasi untuk ter ...

Diary Anak Pertama

Sejak ibunya meninggal saat usianya baru menginjak delapan tahun, Alira harus mengurus adi ...

Hati Yang Terbatas

Kinanti mempertahankan cintanya meski hanya membawa bahagia sesaat, ketakutan, dan luka. I ...

Devils Bait

Berawal dari permainan kartu tarot, Lanasha meramal kalau Adara, Emily, Alody, Kwan Min He ...

After Meet You

kacamata hitam milik pria itu berkilat tertimpa cahaya keemasan, sang mata dewa nyaris t ...

Bunga Untuk Istriku (21+)

Laras merasa pernikahannya dengan Rendra telah mencapai titik jenuh yang aman namun hambar ...

Download Titik & Koma