Viral

Reads
2K
Votes
0
Parts
12
Vote
Report
Penulis Fira Meutia

Saat Dunia Runtuh

Dua jam kemudian, saat baru melewati tap gate stasiun, ia menerima kabar yang sudah ia duga. Ia gagal. Tak lama, Annisa meneleponnya.

“Nay, maaf ya.”

Nayla menatap motor-motor berserakan di halaman stasiun, dan klakson angkot menjerit sesekali. Ia menjawab lemah, “Nggak apa-apa.”

Annisa terdiam sesaat, “Oh ya, gue boleh saran nggak?”

“Saran apa?”

“Itu, lapak lo kayaknya perlu dipercantik lagi deh, kayak di video yang gue kirim. Boxnya kayu tutup bening, biar kelihatan warna-warni juga dari luar.”

Nayla mendengus, “Nanti deh, lagian orang juga udah tau kok rasanya enak.”

“Ya tapi, lo mau narik pembeli baru kan? Lo boleh punya rasa enak, tapi kalau nggak ada yang nengok ke meja lo, gimana mereka bisa tau?” balas Annisa, “Viral cuma sementara. Kalau lo nggak upgrade, nanti orang-orang lupa. Sayang banget.”

“Gue jualan buat sementara juga kok,” sahut Nayla, menahan frustasi yang mulai beriak lagi.

“Ya, walau sementara, kan bisa lakuin yang maksimal,” jawab Annisa, “Minimal buat Ibu lo …”

“Ibu gue ngerawat Bapak,” tukas Nayla cepat, “Stroke.”

Sejenak tak ada suara dari seberang, “Hah? Jadi … itu bener? Maaf Nay, sumpah, maaf.”

Nayla diam, kehilangan minat untuk membalas.

Suara Annisa mengecil, “Ya sudah … hati-hati ya.”

Nayla mengakhiri panggilan. Ia kembali menyeret kakinya, menyusuri deretan jajanan stasiun, barisan angkot, orang-orang yang menunggu dijemput di minimarket, rumah makan, tanpa menoleh sedikit pun. Kata-kata Bu Ririn masih menempel di telinganya, seperti noda kopi yang tak hilang meski digosok berkali-kali. Ditambah ucapan Annisa, yang ia tahu sebetulnya tidak menyinggung, tapi menumpuk rasa frustasi di kepalanya.

Begitu masuk ke rumah, ia menemukan ibunya panik di samping ayahnya yang tak sadarkan diri. Suasana mendadak berubah: tetangga berdatangan, nada khawatir menggema, ambulans dipanggil. Nayla terduduk di sofa ruang tamu. Bibirnya terkatup, wajahnya bergetar di balik kedua lututnya yang terlipat. Air matanya jatuh, terus dan terus, layaknya adonan yang mengembang pecah karena tak tahan panas kubangan minyak.

Hangat tangan Ibu mengusap punggungnya sebentar. Alya hanya duduk di sebelahnya, memandanginya.

Di dalam ambulans, sirine meraung. Ia menatap jendela yang menghitamkan semua warna, meredupkan semua nyala lampu. Di luar, dunia berlari berlepasan dari sela-sela jarinya, tak tergenggam. Ia tak tahu apa lagi yang akan runtuh setelah ini. Rasanya ia sudah gagal menjadi anak, menjadi pencari kerja, dan menjadi manusia.


Other Stories
Way Back To Love

Karena cinta, kebahagiaan, dan kesedihan  datang silih berganti mewarnai langkah hidup ki ...

Kuraih Mimpiku

Edo, Denny,Ringo,Sonny,Dito adalah sekumpulan anak band yang digandrungi kawula muda. Kema ...

Aku Bukan Pilihan

Cukup lama Rama menyendiri selepas hubungannya dengan Santi kandas, kini rasa cinta itu da ...

November Kelabu

Veya hanya butuh pengakuan, sepercik perhatian, dan seulas senyum dari orang yang seharusn ...

Warung Kopi Reformasi

Di sebuah warung kopi sederhana di pinggir alun-alun Garut tahun 1998, hidup berjalan deng ...

Erase

Devi, seorang majikan santun yang selalu menghargai orang lain, menenangkan diri di ruang ...

Download Titik & Koma