Viral

Reads
2K
Votes
0
Parts
12
Vote
Report
Penulis Fira Meutia

Ruangan Yang Mencekik

Sejak memasuki ruangan 10 menit lalu, Nayla merasa Bu Ririn, user yang mewawancarainya terlihat acuh tak acuh. Setelah melempar pertanyaan, Bu Ririn akan menatap ponsel dan mengagumi kuku-kukunya yang berkutek merah muda, sambil bersandar di kursi. Saat Ibu berpakaian blus satin merah muda itu akhirnya mencondongkan tubuhnya, ia berkata dengan mata menyipit dan senyum manis dibuat-buat.

“Jadi, Nayla… prestasi kamu bagus, pengalaman juga oke. Tapi maaf yaaa, sayangnya perusahaan sekarang enggak lihat nilai di atas kertas.“

Refleks bahunya naik dan terasa kaku, Maksud Ibu?”

“Ini kamu, kan?” Layar menampilkan video dirinya membentak Alex tadi siang, diambil dari jauh. Video dimulai dari ketika ia menyebut Alex memanfaatkan penderitaan orang lain, “Saya bukannya mau nyudutin yaaa. Di sini kamu kayak gampang emosian. Ini di tempat umum loh, kok kamu marah-marah gitu, ke orang yang niat bantuin kamu? Kalau nanti kamu ngadepin tekanan, gimana? Meledak-ledak juga?”

Nayla mengerjap-ngerjap, “Dia tiba-tiba mendatangi saya, Bu, sambil sebut-sebut keadaan keluarga saya, cenderung mempermalukan malah. Saya awalnya menolak halus, tapi karena mereka mengejar, saya menegur mereka.”

Bu Ririn menopang dagu, menatapnya, “Buktinya ada, nggak?”

Nayla menelan ludah. Seperti air dalam teko yang mendidih di pojok ruangan, gelembung-gelembung frustrasinya pecah sebentar lalu tenggelam lagi.

“Lagipula, opini saya valid. Konten kreator seperti dia mewajarkan mental malas dan meminta-minta.”

“Aduuuh Nayla, serius banget sih kamu. Apa salahnya membantu? Orang lain jadi termotivasi. Yang nerima juga senang,” ujar Bu Ririn, mengibas-ngibas tangannya, “Saya kasih tahu yaaa. Di sini kita butuh orang yang bisa ngontrol emosi, bukan yang gampang ke-trigger. Kamu ngerti, kan?”

Rahangnya mengeras, menahan rasa cemas yang mengaduk-ngaduk kepalanya, “Ngerti, Bu.”

Bu Ririn tersenyum remeh, “Yaaa, semoga kamu belajar dewasa. Oke, kalau gitu. Tunggu kabarnya, ya.”

Nayla tersenyum kecut, mengucap terima kasih, dan pergi keluar tanpa menyapa Annisa. Pesan dari Alya muncul:

Lo kenapa nolak duitnya sih Kak? Diterima kan nggak ada ruginya!

Ia tak membalas apapun.


Other Stories
After Honeymoon

Sama-sama tengah menyembuhkan rasa sakit hati, bertemu dengan nuansa Pulau Dewata yang sel ...

Hidup Sebatang Rokok

Suratemu tumbuh dalam belenggu cinta Ibu yang otoriter, nyaris menjadi kelinci percobaan d ...

Cahaya Menembus Semesta

Manusia tidak akan mampu hidup sendiri, mereka membutuhkan teman. Sebab dengan pertemanan, ...

Buku Mewarnai

ini adalah buku mewarnai srbagai contoh upload buku ...

Makna Dibalik Kalimat (never Ending)

Rangkaian huruf yang menjadi kata. Rangkaian kata yang menjadi kalimat. Kalimat yang mungk ...

Just, Open Your Heart

Muthia terjebak antara cinta lama yang menyakitkan dan cinta baru dari bosnya yang penuh k ...

Download Titik & Koma