Viral

Reads
2K
Votes
0
Parts
12
Vote
Report
Penulis Fira Meutia

Filosofi Donat

Cahaya menyelimuti ruangan begitu saklar ditekan. Nayla bersandar di sofa. Badannya masih terasa pegal karena sepanjang siang mondar-mandir di rumah sakit menemani Ibu merawat Bapak. Ia membalas beberapa pesan pelanggan yang baru masuk. Ada juga pesan dari orang-orang yang senasib dengannya. Mereka terkesan dengan Nayla yang membuang gengsi, bahkan ada yang mulai berjualan karena terinspirasi dengan ceritanya.

Setelah lelahnya reda, ia bergegas mengambil alat tempur, membawanya ke ruang tamu. Aroma manis margarin dan gula mulai meruap, menenangkan pikirannya. Mixer berdengung lembut, mengantarnya ke masa kecil. Dulu ia senang membantu Ibunya, mencomot donat yang baru saja diolesi topping, masih hangat, meruapkan aroma bahagia. Waktu itu ia belum pernah mengenal perbandingan yang membuatnya berkecil hati. Ia suka memamerkan bekal donat buatan Ibu di sekolah, dan teman-temannya berebutan mencicipi. Tapi lama-lama, aroma itu terasa getir, ketika ia mulai mengerti Ibu melakukannya untuk menambah uang makan. Ia tak lagi menyebut-nyebut pekerjaan Ibunya, malah cenderung menyembunyikannya.

Ah, kenapa ia malu dengan hal yang membantunya hidup?

Derit pintu terdengar. Alya menuju kamar, mengganti baju, dan duduk dekat kakaknya, mengulangi gerakan yang sudah mereka hafal, kali ini dengan penerimaan.

Adonan yang tadinya lembek sebelum diputar-putar itu, kini ditarik Nayla yang memastikannya tidak robek. Ia mencubit sebentuk adonan. Menekan-nekan, menghimpitnya di antara kedua tangan. Mencubit lagi, menekan lagi. Meletakkannya di baki, menusuknya dengan cetakan untuk membentuk lubang. Ia akan mendiamkannya, membiarkan ragi bekerja mendorong-dorong adonan dari dalam sampai mengembang, sebelum berdiam di kulkas. Besok pagi adonan itu dicemplungkan ke minyak panas yang akan mengubah bentuk, rasa, dan warnanya. Setelah itu, barulah donat siap dihias. Mirip hidup, pikir Nayla. Setelah melewati berbagai tempaan, manusia akan menemukan versi dirinya yang lebih kuat dan lebih baik dari sebelumnya. Ia merasa, ia sedang berjalan menuju ke sana.


Other Stories
Kacamata Kematian

Arsyil Langit Ramadhan naksir berat sama cewek bernama Arshita Bintang Oktarina. Ia berpik ...

Reuni

Kutukan Kastil Piano membuat cinta Selina berbalik jadi kebencian, hingga akhirnya ia mema ...

Tajwid Cinta Di Tanah Tinggi

Fatimah (Fafa), seorang gadis kota yang lebih akrab dengan diskon skincare daripada kitab ...

Rumah Nenek

Liburan memang menyenangkan. Piyan, yang berumur 9 tahun. Hanya mengerti, liburan itu adal ...

Lydia

Di usianya yang menginjak tiga puluh satu tahun, Lydia merasa waktu berjalan terlalu cepat ...

Mimi & Peri

Mimi, seorang gadis pecinta alam dari pesisir Bali, menghabiskan liburan sekolahnya di Flo ...

Download Titik & Koma