Hidup Gue Bukan Bahan Konten!
Pagi itu, seperti biasa Rafi menghampiri lapak Nayla.
“Donat lo enak banget, Nay. Lo harusnya bikin konten deh, biar makin rame,” Rafi mengetuk-ngetuk bagian meja yang kosong, “Sekarang orang tuh suka sama konten yang authentic, yang nunjukin sisi vulnerable. Soalnya capek liat yang sempurna terus. Nah lo udah punya USP. Ada orang yang nyerang lo karena lo dulu juara 1, tapi justru itu yang bikin lo diinget! Lo jadiin bahan konten aja.”
Nayla tak menjawab. Tangannya cekatan memasukkan donat hangat ke kantong plastik, lalu menyerahkannya ke pelanggan dengan mata menggariskan senyum. Rafi menunggu gilirannya, mundur selangkah, sengaja menyalakan kamera ponselnya. Dari layar kecil itu, ia melihat wajah sosok teman lamanya tersembunyi di antara topi dan masker biru. Diam-diam, ia melihat pantulan kayak perempuannya di sana.
“Nih, udah gue rekam,” kata Rafi bersemangat, menunjukkan videonya. “Tinggal lo kasih copy pendek,” Rafi berhenti, merangkai kata-kata yang cocok sebelum berbicara lagi, “kayak gini: ‘Mau berterima kasih buat diriku. Dulu juara 1 di kelas, sekarang juara 1 bertahan hidup.”
Nayla menoleh, terdiam menatap Rafi beberapa detik.
“Raf,” suaranya bergetar bercampur ketus, sebelum akhirnya rasa frustasi meluncur dari mulutnya. “Hidup gue bukan bahan konten.”
Dahi Rafi berkerut. Suaranya tersangkut di tenggorokan, apalagi ketika ia sadar beberapa pelanggan ikut melirik, pura-pura tak mendengar padahal diam-diam memperhatikan.
“Eh… gue nggak bilang gitu,” katanya terbata-bata. Tangannya terangkat dengan kikuk, “Gue cuma… ya maksud gue, donat lo enak, sayang kalo nggak dikontenin. Itu aja.”
“Lagian ini cuma sementara. Gue juga lagi apply-apply kerjaan kok,” sahut Nayla. Suaranya berdengung diredam masker, “Gue nggak selamanya begini.”
Rafi terdiam. Ia bertanya-tanya apakah kata-katanya barusan menyinggung. Dengan canggung ia menarik napas.
“Iya… sorry ya, Nay.”
Ia menatap Nayla sekali lagi, tapi tak berani menambahkan apa-apa. “Gue… duluan ya.”
Nayla tak menjawab. Tiba-tiba ia tersentak. Ponselnya berkedip. Ada pesan dari Annisa, teman kuliah yang dulu suka meminjamkan laptop untuknya.
Nay, kenapa lo ga cerita sih? T_T
Kantor gue lagi buka lowongan. Kirim CV lo ke email ya!
Other Stories
Sumpah Cinta
Gibriel Alexander,penulis muda blasteran Arab-Jerman, menulis novel demi membuat mantannya ...
Hati Yang Beku
Jasmine menatap hamparan metropolitan dari lantai tiga kostannya. Kerlap-kerlip ibukota ...
Awan Favorit Mamah
Mamah sejak kecil sudah ditempa kehidupan yang keras, harus bekerja untuk bisa sekolah, tu ...
Free Mind
“Free Mind” bercerita tentang cinta yang tak bisa dimiliki di dunia nyata, hanya tersi ...
Kuntilanak Gaul
Rasa cemburu membuat Lydia benci kepada Reisha. Dia tidak bisa terima saat Edward, cowok y ...
Nina Bobo ( Halusinada )
JAM DINDING menunjukkan pukul 12 lewat. Nina kini terlihat tidur sendiri. Suasana sunyi. S ...